PASUTRI (Troublemaker)

PASUTRI (Troublemaker)
Bab 52


__ADS_3

Harapan hanya tinggal harapan. Waktu sudah menunjukkan pukul 11 siang pun laki-laki yang sedari tadi di tunggu kepulangannya oleh Maura tak kunjung menampakkan batang hidungnya.


"Sialan, Erland kemana sih? Matanya buta apa gimana sih sampai gak lihat kalau aku lagi kelaparan kayak gini? Aku tadi ngira dia bakal pulang setengah jam lagi tapi sampai satu jam lamanya dia tidak juga muncul di rumah ini. Arkhhhh aku lapar sialan!" Erang Maura. Namun percuma saja kalaupun dia akan mengamuk dan teriak-teriak tak jelas untuk meluapkan kekesalannya kepada Erland. Pasalnya semua yang ia lakukan tak mampu membuat perutnya menjadi kenyang, malah lapar iya.


Dengan kedua tangan yang berkepal erat, Maura berdiri posisi duduknya dan dengan tatapan matanya yang tajam ia berucap, "Kamu benar-benar sialan Erland. Aku doain kamu akan sial hari ini."


Maura yang sudah memberikan sumpah serapahnya kepada Erland, dirinya kini bergerak menuju ke arah dapur. Sepertinya yang ia katakan tadi jika saat Erland benar-benar tidak pulang, ia akan mencoba memasak makanan sendiri untuknya.


Tangannya kini bergerak untuk mengambil apron yang langsung ia kenakan. Dimana setelahnya ia langsung membuka kulkas disana. Melihat isi didalamnya yang masih banyak sayurannya.


"Ini cuma ada sayuran doang? Gak ada ayam, ikan atau apa lah yang bisa aku goreng aja?" ujar Maura karena terus terang saja niatnya tadi memang hanya ingin menggoreng bahan makanan yang memang bisa digoreng. Tidak peduli dengan rasanya yang tak akan ia bumbui karena ia punya ide untuk memakan masakannya itu dengan menggunakan kecap dan saus sebagai perasanya.


Tapi berhubung didalam kulkas itu tak ada bahan makanan yang bisa ia goreng terpaksa ia akan memilih salah satu sayuran disana.


Maura mengambil brokoli, kubis dan wortel.


"Bikin sayur sup aja lah. Bumbunya mungkin hanya kasih garam sama micin doang kan dan kelihatanya juga gampang," ujar Maura dengan menatap ketiga sayuran yang sudah berada di atas bar dapurnya itu.


Dimana setelah itu ia mengambil salah satu pisau dan mulai memotong sayur itu. Jangan berharap potongan sayuran itu seperti potongan seseorang yang sudah bisa memasak. Dia memotong sayur kubis dan wortel itu dengan ukuran besar bahkan wortelnya pun tak ia kupas terlebih dahulu, sedangkan brokoli ia potong kecil-kecil tampak seperti hancur.

__ADS_1


Maura tersenyum kala melihat sayuran-sayuran itu sudah ia potong.


"Pinter juga aku memotong sayuran," ucap Maura bangga kepada dirinya sendiri yang memang tidak pernah memegang pisau dapur sebelumnya.


"Oke, potong sayuran udah? Terus selanjutnya kita cuci dulu dong sayurannya nanti baru dimasak. Duhhh Maura emang paling pintar se-dunia. Belum pernah memasak saja sudah cekatan seperti saat ini apalagi kalau udah pro, chef terkenal pun akan lewat. Dan buat kamu, Erland." Maura menunjuk-nunjuk CCTV yang ada di sudut dapur tersebut dengan tangan kirinya berkacak pinggang.


"Kamu pikir, kamu ninggalin aku gitu aja di rumah ini, aku akan menyerah dan memilih mati saja? Sorry to say hal itu gak akan pernah terjadi. Lihat aku sekarang yang sudah jago di dapur. Jadi aku sudah tidak berharap lagi kamu pulang kesini. Kalau perlu pergi sekalian yang jauh gak usah balik-balik lagi kalau perlu malah mati saja. Biar aku jadi janda biar aku bebas lagi seperti dulu," ujar Maura diakhiri dengan ia mengacungkan jari tengahnya. Ia saat ini sudah benar-benar tak peduli dengan Erland yang ingin kembali atau tidak, ia juga tidak peduli dengan kemarahan Erland yang akan bertambah setelah mendengar perkataannya dan acungan jari tengahnya tadi.


