
Sepasang suami-istri itu saat ini tengah berada di dalam perjalanan menuju ke pengadilan. Disepanjang jalan tak ada yang membuka suara, pasalnya Maura tengah sibuk menikmati pemandangan di sisi jalan yang tengah mereka lewati sedangkan Erland, laki-laki itu fokus menyetir. Walau begitu, tangan mereka saling mengait satu sama lain.
Perjalan mereka hanya di temani dengan suara deru mobil milik Erland atau mobil lain, sampai tiba-tiba...
"Sayang, stop!" teriak Maura yang membuat Erland mengerem mendadak mobil yang tengah ia kendarai saat ini. Untung saja di belakang mereka tak ada kendaraan lain. Jika saja tadi ada, sudah bisa Erland pastikan jika kecelakaan akan terjadi.
Erland mengelus dadanya yang saat ini tengah berdetak tak karuan, antara terkejut dengan teriakan sang istri dan juga takut sesuatu yang tak ia inginkan terjadi tadi. Namun ia bisa menghela nafas lega saat melihat situasi masih aman di jalan raya itu sehingga Erland kini memilih untuk meminggirkan mobilnya.
Saat mobil yang ia kendarai sudah aman di pinggir jalan, tatapan Erland langsung tertuju kearah Maura yang ternyata perempuan itu sudah membuka kaca mobil dengan menyembulkan kepalanya keluar, tatapan mata perempuan itu tertuju kearah belakang yang membuat Erland penasaran sehingga laki-laki itu mengikuti arah pandang Maura.
Ia mengerutkan keningnya saat ia melihat ada seorang anak kecil yang mungkin baru berumur 8 tahun itu mendekati mereka. Ditangan anak kecil itu terdapat satu kantong plastik besar berwarna hitam, entah didalam itu apa isinya Erland tidak tau. Tapi Erland cukup penasaran, kenapa istrinya itu tadi melambaikan tangannya kepada anak kecil itu? Apa yang akan Maura lakukan kepada anak itu? Banyak pertanyaan muncul di kepala Erland. Ia tak ingin bertanya kepada Maura, ia hanya akan melihat apa yang akan istrinya itu lakukan.
Terlihat Maura tersenyum manis kepada anak kecil itu kala dia telah sampai di samping mobil mereka.
"Hay, kamu jualan apa?" tanya Maura kepada anak kecil tersebut tentunya dengan ia membuka pintu mobil agar memudahkan dirinya untuk bercengkrama dengan anak itu.
Pertanyaan dari Maura tadi membuat anak kecil tersebut tersenyum sebelum ia membuka kantong plastik tadi untuk memperlihatkan apa yang tengah ia jual kepada Maura.
"Aku jual jajanan pasar Kak. Tapi karena aku tidak memiliki keranjang untuk menaruh makanan-makanan ini, aku terpaksa menaruhnya di kantong. Tapi Kakak tenang saja, semua makanan yang aku jual sudah ada plastiknya kok di setiap makanan jadi rasanya tidak akan tercampur dari makanan satu ke makanan yang lain," jelas anak kecil tersebut.
"Iya-iya aku pun tau karena aku sudah melihatnya sendiri," ucap Maura sembari tangannya sibuk memilih makanan yang akan ia beli.
Sedangkan anak kecil itu, ia hanya nyengir kuda setelah mendengar balasan dari Maura tadi.
"Nah nih. Kakak mau beli itu saja. Jadinya berapa?" tanya Maura dengan memperlihatkan 5 jajanan pasar yang sudah ia ambil tadi.
"Jadinya 10 ribu aja Kak," ucap anak laki-laki itu.
Maura menganggukkan kepalanya.
"Kalau semua makanan yang kamu bawa itu semuanya berapa?" tanya Maura kembali.
Anak itu tampak berpikir sesaat dengan mengingat-ingat ia tadi membawa berapa makanan untuk ia jual. Dan cukup lama ia berpikir sekaligus berhitung, ia akhirnya menjawab, "300 ribu kak."
"300 ribu di tambah pintaku tadi 10 ribu jadinya 310 ribu kan?" Anak laki-laki itu menganggukkan kepalanya.
Anggukan itu membuat Maura kini menolehkan kepalanya kearah Erland dengan tangan yang menengadah kehadapan sang suami. Erland memincingkan salah satu alisnya, seolah-olah ia berkata, "Apa?"
