
Terhitung sudah 1 jam lamanya Erland mengitari kota yang tengah ia tempati hanya untuk memenuhi permintaan Maura. Tapi sayangnya mau dirinya mencari sampai pelosok desa pun ia tak akan menemukannya pasalnya keinginan Maura itu salah waktu. Jika saja perempuan itu memintanya saat siang hari, pasti akan gampang menemukannya.
"Sampai bensinku habis sekalipun, aku tidak akan menemukan penjual rujak es krim di jam segini. Mana nih bini neror aku mulu lagi, huh," ujar Erland dengan melihat kearah ponselnya yang sedari tadi bergetar, menandakan sebuah pesan masuk kedalam ponselnya, tentunya pesan itu dari Maura yang terus menanyakan apakah dirinya sudah mendapatkan apa yang Maura mau. Tentunya pesan dari Maura itu hanya Erland abaikan saja. Toh kalau dirinya menjawab belum, istrinya itu akan marah dan merajuk kepadanya. Jadi biarkan saja dulu, jika nanti ia sudah mendapatkan apa yang tengah ia cari, barulah ia akan membalas pesan Maura.
Erland terus mencari dengan mata yang bergerak aktif menatap ke kanan dan ke kiri, hingga akhirnya ia merasa lelah dan menghentikan laju mobilnya di seberang jalan.
"Ya Allah, bisa di tunda gak sih keinginan Maura ini. Rasanya capek banget cari yang tidak mungkin di temukan. Tapi kalau aku pulang dan tidak membawa rujak es krim itu yang ada aku kena amuk sama Maura. Masak iya tadi habis berantem mau berantem lagi, kan gak lucu. Jadi tolong bantu Erland, ya Allah," ucap Erland meminta pertolongan kepada sang pencipta saking frustasinya dirinya. Bahkan saat ini keningnya ia sandarkan di stir mobil.
Untuk beberapa saat Erland berada di posisi tersebut dengan otak yang terus bekerja, mencari cara supaya ia bisa mendapatkan makanan keinginan Maura tadi tanpa harus membeli ke penjualnya langsung. Hingga sebuah ide melintas di kepalanya yang membuat dirinya kini menegakkan kepalanya kembali tentunya tak ketinggalan senyum manisnya tutur ia perlihatkan.
"Jika aku tidak menemukan di penjual manapun, bukankah makanan itu bisa dibuat sendiri. Tinggal beli buah-buahannya dan es krimnya di supermarket. Hmmm ide yang bagus," ujar Erland tentunya diakhiri dengan memuji dirinya sendiri. Namun saat dirinya ingin menjalankan mobilnya kembali, ia mengurungkan niatnya saat ia menyadari satu hal, "Tapi tunggu dulu, kalau aku mau buat sendiri, bumbunya apa? Aku saja tidak tau gimana cara buatnya dan bumbunya apa saja?"
Erland memijit pangkal hidungnya sebelum sebuah notifikasi pesan muncul di ponselnya. Tapi kali ini pesan itu bukan dari Maura melainkan dari Mommy Della. Hal tersebut tentunya membuat Erland yang tadi sempat melirik sekilas kearah ponselnya kini tersenyum kegirangan.
"Pucuk di tiba, ulam pun tiba. Mommy kan pernah buat rujak es krim buat Kak Yola dulu, jadi minta Mommy buatin juga buat Maura," gumam Erland sebelum dirinya meraih ponselnya itu. Bukan untuk membalas pesan dari Mommy Della, melainkan ia langsung menghubungi nomor Mommynya itu.
Hanya satu kali dering sambungan telepon terhubung, panggilan Erland itu langsung di angkat oleh Mommy Della.
__ADS_1
📞 : "Assalamu'alaikum," sapa Mommy Della.
"Waalaikumsalam Mom. Mom, Erland butuh bantuan Mommy sekarang juga. Mommy bisa kan bantu Erland?"
