
Erland yang tadinya menatap tajam kearah orang-orang di sekitarnya terlebih ke orang-orang yang berada di sebelah Maura tadi, tatapan mata itu perlahan meneduh kala mendengar ucapan dari Maura bersamaan dengan itu, dirinya menundukkan kepalanya agar ia bisa menatap langsung wajah Maura.
"Kamu tidak perlu takut ataupun khawatir karena aku tau siapa mereka semua. Mereka anak buahku yang tadi sempat aku suruh untuk mengikuti kita karena aku takut hal yang tidak kita inginkan terjadi. Dan benar bukan firasatku itu jika mengalami hal yang tak mengenakkan dari orang-orang di sekitar sini. Katakan kamu tadi diapakan oleh mereka?" ucap Erland.
"Syukurlah kalau kamu kenal sama orang-orang yang melindungi kita ini. Aku sudah tidak apa-apa kok. Mereka hanya mencubitku saja tadi," jawab Maura.
"Dimana mereka mencubit kamu?" Maura menunjuk kearah lengannya yang sebenarnya masih terasa sakit itu.
Sedangkan Erland, laki-laki itu langsung melihat kondisi lengan Maura dan betapa terkejutnya ia saat mendapati lengan Maura yang membiru.
"Astaga. Sampai biru begini. Sialan!" Umpat Erland sedikit mengeraskan suaranya yang membuat orang-orang disana yang tadinya berusaha mendekatinya dan Maura, kini berdiri mematung dengan tatapan mereka yang tertuju kearahnya.
Erland tak tinggal diam, ia mengedarkan pandangannya dengan aura yang membuat siapapun yang melihatnya merinding.
Maura yang menyadari jika sang suami sebentar lagi akan murka pun ia menggerakkan tangannya, mengelus rahang tegas milik Erland itu.
"Hey tenang lah. Aku benar-benar sudah tidak kenapa-napa. Jadi kamu tidak perlu marah sama orang-orang yang ada disini. Mungkin mereka tidak sengaja mencubitku tadi atau kalau gak mereka tidak bisa menahan kegemasan mereka kepadaku sampai akhirnya mereka kehilangan kontrol mereka. Tapi yakinlah saat ini aku sudah tidak kenapa-napa. Ayolah sayang, jangan buat keributan disini. Bukannya niat kita kesini tadi buat menyenangkanku? Kalau begitu kenapa kita tidak melanjutkan niat kita ini. Dan aku sekarang mau naik wahana itu, sepetinya seru kalau kita naik bersama," ucap Maura dengan menuju wahana bianglala yang terus berputar. Tentunya Erland mengikuti arah tujuk istirnya itu dengan helaan nafas panjang untuk mengontrol emosinya yang kapan saja akan meledak itu.
"Kamu yakin sudah tidak kenapa-napa?" tanya Erland memastikan yang dijawab anggukan kepalanya oleh Maura.
__ADS_1
"Kamu tidak mau pulang saja? Kondisi dan situasi disini benar-benar tidak aman buat kamu," ucap Erland.
"Tidak mau. Aku berubah pikiran, aku harus tetap disini sebelum aku menaiki wahana yang aku ingin naiki dan makan makanan yang aku inginkan. Lagian kan sudah ada anak buah kamu yang akan melindungi kita berdua dari orang-orang yang mengerumuni kita ini. Ayolah sayang jangan pusing dulu, kita harus menikmati waktu berdua kita sebelum nanti ada bocil diantara kita berdua. Dan kamu tau kalau sudah ada bocil nanti, kita tidak akan sebebas sekarang untuk menikmati waktu berdua. Please sayang, ini juga keinginan calon debay kita lho. Masak iya keinginan dia gak di turutin lagi sama Daddy-nya. Ck, kasian sekali kamu, nak." Maura mengusap perutnya yang masih datar itu.
Erland mengusap wajahnya frustasi, dalam satu sisi ia tak ingin istrinya kenapa-napa, namun di sisi lain ia juga tidak tega untuk tidak menuruti bisa keinginan istrinya itu. Jadi dengan berat hati Erland memutuskan untuk...