"Sayang minta uang, 310 ribu. Buruan gak pakai lama," ucap Maura penuh tuntutan yang membuat Erland menggelengkan kepalanya, ia kira Maura sendiri tadi yang akan membayar tapi ternyata istrinya itu malah meminta kepadanya. Astaga, sumpah demi apapun Erland ingin tertawa gemas dengan tingkah istrinya itu. Namun di sisi lain, ia juga bangga setidaknya istrinya itu memiliki inisiatif untuk membantu orang lain.
Erland tak banyak bicara, ia mengeluarkan dompet miliknya yang sudah lama ia tinggal di dalam mobil itu. Erland mengeluarkan uang dengan nilai 100 ribu berjumlah 5 lembar kemudian memberikannya keatas tangan Maura.
Maura mengerutkan keningnya saat mendapatkan uang yang lebih dari yang ia ucapkan tadi.
"Ini kebanyakan," ucap Maura.
"Sudah tidak apa-apa. Berikan kepada anak itu saja," ujar Erland.
"Kamu beneran?" tanya Maura tak percaya. Ia kira suaminya itu akan marah kepadanya karena berniat membantu orang lain. Pasalnya wajah Erland tadi terlihat datar. Namun tak disangka suaminya itu ternyata juga ingin membantu anak kecil itu.
Erland menganggukkan kepala dengan senyum di bibirnya yang otomatis membuat Maura juga ikut tersenyum sebelum perempuan itu mengalihkan pandangannya kearah anak laki-laki tadi yang masih setia berdiri di samping mobil mereka.
"Nih, Kakak borong dagangan kamu." Maura menyerahkan 5 lembar uang itu kepada anak laki-laki itu. Tentunya anak itu terkejut dengan ucapan Maura.
__ADS_1
"Kakak benaran mau borong dagangan aku?" tanya anak itu yang diangguki oleh Maura.
"Alhamdulillah, terimakasih ya Kak," ucap anak itu dengan mengambil uang yang berada di tangan Maura.
Namun saat ia menghitungnya, ia menatap kearah Maura.
"Kak, uangnya lebih," ucap anak itu dengan menyerahkan dua lembar uang kearah Maura kembali. Maura mendorong tangan anak tersebut secara perlahan sembari berkata, "Itu untuk kamu. Anggap saja hadiah dari Kakak."
"Ya Allah Kak. Kakak baik banget. Terimakasih banyak ya Kak. Semoga rezeki Kakak di tambah berkali-kali lipat oleh Allah. Aamiin."
"Aamiin. Terimakasih doanya," balas Maura yang diangguki anak laki-laki tersebut.
"Oh ya Kak, ini makanan yang sudah Kakak borong." Anak laki-laki itu menyerahkan satu kantong besar tadi kepada Maura. Namun seperti yang dilakukan sebelumnya, Maura mendorong tangan anak itu sembari menggelengkan kepalanya.
"Buat kamu saja. Kamu jual lagi makan ini ya, biar penghasilan kamu hari ini dua kali lipat dan biar kamu bisa beli kerja untuk jualan kamu," ucap Maura tentunya membuat anak kecil itu terkejut, bahkan bukan hanya dia saja melainkan Erland pun sama, ia juga terkejut dengan penuturan sang istri.
"Kakak yakin?" Maura menganggukkan kepalanya.
"Ehhh tapi tunggu dulu," ucap Maura tiba-tiba kemudian ia menolehkan kepalanya kearah Erland.
"Sayang, kamu mau jajanan pasar tidak? Kalau mau ambil gih," ujar Maura yang membuat Erland tersadar dari lamunannya.
Erland menggelengkan kepalanya dengan senyum dan tangannya yang mengelus kepala Maura, "Tidak sayang. Aku sedang tidak ingin makan jajanan pasar. Biar anak itu jual kembali makanan-makanan itu."
Maura menganggukkan kepalanya penuh antusias.
"Suami Kakak lagi tidak ingin makan jajanan pasar. Jadi kamu jual lagi saja ya."
Dengan mata berkaca-kaca karena terharu, anak itu terus mengucapkan kata terimakasih yang ia tujukan kepada Maura juga kepada Erland.
