PASUTRI (Troublemaker)

PASUTRI (Troublemaker)
Bab 219


__ADS_3

"Aunty baik-baik ya disana. Sweetie janji akan selalu kerumah aunty." Entah sudah keberapa Anya mengatakan hal itu. Anak itu seperti tak bosan untuk mengingatkan Maura agar menjaga dirinya.


"Iya sayang. Sweetie juga baik-baik ya sama Daddy. Jangan nakal, oke," ucap Maura yang diangguki oleh Anya namun sesaat setelahnya terdengar Anya berkata, "Sweetie tidak janji."


Ucapan yang memang sengaja anak itu katakan dengan suara lirih masih mampu didengar oleh semua orang yang saat ini tutur mengantar kepergian Maura dan juga Erland di depan pintu utama rumah keluarga Abhivandya tersebut. Orang-orang itu selain Zico tertawa terbahak-bahak karena Zico berdecak kesal.


"Untung Daddy sayang sama kamu. Kalau tidak Daddy sudah tukar kamu sama kambing," timpal Zico tak mau kalah yang membuat Anya menatapnya dengan kerucutan di bibirnya.


Zico yang melihatnya pun ia mengelus kepala sang putri sembari berkata, "Daddy hanya bercanda sayang. Daddy tidak akan menukar sweetie dengan apapun di dunia ini karena sweetie harta berharga milik Daddy."


Perkataan Zico tadi tentunya membuat Anya langsung tersenyum cerah.


Sedangkan Maura, ia tersenyum sebelum ia berkata, " Ya sudah Maura sama Erland pulang dulu ya Mom, Dad, Jio."


Ketiga orang itu menganggukkan kepalanya. Maura segara menghampiri satu persatu tiga orang tadi untuk menyalami tangan mereka begitu juga dengan Erland.


Hingga sampai Maura kembali ke hadapan Anya, ia berjongkok, mengusap lembut pipi Anya.


"Aunty sama Uncle pulang dulu ya. Ingat apa kata aunty tadi, jangan nakal," ucap Maura yang diangguki oleh Anya dengan mata yang berkaca-kaca. Anak perempuan itu kini berhambur ke pelukan Maura. Hanya sesaat saja sebelum ia melepaskan pelukannya lalu tak mereka sangka-sangka, Anya memberikan kecupan di kedua pipi serta kening Maura.


Maura yang mendapat kecupan secara mendadak itu tentunya tak kalah terkejut dari keempat orang dewasa yang saat ini tengah melempar tatapan mata satu sama lain.


Maura tak mau kalah, ia juga mengecup kedua pipi dan kening Anya.


"Baik-baik ya anak cantik," ujar Maura sebelum dirinya kembali berdiri setelah ia melihat anggukan di kepala Anya tadi.


Dan kini giliran Erland yang berjongkok, laki-laki itu langsung mencium seluruh wajah keponakannya itu dan diakhiri dengan ia yang mengacak pelan rambut Anya sembari berdiri dari posisi jongkoknya tadi.


"Uncel pulang dulu oke. Kalau sweetie kangan Uncle ataupun aunty, suruh Daddy kamu untuk mengantar sweetie ke rumah uncle sama aunty. Mengerti sayang?" Anya menganggukkan kepalanya.


"Ya sudah kalau gitu Erland sama Maura pergi. Assalamualaikum," pamit Erland.


"Waalaikumsalam, hati-hati," jawab mereka semua dengan serempak.


Erland dan Maura kini telah masuk kedalam mobil milik laki-laki tersebut dan sebelum Erland menjalankan mobilnya, seperti biasa ia membunyikan klakson mobilnya itu yang membuat semua orang langsung melambaikan tangannya kearah mobil yang perlahan menjauh dari pekarangan kediaman keluarga Abhivandya tersebut.


Menghilangnya mobil tadi dari pandangan mereka membuat Anya menghela nafas panjang. Kemudian gadis kecil itu menengadahkan kepalanya, menatap kearah sang Daddy.


"Dad," panggilannya.


Zico yang merasa di panggil pun ia mendudukkan kepalanya. Dan dengan memberikan usapan di kepala Anya, ia menjawab, "Ya sayang? Ada apa hmmm?"


