PASUTRI (Troublemaker)

PASUTRI (Troublemaker)
Bab 184


__ADS_3

Maura terlihat berdiam sesaat setelah dirinya melihat hasil testpack terus sekaligus ia juga merasa bingung.


"Ini hasilnya beneran?" tanya Maura entah kepada siapa dia bertanya.


"Kalau beneran. Kok aneh banget," gumamnya lagi.


"Apa jangan-jangan testpacknya rusak gara-gara Erland kembali sempat menjatuhkan alat ini?"


"Hmmm mungkin saja. Kalau begitu biar aku testpack lagi," sambungnya kemudian ia segara membuka kantong plastik tersebut yang masih terdapat beberapa alat testpack dengan merk yang berbeda.


Maura tak ambil pusing, ia langsung membuka semua bungkus testpack tersebut semuanya. Ia akan menguji semua testpack tersebut untuk melihat apa hasilnya sama dengan alat testpack yang pertama tadi atau beda lagi. Kalau memang beda, entah yang mana yang harus Maura percaya.


Maura mengetuk-ngetuk kakinya diatas lantai saat ia menunggu hasil testpack tersebut. Dan setelah ia rasa waktunya sudah cukup, dengan gerakan cepat Maura melihat satu persatu hasil testpack tersebut dengan mata yang terbuka lebar tak lupa mulutnya juga terbuka lebar.


"WHAT! KOK BISA SIH!" jerit Maura tak percaya dengan yang ia lihat saat ini.


Jeritan menggelegar itu tentunya sampai di telinga Erland yang tengah melihat-lihat jadwalnya ke kantor hari ini. Laki-laki itu sempat terperanjat kaget sampai hampir saja ponsel yang sedari tadi di tangannya itu terlempar ke bawah jika saja Erland tidak langsung memegangnya erat.


Tapi keterkejutan Erland itu hanya beberapa detik saja sebelum berubah menjadi ke khawatiran. Dengan menaruh asal ponselnya diatas ranjang, Erland berlari menuju ke arah kamar mandi. Ia mengetuk pintu kamar mandi itu dengan membabi-buta.


Tok tok tok tok tok!!!


"Sayang, kamu kenapa? Ada sesuatu yang terjadi dengan kamu di dalam?!" teriak Erland tanpa menghentikan ketukan di pintu kamar mandi tersebut.

__ADS_1


"Ini kenapa pintunya pakai di kunci segala sih?! Buka sayang. Kamu kenapa?" Sumpah demi apapun Erland sudah kalang kabut memikirkan hal mengerikan yang terjadi dengan Maura di dalam kamar mandi tersebut.


Maura yang tengah shock dan sedari tadi mendudukkan tubuhnya di atas kloset duduk, ia menolehkan kepalanya kearah sumber suara. Dan dengan suara berat akibat menahan tangisnya Maura menjawab, "Aku tidak kenapa-napa! Kamu tenanglah dan jangan khawatir!"


Erland yang mendengar balasan dari Maura, tak membuat rasa khawatirnya itu hilang seketika. Ia harus tetap memastikan jika memang Maura dalam keadaan baik-baik saja dengan mata kepalanya sendiri.


"Kalau kamu baik-baik saja lalu kenapa kamu tadi teriak? Jangan bohong sama aku, sayang! Ayo katakan kamu kenapa? Dan segara buka pintu kamar mandi ini sebelum aku mendobraknya!" balas Erland.


Maura tampak menghela nafas panjang. Kemudian tanpa membalas ucapan dari Erland terlebih dahulu, ia mengambil semua testpack tadi lalu membawanya untuk keluar dari dalam kamar mandi tersebut.


Saat ia membuka pintu kamar mandi dengan sangat lebar, ia langsung di suguhkan tubuh sang suami yang berdiri menjulang tinggi di hadapannya. Namun tak hayal Maura menangkap tatapan mata penuh ke khawatiran yang Erland pancarkan. Dan benar saja beberapa saat mereka saling menatap, Erland mendekati Maura, memutar tubuh sang istri dengan mata yang terus melirik setiap jengkal tubuh Maura.


"Baju ataupun celananya tidak ada yang basah. Tidak ada luka memar atau ada luka serius yang aku lihat. Kalau begitu apa yang Maura katakan tadi itu benar adanya jika dirinya dalam keadaan baik-baik saja," batin Erland dengan menghela nafas lega.


"Oke, aku percaya jika kamu saat ini baik-baik saja karena aku sudah memeriksanya sendiri tadi. Tapi kenapa tadi pakai teriak segala?" tanya Erland masih penasaran hal apa yang membikin istrinya itu sampai seheboh itu.