"Baiklah. Kita pergi naik wahana itu. Kita lanjutkan niat kita datang kesini tadi," ujar Erland yang otomatis membuat Maura tersenyum lebar sebelum dirinya kembali berdiri di samping Erland, menggandeng lengan suaminya itu dengan sangat erat lalu ia berkata, "Let's go kita habiskan malam ini berdua!"
Erland tersenyum dan dengan gemas ia mengacak rambut Maura sebelum ia melangkahkan kakinya dengan Maura yang terus bergelayut manja di lengannya.
Pergerakan dari kedua orang itu tentunya diikuti oleh semua anak buat Erland yang masih membuat formasi lingkaran dengan memastikan tidak ada satupun orang yang bisa mendekati tuan dan nyonya mereka, kemana pun dua orang itu pergi, mereka akan terus mengikutinya.
"Sayang, minta uang," ucap Maura yang sudah berdiri di depan Erland dengan tangan yang menengadah.
"Buat apa?" tanya Erland.
"Jajan," jawab Maura. Padahal di satu tangan perempuan Itu saat ini sudah membawa satu kantong plastik yang berisi martabak telor ataupun manis dan satu buah permen kapas yang separuh sudah habis.
"Yang ada di tangan habisin dulu sayang," ucap Erland.
__ADS_1
Maura menatap kearah tangannya kemudian ia menganggukkan kepalanya. Erland kira anggukkan kepala itu berarti Maura langsung menuruti ucapannya namun ternyata, "Iya. Nanti aku habisin semuanya. Tapi sekarang kasih uang lagi. Aku masih mau jajan ini. Buruan sayang."
Untuk kesekian kalinya Erland menghela nafas panjang. Dan karena ia tak ingin membuat Maura merajuk, ia segara mengeluarkan dompetnya dan menyerahkan dua lembar senilai 100 ribu itu ke tangan Maura.
Dengan gembira Maura menerima uang itu.
"Nah gini dong dari tadi. Terimakasih sayang. Aku jajan dulu. Kamu tidak usah ikut. Tunggu saja disini, kamu istirahat saja. Biar aku sama anak buahmu. Bye sayang," ucap Maura sebelum perempuan itu berlari menuju ke stand makanan yang langsung di ikuti oleh beberapa anak buah Erland.
Sedangkan Erland yang melihat Maura berlari, ia mendelik sebelum dirinya berteriak, "Jangan lari-lari! Ingat ada baby di dalam perut kamu!"
Teriakan Erland tadi masih terjangkau oleh telinga Maura sehingga perempuan tersebut menghentikan lariannya tadi. Kemudian ia menolehkan kepalanya kearah Erland hanya untuk memberikan cengiran di bibirnya sebelum ia kembali melangkahkan kakinya dengan penuh ke hati-hatian.
Sedangkan Erland, ia menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Ada-ada saja tuh orang satu. Gimana coba kalau saat dia lari-larian kayak tadi terus jatuh tengkurap? Kan bisa buat baby kenapa-napa. Tidak hanya baby saja tapi dia sendiri pastinya juga akan terluka. Astaga, huh untung aku tadi mengingatkan dia. Dasar, istri bocilku yang menggemaskan sekaligus menyebalkan. Untung aku sayang," gumam Erland dengan tatapan matanya terus tertuju kearah Maura sampai tubuh istrinya itu menghilang di balik kerumunan orang-orang yang berlalu-lalang di tempat tersebut. Orang-orang disana memang sudah tidak seheboh tadi, bahkan sudah tidak ada satu orangpun yang mendekati mereka, mungkin takut dengan para anak buah Erland tadi. Tapi tetap saja, Erland memilih untuk membiarkan anak buahnya terus mengikuti dirinya dan Maura dimana pun mereka berada.
...****************...
Happy Eid Mubarak sayang-sayangku semuanya ❤️ Minal aidzin wal faizin, mohon maaf lahir dan batin 💙
__ADS_1