PASUTRI (Troublemaker)

PASUTRI (Troublemaker)
Bab 217


__ADS_3

Maura tampak menatap mereka yang berada di ruang makan itu yang saat ini sudah menyantap makanan mereka. Ia merasa ada yang kurang dengan anggota keluarga Abhivandya. Ingin sekali ia bertanya, tapi Maura merasa tidak enak melakukannya. Namun jika dirinya tidak bertanya, ia benar-benar penasaran.


Erland yang melihat istrinya tidak kunjung menyantap makan malamnya, ia menatap lekat kearah Maura yang kini tengah melihat kearah Anya.


"Sayang, kamu kenapa tidak makan? Apa kamu tidak suka dengan menu makanannya?" tanya Erland yang membuat ketiga orang dewasa lainnya menjadi menatap kearah Maura.


Maura yang tiba-tiba ditanya pun ia gelagapan.


"Ahhh tidak. Menu makan malam ini sangat menggugah selera kok. Aku juga mau makan ini," ujar Maura dengan menyuapkan makanan kedalam mulutnya.


"Beneran sayang? Kalau kamu tidak suka bilang saja, biar Mommy bilang ke chef buat bikini makanan seperti yang kamu mau," ujar Mommy Della.


Maura menggelengkan kepalanya.


"Tidak perlu Mom. Makanan ini sudah cukup buat Maura," tolak Maura karena bukan itu alasan dirinya menunda makanannya tadi.


"Syukurlah kalau memang kamu suka dengan menu makanannya. Tapi kalau kamu menginginkan yang lain jangan sungkan buat bilang ke Mommy atau Erland atau malah ke chef-nya langsung juga tidak apa-apa. Lakukan saja oke," ucap Mommy Della yang diangguki oleh Maura. Mommy Della tersenyum sebelum ia kembali fokus ke makanan di depannya begitu juga dengan ketiga laki-laki tadi yang kembali menyantap makan malam mereka, mengesampingkan Maura yang masih di landa kebingungan dan juga rasa penasaran yang tinggi.


Tak ada yang bersuara dalam makan malam itu, sampai akhirnya mereka telah selesai dengan aktivitas malam mereka itu. Dan mereka semua berpindah tempat ke ruang keluarga. Sedikit bercakap-cakap, namun tidak dengan Maura yang terus memperhatikan Anya sedari tadi. Sedangkan anak perempuan yang sepertinya tau jika tengah di tatap oleh Maura, ia hanya bersikap cuek dan lebih memilih fokus dengan televisi di depan sana yang tengah memperlihatkan acara kartun.


Maura menghela nafas, lalu ia menatap kearah Erland, memajukan wajahnya kedekatan telinga Erland, kemudian ia berbisik, "Sayang, boleh kita bicara sebentar?"


Erland menolehkan kepalanya dengan salah satu alisnya yang terangkat sebelum ia menganggukkan kepalanya, tanda mensetujui permintaan Maura tadi.


"Mom, Dad, Jio, Erland sama Maura ke kamar duluan ya. Selamat malam," ucap Erland berpamitan kepada kedua orangtuanya.


Mommy Della, Daddy Aiden, dan Zico menganggukkan kepalanya tak lupa senyuman pun juga mereka perlihatkan sembari berkata, "Selamat malam."


Balasan serempak dari ketiga orang itu membuat Erland langsung menggandeng tangan Maura untuk pergi dari ruang keluarga tersebut menuju ke kamar Erland.


"Apa yang ingin kamu bicarakan?" tanya Erland kala mereka berdua telah sampai di dalam kamar dan sudah duduk di sofa yang berada di dalam kamar tersebut.


"Jadi begini, kamu tadi siang kan bilang kalau keluarganya Abang kamu itu akan menetap disini setelah bertahun-tahun tinggal di Rusia bukan?" Erland menganggukkan kepalanya.


"Terus?" ucap Erland agar Maura melanjutkan ucapannya.


"Terus kalau mereka mau pindah kesini, kenapa aku hanya melihat Anya dan ayahnya saja? Maksudnya dimana ibunya Anya? Apa dia tidak ikut pindah dan menetap disini? Kalau begitu alasannya apa ya sayang? Dan kenapa perempuan itu tega melepas Anya untuk tumbuh dan berkembang tanpa pantauan dia?" tanya Maura yang akhirnya ia bisa mengeluarkan segala pertanyaan yang sedari tadi memenuhi pikirannya itu.