Anak itu tersenyum dan dengan mencontoh apa yang tengah Maura lakukan tadi, anak itu berkata, "Semangat!"
Maura yang gemas pun ia mengacak rambut anak laki-laki tersebut.
"Ya sudah kalau begitu Kakak pergi dulu ya. Ingat apa kata Kakak tadi, semangat oke." Anak laki-laki itu menganggukkan kepalanya dengan patuh.
"Sampai bertemu lagi, jagoan. Bye," ucap Maura sembari menutup pintu mobil namun tidak dengan kaca mobilnya.
Ia melambaikan tangan ke anak laki-laki tersebut tentunya dibalas olehnya.
"Bye Kakak baik. Hati-hati di jalan. Terimakasih banyak," ucap anak laki-laki Itu yang dibalas senyuman oleh Maura.
Sedangkan Erland, ia menolehkan kepalanya kearah lain, tangannya menghapus air matanya yang sempat menetes tadi dengan cepat. Ia benar-benar terharu dengan kegigihan anak laki-laki itu dan juga terharu karena ternyata istrinya yang dulu sangat bar-bar itu ternyata memiliki sisi baik di dalam hatinya juga memiliki rasa kemanusiaan yang tinggi dan Erland sangat bangga dengan istrinya itu.
Erland yang tak ingin semakin larut dalam kesedihan itu, ia segara menjalankan mobilnya namun sebelumnya ia membunyikan klakson mobilnya sebagai tanda ia berpamitan kepada anak laki-laki tersebut.
Sedangkan Maura, walaupun mobil itu sudah berjalan, Maura tetap melambaikan tangannya kearah anak laki-laki tersebut sampai mereka benar-benar menjauh barulah Maura menghentikan lambaian tangannya lalu menutup kembali kaca mobil disebelahnya.
Maura terdiam dengan memandang kearah jajanan pasar tadi. Banyak hal yang membuat ia belajar dari pertemuan singkat dengan anak laki-laki itu. Hingga membuat airnya menetes begitu saja.
Erland yang sempat mencuri pandang kearah Maura dan melihat istrinya itu tengah melamun yang berakhir mengeluarkan air mata, tangannya kini bergerak menggenggam tangan tangan Maura sembari ia berkata, "Aku bangga dengan kamu, sayang. Terimakasih banyak karena kamu sudah mau membantu anak itu tadi. Love you sayang, really really love you."
Erland mengecup punggung tangan Maura yang membuat istrinya istrinya itu tersenyum kearahnya dengan satu tangan yang lain ia gunakan untuk menghapus air matanya tadi.
__ADS_1
Dan niat Erland yang tadi ingin menegur Maura, berakhir tak jadi ia lakukan saat mengetahui alasan Maura melakukan hal yang membuat hatinya tersentuh. Tapi jika nanti Maura mengulanginya, Erland tidak akan segan-segan untuk menegur Maura.
...****************...
Mobil yang ditumpangi oleh Maura dan Erland kini telah terparkir rapi di parkiran yang sudah di sediakan oleh pihak pengadilan. Karena waktu juga sudah menunjukkan pukul 9 kurang 5 menit, Erland dan Maura segara mendekati tempat yang akan digunakan untuk sidang kasus Mama Rina ini. Terlihat di dalam ruangan itu sudah penuh dengan banyaknya orang yang akan menyaksikan berjalannya sidang hari ini dan tak sedikit juga para wartawan juga ikut hadir disana.
Tentunya kehadiran mereka berdua mengalihkan pusat perhatian para wartawan tadi sehingga mereka berbondong-bondong mendekati Maura dan Erland.
Maura yang tidak biasa tersorot oleh kamera, ia berniat berlindung di belakang tubuh Erland. Sayangnya niatannya itu tak terlaksana kala Erland justru memeluk pinggangnya posesif. Maura sempat memberontak namun bisikkan tepat di samping telinganya menghentikan aksinya tersebut.
"Sayang, ini waktunya aku memperkenalkan kamu ke seluruh rakyat di negara ini agar tidak ada lagi perempuan yang dengan lancangnya menginginkan aku sebagai pasangan mereka. Jadi, angkat kepala kamu, sayang. Istri seorang Erland Drake Abhivandya tidak boleh menundukkan kepalanya. Jangan takut, ada aku di sisi kamu."
