
Erland lebih dulu selesai menghabiskan sarapannya, ia sekarang beranjak dari kursi yang telah ia gunakan tadi untuk mencuci piringnya. Dan tak berselang lama, ia kembali ke meja makan untuk mengambil hoodienya. Dimana saat dirinya ingin beranjak dari ruang makan, Maura yang sedari tadi memperhatikan Erland kini angkat suara.
"Mau kemana?" tanya Maura.
"Kerja." Maura mengerutkan keningnya. Ia berdiri dari posisi duduknya, mendekati suaminya dengan mata yang melihat dari atas sampai bawah penampilan Erland. Dimana tatapan dari Maura itu membuat Erland merasa risih hingga tangannya kini bergerak untuk meraup wajah Maura.
"Gak perlu lihat sampai segitunya. Takutnya nanti kamu suka," ucap Erland dengan membenarkan hoodie yang baru ia pakai itu.
"Suka sama kamu? Ck, gak akan," balas Maura yang membuat Erland menggedikkan bahunya acuh.
"Tapi btw kamu beneran mau pergi kerja dengan pakaian seperti ini?" tanya Maura penasaran.
"Memangnya kenapa? Ada yang salah?"
"Jelas ada lah. Kamu kan seorang sopir, Er. Dan setahuku nih ya kalau seorang sopir itu memiliki baju seragam sendiri kalaupun tidak ya setidaknya pakai baju batik lah. Tapi penampilan kamu, benar-benar tidak mencerminkan seorang sopir justru terlihat kayak anak muda yang mau keluyuran. Pakai hoodie, sepatu, celana jeans mana celananya sobek-sobek begitu lagi," ucap Maura menilai penampilan Erland saat ini.
"Memang apa salahnya sih dengan pakaian yang aku kenakan saat ini? Kenapa kamu yang protes? Majikanku saja tidak pernah protes lho. Lagian mereka juga membebaskan kita pakai pakaian apapun sesuka dan senyaman kita," ujar Erland.
"Tapi setidaknya pakailah pakaian yang sopan Er."
__ADS_1
"Ini juga sudah tergolong sopan. Dan menurut kamu pakaian sopan itu seperti apa? Pakaian kamu saja kebanyakan tank top, hot pant, crop top dan pakaian-pakaian lain yang tidak layak untuk dipakai karena kekurangan bahan." Maura menggaruk tengkuknya yang tak gatal karena ia tak bisa lagi membalas ucapan dari Erland tadi. Sepertinya ia lupa berkaca diri terlebih dahulu sebelum dirinya menegur seseorang tadi.
"Sudahlah. Aku berangkat," sambung Erland lalu setelahnya ia melangkahkan kakinya untuk keluar dari rumah tersebut. Namun saat dirinya ingin membuka pintu utama, ia berhenti kemudian menolehkan kepalanya kearah Maura sebelum dirinya bersuara.
"Uang yang aku berikan tadi adalah uang bulanan kamu yang artinya kamu harus bisa menggunakan uang itu dengan baik selama satu bulan, tidak ada kata menghamburkan uang itu untuk party dan lain sebagainya yang membahagiakan dirimu sendiri apalagi foya-foya. Ingat kamu bukan lagi seseorang yang hidup dengan kemewahan tapi kamu sekarang hidup sederhana. Silahkan jika kamu mau beli apa yang kamu inginkan dengan uang itu jika uang itu masih ada sisanya selama satu bulan kamu gunakan. Karena jika uang itu habis sebelum tanggal 1 bulan berikutnya, aku tidak bisa memberikan uang tambahan buat kamu karena uang gajiku sudah aku berikan semuanya tadi ke kamu. Aku pergi," ucap Erland dan setelah mengucapkan tentang uang bulanan yang ia berikan kepada Maura, ia kini benar-benar keluar dari rumah tersebut meninggalkan Maura yang melongo tak percaya.
Ia kira uang yang di berikan oleh Erland itu adalah uang untuk dirinya sendiri bukan untuk keperluan rumah seperti yang di katakan oleh Erland. Padahal didalam otaknya tadi sudah berniat untuk berjalan-jalan ke mall atau kalau tidak ia akan gunakan uang itu untuk melepas beban pikirannya di dunia malam alias dugem bersama sahabatnya. Tapi ternyata angan-angannya itu sepertinya tak akan terlaksana karena ia harus menghemat uang tersebut.