Tanpa Maura sadari, Erland kini mengepalkan tangannya. Menahan agar ia tak bersikap kasar dengan Maura ataupun sampai melukai hati ataupun fiksi istrinya itu. Karena saat Erland mendengar ucapan dari Maura tadi, emosinya langsung naik seketika bersamaan dengan rasa sakit di hatinya, seakan-akan ia mendapatkan ribuan jarum yang menusuk secara bersamaan di hatinya itu sehingga sakit yang ia rasakan tak bisa ia definisinya. Tapi dengan hebatnya Erland menekan rasa sakit serta emosinya itu secara bersamaan dengan mengorbankan telapak tangannya sendiri sebagai pelampiasannya. Ia sampai tak menyadari jika telapak tangannya itu mengeluarkan darah segar.


Maura yang tak segera mendapatkan jawaban dari Erland atas segala pertanyaan tadi, ia mengerutkan keningnya.


"Sayang kenapa diam saja? Jawab dong pertanyaan aku tadi. Aku benar-benar kepo maksimal ini," ujar Maura tapi sayangnya Erland masih enggan untuk membuka mulutnya untuk berbicara.


"Ck, kenapa tiba-tiba diam membisu begini sih? Apa aku salah bertanya sama kamu?" tanya Maura yang benar-benar kebingungan.


Namun sayangnya ia masih tak mendapat jawaban apapun dari Erland yang membuat Maura berdecak kesal, ia pun mengalihkan pandangannya namun tak sengaja matanya itu melihat kearah tangan Erland yang tengah mengeluarkan darah segar itu. Seketika mata Maura terbuka lebar dan dengan khawatir ia meraih kedua tangan Erland, mencoba membuka kepalan tangan suaminya itu.


"Sayang apa yang sedang kamu lakukan. Tangan kamu buka, jangan di genggaman kayak gini," ujar Maura yang masih berusaha membuka kepalan tangan Erland. Tapi sayangan Erland sangat erat mengepalkan tangannya hingga Maura tak bisa membuka kepalan tersebut.


Maura yang sudah kalut sekaligus takut jika Erland kenapa-napa karena Erland tak juga memberikan respon apapun kepadanya, Maura berteriak dengan sangat kencang memanggil nama Erland.


"Erland! Lepas!" Teriakan nyaring yang Maura lakukan itu berhasil membuat kesadaran Erland kembali. Laki-laki itu mengerjabkan matanya sebelum tatapan matanya itu ia arahkan ke sang istri yang tengah menangis dengan memegangi kedua tangannya.


"Sayang kamu kenapa nangis?" tanya Erland yang seperti orang bodoh.


Dengan mata memerah Maura menatap kesal kearah suaminya itu lalu dengan kasar ia menarik tangan Erland, ia bawa tangan itu tepat di depan wajah Erland.


"Masih tanya aku nangis gara-gara apa? Ini lihat! Tangan kamu terluka! Aku nangis gara-gara ini apalagi saat kamu tidak memberikan respon apapun kepadaku! Aku takut kamu kenapa-napa Erland! Hiks!" ucap Maura dengan intonasi suara yang ia naikkan. Untung saja kamar tersebut kedap suara, jika tidak mungkin orang lain yang mendengar suara Maura tadi menyangka jika sepasang suami-istri itu tengah bertengkar hebat.


Erland tampak menghela nafas saat menatap telapak tangannya itu. Selalu saja dirinya melakukan hal tersebut kala emosinya sudah meluap-luap. Tadi disisi lain ia bersyukur karena dengan cara ini ia tak menyakiti orang yang ia sayangi.


Erland kini merengkuh tubuh Maura, membawanya kedalam pelukannya.

__ADS_1


"Kamu tidak perlu khawatir sayang. Aku baik-baik saja. Ya walaupun rasanya sedikit perih sih. Tapi tidak separah yang kamu pikirkan kok. Jadi kamu tenang ya, jangan nangis lagi," ujar Erland yang justru membuat Maura langsung melepaskan pelukan mereka secara kasar. Perempuan itu kini memberikan tatapan tajam, sebelum dirinya beranjak dari samping Erland menuju ke salah satu nakas yang berada disisi ranjang.


Erland hanya memperhatikan Maura, sampai perempuan itu kembali kearahnya dengan membawa kotak P3K. Erland tersenyum saat melihatnya.


"Mana sini tangannya," ujar Maura dengan suara yang ia lembutkan kembali.


