PASUTRI (Troublemaker)

PASUTRI (Troublemaker)
Bab 119


__ADS_3

"Sayang, kenapa diam hmmm? Masih sakit ya?" Suara Erland kembali terdengar yang membuat Maura kini mengerjabkan matanya, menatap tepat kedua mata Erland.


"Memangnya aku sakit apa?" tanya Maura dengan wajah polosnya.


Erland tampak terdiam sesaat dengan tangan menggaruk tengkuknya.


"Hmmm itu anu yang dibawah. Tadi malam kan keluar darah saat kita melakukan hubungan," ucap Erland merasa canggung ketika membahas kejadian tadi malam yang membuat dirinya merasa malu sendiri.


Maura yang paham arah pembicaraan Erland kali ini, pipi putihnya memerah.


"Sedikit," balas Maura singkat dengan wajah yang ia arahkan ke arah mana saja selagi tidak menatap langsung ke arah suaminya.


Erland yang mendengar jawaban dari Maura pun ia hanya mengangguk-anggukkan kepalanya. Dan setelahnya tak ada lagi percakapan diantara sepasang suami-istri itu. Maura masih setia menatap kearah lain dengan merasakan wajahnya yang semakin panas menahan rasa malunya. Sedangkan Erland, laki-laki itu tetap berdiri disamping ranjang dengan kepala yang ia tundukkan. Cukup lama pasangan itu dilanda kesunyian hingga Maura berucap, "Hmmmm aku akan mandi sekarang."


Ucapan itu seakan-akan menyadarkan Erland dari keterdiamannya.


"Ahhhh baiklah. Aku keluar dulu," ucap Erland dan tanpa menatap kearah Maura, ia langsung memutar tubuhnya, lalu melangkahkan kakinya menuju ke pintu kamar, berniat keluar dari dalam kamar tersebut. Dan bertepatan dengan langkah Erland yang perlahan mendekati pintu, Maura berusaha untuk bangkit dari atas ranjang. Namun hanya berdiri saja ia merasakan ngilu di bawah sana yang membuat dirinya refleks merintih kesakitan, "Sttt aws!"


Rintihan yang keluar dari bibir Maura berhasil masuk kedalam indra pendengaran Erland yang baru saja ingin membuka pintu kamar. Laki-laki tersebut langsung menolehkan kepalanya kearah sang istri. Matanya melebar saat melihat raut wajah Maura yang tampak kesakitan. Tanpa menunggu lama, Erland berlari mendekati Maura.


"Sayang, kenapa?" tanya Erland khawatir. Bahkan ia kini berjongkok tepat di hadapan Maura yang terduduk di sisi ranjang dengan menggenggam kedua tangan Maura. Menatap lekat wajah Maura yang masih saja meringis kesakitan.


"Masih sakit ya? Kalau masih sakit, kita kerumah sakit sekarang juga. Aku ambilkan baju ganti untuk kamu dulu. Tunggu sebentar." Saat Erland sudah berdiri dan ingin beranjak, lengannya lebih dulu di cekal oleh Maura hingga mau tak mau Erland menghentikan langkahnya.

__ADS_1


"Kenapa?" tanya Erland.


Maura menggelengkan kepalanya sembari berkata, "Tidak. Kita tidak perlu kerumah sakit."


"Kok tidak perlu. Kamu sampai gak bisa jalan gini lho sayang." Lagi dan lagi Maura menggelengkan kepalanya.


"Aku masih bisa jalan, Erland. Hanya ngilu saja. Hmmm dan kalau boleh, aku mau minta tolong sama kamu," ucap Maura yang membuat Erland kembali berjongkok di hadapan sang istri.


"Katakan, sebisa mungkin aku akan membantumu," ujarnya.


Maura mengigit bibir bawahnya. Sebenarnya ia sangat malu mengatakan ini. Tapi dia tidak mungkin memaksakan dirinya dan hanya ada Erland di rumah ini yang bisa ia mintai bantuan.


"Boleh kah aku minta tolong sama kamu untuk mengantarku kedalam kamar mandi," pinta Maura.


"Terimakasih." Erland menganggukkan kepalanya sebagai balasan atas ucapan dari Maura tadi. Kemudian ia berdiri, lalu setelahnya ia mengangkat tubuh Maura ala bridal style menuju ke kamar mandi.


"Kamu duduk disini dulu. Aku siapkan airnya," ujar Erland dengan mendudukkan tubuh Maura di atas kloset duduk. Dan tanpa menunggu persetujuan dari Maura terlebih dahulu, Erland segara menyiapkan air mandi untuk Maura.


