PASUTRI (Troublemaker)

PASUTRI (Troublemaker)
Bab 80


__ADS_3

Mata Maura semakin dibuat melotot kala ia melihat orang itu tidak hanya sendiri melainkan dengan seorang perempuan dan dua anak kecil sekitar umur 4 tahunan di gendongan orang yang ia kenal tadi dan satunya lagi di gandeng oleh perempuan yang berada sampingnya.


"Erland, sialan," umpat Maura dengan tatapan mata yang menatap lurus kearah empat orang yang baru masuk itu. Ya, orang yang baru masuk itu adalah Erland, orang yang sangat ia kenali dan yang sedari tadi ia cari keberadaannya.


Tapi tunggu dulu, sepertinya perempuan yang bersama dengan Erland saat ini bukan si pegawai genit itu alias si Teresa.


Maura semakin menajamkan penglihatannya terlebih kepada perempuan yang bersama Erland saat ini. Ia terus mengamati perempuan itu dari atas sampai bawah untuk memastikan jika tebakannya itu benar.


"Astaga, itu benar-benar bukan si Teresa. Tapi siapa perempuan itu? Apa hubungannya dengan Erland? Apa jangan-jangan sebenarnya Erland sudah memiliki keluarga dan kedua anak itu adalah buah hatinya dengan perempuan tersebut? Sialan! Sialan! Sialan! Jika sampai dia benar-benar sudah memiliki keluarga, aku tidak akan segan-segan untuk membunuh dia. Tidak peduli jika aku akan jadi janda nantinya. Toh aku juga masih perawan, status janda juga tidak akan mempengaruhi masa depanku nantinya," gumam Maura. Ia benar-benar akan membunuh Erland jika laki-laki itu benar-benar sudah berkeluarga dan dengan santainya dia menjadikan Maura sebagai istri mudanya alias istri keduanya.


Maura terus memperhatikan Erland dan perempuan tersebut sampai keduanya berbalik arah, sepertinya tengah mencari tempat yang kosong. Dimana berbaliknya keempat orang itu membuat Maura langsung meraih buku menu yang kebetulan berada diatas meja dihadapannya saat ini. Buku itu akan ia gunakan untuk menutupi wajahnya agar Erland tidak menyadari keberadaannya karena ia akan memastikan semuanya terlebih dahulu tentang tebakannya itu sebelum dirinya nanti akan meminta penjelasan kepada Erland.


Dengan menurunkan buku menunya sedikit, Maura mengintip pergerakan keempat orang di depan sana yang saat ini tengah menuju ke salah satu meja yang terletak tak jauh dari meja Maura, hanya terhalang 2 meja lainnya yang masih kosong tepat di pojok tempatnya duduk saat ini. Sehingga Maura hanya bisa melihat mereka berdua dari punggungnya saja.


Keempat orang itu tampak terlihat romantis dimata Maura. Hingga ingin sekali Maura nyempil diantara mereka berempat lebih tepatnya diantara dua orang yang tengah duduk berdampingan.


Maura menggertakkan giginya kala melihat tangan Erland yang merangkul pinggang perempuan itu.

__ADS_1


"Kalau sama perempuan itu saja dia bisa romantis seperti ini. Tapi kalau sama aku, boro-boro mau romantis, kayak Tom and Jerry malah iya. Ck, tapi kalau aku boleh membandingkan memang sih cantikan perempuan itu daripada aku. Perempuan itu tampak anggun sekali, tubuhnya pun masih sangat ramping walaupun sudah memiliki dua anak. Tapi dari pakaian yang di kenakan oleh perempuan itu, sepertinya perempuan tersebut bukan orang sembarangan. Perempuan itu sepertinya anak orang kaya atau malah dia kaya raya tanpa bantuan orangtuanya. Kalau memang seperti itu berarti aku kalah jauh dengan dia. Aku kan hanya beban keluarga bukan seperti dia," gumam Maura yang mulai membanding-bandingkan dirinya dengan perempuan yang saat ini bersama dengan Erland. Ia sadar selama ini dirinya hanya bisa merepotkan kedua orangtuanya bahkan merepotkan Erland.


