PASUTRI (Troublemaker)

PASUTRI (Troublemaker)
Bab 76


__ADS_3

Si pengendara ojek online yang melihat wajah Maura yang malu-malu kucing itu, ia mencebikkan bibirnya sebelum dirinya berkata, "Giliran di lihatin orang, baru bisa diam. Haishhhh."


Maura yang masih bisa mendengar perkataan dari si pengendara ojek online ia mendelik dengan sedikit membuka kedua tangannya yang tadi ia gunakan untuk menutupi wajahnya.


"Lebih baik bapak diam saja deh. Jangan ikut campur. Dan lebih baik jalan sekarang. Lihat noh lampunya udah hijau," ucap Maura yang membuat si pengendara tersebut menatap kearah rambu-rambu lalu lintas di pojok jalan dan benar saja lampu itu sudah berubah warna. Dan karena hal itu, si pengendara langsung tancap gas secara mendadak yang lagi dan lagi membuat Maura hampir terjatuh.


"BAPAK, SIALAN!" umpat Maura dengan sangat keras. Ia sudah tidak peduli ada banyak orang yang menatapnya. Toh mereka juga tidak akan melihat wajah dia secara jelas karena saat ini motor tengah melaju lumayan kencang.


Sedangkan si pengendara ojek online yang mendapat umpatan, ia tak peduli. Dirinya terus menjalankan motornya itu sampai motor tersebut berhenti saat mereka telah sampai di lokasi yang Maura tuju.


Dengan wajah tertekuk, Maura turun dari atas motor. Ia mengedarkan pandangannya kearah parkiran toko buku tersebut, mencari apakah ada motor Erland disana. Namun saat dirinya melihat satu persatu motor disana, ia tak menemukan adanya motor yang sama persis dengan yang Erland kendarai.


"Kok motornya gak ada? Apa jangan-jangan feelingku salah lagi? Dan perginya dia tadi bukan kesini melainkan ke tempat lain?" gumam Maura masih menatap lurus kearah parkiran disana.


Dimana hal tersebut membuat si pengendara ojek online memincingkan alisnya, penasaran dengan yang dilakukan Maura saat ini.


"Heh neng. Kamu cari apa sih? Kok kamu lihat kearah parkiran terus sedari tadi. Jangan-jangan kamu berniat mau maling motor ya. Wahhhhh gak bisa di biarin ini," ucapnya bersiap untuk berteriak maling. Tapi niatnya itu harus terhenti kala tangan Maura lebih dulu mendarat di bibirnya.


"Bapak, apa-apaan sih? Siapa juga yang mau maling? Jangan fitnah dong jadi orang," semprot Maura sembari melepas tangannya yang ia gunakan untuk membungkam mulut si pengendara ojek online tadi.

__ADS_1


"Kalau memang kamu tidak berniat untuk maling, terus ngapain lihatin parkiran terus dari tadi?" tanyanya kembali karena pertanyaannya yang tadi belum juga di jawab oleh Maura.


Maura memutar bola matanya malas. Emang ya, sifat kepo itu melekat di diri manusia entah siapapun itu pasti sekali atau dua kali bahkan lebih mereka merasakan hal tersebut.


"Bapak tidak perlu tau. Dan lebih baik bapak tunggu disini dulu. Kalau sampai bapak ninggalin saya berarti bapak siap kehilangan ongkos dari saya," kata Maura dengan menyerahkan helm yang sudah ia lepas dari kepalanya itu. Dan setelah mengatakan hal tersebut, Maura bergegas untuk masuk kedalam toko buku di depan sana. Walaupun dengan mata kepalanya sendiri ia tak melihat ada motor Erland di parkiran tadi. Tapi entah kenapa ia yakin kalau suaminya saat ini berada di tempat itu. Mengingat selama dirinya bersama Erland, ia sudah melihat Erland sering gonta-ganti kendaraan dengan alasan jika kendaraan yang telah ia pakai saat itu milik temannya atau milik bosnya. Jadi walaupun Maura tidak melihat ada motor yang sama persis dengan motor yang tadi ia tumpangi bersama Erland saat datang ke toko buku itu, bukan berarti Erland tidak ada disana karena kembali lagi, Erland bisa mengganti kendaraannya agar Maura tidak curiga ketika perempuan itu mengikutinya seperti saat ini atau tidak sengaja melewati tempat yang tengah Erland kunjungi, pikir Maura yang benar-benar tak bisa berpikir positif lagi.


