
Setelah pertemuan dari kedua belah pihak, Erland sudah tidak segan-segan lagi untuk datang ke rumah keluarga Maura. Seperti sekarang ini. Pagi-pagi ia sudah duduk manis di ruang tamu dengan ditemani oleh Louis sedangkan Dian, ia tengah berjalan menuju ke kamar Maura.
Tok tok tok!!
Tangan Dian mengetuk pintu kamar sang putri, namun beberapa saat setelahnya pintu itu tak kunjung di buka oleh sang pemilik kamar bahkan hanya sekedar menjawab sebentar saja juga tidak ia dengar.
Hingga Dian kini berteriak, "Maura!"
Teriakan menggelegar itu juga tak mendapat respon apapun dari dalam kamar itu.
Dian kini berdecak sembari berkata, "Anak ini pasti belum bangun padahal ini sudah pukul 6 pagi lho. Ck, kalau begini gimana dia bisa jadi istri yang baik buat Erland nanti."
Sesuai dengan permintaan Erland, Dian dan Louis tidak diperbolehkan untuk memanggil laki-laki yang merupakan calon menantu mereka dengan embel-embel tuan seperti sebelum-sebelumnya dan hal itu di setujui oleh keduanya.
Dian kembali mengetuk pintu tersebut sembari memangil nama Maura tapi tetap saja ia tak mendapat respon apapun.
"Anak ini!" geram Dian dan dengan pergerakan cepat ia kembali turun kebawah. Melewati dua orang yang tengah bercengkrama di ruang tamu yang kini menatapnya dengan tatapan penuh tanya mereka, tapi Dian tidak memperdulikan tatapan dari dua laki-laki tersebut. Karena kefokusannya tertuju ke kepala asis rumah tangga di rumahnya itu.
"Bik Nur!" panggil Dian.
Wanita paruh baya yang tengah menyiapkan sarapan pagi untuk orang di rumah tersebut menolehkan kepalanya ke sumber suara.
"Iya nyonya," balas bik Nur sembari mematikan kompor sebelum ia bergegas pergi menghampiri Dian.
"Bik, saya mau minta kunci cadangan di kamar Maura," ucap Dian kala mereka berdua sudah saling berhadapan satu sama lain.
"Kunci cadangan kamar Non Maura? Tunggu sebentar nyonya akan saya ambilkan." Bik Nur bergegas menuju ke kamarnya untuk mengambil kunci yang di perlukan oleh Dian. Dan setelah mendapatkannya ia segara kembali menghadap ke Dian.
__ADS_1
"Ini Nyonya kuncinya." Bik Nur menyerahkan kunci kamar Maura kearah Dian yang langsung di terima oleh perempuan itu.
"Terimakasih bik." Bik Nur menganggukkan kepalanya. Dan barulah Dian kembali melangkahkan kakinya menuju ke lantai atas.
"Apa yang sedang terjadi?" tanya Erland dengan menatap kearah Dian yang kembali melewati ruang tamu itu.
"Saya juga tidak tau," jawab Louis yang membuat Erland mengangguk-anggukkan kepalanya.
Sedangkan Dian, ia terus melangkahkan kakinya hingga sampai di depan kamar Maura kembali. Tanpa berteriak atau mengentuk pintu seperti sebelumnya, ia langsung membuka pintu kamar sang putri dengan kunci cadangan yang telah ia dapatkan tadi.
Dian membuka pintu tersebut kala ia sudah berhasil membuka kuncinya. Dimana saat itu juga ia berdecak saat melihat sang putri masih tidur nyenyak diatas ranjang empuknya.
Dengan perasaan kesal, Dian berjalan mendekati Maura berada. Dan tanpa ba-bi-bu lagi, wanita paruh baya tersebut langsung mencubit hidung Maura dengan keras dan lama sampai Maura kehabisan nafas dan berakhir anak gadis tersebut bangun dari tidur nyenyaknya itu.
"Ya ampun ya ampun aku sempat kehilangan nafas tadi," heboh Maura yang belum tau jika hal itu atas ulah sang Ibunda.