"Anya mau Mommy."


Deg!


Jantung Zico seakan berhenti berdetak saat itu juga. Tubuhnya terasa lemas dengan mata yang mulai memanas. Ia paling tidak bisa mendengar putrinya itu mengucapakan kata-kata yang membuat dirinya sendiri kalut.


Mommy Della dan Daddy Aiden yang turut mendengar ucapan dari sang cucu, tubuh mereka seakan menegang. Dan dengan kompak keduanya mengalihkan pandangannya kearah Zico yang saat ini tengah mengalikan pandangannya. Ia sangat tau perasaan putra mereka itu, sehingga agar Anya tidak semakin menjadi, Mommy Della yang sudah tersadar lebih dulu pun ia mengelus lembut kepala Anya.


"Sayang, kita main lagi yuk. Oh ya, Oma hampir lupa jika Oma ingin menunjukkan sesuatu ke kamu. Jadi ayo ikut Oma," ajak Mommy Della dan kala tangannya sudah meraih lengan Anya, langsung di tepis oleh gadis kecil itu.


"Tunggu dulu Oma. Sweetie lagi mau bicara sama Daddy," ucap Anya yang kembali mengalihkan pandangannya kearah Zico.


"Daddy, sweetie mau aunty Maura jadi Mommy sweetie." Orang-orang disana yang awalnya tegang karena perkataan Anya beberapa saat yang lalu, kini ketiga orang dewasa itu dibuat melongo tak percaya dengan permintaan Anya.


"Sweetie mau aunty Maura jadi Mommy sweetie," ulang Anya karena tak mendapat respon apapun dari semua orang yang ada disana terlebih tanggapan dari sang Daddy yang ia tunggu jawabannya.

__ADS_1


Zico menggaruk tengkuknya yang tak gatal. ia bingung sendiri harus menjelaskan mulai darimana kepada Anya jika dirinya dan Maura tidak mungkin bisa bersatu. Mungkin bisa jika Erland sudah meninggal. Tapi jika kalian berpikir Zico akan berubah menjadi Zico yang dulu, maka kalian salah. Zico tidak akan melakukan hal keji lagi apalagi kepada saudaranya sendiri. Jadi tenang saja Zico tak akan membunuh Erland atau berniat menjadi pembinor untuk merebut Maura dari saudaranya itu walaupun putrinya sangat menginginkan Maura menjadi ibunya. Toh Zico juga tidak memiliki rasa apa pun kepada Maura, karena didalam hatinya masih terukir indah nama sang istri.


Namun Zico tetap akan mencoba menjelaskan masalah ini kepada putrinya.


Zico berjongkok, menyamakan tinggi putrinya itu. Ia memegang kedua lengan Anya, menatap lekat tepat di mata putri itu, kemudian ia mulai angkat suara, "Sayang, denger Daddy oke."


Dengan wajah polos Anya menganggukkan kepalanya.


"Daddy sama aunty Maura tidak akan pernah bisa menikah sayang yang artinya aunty Maura tidak akan pernah bisa menjadi Mommy sweetie."


"Kenapa tidak bisa?" tanya Anya.


"Karena aunty Maura sudah milik Uncel Erland. Mereka sudah menikah sayang bahkan kamu tau sendiri kan kalau sebentar lagi mereka akan memiliki baby yang akan menjadi teman baru untuk sweetie," jelas Zico dengan harapan semoga putrinya itu mengerti apa yang sedang ia jelaskan ini.


"Kalau begitu, biarkan aunty Maura menikah lagi dengan Daddy tapi tidak berpisah dengan Uncle Erland. Jadi sweetie bisa memiliki aunty Maura sebagai Mommy sweetie tanpa melukai hati uncle Erland." Ketiga orang dewasa itu semakin dibuat speechless.


"Tidak bisa begitu dong sayang. Orang yang sudah memiliki suami atau istri itu tidak boleh menikah lagi dengan orang lain. Karena jika mereka melakukannya, berarti mereka telah melanggar janji yang sudah mereka ucapankan. Sweetie tau kan bagaimana rasanya jika seseorang mengingkari janji yang sudah kita buat?" Anya menganggukkan kepalanya sebagai jawaban dari pertanyaan yang dilayangkan oleh sang Daddy tadi.


