
Erland tau jika dirinya tengah di kejar oleh Hazel, ia menambah kecepatannya namun tak urung Hazel bisa menyusul laju motornya itu.
Dan saat itu juga lagi dan lagi Hazel memepet motor Erland sembari berkata, "Hari ini gue pastikan kalau Lo bakal mati di pertandingan ini."
Setelah mengatakan hal itu tanpa Erland duga, tepat di sepatu yang di kenakan oleh Hazel muncul pisau runcing disana yang langsung diarahkan kepada Erland, tak hanya itu saja ternyata Hazel dengan berani ia mengeluarkan sebuah belati di balik jaket yang ia gunakan. Dimana belati itu ia acungkan kearah Erland bersamaan dengan pisau di kakinya itu.
Erland yang melihat ada serangan mendadak sebisa mungkin ia menghindari tusukan yang dilayangkan oleh Hazel tadi dengan ia yang harus fokus kejalanan. Karena perlu Erland akui trik licik yang dilakukan oleh Hazel ini benar-benar sangat ekstrim. Bagaimana tidak ektrim coba jika orang yang menjadi targetnya ia pepetkan ke pembatas lintasan sirkuit dengan dua senjata tajam yang terus mengintai targetnya itu. Dimana orang itu hanya ada dua pilihan yaitu mati di tangan Hazel atau memilih mengalah begitu saja.
Namun sayangnya Erland bukanlah target yang selalu bisa di taklukkan oleh Hazel seperti target-target laki-laki itu lainnya. Erland akan terus melawan laki-laki itu bagaimanapun caranya.
Erland melakukan hal itu bukan karena sebuah hadiah yang tengah di perebutkan dalam pertandingan ini melainkan ia akan membalaskan dendam pembalap lainnya yang telah gugur tadi dengan kemenangan dirinya.
Erland kini hanya bisa memainkan gas motornya itu jika Hazel ingin melukai sampai laki-laki itu terus mengumpat karena belum juga berhasil melumpuhkan Erland.
Namun Hazel tidak menyerah begitu saja, laki-laki itu menajamkan pandangannya kearah Erland yang berada di depannya itu sebelum ia menaikan kecepatannya lalu...
Brummmm!
Suara motor Hazel melaju kencang dan tanpa melakukan trik yang sama seperti sebelumnya, saat Hazel telah mengikis jarak antara dirinya dan Erland, ia langsung mengayunkan tangannya yang membawa belati tadi dan juga pisau yang berada di sepatunya kearah Erland. Dimana hal itu berhasil menilai lengan Erland juga kaki Erland. Walaupun laki-laki itu mengenakan celana jeans juga jaket denim tapi tajamnya pisau yang berada di balik sepatu Hazel juga tajamnya belati itu bisa merobekkan celana dan jaket tersebut.
__ADS_1
Erland tampak berdesis kala merasakan perih di area tubuh yang di lukai oleh Hazel tadi. Sedangkan Hazel, laki-laki itu tersenyum penuh kemenangan dibalik helmnya sebelum ia melanjutkan aksinya itu. Dimana saat ini ia berada di posisi pertama.
Erland tampak menatap kearah lengannya, dimana ia menghela nafas kala melihat darah segar sudah mulai merembas ke jaket yang ia kenakan.
"Pembalap sejati dia tidak akan pernah melakukan hal licik seperti ini. Aku tidak akan pernah membiarkanmu menang malam ini Hazel. Kamu boleh melukaiku tapi tekatku untuk menaklukkanmu disirkuit malam ini lebih tinggi dari rasa takutku kehilangan nyawaku sendiri karena sudah nekat melawanmu," gumam Erland. Jika tekatnya sudah bulat, sampai titik darah penghabisan pun ia tetap akan berjuang.
Dengan rasa perih yang masih ia rasakan, Erland menyusul laju Hazel.