Maura kini bergegas mengambil sebuah baskom untuk wadah sayuran yang sudah ia potong-potong tadi. Dimana setelahnya ia langsung mencuci sayuran tersebut dengan sabun cuci piring yang sering ditampilkan di iklan televisi, agar semakin bersih katanya.


Setelah selesai dengan kesibukannya tersebut, Maura meletakkan sayuran yang sudah ia cuci itu disamping kompor. Ia menatap benda tersebut dengan seksama.


"Apa tombol ini di pencet?" Tangan Maura bergerak menuju ke benda yang di gunakan untuk menyalakan kompor tersebut. Namun setelah ia tekan-tekan benda itu kompor tersebut tak menyala juga.


"Kok gak nyala sih. Apa ini di putar?" Maura mencoba memutar benda di kompor itu satu kali dua kali bahkan sampai berkali-kali ia memutarnya, api tak kunjung juga menyala. Dimana hal itu membuat Maura frustasi sendiri di buatnya. Sampai-sampai Maura mengumpati kompor tersebut.


"Kalau sampai apinya gak nyala kali ini. Aku gak akan segan-segan buat buang kompor menyebalkan ini. Gak ada manfaatnya juga di taruh disini kalau tidak bisa," ujar Maura lalu ia mencobanya sekali lagi dengan memutar benda itu dengan tenaga dalam dan akhirnya api yang ia tunggu-tunggu sedari tadi menyala juga.


"Nah gini kek dari tadi. Sialan," ucap Maura.

__ADS_1


"Tapi tunggu dulu, setelah ini apa yang harus aku lakukan?" Maura membiarkan kompor itu tetap menyala tanpa ada apapun di atasnya saat Maura tengah berpikir apa yang harus ia lakukan selanjutnya.


"Ahhhh aku tau, panci dan air." Maura bergerak dengan cepat untuk mengambil benda yang akan ia gunakan untuk memasak. Niat hati ia ingin mengambil panci seperti yang dia ucapkan tadi tapi berhubung ia tak tau mana panci dan wajan, akhirnya ia mengambil wajah dan langsung menaruhnya diatas kompor tersebut. Tak lupa ia juga mengambil satu gelas air lalu ia masukkan kedalam wajan tersebut.


"Airnya kayanya kurang deh. Dah lah aku tambah aja." Maura kembali mengambil air dengan gelas yang ia pakai tadi sejumlah 3 kali.


"Terus setelah ini, masukkan sayur mayurnya ini." Seperti yang Maura ucapkan, perempuan itu tanpa menunggu air mendidih terlebih dahulu, ia memasukkan sayuran tersebut kedalam.


"Lalu masukkan garam dan micin. Hmmm berapa sendok ya kira-kira? Sepertinya dua atau tiga sendok akan pas lagian sendok ini juga kecil banget jadi satu sendok saja tidak akan terasa." Maura memasukkan dua bumbu yang ia tau saja dan setelah semuanya masuk, tangannya menepuk dua kali dengan senyum lebarnya.


"Nah setelah ini tunggu saja sampai sayurnya matang," sambung Maura layaknya seorang chef terkenal yang tengah mengajarkan teknik memasak ke semua orang.


Namun disela-sela Maura menunggu masakannya itu matang, ia teringat sesuatu.


"Tunggu dulu. Aku tidak mungkin kan makan sup saja tanpa nasi? Jadi let's go buat nasi sekarang juga."


Maura beranjak menuju kearah rice cooker, mengambil wadah untuk menanak nasi didalam benda itu lalu mengambil beras sekitar satu gelas. Dan tanpa mencucinya terlebih dahulu, Maura langsung memasukkan air 3 kali lipat dari jumlah beras yang ia ambil tadi dan dengan penuh percaya diri Maura memasukkan kembali penanak nasi itu kedalam rice cooker kemudian mulai menutup dan menekan tombol cook untuk memulai proses penanakan nasi itu.


Sedangkan Maura, perempuan itu kembali tersenyum bangga dengan dirinya sendiri sembari berkata, "Ternyata gampang juga buat nasi dan memasak. Jadi aku tidak perlu menyesal karena tidak belajar masak dari dulu. Hmmmm Maura gitu lho. Apa sih yang aku tidak bisa?"

__ADS_1


__ADS_2