Maura kini menatap kearah Erland saat suaminya itu sudah menjauhkan kepalanya dari samping telinganya. Saat tatapan mereka saling bertemu, Erland menganggukkan kepalanya tanda jika Maura harus melakukan apa yang sudah ia katakan tadi.
Maura mengambil nafas dalam, sebelum menghembuskan nafas itu secara perlahan. Kemudian dengan dorongan yang diberikan oleh Erland lewat bisikkan laki-laki tadi, Erland kini tak lagi menundukkan kepalanya. Ia justru menatap satu persatu kamera yang mengarah ke dirinya. Tapi walaupun begitu tangannya mencengkram erat kemeja bagian belakang milik Erland.
Erland yang merasakan cengkraman itu, ia mengelus pinggang Maura, memberikan ketenangan kepada istrinya itu. Dan pelahan, Maura melonggarkan cengkraman tangannya di kemeja Erland. Disinilah, Erland baru bisa angkat suara.
"Untuk pertanyaan kalian seputar masalah yang tengah terjadi ini. Kalian bisa mendapatkan jawabannya saat persidangan nanti dimulai karena di persidangan akan di jelaskan secara rinci mengenai akar masalah yang tengah terjadi. Saya disini hanya akan memperkenalkan ke publik jika perempuan yang berada di samping saya ini adalah istri sah saya secara hukum ataupun secara agama. Saya akan melindungi dia walaupun nyawa saya sendiri yang menjadi taruhannya. Dan jika ada seseorang yang berniat tidak-tidak dengan dia maka orang itu juga akan berhadapan dengan saya maupun dengan keluarga saya," ucap Erland dengan sangat tegas sekaligus memperingati orang-orang diluar sana agar tidak main-main dengan keluarganya.
"Saya rasa hanya itu saja yang perlu saya sampaikan. Terimakasih, saya dan istri saya undur diri," sambung Erland. Dan tanpa memperdulikan para wartawan itu yang terus membombardir dirinya dengan ribuan pertanyaan, Erland memeluk tubuh Maura agar ia tak tersenggol oleh para wartawan itu dan membawanya untuk masuk kedalam ruang persidangan.
Maura bisa menghela nafas lega saat para wartawan itu tertahan di depan ruang persidangan yang pintunya terbuka lebar itu tentunya katanya anak buah Daddy Aiden yang membantu polisi untuk mengamankan kondisi di sekitar pengadilan itu. Takut-takut saat proses pengadilan, Mama Rina selaku tersangka kabur dari sana.
"Ehh anak Mommy udah sampai ternyata. Sini nak, duduk sini," ucap Mommy Della dengan menepuk kursi disebelahnya yang masih kosong.
"Mom, Maura kan nanti jadi saksi jadi dia tidak duduk disini," ujar Erland.
"Ck, Mommy juga tau. Tapikan ini nanti pembaca bukti-bukti yang tentunya meja di depan sana di tempati oleh perempuan gila itu. Dan setelah itu selesai barulah Maura yang duduk disana. Nanti juga Maura di panggil kok saat waktunya tiba. Jadi dia duduknya disini dulu saja," ujar Mommy Della.
"Eh begitu ya?" Mommy Della menganggukkan kepalanya, menanggapi pertanyaan dari sang putra.
"Jadi Maura, kamu duduk sini," ucap Mommy Della kembali yang dibalas senyuman serta anggukan kepala dari Maura sebelum perempuan itu benar-benar duduk disamping Mommy Della, disusul oleh Erland yang duduk disebelahnya.
"Kamu nanti jangan gugup dan jangan takut, pokoknya jawab sejujur-jujurnya saat ditanya oleh hakim nanti," ucap Mommy Della dengan mengusap kepala Maura dengan sayang.
Maura yang tadi sempat mengedarkan pandangannya, kini ia menatap kearah Mommy Della dengan senyuman yang kembali ia perlihatkan sembari ia menjawab, "Iya Mom. Maura nanti akan menjawab dengan jujur apapun pertanyaannya nanti."
Mommy Della tersenyum mendengar balasan dari Maura tadi.