"Gimana rasanya?" tanya Zico.


"Sakit," jawab Anya yang membuat Zico tersenyum.


"Nah, begitu juga yang akan di rasakan uncle Erland jika aunty Maura harus menikah lagi dengan Daddy. Walaupun aunty Maura tidak melepaskan uncle Erland sekalipun. Uncle Erland tetap akan merasakan sakit hati. Jadi dari sini sweetie paham kan kenapa Daddy dan aunty Maura tidak bisa menikah karena?"


"Karena bisa melukai hati Uncel Erland," jawab Anya yang langsung mendapat cubitan lembut di pipinya. Tentunya cubitan itu dari sang Daddy.


"Pintar sekali anak Daddy ini. Jadi jangan minta hal seperti itu lagi ya nak," tutur Zico yang diangguki oleh Anya.


Anggukan kepala dari Anya itu membuat Zico langsung membawa tubuh mungil putri semata wayangnya tersebut kedalam gendongannya. Tentunya Anya langsung melingkarkan tangannya di leher Zico dan dengan tubuh yang lemas karena keinginan memjadikan Maura sebagai ibunya telah musnah, ia menyandarkan kepalanya di dada bidang sang Daddy.


Hal itu tentunya membuat Mommy Della dan Daddy Aiden yang sedari tadi memperlihatkan interaksi mereka berdua tersenyum dengan menggeleng-gelengkan kepala mereka. Kemudian setelahnya keempat orang itu masuk kedalam rumah kembali. Dan setelah ini mereka akan menghibur Anya yang mereka yakini jika gadis kecil itu saat ini tengah bersedih itu.


Disisi lain, tepatnya di dalam mobil yang dikendarai oleh Erland tak ada dari mereka berdua yang saling bertukar bicara. Keduanya tengah fokus dengan kegiatan mereka masing-masing. Erland yang fokus dengan jalanan. Sedangkan Maura terus memandangi wajah Anya yang sudah ia jadikan sebagai wallpaper ponselnya.


"Kenapa Anya bisa secantik ini sih? Sumpah demi apapun, aku baru melihat bocah secantik dia," celetuk Maura. Ya walaupun ia tau darimana asalnya Anya bisa good looking bahkan seperti boneka ini tentunya karena gen kedua orangtuanya terlebih gen dari ibunya. Maura sudah melihat secantik apa ibu Anya itu tentunya berkat Erland yang memberi tahu dirinya. Maura sampai tak bisa berkata-kata, ia juga tak bisa mendeskripsikan wajah ibu Anya itu saking cantiknya. Jadi tidak bisa di pungkiri kecantikan Anya menurun dari ibunya.


Erland yang mendengar perkataan dari Maura tadi, ia menolehkan kepalanya kearah sang istri sembari tersenyum.


"Anya memang cantik sayang. Aku pun juga tidak tau kenapa dia bisa memiliki paras seperti itu," timpal Erland.


Maura menganggukkan kepalanya sembari ia menyimpan kembali ponselnya itu kedalam tas kecil yang berada di pangkuannya.


"Aku jadi penasaran bagaimana rupa anak kita nanti ya sayang. Apakah dia persis sepertimu atau malah persis sepertiku?" tanya Maura dengan membayangkan wajah anak-anak mereka nantinya.


"Entahlah sayang. Mau dia mirip sama kamu atau lebih mirip ke aku, aku tidak akan pernah mempermasalahkan hal itu. Karena yang terpenting, anak-anak kita tumbuh dan berkembang dengan sehat dan tidak kekurangan suatu apapun," ujar Erland dengan tangan yang bergerak untuk meraih tangan Maura untuk ia genggam.


"Benar juga apa katamu itu. Tidak masalah mau mirip sama siapa yang penting sehat," ucap Maura yang diangguki oleh Erland.


Lalu setelah percakapan itu usai, tak ada percakapan lain yang mengisi perjalanan mereka. Hingga mobil yang di kendarai oleh Erland telah sampai di kediaman keluarga Louis yang merupakan rumah orangtua Maura.