"Pakai air hangat ya. Aku tadi sudah memasak air untuk mandi kamu. Akan aku ambil dulu airnya." Setelah mengatakan hal tersebut, Erland bergegas keluar dari dalam kamar mandi sekaligus keluar dari kamar tersebut menuju ke dapur. Niatnya tadi masuk kedalam kamar memang untuk melihat Maura apakah sudah bangun dari tidur lelapnya atau belum. Jika sudah ia akan bilang jika air panasnya yang akan digunakan untuk perempuan itu mandi sudah siap dan jika belum Erland akan menunggu sampai Maura bangun sendiri nantinya. Tapi setelah melihat Maura sudah bangun dia malah melupakan niat pertamanya tadi karena cukup khawatir saat melihat Maura kesakitan karena ulahnya tadi malam. Bahkan dirinya sempat berpikir, seberapa ganasnya dia tadi malam memangnya, sampai membuat Maura kesakitan seperti tadi padahal ia sudah berusaha bermain aman dan lembut. Tapi ternyata sama saja ia masih bisa membuat Maura kesakitan.


Erland dengan cekatan menyiapkan keperluan mandi Maura sampai baju ganti pun turut ia siapkan.


Maura yang melihat perhatian yang Erland berikan kepadanya membuat hati Maura tersentuh sekaligus tersentil, mengingat ia tak pernah memberikan perhatian kepada Erland sedikit pun. Bahkan hanya sekedar mengambilkan makanan ke piring Erland saat mereka makan bersama pun ia tak pernah melakukannya.

__ADS_1


"Semuanya sudah siap. Ada yang bisa aku bantu lagi?" Ucapan Erland menyadarkan Maura dari pikirannya yang tengah berkelana itu.


Maura tampak menatap kearah bathub yang sudah terdapat air hangat sebelum matanya beralih kearah kursi kecil yang merupakan kursi rias yang sempat Erland ambil tadi, dimana diatas kursi tersebut terdapat handuk kecil maupun handuk besar juga pakaian Maura. Erland sengaja meletakkan kursi itu tepat di samping bathub agar Maura tak harus banyak bergerak dan juga tak kesusahan saat mengambilnya.


Maura kini mengalihkan pandangannya kearah Erland kembali dengan senyuman di bibirnya.


"Tidak, semuanya sudah kamu siapkan tanpa aku meminta bantuan terlebih dahulu kepadamu. Terimakasih," ucap Maura yang dibalas anggukan serta senyuman dari Erland.


"Ya sudah kalau begitu aku keluar dulu. Tapi tunggu. Mau aku bantu untuk masuk kedalam bathub?" Maura menggelengkan kepalanya.


"Aku akan berusaha kesana sendiri."


"Kamu yakin?"


"Iya sayang, aku yakin," jawab Maura tanpa melunturkan senyumannya terlebih saat ia melihat respon yang diberikan oleh Erland setelah ia mengatakan kata sayang yang ia tujukan kepada suaminya itu. Dimana raut wajah Erland seperti orang terkejut namun sangat lucu di mata Maura.


Sedangkan Erland yang jantungnya sudah tidak bisa ia ajak kompromi lagi pun ia berdehem sesaat untuk sedikit menormalkan detak jantungnya, "Baiklah, aku keluar dulu. Kalau nanti kamu membutuhkan sesuatu, teriak saja karena aku akan menunggu kamu di dalam kamar. Dan kalau sudah selesai, kamu juga teriak, panggil aku karena aku yang akan membantumu keluar dari kamar mandi ini. Aku tidak akan mengizinkan kamu untuk jalan terlalu jauh dulu sebelum keadaanmu pulih."


Maura yang mendengar ucapan dari Erland hanya bisa menghela nafas namun tak urung dirinya menganggukkan kepalanya sebagai perwakilan dirinya untuk menjawab ucapan dari Erland.


Sedangkan Erland yang melihat anggukkan kepala dari sang istri, ia mengacak rambut Maura sebelum dirinya keluar dari dalam kamar mandi. Dimana saat ia sudah menutup pintu kamar mandi itu kembali, kedua tangannya langsung menyentuh dadanya tepat di sebelah jantungnya berada.


"Astaga! Gak beres nih jantung, detaknya kencang banget sampai rasanya mau copot dari tempatnya! Aku gak bisa gini terus, aku harus pergi ke dokter jantung setelah ini! Huh," gumam Erland yang merasa jika jantungnya tengah bermasalah saat ini. Padahal ia sendiri sebenarnya tau penyebab detak jantungnya memacu dua kali lipat dari biasanya, tentunya ya karena Maura, siapa lagi memangnya yang bisa membuat dia hampir jantungan tiap hari jika bukan istrinya tercinta itu. Hmmm tercinta? Entahlah.

__ADS_1


__ADS_2