"Aku kira tadi aku mau end. Tapi syukurlah aku masih sehat sentosa, huh," sambung Maura dan saat dirinya ingin merebahkan tubuhnya kembali untuk menyambung mimpinya, pukulan guling yang mendarat di kepalanya membuat dirinya menghentikan niatannya itu.
"Ehhhh Mama. Kok Mama bisa masuk sini sih?" tanya Maura dengan cengiran di bibirnya.
"Kamu tidak perlu tau Mama bisa masuk ke sini dengan cara apa. Dan lebih baik kamu segara mandi sana. Hari ini kamu akan fitting baju pengantinmu dan calon suami kamu sudah menunggumu sedari tadi," ucap Dian yang membuat Maura memelototkan matanya.
"Tunggu sebentar, bukannya Mama sama Papa belum tau kalau aku mau nikah dengan laki-laki sialan itu karena aku belum memberitahu mereka. Tapi kenapa Mama tadi bilang kalau aku hari ini harus fitting baju pengantin dan calonku sudah menungguku sedari tadi. Apa jangan-jangan laki-laki itu yang lebih dulu memberitahu pernikahan sialan ini? Tapi kenapa Mama sama Papa tidak menolaknya malah kelihatan sekali kalau Mama welcome banget sama laki-laki sialan itu. Apa yang telah dia lakukan sampai kedua orangtuaku sangat welcome ke dia? Apa jangan-jangan dia pakai guna-guna lagi? Arkhhhh sialan!" batin Maura dengan menebak-nebak.
"Maura!" teriak Dian yang berhasil mengembalikan kesadaran Maura.
"Astagfirullah Mama ishh jangan teriak-teriak kenapa sih?" ucap Maura dengan mengusap-usap telinganya yang tampak berdengung.
__ADS_1
"Lagian kamu kenapa bengong kayak gitu? Bukannya langsung mandi." Maura memutar bola matanya malas.
"Malas ah. Kalau dia mau fitting baju, biar fitting baju sendiri karena Maura mau melanjutkan mimpi indah Maura tadi."
Saat Maura berniat ingin berbaring kembali, ayunan guling yang berada di tangan Dian mendarat di wajahnya berkali-kali.
"Astaga Mama!" teriak Maura dengan merebut paksa guling itu dari tangan Dian setelah dirinya berhasil menangkap guling tadi.
"Wajah Maura sakit tau, Mama pukul terus dari tadi. Menyebalkan," sambung Maura.
"Mama tidak perduli. Kamu sekarang pergi ke kamar mandi, bersihkan tubuh kamu itu dan segera dandan. Jika kamu tidak segera pergi mandi dan sebelum 30 menit selesai, Mama tidak akan segan-segan buat menyita semua fasilitas yang Mama sama Papa berikan ke kamu," ancam Dian yang membuat Maura melebarkan matanya.
"Mama ngancam Maura?" Dengan bersedekap dada Dian menganggukkan kepalanya.
"Mama jahat!" teriak Maura dengan kerucutan di bibirnya.
"Mama sudah bilang kalau Mama tidak peduli. Jadi masuk kamar mandi sekarang juga, cepat!" perintah Dian.
"Ma---"
"Mau membantah perintah Mama? Oke kalau begitu mulai sekarang---"
"Oke-oke Maura ke kamar mandi sekarang. Puas," ujar Maura dan dengan perasaan dongkol, ia beranjak dari atas ranjangnya itu.
Dan sebelum dirinya masuk kedalam kamar mandi, ia memberikan tatapan permusuhan kepada sang Mama.
"Apa lihat-lihat? Mau semua fasilitas kamu Mama sita?" balas Dian.
__ADS_1
"Mama nyebelin." Maura menghentak-hentakkan kakinya sembari berjalan menuju ke kamar mandi. Sesampainya ia di depan pintu kamar mandi, ia menolehkan kepalanya kembali kearah Dian, berharap Dian berubah pikiran. Namun bukan ucapan mencegah, ia justru mendapat tatapan tajam dari sang ibunda yang membuat Maura kini mencebikkan bibirnya. Dan karena rasa kesal juga sebal, Maura membuka juga menutup pintu kamar mandi dengan kasar yang menimbulkan suara nyaring.
Dian yang sempat terperanjat kaget akan ulah sang putri pun ia mengelus dadanya. Sabar, batin Dian.