Hari ini mereka berniat untuk berpamitan saja kepada Mama Dian dan Papa Louis karena malam ini ia akan menempati rumah baru mereka.


Dengan bergandengan tangan, keduanya melangkahkan kakinya menuju ke pintu utama. Tanpa salah satu dari mereka mengetuk pintu, pintu utama itu sudah lebih dulu di buka oleh salah satu maid disana yang kebetulan ingin keluar.


"Ehhh tuan Erland dan nona Maura. Silahkan masuk," ucap maid tadi sembari melebarkan pintu itu agar memudahkan dua majikannya masuk kedalam rumah.


Dengan tersenyum ramah, Maura berucap, "Terimakasih bik."

__ADS_1


Maid tadi membalasnya dengan senyuman serta anggukan kepala. Dan setelah melihat kedua majikannya itu semakin memasuki rumah tersebut, maid tadi menutup kembali pintu utama itu. Ia pun juga mengurungkan niatnya yang tadi ingin keluar dan memilih masuk kembali.


"Bik, Mama sama Papa dimana?" tanya Maura saat ia tak melihat kedua orangtuanya di ruang tamu ataupun di ruang keluarga.


"Oh tuan dan nyonya tengah berada di halaman belakang, nona," jawab maid tersebut.


"Di halaman belakang. Baiklah saya dan Erland akan kesana. Terimakasih atas informasi ya bik," ucap Maura.


"Sama-sama Nona," balas maid tadi sebelum Maura dan Erland melangkahkan kakinya menuju ke halaman belakang rumah tersebut.


Dan benar saja apa yang dikatakan oleh maid tadi jika Mama Dian dan Papa Louis saat ini berada di Gasebo yang berada di samping kolam renang. Tampaknya sepasang suami-istri itu tengah berbincang-bincang ringan ditemani dengan secangkir teh hangat dan beberapa cemilan yang menemani mereka berdua.


Maura dan Erland yang sudah tau keberadaan kedua orang paruh baya itu, keduanya segara mendekati mereka berdua.


"Assalamualaikum, Ma, Pa," ucap Erland serta Maura secara bersamaan.


Tentunya hal itu membuat kedua orang tua tersebut mengalihkan pandangannya.


"Waalaikumsalam. Sejak kapan kalian berdua ada disini? Sini-sini duduk," ucap Mama Dian dengan menepuk-nepuk tempat kosong di Gasebo itu.


Tanpa ba-bi-bu lagi, Maura maupun Erland mendudukkan tubuhnya mereka, bergabung dengan Mama Dian dan Papa Louis. Tak lupa Erland pun menjawab pertanyaan dari Mama Dian tadi.


"Kita baru saja sampai kok Mom. Oh ya Erland mau bicara sama Papa dan Mama." Mama Dian dan Papa Louis tampak saling pandang satu sama lain, tapi sesaat setelahnya terlihat keduanya menganggukkan kepala mereka.


"Kalian mau bicara apa? Mama sama Papa akan dengarkan," ucap Mama Dian.


Erland menghela nafas panjang sebelum ia kembali angkat suara, "Jadi begini Pa, Ma. Erland mau memberitahu Papa sama Mama sekaligus Erland dan Maura mau berpamitan."


Mama Dian dan Papa Louis mengerutkan keningnya.


"Kalian mau kemana memangnya?" tanya Papa Louis penasaran.


"Erland mau mengajak Maura untuk tinggal di rumah baru kita mulai malam ini Pa."


"Rumah baru?" Erland dan Maura sama-sama menganggukkan kepalanya membalas ucapan dari Mama Dian tadi.


