
Maura kini telah selesai dengan ritual mandinya bertepatan dengan suara adzan subuh yang berkumandang. Namun saat dirinya baru membuka pintu kamar mandi tersebut, telinganya langsung menangkap suara lantunan ayat suci Al-Qur'an yang sangat-sangat merdu dan menenangkan, sudah sangat lama Maura tak mendengar lantunan Al-Qur'an karena perlu ia akui jika dirinya sudah sangat terlena dengan kenikmatan dunia.
Maura menatap ke sekeliling, mencari sumber suara tersebut yang tadinya ia kira berasal dari ponsel milik Erland tapi taunya suara merdu yang ia dengar saat ini berasal dari Erland sendiri. Mata indah itu terus memperlihatkan Erland yang tengah khusyuk membaca setiap bait Al-Qur'an tersebut. Hingga tak terasa air mata Maura tiba-tiba menetes begitu saja. Dimana hal itu menyadarkan Maura, ia langsung mengalihkan pandangannya dan mengusap air matanya yang ia sendiri tak tau kenapa bisa menetes.
Erland yang baru menyadari jika Maura sudah selesai membersihkan dirinya pun ia menghentikan bacaannya, diakhiri dengan ia menutup kitab sucinya itu dan menciumnya sebelum dirinya mengalihkan pandangannya kearah Maura yang masih menatap kearah lain selain dirinya.
"Sudah selesai mandinya?" tanya Erland yang berhasil membuat Maura menatapnya.
"Ahhh iya. Baru saja aku selesai," jawab Maura.
"Ya sudah kalau gitu siap-siap sana gih. Sebentar lagi iqomah," ujar Erland menyuruh Maura untuk segara siap-siap untuk menunaikan ibadah sholatnya.
Maura tampak menganggukkan kepalanya, lalu setelahnya ia benar-benar keluar dari dalam kamar mandi itu namun saat dirinya sudah berada di depan pintu kamar Erland, bukannya ia langsung memutar kenop pintu tersebut, ia malah berbalik menatap Erland yang tengah meletakkan Al-Qur'annya tadi.
Dengan mengigit bibir bawahnya, Maura memanggil nama Erland, "Erland."
Erland menolehkan kepalanya kearah Maura dengan salah satu alis yang terangkat untuk mewakili dirinya bertanya kepada Maura.
__ADS_1
"Anu itu hmmmm sebenarnya aku tidak memiliki mukena," ujar Maura sembari menggaruk kepalanya yang sebenarnya tak gatal itu. Ia tadi hampir melupakan satu fakta yang membuatnya sangat malu sebenarnya. Ia memang seorang muslim tapi dirinya tak memiliki peralatan sholat apapun. Jika dia tidak memiliki peralatan sholat maka jangan tanya apa dia pernah sholat, maka jawabannya adalah tidak. Mungkin dulu pernah tapi hanya saat ujian praktek kala dirinya masih SMA dulu yang berarti sudah sekitar 7 tahun yang lalu. Itupun mukena yang ia pakai hasil meminjam temannya karena terakhir ia memiliki mukena saat dia SD, walaupun sebenarnya sang ibunda selalu membelikannya, dia pasti akan meletakkan peralatan sholat itu di sembarang tempat yang berakhir akan hilang begitu saja dan tak pernah ia cari. Toh menurut dirinya barang itu tak berguna juga untuknya, lagian tanpa dia ibadah dia masih sehat, bugar dan bahagia. Jadi untuk apa ibadah, kata Maura. Astagfirullah (ngelus dada authornya)
Erland yang sudah bisa menebak jika sang istri tak memiliki benda itu pun ia segara berjalan menuju ke lemarinya. Lalu membuka laci lemari tersebut yang berada di bagian bawah kemudian mengambil satu buah mukena berwarna putih bersih dengan sajadah berwarna hitam.
Setelah mendapatkan kedua benda tersebut, Erland berjalan mendekati Maura.
"Nih pakai," ucap Erland sembari menyodorkan mukena dan sajadah itu kehadapan Maura.
Muara yang melihatnya pun ia langsung mengambil dua benda tersebut tapi ia juga penasaran kenapa Erland bisa memiliki dua benda itu, hmmm lebih tepatnya kenapa memilih satu set mukena? Jika dia memiliki sajadah, it's oke karena Erland juga pasti akan mengganti sajadah yang saat ini ia gunakan saat sajadah itu kotor dengan sajadah lainnya yang masih bersih. Tapi kalau mukena? Tidak mungkin kan Erland memakainya? Atau jangan-jangan mukena ini adalah milik kekasih Erland dulu yang tertinggal di rumah ini?