Si pengendara yang ditinggal begitu saja oleh Maura, ia tampak sebal setengah mati. Padahal niatnya tadi kalau Maura sudah memberikan ongkos kepadanya, ia langsung akan pergi dan meninggalkan perempuan itu. Biarkan saja Maura nanti pulang dengan ojek lainnya ia tak peduli. Karena dirinya sudah cukup muak mendapat umpatan, protesan dan ke cerewet Maura yang benar-benar membuat telinganya pengang. Tapi berhubung Maura belum memberikannya ongkos dengan berat hati, ia akan menunggu Maura sampai perempuan itu selesai dengan urusannya. Kemudian mengantar dia sampai ke tujuan berikutnya yang ia harap tujuan itu ke rumah si penumpangnya itu agar dirinya bisa terbebas dari penumpang modelan seperti Maura ini. Yang benar-benar menguras kesabaran dan membuat dirinya harus tebal muka saat menjadi pusat perhatian semua orang seperti tadi contohnya.


Sedangkan disisi lain, Maura yang telah masuk kedalam toko buku itu, ia sengaja menghentikan langkahnya di depan pegawai yang tengah berjaga di kasir toko buku tersebut. Tapi saat Maura melihat pegawai itu, kok wajahnya berbeda dengan wajah pegawai yang menurutnya sangat genit tadi?


Maura mengerjabkan matanya berkali-kali untuk memastikan pandangannya itu tak salah lihat. Hingga suara pegawai toko tersebut terdengar di telinganya.


"Maaf mbak, ada yang bisa saya bantu?" tanya pegawai tersebut yang membuat Maura tersadar dari keterbingungannya.


Dan karena hal tersebut Maura akhirnya angkat suara.


"Hmmm, saya mau tanya ke kamu. Kamu lihat pegawai yang tadi berdiri tempatmu itu?" tanya Maura yang membuat perempuan dihadapannya mengerutkan keningnya.


"Maaf kalau boleh tau siapa namanya ya?"

__ADS_1


"Saya tidak tau nama dia siapa. Pokoknya perempuan tadi berdiri di tempatmu itu. Dia juga salah satu pegawai disini," ucap Maura yang mulai ngegas sampai membuat perempuan dihadapannya sempat terkejut sesaat.


"Eeeee, kalau begitu mbaknya tadi kesini jam berapa? Karena kasir disini ada tiga sift."


"Belum lama sekitar 1 jam yang lalu mungkin. Ck, pokoknya sebelum kamu yang menggantikan posisi ini," jawab Maura yang benar-benar tidak sabaran untuk melabrak perempuan tadi.


"Ohhhh Teresa. Dia baru saja pulang," ucap si pegawai toko tersebut yang akhirnya paham siapa orang yang tengah dicari oleh Maura.


"Oh jadi namanya Teresa," ujar Maura dengan mengangguk-anggukkan kepalanya. Ingatkan kepada Maura untuk memasukkan nama Teresa kedalam daftar hitam yang harus ia jauhkan dari kehidupannya.


"Iya benar, mbak. Memangnya ada apa ya?" Maura menggelengkan kepalanya untuk menimpali pertanyaan dari si pegawai toko tadi.


"Tidak. Tidak ada apa-apa. Tapi kalau boleh tau, dia tadi pulangnya dengan motor sendiri atau dijemput oleh seseorang misalnya?" tanya Maura menggali lebih dalam lagi tentang Teresa.


"Kalau yang saya lihat tadi. Dia di jemput oleh seseorang."


"Oh ya? Apa orang yang menjemputnya adalah laki-laki?"


"Hmmm dari perawakannya sih memang laki-laki karena orang itu tadi menunggu di sebrang jalan jadi tidak terlalu kelihatan. Tapi saya sangat yakin sih yang menjemput Teresa memang seorang laki-laki," ucap si pegawai toko buku tersebut.

__ADS_1


"Kalau begitu motor yang digunakan oleh laki-laki yang menjemput Teresa apa? Apa motor sport berwarna hitam?" tanya Maura.


Si pegawai toko itu tampak mengingat-ingat sesaat sebelum ia menganggukkan kepalanya sembari berucap, "Ya. Motor yang laki-laki itu gunakan adalah motor sport berwarna hitam. Bahkan semua pakaian yang digunakan pun juga berwarna hitam."


__ADS_2