PASUTRI (Troublemaker)

PASUTRI (Troublemaker)
Bab 180


__ADS_3

Erland kini memasuki rumah keluarga Abhivandya dengan membawa satu kantong plastik di tangannya tentunya isi di dalam kantong itu sesuai dengan yang sudah di tuliskan oleh Mommy Della tadi.


Tanpa mengetuk pintu utama terlebih dahulu, Erland langsung masuk begitu saja yang untungnya pintu rumah tersebut belum terkunci. Saat dirinya baru melangkahkan kakinya masuk kedalam rumah kedua orang tuanya tersebut, matanya langsung bisa menangkap keberadaan Mommy Della yang sepertinya tengah menunggu kedatangannya, terlihat tatapan mata wanita paruh baya terus tertuju kearah pintu utama dan saat melihat Erland masuk, Mommy Della berdiri dari posisi duduknya.


Erland yang melihat sang Mommy menunggunya, ia tersenyum kemudian dirinya melangkahkan kakinya mendekati Mommy Della.


"Assalamualaikum Mom," sapa Erland kala dirinya sudah berada di hadapan sang Mommy sembari ia mengecup punggung tangannya.


"Waalaikumsalam. Jadi gimana kamu berhasil kan dapatin semua bahan yang akan kita gunakan buat bikin rujak es krim keinginan istri kamu itu?" Dengan senyum merekah Erland menganggukkan kepalanya.


"Tentu saja. Nih, semuanya sudah ada di dalam sini," ucap Erland dengan mengangkat kantong plastik tadi untuk menunjukkan kepada Mommy Della.


"Bagus kalau begitu kita eksekusi sekarang. Let's go!" ujar Mommy Della penuh semangat kemudian ia lebih dulu melangkahkan kakinya menuju ke arah dapur di rumah tersebut, tentunya Erland mengikutinya dari belakang.


Sesampainya mereka di dapur, keduanya langsung bekerjasama untuk membuat makanan tersebut. Selama proses pembuatan pun tak luput dengan suara canda tawa dari sepadan ibu dan anak itu. Hingga tiba-tiba Mommy Della bercelatuk, "Cieee yang mau jadi Papa. Mommy gak nyangka banget lho Er, kamu yang dulunya sering balap motor, ugal-ugalan, bolos sekolah terus, kalau masuk sekolah pasti tawuran sekarang kamu malah tunduk sama seorang perempuan, mana siaga banget nurutin kemauan Maura lagi. Tapi kesiagaan kamu memang sangat di perlukan kala Maura merasakan ngidam seperti sekarang ini. Duhhh Mommy jadi gak sabar bentar lagi cucu Mommy nambah lagi."


Erland memejamkan matanya sesaat, harus berapa orang lagi yang akan kecewa nanti saat mengetahui Maura tidak sedang hamil.


Helaan nafas panjang pun kini Erland lakukan sembari membuka matanya. Lalu saat ia ingin mengatakan yang sebenarnya, bibirnya yang sudah terbuka itu kini terkatup kembali saat suara Mommy Della lebih dulu terdengar.


"Oh iya, ngomong-ngomong sudah berapa bulan kandungan Maura sekarang Er?" tanya Mommy Della dengan menolehkan kepalanya kearah Erland yang juga tengah menatapnya.

__ADS_1


"Mom, Erland boleh jujur tidak?" Mommy Della mengerutkan keningnya setelah mendengar perkataan dari sang buah hati.


"Jujur?" Erland menganggukkan kepalanya.


"Tentang apa?" tanya Mommy Della.


Erland pun kini memutar tubuhnya sampai dirinya berhadapan dengan Mommy Della lalu setelahnya ia mulai menceritakan tentang Maura yang tidak sedang mengandung.


Mommy Della yang mendengar cerita itu, ia cukup terkejut.


"Lho jadi Maura gak hamil?" tanya Mommy Della kala Erland sudah selesai bercerita. Erland lagi-lagi menganggukkan kepalanya.


"Kalau memang dia tidak hamil, kenapa dia minta kamu buat cariin rujak es krim di malam hari seperti ini? Mommy kira dia ngidam," ucap Mommy Della.


