
Edrea yang melihat Erland justru tengah memincingkan salah satu alisnya, ia kini berganti posisi menjadi duduk disamping sang Abang. Dan baru saja ia duduk, ia langsung memukul lengan Erland bertubi-tubi, entah kenapa ia sangat kesal hanya karena ia melihat wajah Erland. Dan karena hal tersebut membuat Erland meringis kesakitan. Jika sekali saja Edrea memukulnya maka Erland tidak merasakan apapun, tapi jika berkali-kali seperti ini jangan ditanya lagi rasanya cukup menyakitkan.
"Rea, stop. Kamu apa-apaan sih malah menganiaya Abang kamu sendiri. Jadi adik laknat banget," ujar Erland yang sudah berdiri dari posisi duduknya tadi tentunya untuk menghindari amukan dari Edrea.
"Pukulan Rea ini tidak seberapa dengan rasa sakit yang sudah Abang torehkan dihati Kak Maura. Sudah berapa kali hah Abang bikin Kak Maura menangis? Bukannya Abang pernah bercerita kalau Abang sendiri yang memaksa Kak Maura untuk menikah dengan Abang padahal Kak Maura dulu sempat menarik ucapannya yang sempat ia katakan. Tapi Abang tetap kekeuh meminta Kak Maura memenuhi ucapannya itu. Jadi dari situ harusnya Abang tanggungjawab sepenuhnya dengan Kak Maura, Abang juga harus berusaha buat dia bahagia bukan malah buat dia sedih mulu, astaga Abang. Sejak kapan coba Abang menjadi tega begini dengan seorang perempuan. Ayolah bang, Abang jangan berubah hanya karena masa lalu kelam Abang itu. Rea kan juga sudah bilangan berkali-kali sampai mulut Rea hampir berbusa kalau tidak semua perempuan itu sama sifat dan perilakunya. Ya Tuhan gak tau lagi aku harus memberitahu Abang gimana biar Abang tidak menyamaratakan semua perempuan. Dan kalau Abang terus-terusan buat Kak Maura menangis, lebih baik Kakak kembalikan ke kedua orangtuanya. Setidaknya dengan dikembalikannya ke orangtuanya, Kak Maura tidak akan bersedih lagi karena ulah Abang," omel Edrea panjang kali lebar, meluapkan emosinya yang sedari kemarin ia tahan.
Erland hanya diam, mendengar omelan dari Edrea tadi. Dan setelah ia merasa jika sang adik tidak akan berucap lagi, ia akhirnya menimpali ucapan dari Edrea.
"Sudah? Ngomongnya sudah? Marah sama Abangnya sudah? Kalau sudah dengar ucapan Abang ini. Abang memang sering buat Maura menangis tapi Abang sudah berjanji dengan diri Abang sendiri kalau menangisnya Maura kemarin adalah terakhir kalinya Abang menyakiti Maura dan untuk seterusnya Abang akan jamin Maura akan bahagia. Entah dengan cara apa yang terpenting Abang akan memastikan Maura tetap bahagia. Dan ingat ini, sampai kapanpun Abang tidak akan melepaskan Maura begitu saja. Abang tidak akan mengembalikan Maura ke orangtuanya. Abang juga sudah sadar jika memang semua perempuan itu tidak memiliki sifat dan perilaku yang sama dengan perempuan jahat itu. Jadi Abang tegaskan sekali lagi, jika Abang tidak akan melepaskan Maura sampai kapanpun. Kalaupun ada yang memaksa memisahkan kita berdua, maka Abang tidak akan segan-segan untuk melawan orang yang sudah berani melakukan itu, bahkan jika nyawa Abang sendiri yang menjadi taruhannya," jelas Erland. Tak ada lagi keraguan yang ia perlihatkan di pancaran matanya itu. Dan dengan sadar, ia mengucapakan semuanya. Jadi ia tak akan mungkin mengkhianati ucapannya sendiri.
Leon yang melihat dan mendengar perang dingin antara Kakak beradik itu, ia hanya bisa menghela nafas panjang. Tanpa berniat untuk memisahkan mereka berdua karena ia tau jika ia melakukan hal itu maka ia harus bersiap menjadi sasaran empuk dari kedua orang yang tengah dilanda emosi.
Namun beberapa saat setelahnya, suasana panas yang sempat tercipta itu, kini mulai mencari saat Maura telah bergabung kembali dengan mereka bertiga di dalam ruang tamu itu.