Dengan senang hati Erland memberikan tangannya kehadapan Maura. Sedangkan Maura, ia kini sibuk mencari obat-obatan yang akan ia gunakan untuk mengobati luka Erland tersebut. Dan saat ia mulai membersihkan luka Erland, omelan dari bibirnya pun keluar.


"Kenapa kamu melukai diri kamu sendiri sih sayang? Ada apa dengan kamu sebenarnya?" tanya Maura tak habis pikir. Dan lagi-lagi dari sekian banyaknya pertanyaan yang sedari tadi keluar dari bibir Maura tak mendapatkan balasan apapun dari suaminya itu.


Maura berdecak sembari mengalikan pandangannya kearah Erland yang saat ini tengah memandangnya dengan tatapan bodoh. Maura yang sudah kepalang kesal dengan suaminya pun ia menekan luka yang berada di telapak tangan Erland itu. Tentunya hal tersebut membuat Erland mengerang kesakitan, "Arkkhhhhhhh, sakit sayang sakit."


Maura yang sudah puas melihat ekspresi kesakitan di wajah Erland, ia menghentikan aksinya itu dengan bibir yang berucap, "Makanya kalau ditanya itu jawab bukan malah diam membisu. Lama-lama kalau aku kesal, aku jahit mulut kamu biar sekalian kamu tidak bisa bicara!"


Erland yang masih meringis kini dirinya dibuat merinding dengan ucapan Maura tadi.


"Jangan dong sayang. Kalau bibir aku, kamu jahit terus aku makannya gimana? Aku juga tidak bisa mengajari anak kita nanti berbicara lho." Maura memutar bola matanya malas.


"Kalau tidak mau aku jahit beneran tuh mulut, kalau aku bertanya tuh ya dijawab!" ucap Maura dengan galak.


"Iya-iya sayang maaf. Jadi coba ulangi kamu mau tanya aku apa?" ujar Erland.


"Kamu kenapa melukai diri kamu sendiri?" ulang Maura dengan sabar.


Erland memantap telapak tangannya yang sudah di selesai di obati oleh Maura sebelum ia menggedikkan bahunya.


"Entahlah aku juga tidak tau. Mungkin aku refleks kali tadi," ujar Erland yang mencoba beralasan agar Maura tidak curiga kepadanya. Namun nyatanya alasannya itu tak masuk akal.


"Refleks apa coba? Memangnya sebelum telapak tangan kamu terluka, kamu mau melakukan apa?" tanya Maura yang semakin tak mengerti dengan suaminya itu.


Sedangkan Erland, ia menggaruk tengkuknya yang tak gatal.


"Sebenarnya sayang, aku pun juga tidak mengerti kenapa aku melukai telapak tanganku sendiri. Jadi sudahlah lupakan saja. Toh luka ini juga tidak terlalu dalam dan membahayakan nyawaku. Dan lebih baik kita istirahat saja yok. Aku besok harus ke kantor pagi, soalnya ada agenda meeting sama klien penting," alibi Erland yang tak salah sama sekali karena memang ia besok harus ke kantor untuk kembali beraktivitas seperti biasa setelah beberapa hari ini ia meliburkan dirinya.


"Tidur duluan sana. Aku mau beresin semua ini dulu," ujar Maura yang diangguki oleh Erland. Lalu kemudian, ia berjalan menuju ke ranjang. Sedangkan Maura, ia segara membereskan kotak P3K yang sempat beberapa barang yang berada di dalam kotak obat-obatan itu ia keluarkan tadi. Dan kemudian, barulah ia menyusul Erland diatas ranjang. Tak ada percakapan lagi setelahnya karena mereka berdua memilih untuk mengistirahatkan tubuh mereka.


...****************...


"Kamu beneran mau disini saja sayang? Gak mau pulang ke rumah Mama sama Papa?" tanya Erland. Mereka berdua saat ini berada di depan pintu utama rumah keluarga Abhivandya. Ia dan Maura tadi sudah berbicara jika Maura memilih untuk tetap di rumah mertuanya saja saat Erland bekerja. Erland pun juga sudah menjawab pertanyaan-pertanyaan Maura yang kemarin malam perempuan itu tanyakan kepadanya. Tentunya Maura sampat shock mengetahui fakta mengejutkan itu. Dan salah satu alasan dirinya memilih untuk tetap di rumah mertuanya karena Anya. Ia harus segara mendekatkan dirinya dengan gadis kecil itu. Apapun caranya akan Maura usahakan.