"Rujak es kirim ini sebenarnya hukuman untukku dari Maura karena masalah tentang kebohongan Erland kepadanya. Jadi tidak ada sangkut pautnya dengan ngidam," tutur Erland tak ingin Mommy Della ikut-ikutan Mama Dian yang kekeuh dengan kecurigaannya.


Mommy Della tampak mengangguk-anggukkan kepalanya sebelum tangannya kini bergerak untuk mengelus punggung sang putra sembari berkata, "Sudah tidak apa-apa jika kamu dan Maura belum di beri momongan. Mungkin sang pencipta belum mempercayai kalian berdua untuk merawat titipannya. Suatu saat nanti sang pencipta juga akan memberikan kalian keturunan yang soleh dan soleha. Tapi kamu dan Maura harus tetap ikhtiar. Mommy disini akan mendoakan hubungan rumah tanggamu. Dan akan Mommy bantu doa agar Maura cepat hamil. Jadi kamu jangan kecewa, kamu harus terus berusaha diiringi dengan doa, niscaya Allah akan mengabulkan doa hambanya."


Ucapan penuh kelembutan itu seakan-akan mengelus relung hati Erland, yang membuat Erland menjadi tenang kembali.


Erland kini meraih kedua tangan Mommy Della, menggenggam tangan tersebut dengan sangat erat, tatapan matanya menyorot penuh rasa sayang tepat di manik mata Mommy Della.

__ADS_1


"Terimakasih atas doa yang selalu Mommy panjatkan entah itu untuk Erland, untuk Maura atau untuk rumah tangga kita. Terimakasih Mom," ujar Erland sangat tulus.


Mommy Della tersenyum sembari menganggukkan kepalanya.


"Hal itu sudah menjadi kewajiban Mommy, nak untuk mendoakan anak dan keturunan Mommy agar selalu di liputi dengan hal-hal baik," tutur Mommy Della yang dibalas senyuman oleh Erland. Laki-laki itu tak tau harus berterimakasih kepada kedua orangtuanya itu dengan apa, pasalnya harta yang ia punya saat ini tidak akan bisa membayar jasa mereka.


Saat kedua orang itu masih dalam posisi saling berhadapan dan kedua tangan yang saling bertautan, seorang laki-laki paruh baya yang baru masuk, melebarkan matanya saat melihat pemandangan yang cukup romantis untuknya. Hingga dengan kaki yang cukup lebar ia mendekati kedua orang tersebut.


Saat dirinya sudah berada di samping keduanya, dengan cepat laki-laki paruh baya itu langsung melepaskan tautan tangan sepasang ibu dan anak itu.


Tentunya hal tersebut cukup membuat Mommy Della dan Erland terkejut. Saking terkejutnya, dengan serempak kedua orang tersebut menolehkan kepala kearah laki-laki paruh baya itu. Tentunya laki-laki tersebut adalah Daddy Aiden, memangnya siapa lagi laki-laki yang sangat bucin dan cemburuan dengan Mommy Della itu, jika bukan Daddy Aiden orangnya.


"Kamu ngapain kesini? Mau cari apa? Mau merencanakan suatu kebohongan lagi? Kalau mau merencanakan sebuah kebohongan, di sini bukan tempatnya. Dan ngapain tadi pegang-pegang tangan Mommy kamu, hmmm? Mau rebut Mommy dari Daddy, iya?" Berbagai tuduhan Daddy Aiden layangkan kepada Erland.


"Dad, ingat umur. Cucu sudah banyak juga, tingkahnya masih aja kayak anak ABG yang baru ngerasain pacaran. Alay bin lebay di tambah cemburuan. Padahal Erland ini juga anak kandung Mommy Della lho, bisa-bisanya cemburu sama anak sendiri," timpal Erland.


"Anak juga berpotensi jadi pelakor atau pembinor." Erland memutar bola matanya malas.


"Terserah Daddy aja lah. Suka-suka Daddy," ujar Erland akhirnya ia memilih mengalah saja karena jika dirinya tetap melanjutkan perdebatannya itu, ia yakin sampai besok pagi pun perdebatan tadi tak akan usai juga.


Sedangkan Mommy Della, perempuan paruh baya itu hanya membiarkan saja dua laki-laki tersayangnya merebutkan dirinya. Ia memilih melanjutkan aktivitasnya yang sempat tertunda tadi.

__ADS_1


__ADS_2