__ADS_1
"Lho ini kenapa kalian diam-diam saja seperti ini. Kayak orang lagi berantem saja. Dan silahkan diminum. Maaf seadanya saja ya," ujar Maura dengan menyajikan jus jeruk yang sempat ia buat tadi yang tentunya dengan bantuan si twins yang ternyata lebih pintar darinya. Dan karena hal itu Maura sempat insecure dengan kedua ponakannya. Ia pun juga bertekad jika dirinya akan banyak belajar mengurus rumah dan belajar memasak agar ia tak insecure lagi dengan bocah berusia 4 tahun itu.
Edrea yang tadi memperlihatkan wajah datar dan tatapan dingin yang ia tujukan kepada sang Abang pun, dengan cepat ia merubah ekspresi wajahnya kala menatap wajah Maura.
"Terimakasih Kak, maaf merepotkan," ujar Edrea dengan senyum manisnya. Maura membalas dengan anggukan kepala dan senyuman dibibirnya sebelum dirinya duduk disamping sang suami yang saat ini tengah menghela nafas. Dan setelahnya ia memeluk tubuh Maura dari samping.
"Ehhh kenapa nih?" tanya Maura heran karena pelukan Erland itu sangat-sangatlah erat.
"Tidak kenapa-napa. Aku hanya ingin memeluk kamu saja untuk sesaat," ujar Erland yang hanya dibalas dengan anggukan kepala oleh Maura walaupun dirinya curiga jika telah terjadi sesuatu dengan Erland.
Maura tersenyum lalu lagi-lagi ia menjawab ucapan dari Erland tadi dengan anggukan kepala.
Dan beberapa saat tadi tak ada yang angkat suara, setelah Erland ataupun Edrea meredakan emosi mereka masing-masing. Semua orang yang ada disana baru menyadari kalau twins tidak ada bersama mereka berempat.
__ADS_1
"Lho anak Rea mana? Kok gak ada?" tanya Edrea dengan celingukan kesana-kemari, mencari keberadaan sang buah hati.
"Lha iya mereka kemana. Tadi perasaan dia ngikutin aku kesini. Tapi kok gak ada ya," timpal Maura juga merasa heran akan hilangnya kedua ponakannya itu. Padahal tadi ia pastikan jika kedua ponakannya itu berjalan di belakangnya dengan dua coklat ditangan mereka masing-masing.
"Cari sekarang juga, sebelum dia mengacaukan rumah kalian," ujar Leon yang sudah sangat hafal dengan tabiat sang buah hati yang tak jauh berbeda dengan anak-anak pada umumnya yaitu mereka sangat aktif dengan kenakalan yang mereka miliki. Bahkan kedua bocil itu tak hanya sekali mengobrak-abrik rumah mereka. Jadi Leon khawatir jika kedua anaknya itu saat ini tengah dalam mode nakal dan berakhir rumah Kakak dari istrinya itu berantakan. Dan ia sangat yakin jika hal itu terjadi maka Leon harus menyiapkan sejumlah uang untuk mengganti apapun yang sudah mereka rusak.
Dan ucapan dari Leon tadi membuat keempat orang dewasa itu langsung berpencar mencari keberadaan dua bocil yang entah hilang kemana.
Sampai akhirnya Erland yang melangkahkan kakinya menuju ke dapur dibuat terkejut kala melihat kekacauan yang telah terjadi di dalam sana.
"Astaga, Axcal! Axcel!" teriak Erland yang benar-benar sangat shock dengan ulah dua ponakannya itu.
Teriakan keras dari Erland tadi terdengar memenuhi rumah tersebut. Dimana teriakannya itu mengundang ketiga orang dewasa lainnya yang mencari keberadaan si twins. Dan saat mereka bergabung dengan Erland, reaksi mereka tak jauh berbeda dengan yang Erland tadi perlihatkan. Wajah shock dari ketiganya terlihat sekarang. Hingga...
__ADS_1
"Axcel! Axcal!" teriak Edrea dan Leon secara serempak. Sedangkan Maura, ia hanya bisa menghela nafas panjang dengan salah satu tangannya ia gunakan untuk menepuk keningnya sendiri. Tak lupa ia pun juga bergumam, "Pusing-pusing dah tuh emak bapak kamu, Axcel, Axcal. Dan Aunty harap kalian tidak terkena hukuman setelah ini."