Maura menganggukkan kepalanya dengan mantap.


"Iya sayang. Aku mau disini saja. Lagian kalau aku pulang yang ada aku kesepian karena di rumah hanya sama para maid yang super sibuk. Jadi lebih baik aku disini saja. Karena kalau disini setidaknya ada Anya sama Mommy yang menemani kesendirianku saat kamu kerja," ujar Maura. Erland memang tidak mengetahui niatannya untuk mendekati Anya. Jadi Maura hanya memberikan alasan yang cukup logis itu untuk menyakinkan sang suami.


Mommy Della yang kebetulan tadi mengantar Zico dan sang suami berangkat bekerja, ia mencebikkan bibirnya.


"Kamu tidak percaya jika Maura disini akan baik-baik saja?" semprot Mommy Della dengan kedua tangannya yang lipat di depan dadanya.


Erland dan Maura menolehkan kepalanya ke sumber suara.


"Bukan begitu Mom. Erland sangat percaya jika Maura akan baik-baik saja disini. Tapi Erland hanya takut Maura tak nyaman saja," timpal Erland yang membuat Mommy Della menatap menantunya.


"Memangnya iya kamu tidak nyaman disini, Ra?" Dengan cepat Maura menggelengkan kepalanya.


"Tidak sama sekali Mom. Maura malah senang kalau disini," jawab Maura.


"See, kamu dengar sendiri kan jika istrimu ini sangat nyaman disini. Jadi biarkan saja kalau dia mau disini. Rumah ini juga rumah dia. Jadi dia bebas mau tinggal disini sampai kapanpun, seumur hidup juga sok silahkan," tutur Mommy Della.


Erland menghela nafas panjang sebelum ia mengalihkan pandangannya kearah Maura kembali.


"Ya sudah kalau kamu memang mau disini. Tapi ingat harus makan yang benar, istirahat yang cukup dan jangan sampai kelelahan," ucap Erland mewanti-wanti istrinya itu.


Maura tersenyum sembari menganggukkan kepalanya.

__ADS_1


"Pasti. Disini juga ada Mommy yang akan mengingatkan aku kalau aku berbuat yang berlebihan," ujar Maura yang langsung dihadiahi acungan jari jempol oleh Mommy Della.


"Ya sudah kalau begitu, aku berangkat dulu." Erland mengecup seluruh wajah Maura. Lalu setelahnya barulah Maura yang mengecup punggung tangan Erland.


"Hati-hati dan semangat bekerja," ujar Maura yang diangguki oleh Erland sebelum laki-laki itu kini menghampiri Mommy Della, ia raih tangan yang sudah mulai berkeriput itu lalu ia kecup sesaat sebelum kecupan itu berpindah di kedua pipi dan kening Mommy Della.


"Erland berangkat Mom. Titip Maura ya," ujar Erland.


"Iya-iya. Udah sana pergi," tutur Mommy Della dengan sedikit memberikan dorongan di tubuh sang putra agar segara berangkat pergi.


Erland hanya mendengus kesal. Dan sebelum ia masuk kedalam mobilnya ia berkata, "Assalamualaikum!"


"Waalaikumsalam!" jawaban kedua perempuan itu secara serempak.


Erland yang mendengar jawaban dari kedua perempuan kesayangannya itu, ia segara masuk kedalam mobilnya lalu menjalankan mobilnya namun sebelum mobil itu benar-benar menjauh, Erland membunyikan klaksonnya untuk berpamitan yang terakhir kali.


Mommy Della dan Maura melambaikan tangan sampai mobil yang dikendarai oleh Erland sudah tak terlihat lagi di pandangannya mereka.


"Ayo sayang kita masuk," ucap Mommy Della dengan memeluk pundak sang menantu.


Maura tersenyum sembari mengangguk. Kedua perempuan itu kini masuk kembali ke dalam rumah tersebut.


Maura mengedarkan pandangannya ke segala arah, ia mencari keberadaan gadis cantik yang berhasil mengusik hatinya sejak pertama kali mereka bertemu. Tapi sayangnya Maura tak menemukan keberadaan Anya. Maura yang tak ingin menebak-nebak sendiri kemana gadis kecil itu berada, ia memilih untuk bertanya saja dengan mertuanya. Pasti Mommy Della tau Anya saat ini dimana.