📞 : "Bantu buat apa? Buat ikut menjelaskan tentang masalah kamu dengan Maura karena masalah identitas kamu itu?" tebak Mommy Della. Tentunya perempuan paruh baya itu sudah tau apa yang tengah terjadi dengan rumah tangga anaknya tersebut, tentunya ia mendapatkan berita tersebut dari besannya yaitu Mama Dian. Makanya ia tadi mengirim pesan ke Erland untuk menanyakan apa memang benar jika semuanya yang putranya itu sembunyikan sudah terbongkar. Tapi ternyata Erland malah menghubunginya dan menyatakan jika dirinya butuh bantuan. Yang tentunya bisa ia artikan jika apa yang sudah di katakan oleh Mama Dian tadi benar adanya.
Erland yang mendengar penuturan dari Mommy Della pun ia langsung menggelengkan kepalanya walaupun Mommy Della tak akan bisa melihat pergerakan kepalanya tersebut. Tapi tak urung ia juga berucap.
"Bukan tentang masalah itu Mom. Kalau masalah itu Alhamdulillah sudah selesai."
📞 : "Kalau bukan karena masalah itu, terus apa dong?" tanya Mommy Della yang membuat Erland mengambil nafas dalam-dalam sebelum menjawab pertanyaan dari Mommy Della.
"Jadi gini Mom. Setelah kita menyelesaikan masalah kita itu, Maura meminta Erland buat membelikan rujak es krim. Tapi Mommy tau sendiri kan kalau malam-malam seperti ini tidak akan ada yang jual makanan itu. Jadi Erland mau minta tolong ke Mommy bantu Erland buatin rujak es krim yang di minta Maura itu," ujar Erland penuh harap.
📞 : "Ehhh Maura menyuruh kamu buat beliin dia rujak es krim?" tanya Mommy Della untuk memastikan.
"Iya. Dan Erland sekarang bingung harus cari dimana sampai Erland ingat Mommy dulu pernah membuat rujak es krim itu buat kak Yola. Jadi Erland mohon, Mommy mau ya bantu Erland, please Mom. Mommy harapan satu-satunya yang Erland punya saat ini karena kalau sampai Erland pulang dengan tangan kosong, entahlah nasib Erland nanti akan gimana," tutur Erland yang justru mengundang gelak tawa dari Mommy Della.
__ADS_1
Perempuan paruh baya itu tidak menyangka jika putranya yang cukup bandel itu ternyata takut juga dengan istrinya. Tapi sepertinya itu keturunan dari sang Daddy yang takut dengan Mommy Della.
Mommy Della meredakan tawanya. Kemudian ia menjawab.
📞 : "Baiklah-baiklah, Mommy akan membantu kamu. Tapi kamu yang belanja bahannya. Nanti Mommy kirim daftar belanjaan apa yang harus kamu beli biar gak salah ambil dan berujung mubasir," ujar Mommy Della.
"Siap Mom. Erland hanya akan belanja yang sudah Mommy daftarin di daftar belanjaan nanti."
📞 : "Ya sudah kalau gitu Mommy tutup dulu teleponnya. Assalamualaikum," pamit Mommy Della.
"Waalaikumsalam, Mom."
Setelah balasan dari kata pamit tadi terucap dari bibir Erland, sambungan telepon itu terputus. Dan setelahnya Erland memutuskan untuk menuju ke supermarket terdekat dari lokasinya saat ini.
Sesampainya dirinya di sana, bertepatan dengan Mommy Della mengirimkan daftar belanjaan untuknya. Tentunya hal itu lagi-lagi membuat Erland tersenyum merekah. Jika saja otaknya itu dari tadi bekerja, ia tak mungkin harus memutari ibu kota yang masih padat merayap itu yang tentunya berakhir zonk. Tapi ya sudah lah, nasi sudah menjadi bubur. Mau dirinya menyesali semua yang ia lakukan tadi, toh waktunya yang terbuang sia-sia itu juga tidak akan kembali. Jadi Erland memilih untuk melupakan kebodohan yang telah ia lakukan tadi, anggap saja tidak pernah terjadi di hidupnya.
Dengan menghela nafas sesaat, Erland keluar dari dalam mobilnya kemudian mulai memasuki supermarket yang tengah ia kunjungi saat ini dengan harapan semoga orang-orang yang ada di dalam supermarket tersebut memandanginya dengan normal, bukan malah memandangi dirinya dengan tatapan penuh puja yang tentunya akan membuat Erland risih nantinya.
__ADS_1