"Ya sudah kalau begitu kamu tenangkan diri dulu disini." Lagi dan lagi Maura menganggukkan kepalanya patuh. Dan setelahnya tak ada lagi percakapan diantara mereka berdua, karena Mommy Della kini tengah berbincang-bincang dengan suaminya, sedangkan Maura, perempuan itu kembali mengedarkan pandangannya, mencari keluarga dari Mama Rina. Ia sudah bertemu sebelumnya dengan Orla jadi Maura tidak kesulitan untuk mencari keberadaan perempuan itu jika memang dirinya hadir di dalam persidangan ibunya ini.
Namun sejauh mata memandang, Maura tak melihat batang hidung Orla. Entah memang dirinya tak bisa menemukannya atau memang perempuan itu tak datang untuk memberikan semangat kepada ibundanya? Entahlah Maura juga tidak tau.
Beberapa menit telah berlalu, kini persidangan itu telah dibuka setelah telat 15 menit dari yang sudah di jadwalkan. Mama Rina yang baru di giring masuk ia memberikan tatapan penuh permusuhan kearah keluarga Abhivandya terutama kearah Maura. Namun sayangnya tatapan itu tak di gubris oleh keluarga terpandang itu, apalagi Maura yang masih sibuk mencari keberadaan Orla. Maura tak memiliki maksud apa-apa kepada Orla, ia hanya penasaran saja bagaimana reaksi perempuan itu nanti saat pembacaan keputusan sidang pidana untuk ibundanya. Apakah terkejut sampai menangis meraung-raung atau hanya biasa saja? Sumpah demi apapun Maura penafsiran akan hal itu. Tapi sayangnya, rasa penasarannya itu tak akan pernah dapat jawabannya karena Orla tidak datang ke persidangan Mama Rina begitu juga dengan Papa Jaya. Mereka merasa sudah tidak ada urusan lagi dengan Mama Rina setelah mereka memutuskan hubungan mereka kepada wanita itu. Jadi keduanya memutuskan untuk tidak datang dan hanya melihat putusan hakim nantinya di siaran televisi saja.
Kembali keruang persidangan, suara-suara tadinya bising, kini lenyap seketika hanya ada satu suara yang bersumber dari hakim didepan sana yang tengah membacakan kesalahan yang Mama Rina perbuat dengan pasal yang sudah dia langgar. Semua orang disana menyimak setiap kata yang keluar dari mulut hakim tadi.
Cukup lama pembacaan dawaan tadi, hingga memakan hampir satu jam lamanya dan setelah pembacaan dawaan itu selesai kini giliran Maura yang harus memberikan kesaksiannya dihadapan hakim dan semua orang yang ada di dalam ruangan ini atau bahkan seluruh rakyat Indonesia yang tengah menyaksikan lewat layar televisi.
Erland mengelus punggung tangan Maura saat istrinya itu sudah berdiri dari duduknya sembari berkata, "Jangan gugup sayang. Semangat oke."
Maura tersenyum kala mendapatkan semangat dari sang belahan jiwa tak lupa ia menganggukkan kepalanya. Lalu setelahnya, Maura melangkahkan kakinya menuju ke kursi yang berhadapan langsung dengan hakim. Jangan ditanya lagi bagaimana kondisi jantung Maura saat ini, yang pastinya organ tubuhnya itu tengah berdisko di dalam sana. Ini pengalaman pertama Maura dalam persidangan jadi tak heran jika dirinya cukup nervous. Tapi untungnya Maura bisa mengendalikan dirinya sendiri sehingga ia yang tengah gugup setengah mati itu gelagatnya tak bisa dilihat oleh orang-orang disekitarnya yang justru menganggap dirinya sangat berani karena setiap langkah kakinya tadi bahkan sampai ia sudah duduk, tak sedetikpun ia mendudukkan kepalanya apalagi menatap kearah keluarganya berada seakan-akan ia meminta pertolongan. Justru Maura mengangkat kepalanya mengingat ucapan Erland tadi yang mengatakan jika istri seorang Erland Drake Abhivandya tidak boleh menundukkan kepalanya. Alhasil ucapan suaminya itu ia jadikan pegangan untuk menghadapi situasi yang cukup menegangkan seperti saat ini.
__ADS_1
...****************...
2600 lebih lagi nih guys. Triple up lagi nih. Jangan lupa Like, komen, vote sama hadiahnya ya. Love you. see you next eps bye 👋