"Yah gagal deh buat senang-senang. Haishhhh. Tapi aku sekarang kan butuh hiburan untuk meringankan beban pikiranku ini. Hah! Sialan memang," ucap Maura loyo. Nafsu makan yang tadinya masih menggebu-gebu kini telah hilang dan dirinya memilih untuk kembali ke dalam kamarnya.
Disisi lain, Erland yang sudah sampai di kantor miliknya pun dirinya menjadi pusat perhatian dari karyawannya. Pasalnya mereka baru melihat penampilan Erland yang terbilang sangat santai ketika berada di dalam kawasan kantor seperti ini karena sebelumnya laki-laki itu selalu memakai pakaian formalnya dengan beberapa bodyguard di belakangnya tapi sekarang benar-benar sangat berbeda, tak ada pakaian formal maupun bodyguard di belakang Erland. Tapi walaupun begitu, justru penampilan Erland saat ini terlihat lebih cool dan lebih muda dari biasanya yang selalu memancarkan aura wibawa. Dan hal itu tak jarang membuat karyawan perempuan yang sudah menyukainya semakin suka dengan dirinya.
Sesampainya dirinya di lantai itu, beberapa karyawan menyapanya yang dibalas dengan anggukan kecil darinya hingga sampailah Erland di ruangannya. Namun saat dirinya ingin membuka pintu ruangannya, sang sekretaris mencegahnya.
"Pak Erland, tunggu sebentar." Seorang laki-laki berjalan lebar mendekatinya dirinya.
"Kenapa?" tanya Erland kala sang sekertaris sudah berada di depannya.
"Pagi ini jadwal interview karyawan baru yang akan mengisi di bagian keuangan," ucap sekertaris Erland mengingatkan jadwal yang sebentar lagi akan Erland lakukan.
__ADS_1
"Jam?" tanya Erland.
"20 menit lagi Pak." Erland menganggukkan kepalanya karena memang sekarang sudah pukul 8 pagi dimana waktu kerja telah di mulai 30 menit yang lalu.
"Baik. Kamu atur saja terlebih dahulu. Nanti saya akan ke ruang interview," tutur Erland.
"Baik Pak," ujar sekertaris Erland. Dimana persetujuan dari sekertaris tersebut membuat Erland kini masuk kedalam ruang kerjanya dan tujuan pertamanya saat telah berada di dalam ruangan tersebut adalah untuk mengganti pakaiannya. Untung saja saat membangun perusahaan ini, ia terinspirasi dengan ruang kerja sang Daddy yang memiliki ruangan khusus untuk istirahat yang disulap seperti kamar dengan perlengkapan komplit didalamnya. Jadi ia tidak perlu pusing-pusing untuk memerintahkan bawahannya mengambilkan baju formalnya atau dia harus diam-diam menyelipkan pakaian formalnya kedalam mobil agar Maura tidak menyadarinya karena semua perlengkapan dirinya sudah ada di dalam ruang pribadi didalam kantornya itu.
Dengan secepat kilat Erland mengganti pakaiannya dan tak membutuhkan waktu 20 menit, ia telah selesai berganti pakaian. Lalu ia bergegas menuju ke ruang interview.
Dimana kedatangan dirinya, membuat calon karyawan yang melamar pekerjaan di sana menatap dirinya dengan kagum. Bahkan salah satu dari beberapa orang yang melamar itu, ia sampai menghiraukan seseorang yang tengah menelepon dirinya sedari tadi. Dan orang itu baru sadar saat Erland telah masuk kedalam ruang interview.
📞 : "Meli! Heyyy kamu masih ada disana kah?!" panggilan dari orang di seberang telepon membuat orang yang disebut Meli itu menjauhkan ponselnya dari telinganya.
"Astaga jangan teriak-teriak. Telingaku masih normal. Tapi btw nanti lagi ya teleponnya karena sebentar lagi, interviewnya mau mulai. Doakan aku di terima di perusahaan ini. Kalau sampai di terima, aku traktir kamu sepuasnya. Bye."
Telepon yang sebenarnya baru terhubung 5 menit itu harus terputus secara sepihak oleh Meli. Dimana hal tersebut membuat seseorang di sebrang telepon mendengus kesal, padahal dirinya mau curhat tapi belum apa-apa sudah di matikan.
"Menyebalkan. Semuanya menyebalkan!" erang orang tersebut sembari mencabik-cabik selimut di hadapannya.
__ADS_1