"Apakah rumah baru kalian itu sudah terjamin keamanannya?" tanya Papa Louis. Ia sudah tau mengenai masalah yang Tengah menimpa Maura beberapa hari yang lalu. awalnya Ia juga ingin pulang dan membantu keluarga menantunya untuk menyelesaikan permasalahan tersebut. namun dengan tegas mereka malah menolak permintaan dari Papa Louis. Katanya Papa Louis cukup mendoakan saja dan biarkan mereka bergerak sendiri. Alhasil dengan berat hati papa Louis menyetujui untuk menyerahkan masalah putrinya itu untuk diselesaikan keluarga menantunya. Dan hasil dari keluarga menantunya itu menyelesaikan masalah Maura sama seperti yang ia inginkan. Jadi tidak heran jika Papa Louis saat ini khawatir jika mereka harus pindah rumah. Takut jika menantu dan putrinya akan disakiti oleh orang lain dan nyawa mereka yang terancam.


"Untuk masalah keamanan di rumah baru kita ini sudah terjamin, Pa. Erland juga sudah menyuruh beberapa orang untuk memperkuat keamanan di rumah kita. Jadi Papa perlu khawatir. Rumah itu bisa Erland jamin keamanannya," ujar Erland dengan penuh percaya diri. Lagain siapa yang tidak percaya diri jika Erland membangun rumah ditempat yang sangat ketat keamanannya ditambah para anak buahnya ia kerahkan semuanya untuk menjaga di rumahnya itu. Jadi kalau digambarkan, rumah baru yang akan di tempati oleh Erland dan Maura dikelilingi dengan rumah anak buah Erland. Jadi dari sini lah tingkat keamanan rumah tersebut tak perlu di ragukan lagi.


Papa Louis dan Mama Dian tampak terdiam sesaat sebelum terdengar helaan nafas dari Papa Louis.


"Ya sudah kalau itu memang keputusan kalian untuk tinggal di rumah baru kalian, Papa tidak akan mencegah kalian. Tapi pesan Papa, jika terjadi sesuatu dengan kalian langsung telepon Papa atau Mama," ucap Papa Louis yang diangguki oleh Maura maupun Erland sebelum pasutri muda itu menatap kearah Mama Dian.


Mama Dian yang paham tatapan kedua orang itu, ia menganggukkan kepalanya.


"Mama juga memberikan izin ke kalian untuk tinggal di rumah baru kalian. Tapi Harus ingat pesan Papa tadi," ucap Mama Dian. Ia juga tak bisa mencegah mereka untuk berbuat yang mereka mau, karena ia tak ingin menimbulkan masalah di rumah tangga putrinya jika ia mencegah keinginan mereka itu.


Maura dan Erland yang mengantongi izin dari Mama Dian dan Papa Louis tak bisa menyembunyikan senyuman mereka sehingga Maura langsung memeluk tubuh Mama Dian.


"Terimakasih Ma. Nanti kalau Maura kangan sama Mama dan Papa, Maura akan main kesini. Dan Mama juga Papa harus sering-sering main ke rumah baru kita berdua. Oke," ucap Maura yang diangguki oleh kedua orangtuanya.


Untuk sesaat tak ada lagi percakapan diantara keempat orang tadi, sampai suara Papa Louis memecah keheningan diantara mereka.


"Kalian akan berangkat jam berapa?" tanyanya.


"Hmmm satu jam lagi deh. Ya kan sayang," ucap Maura dengan meminta persetujuan dari suaminya tercinta. Dan tentunya Erland mengangguk, mensetujui permintaan dari Maura tadi.

__ADS_1


"Ya sudah kalian begitu nanti sekalian makan malam disini saja," pinta Mama Dian.


"Kan tujuan kita berangkat satu jam lagi karena kita ingin menumpang makan disini," celetuk Maura yang membuat kedua laki-laki disana tertawa terbahak-bahak sedangkan Mama Dian mencebikkan bibirnya. Ia pikir Maura meminta suaminya untuk mengulur waktu labih lama lagi di kediamannya karena Maura ingin bermanja-manja dulu dengan dirinya, tapi ternyata tak disangka-sangka, putrinya itu justru memiliki niatan lain yang berhasil membuat dirinya kesal sendiri. Tapi setelahnya Mama Dian ikut tertawa, terlebih saat suaminya menimpali ucapan Maura dengan candaan dia yang berhasil membuat suasana di gazebo itu menjadi lebih hidup. Canda tawa mereka seperti pengantar sang matahari menyelesaikan tugasnya di atas sana.


__ADS_2