"Jangan berpikir yang aneh-aneh. Mukena itu bukan mukena perempuan lain yang pernah menginjakkan kakinya di rumah ini karena perempuan yang pernah menginjakkan kakinya disini hanya kamu dan mungkin yang kedua adalah sahabatmu itu. Mukena dan sajadah itu milikmu. Aku memberikan dua benda itu saat kita menikah, aku jadikan dua benda itu menjadi salah satu seserahan di pernikahan kita." Ucapan dari Erland tadi menyadarkan Maura dari segala pertanyaan di kepalanya itu yang akhirnya sudah terjawab tanpa Maura minta.
Maura tampak menganggukkan kepalanya. Dan tak lama setelahnya terdengar suara iqomah.
Erland menatap kearah sang istri yang masih berdiam diri didepan pintu kamarnya.
"Kenapa kamu masih diam disitu? Ini sudah iqomah lho Ra. Buruan gih ke kamar kamu dan segara tunaikan sholat," ujar Erland yang sudah bersiap diri untuk melakukan ibadah wajibnya tersebut. Namun niatnya itu terhenti kala melihat tubuh Maura yang tak bergeming sedikitpun.
__ADS_1
"Hmmm Er, kalau boleh jujur sebenarnya aku lupa gerakan sholat itu gimana. Doa-doanya pun aku sudah lupa dan hmmm sebenarnya aku sekarang masih halangan alias menstruasi," ucap Maura dengan jujur. Dimana hal itu berhasil membuat Erland melongo dibuatnya. Ia benar-benar shock akan fakta yang baru ia dengar itu, bukan mendengar jika Maura tengah halangan tapi mendengar jika Maura lupa gerakan sholat beserta doa-doanya. Namun Erland juga menaruh curiga kepada Maura, takut istrinya itu berbohong dengan dalih ia tengah haid.
"Kamu yakin saat ini sedang halangan? Tidak sedang berbohong kan?" tanya Erland.
"Untuk apa aku bohong Er, kalau kamu tidak percaya aku akan memperlihatkan jadwal menstruasiku, tunggu sebentar," jawab Maura lalu perempuan itu bergegas pergi ke kamarnya untuk mengambil ponselnya lalu kembali lagi ke dalam kamar Erland dengan membawa benda pipih tersebut di tangan kanannya sedangkan ditangan kirinya masih membawa mukena dan sajadah yang diberikan Erland tadi kepadanya.
Tangan Maura tampak bergerak lincah diatas layar ponselnya itu sebelum ia menyodorkan ponselnya kearah Erland.
"Nih kalau gak percaya, lihat di catatan kalender itu. Kamu boleh scroll ke bulan-bulan lainnya sebelum bulan ini," ucap Maura. Erland yang memang penasaran akan kecurigaannya itu ia mengambil ponsel Maura lalu melihat catatan di kalender di ponsel Maura. Dan seperti yang dikatakan oleh istrinya tadi, Erland meng-scroll kalender tersebut ke lain tahun dan benar saja dimana di tanggal itu, Maura selalu kedatangan tamu walaupun kadang maju atau mundur satu hari.
Erland tampak menganggukkan kepalanya, percaya akan ucapan dari Maura tadi jika perempuan itu memang tengah berkata jujur kepadanya. Lalu ia mengembalikan ponsel tersebut ke tangan Maura sembari berkata, "Kalau kamu sekarang tengah halangan kenapa kamu tadi minta peralatan sholat?" tanya Erland heran.
"Hehehe aku tadi sempat lupa karena ini hari terakhir aku halangan. Jadi saat aku mandi tadi karena tidak keluar darah, aku ingatnya aku tidak sedang halangan. Dan aku baru ingatnya tadi," jawab Maura dengan cengiran di bibirnya.
Erland yang mendengar ucapan dari sang istri pun ia tampak menggelengkan kepalanya.
"Ya sudah kalau begitu kamu keluar dulu. Nanti setelah aku sholat, aku bantu kamu untuk belajar sholat," ujar Erland yang diangguki oleh Maura. Dan karena ia tak ingin mengulur waktu Erland untuk ibadah, Maura segera keluar dari dalam kamar laki-laki tersebut agar tak mengganggu kekhusyukan Erland dalam beribadah.
__ADS_1