"Mom," panggil Maura bertepatan mereka berdua sampai di ruang keluarga.


Mommy Della yang baru mendudukkan tubuhnya, kini menatap Maura yang duduk disampingnya.


"Ya, kenapa nak? Apa ada sesuatu yang kamu inginkan?" Maura menggelengkan kepalanya.


"Maura sedang tidak menginginkan apapun Mom. Hanya saja Maura hanya ingin tau dimana Anya? Maura tidak melihat dia ikut sarapan tadi," ujar Maura.


"Oh Anya. Anak itu masih tidur. Mungkin dia masih jet lag. Kamu mau membangunkan dia? Kalau mau, silahkan. Dia juga harus sarapan pagi ini karena susunya tadi malam tidak habis dia minum. Takutnya dia kelaparan saat kita membiarkan dia terus tidur sampai siang," tutur Mommy Della yang membuat mata Maura berbinar.


"Memangnya boleh Mom?"


"Kenapa tidak. Kalau kamu mah, silahkan," ucap Mommy Della yang membuat senyum Maura mereka.


"Ya sudah kalau begitu Maura membangunkan Anya dulu. Tapi kalau boleh tau Anya di kamar mana ya Mom?" tanya Maura. Ia tak mungkin mencari sendiri kamar yang ditempati oleh Anya dari banyaknya kamar yang berada di rumah besar ini.


"Anya ada di kamar Jio. Kamar itu berada di pojok, pintu cat putih sebelah pintu yang bercat pink," ujar Mommy Della yang diangguki paham oleh Maura.


"Baik Mom. Kalau begitu Maura pergi dulu," ujar Maura yang diangguki oleh Mommy Della. Tapi baru beberapa langkah saja, suara Mommy Della kembali menghentikan langkah Maura.


"Tunggu Maura." Maura memutar tubuhnya, menghadap kearah Mommy Della kembali.


"Ya Mom?"


"Lebih baik kamu ke lantai duanya pakai lift saja. Jangan lewat tangga. Takut kamu kelelahan, nanti Mommy yang kena omel suami kamu," ujar Mommy Della yang diangguki oleh Maura.


"Ya sudah kalau begitu pergilah," ujar Mommy Della. Lagi dan lagi Maura hanya menanggapi ucapan dari mertuanya itu dengan anggukan kepala sebelum ia meneruskan langkah kakinya tadi.


Didalam lift, Maura menautkan kedua tangannya untuk menyalurkan rasa gugupnya yang tiba-tiba menghampiri dirinya.


"Huh, tenang Maura. Kamu pasti bisa mendekatkan diri kamu dengan Anya. Ini kesempatan kamu. Jadi jangan membuang-buang kesempatan bagus ini," ucap Maura mengintruksikan dirinya sendiri agar tak lagi gugup. Tak berselang lama pintu lift terbuka, Maura langsung keluar dari dalam sana dan dengan langkah lebar, ia mendekati kamar Zico berada.


Saat Maura sudah berada di depan kamar itu, ia menghela nafas panjang sebelum tangannya bergerak menyentuh kenop pintu kamar tersebut, membukanya dengan perlahan. Saat pintu kamar yang sengaja tak di kunci itu berhasil Maura buka, bibir Maura terangkat ke atas membentuk sebuah senyuman kala melihat tubuh mungil Anya yang masih terbalut selimut.


Maura kini berjalan mendekati ranjang di kamar tersebut. Maura kini berjongkok agar ia bisa menatap jelas wajah Anya yang begitu tenang kala terlelap.


Tangan Maura tak bisa diam, ia memberikan elusan di kepala Anya sembari ia berkata, "Cantik."


Maura memberikan pujian kepada gadis kecil itu yang memang seperti kenyataannya. Gadis kecil dengan mata indah, bibir mungil berwarna merah muda, hidung mancung, alis tebal dan pipi yang chubby. Sangat-sangat cantik persis seperti boneka hidup. Tapi dibalik kesempurnaan yang dimilikinya, terdapat perjalanan hidup yang berat untuknya. Dan mungkin jika Maura yang mengalami perjalanan hidup seperti yang dialami Anya, ia sangat yakin dirinya tidak akan kuat. Mungkin Maura juga memilih mati daripada menjalani hidup seperti yang pernah Anya lewati. Dan Maura sangat bangga dengan gadis kecil itu yang bisa sekuat dan setegar itu menjalani kehidupannya.

__ADS_1


__ADS_2