Dimana saat dirinya sudah menyamai laju laki-laki tersebut sebuah senyum miring terbit di bibir Erland, sangat berbanding terbalik dengan Hazel yang sepertinya tengah terkejut akan kedatangan Erland saat ini.
Dan jika tadi Hazel yang memepet motor Erland. Kini Erland lah yang melakukannya sembari berkata dengan lantang, "Permainan Lo sampah. Dan Lo pikir hanya Lo saja yang bisa bermain licik? Gue juga bisa."
Hazel yang mendengarnya sudah mulai ketar-ketir di buatnya. Apalagi saat melihat Erland mengeluarkan sebuah pistol dari balik jaket denimnya itu. Dimana saat itu juga Erland langsung menodongkan kearah Hazel yang membuat laki-laki itu otomatis menurunkan laju motornya untuk menghindari tembakan saat ia melihat tangan Erland sudah menekan pelatuk pistol tersebut.
Erland melemparkan pistol mainan yang ia bawa tadi kearah Hazel yang berdiri termenung kala mendengar kata dari Erland tadi. Sedangkan Erland, ia segera melajukan kembali motornya itu, meninggalkan Hazel yang tengah mengambil pistol itu dan benar saja saat dirinya sudah memeriksa senjata itu ternyata hanya sebuah mainan anak kecil.
"Sialan! Gue udah ketipu sama dia!" umpat Hazel sebelum dirinya berlari menuju kearah motornya dan segera menyusul kepergian Erland dengan harapan laki-laki itu belum mencapai garis finish terlebih dahulu.
Namun sayang seribu sayang harapannya itu tak terkabulkan pasalnya saat dirinya sudah melihat garis finish di depan sana bertepatan dengan itu juga ia melihat Erland yang sudah melewati garis tersebut yang membuat Hazel kembali mengumpat tiada henti.
__ADS_1
Erland yang sudah menghentikan motornya pun ia langsung di kerumuni oleh para teman-temannya itu.
"Wow. Umur Lo emang boleh tua tapi skill Lo masih tetap muda," ujar Septian yang entah memberikan pujian atau ejekan.
Erland tampak memutar bola matanya dengan malas.
"Umur gue masih di bawah 30 tahun. Jadi gue belum tua," balas Erland.
"Hmmm iya juga sih. Tapi btw, congratulation Lo keluar jadi juaranya malam ini." Septian mengulurkan tangannya yang langsung dibalas oleh Erland sembari berkata, "Thanks."
"Gimana tadi? Lo lihat sendiri kan permainan dia seperti apa? Apa perkataan dari pembalap lainnya benar?" tanya Odi penasaran.
"Hmmmm malah benar sekali. Banyak kejadian tidak terduga yang buat gue geleng kepala," jawab Erland.
"Tuh kan apa yang gue bilang kalau dia bisa terus menang itu karena licik. Tapi Lo gak kenapa-napa kan?"
"Gak sih cuma luka dikit aja di lengan sama kaki." Semua teman-temannya itu langsung mengalihkan pandangan mereka kearah lengan dan kaki Erland. Benar saja disana ada luka yang cukup dalam bahkan darahnya saja masih menetes yang membuat siapa saja ngeri melihatnya.
"Anjir lukanya dalam woyyy. Harus segera di obati sekarang juga kalau gak nanti akan infeksi dan berakhir diamputasi," ujar Galuh heboh.
__ADS_1
"Bener apa yang dikatakan sama Galuh, Er. Darah Lo harus segara di hentikan dan luka Lo juga harus segara di obati," timpal Virza.
"Nanti saja. Gue mau ngambil hadiah dari dia dulu seperti yang tertera di pengumuman yang tadi dibacakan oleh Odi," tutur Erland dimana setelah ia mengatakan hal tersebut dan tanpa membuka helmnya yang sedari tadi melekat di kepalanya, ia berjalan mendekati Hazel yang tengah mengumpati seluruh timnya.