Raut sedih pun tak bisa Maura sembunyikan. Ia seakan-akan tersentil dengan ucapannya sendiri tadi alias ia mulai insecure dengan perempuan yang bersanding dengan Erland itu.


"Tapi kalau memang mereka berpasangan, kenapa perempuan itu bisa mau sama Erland? Erland kan orang yang tidak punya apa-apa. Apa dia juga di paksa untuk menikah dengan Erland seperti aku?" gumam Maura bertanya-tanya. Namun sesaat setelahnya ia menggelengkan kepalanya.


"Tidak mungkin perempuan itu dipaksa menikah dengan Erland. Kalau dipaksa gak mungkin kan kalau mereka romantis seperti ini. Dan lihat lah, perempuan itu bahkan dengan nyamanya dia bersandar di pundak Erland. Aku sangat yakin jika mereka berdua menikah dengan landasan cinta bukan sepertiku yang menikah karena ucapanku," ujar Maura dengan menundukkan kepalanya. Ia tak menyangka jika nasibnya akan menjadi seperti ini. Tak pernah terbayangkan olehnya sebelumnya jika ia akan menjadi istri kedua atau bisa disebut dirinya seorang pelakor. Ya Tuhan kalau bisa ia memutar waktu, ia tidak akan pernah sembarangan berbicara atau kalau bisa ia tak akan pernah kembali ke Indonesia agar ia tak bernasib sial seperti akhir-akhir ini.


Maura mengerutkan keningnya kala ia merasakan jika ada seseorang yang mencolek lengannya. Hingga karena dirinya penasaran siapa orang yang mencoleknya itu, ia menolehkan kepalanya kearah kiri tanpa menurunkan buku menu di tangannya yang sedari tadi menutupi wajahnya itu.


Maura kembali melirik kearah Erland, tapi ia bisa bernafas lega kala Erland maupun perempuan itu tidak menolehkan kepalanya kearah dirinya. Keduanya masih fokus dengan keromantisan mereka. Dan itu benar-benar sangat memuakkan bagi Maura.


Lagi dan lagi Maura merasakan colekan di lengannya tersebut yang membuat dirinya mengalihkan pandangannya kearah anak laki-laki tersebut.


Ia menatap lekat mata anak tersebut yang semakin lama ia menatapnya, ia merasa jika anak itu mirip dengan Erland yang semakin membuat dirinya percaya jika memang anak ini adalah anak Erland dan perempuan tadi.


Maura menggelengkan kepalanya, untuk menyadarkan dirinya sendiri. Karena kalau ia tak segera sadar, bisa-bisa ia gila memikirkan tebakannya itu.

__ADS_1


Lalu tanpa tersenyum, Maura berucap, "Kenapa?"


Anak laki-laki tersebut tampak mengerjabkan matanya sangat lucu jika di mata orang lain selain Maura, karena kalau di mata Maura, ingin sekali ia membuang anak itu saat ini juga. Ingat, karena itu semua berhubungan dengan Erland yang sedari tadi membuat dirinya darah tinggi.


"Kenapa?" tanya Maura kembali karena tak kunjung mendapat jawaban dari anak kecil tersebut.


Anak laki-laki itu masih saja diam berdiri disampingnya yang membuat Maura bingung sendiri jadinya.


"Kenapa anak ini hanya diam saja? Apa dia bisu? Atau jangan-jangan dia tidak bisa bahasa Indonesia lagi? Biar aku coba pakai bahasa Inggris saja. Kalau tetap tidak menjawab berarti sudah fiks dia bisu," batin Maura.


Maura tampak berdehem kecil sebelum dirinya mengganti bahasanya dengan bahasa Inggris.


"Why?" tanyanya.


"Your menu book is upside down," kata anak laki-laki itu yang membuat Maura terkejut. Lalu setelahnya ia menatap kearah buku menu yang ia bawa tadi. Dan benar saja apa yang dikatakan oleh anak laki-laki tersebut, jika buku menunya terbalik.


Maura dengan cepat ia membalik buku menunya tersebut sembari bergumam, "Astaga, Maura bodoh sekali!"

__ADS_1


__ADS_2