Dengan wajah masam, Maura menyerahkan semua testpack yang ada di tangannya kehadapan Erland.


Erland yang melihat hal tersebut pun ia mengerutkan keningnya, tapi tak urung ia menerima semua testpack tersebut. Dan betapa terkejutnya erlan saat melihat hasil testpack-testpack itu yang memperlihatkan garis dua dan ada beberapa testpack yang memperlihatkan tulisan pregnant.


Mata Erland berbinar lebih tepatnya berkaca-kaca, terharu saat mengetahui fakta tersebut. Hal yang sedari dulu ia tunggu akhirnya terkabulkan juga.


Dan dengan lidah yang tampak kelu, Erland berkata, "Ini beneran kamu hamil?"

__ADS_1


Sumpah, Erland masih tidak percaya saat ini.


Sedangkan Maura yang di tanya pun ia menggedikkan bahunya, "Entahlah. Semuanya sangat membingungkan. Hasil testpack hari ini dan kemarin beda jauh. Dan aku rasa hasil yang benar adalah hasil testpack kemarin. Aku yakin jika semua testpack yang ada di tangan kamu itu sudah rusak karena mungkin kamu tadi tidak sengaja menjatuhkannya. Hatiku pun juga merasakan jika memang aku ini tidak hamil sekarang, soalnya aku tidak merasakan tanda-tanda orang yang sedang hamil, semuanya tampak biasa saja."


Erland menggelengkan kepalanya.


"Tidak mungkin semua alat ini rusak sayang. Aku memang sempat menjatuhkannya tadi. Tapi aku yakin jika semua alat ini rusak. Kalaupun memang ada, mungkin beberapa saja bukan semuanya," kekeuh Erland. Ia tak ingin kecewa untuk yang kedua lagi. Jadi Tuhan tolong hasil yang ia lihat saat ini adalah kebenaranya bukan seperti yang dikatakan oleh istrinya itu.


"Tapi aku tidak merasakan tanda-tanda hamil," ujar Maura yang entah kenapa ia masih kekeuh menolak untuk hamil. Padahal jika dia mempermasalahkan soal finansial, tentunya sudah sangat mencukupi untuk hidup dirinya, suaminya serta anak-anaknya kelak. Tak bisa dipungkiri jika kekayaan keluarga Abhivandya tidak bisa di remehkan lagi. Tapi entah kenapa hati Maura masih tak ingin jika semua ini terjadi. Mungkin rasa takut akan dirinya yang tidak bisa menjadi seorang ibu yang baik, salah satu faktornya, mengingat masa lalunya dulu yang kemungkinan akan menurun ke anak keturunannya. Dan yakinlah, Maura tak ikhlas jika keturunannya menuruni sifat dirinya.


"Perempuan hamil itu tidak semuanya mengalami hal yang sama. Tidak harus kamu muntah-muntah dulu baru kamu merasakan jika kamu hamil. Tidak, tapi tanda-tanda kehamilan itu beda-beda yang mungkin kita semua terutama kamu tidak menyadarinya. Tapi jujur saja sayang, feelingku mengatakan jika memang kamu tengah mengandung anak kita," ujar Erland.


Maura menggelengkan kepalanya dengan cepat.


"Feelingku mengatakan tidak. Toh yang merasakan kan aku bukan kamu, jadi tentunya feelingku ini benar. Dan kamu jangan sok tau lah," ujar Maura tak mau kalah. Bahkan kedua tangannya kini ia lipat tepat di depan dadanya.


Erland menghela nafas panjang. Kalau seperti ini mereka harus mencari bukti lainnya yang bisa membuatkan salah satu feeling dari keduanya. Dan satu-satunya cara adalah, "Baiklah kalau begitu bagaimana kalau kita membuktikannya di rumah sakit saja? Biar semuanya jelas entah feelingku yang benar atau feelingmu yang memang benar. Karena jika kita terus bertarung dan kekeuh dengan feeling kita masing-masing, yakinlah masalah ini pasti akan semakin rumit nantinya. Jadi kamu mau kan untuk membuktikan semuanya di rumah sakit?"


Maura tampak terdiam sesaat sebelum ia menganggukkan kepalanya dengan cepat.


"Oke, siapa takut," ujar Maura kemudian setelahnya ia langsung melangkahkan kakinya, melewati Erland begitu saja. Sedangkan Erland, ia menghela nafas kasar.


"Kalau begitu tunggu aku mandi sebentar," ucap Erland yang hanya dibalas dengan anggukan kepala oleh Maura.

__ADS_1


__ADS_2