PASUTRI (Troublemaker)

PASUTRI (Troublemaker)
Bab 202


__ADS_3

Erland menghela nafas panjang dengan tatapan mengarah ke Maura yang tengah memperlihatkan wajah kusutnya tak lupa dengan kerucutan di bibir perempuan itu.


"Sayang, udah ya jangan ngambek lagi," bujuk Erland dengan berjalan kearah Maura yang tengah duduk di pinggir ranjang.


Maura masih diam namun lirikan matanya menandakan jika dirinya masih marah.


Untuk kesekian kalinya Erland menghela nafas. Ia harus memperbanyak kesabaran di dirinya menghadapai Maura yang lagi dalam mode ngambek seperti ini.


"Please sayang. Udah ya ngambeknya. Mungkin sekarang kita tidak jadi ke Bali seperti yang kamu inginkan, tapikan kita masih bisa pergi setelah kamu melahirkan atau mungkin nanti saat kandungan kamu sudah memungkinkan untuk berpergian jauh," ujar Erland.


"Gak mau! Orang aku maunya pergi sekarang bukan nanti-nanti," timpal Maura.


"Tapikan kata dokter Laila, kamu belum boleh pergi jauh dulu. Kandungan kamu masih terlalu muda sayang yang rentan akan keguguran," ujar Erland. Yap, alasan Maura ngambek karena dokter Laila tidak mengizinkan dirinya untuk terbang menuju ke kota yang ia ingin kunjungi dengan alasan yang sama persis dengan yang Erland katakan tadi. Tapi entah kenapa Maura tetap kekeuh ingin ke kota itu sampai ia marah dan ngambek ke Erland yang sebenarnya tidak salah sama sekali disini.


"Pokoknya aku mau ke Bali sekarang juga. Titik!"

__ADS_1


Erland mengusap wajahnya dengan kasar sebelum ia menjambak rambutnya frustasi, hal itu ia lakukan untuk meluapkan kekesalan yang tiba-tiba melanda dirinya kala Maura masih kekeuh seperti ini. Tentunya apa yang Erland lakukan itu tak luput dari pandangan Maura, namun Maura masih cuek dan membiarkan Erland terus menyalurkan kekesalannya itu hingga beberapa saat setelahnya Erland melepaskan jambakan di rambutnya. Lalu ia menatap lekat kearah Maura, sebisa mungkin Erland tetap menekan rasa emosinya itu agar ia tak kelewat batas sampai meninggikan suaranya kepada Maura. Jadi Erland memilih untuk langsung merengkuh tubuh Maura. Tentunya Maura memberontak dalam pelukan suaminya itu.


"Sayang, diam! Jangan sampai aku kehilangan kontrol! Jadi please diam dulu, sampai aku benar-benar tenang," ujar Erland dengan tegas yang membuat nyali Maura menciut sehingga perempuan hamil itu tak lagi memberontak dan pasrah dalam dekapan hangat sangat suami sampai ia merasakan usapan lembut di kepalanya.


"Sayang, aku minta pengertian kamu ya, sekali ini saja. Tolong kamu melakukan apa yang sudah dokter Laila tadi katakan. Aku tau mungkin keinginan kamu ini bisa kita artikan kalau bawaan baby atau bisa kita katakan ngidam. Tapi sayang tidak semua keinginan kamu ini harus terkabul sekarang juga. Jangan sampai karena menuruti ngidam kamu ini malah akan mendatangkan mara bahaya untuk kamu ataupun calon anak kita. Sumpah demi apapun sayang, aku tidak akan pernah bisa melihat salah satu dari kalian terluka. Aku tidak mau kamu atau calon anak kita kenapa-napa. Jadi please sayang, aku mohon turuti apa kata dokter Laila tadi. Beliau mengatakan seperti tadi karena beliau juga tidak mau hal yang tidak kita inginkan terjadi. Dan aku janji sama kamu, setelah baby lahir nanti kamu mau ke kota manapun atau bahkan keliling dunia sekalipun, akan aku jabanin. Tapi untuk kali ini tahan dulu sayang, please ini semua demi kamu dan calon anak kita," ujar Erland benar-benar memohon dengan suara yang sangat lembut, tak ada nada marah sedikitpun di setiap kalimat yang ia katakan tadi.


Maura yang mendengar perkataan Erland tadi, tangannya kini bergerak untuk membalas pelukan dari Erland tadi tapi bersamaan dengan itu pula air mata Maura keluar dan membasahi pipinya yang semakin chubby itu.


"Hiks tapi aku maunya sekarang," ujar Maura.


Erland memejamkan matanya sesaat, ternyata cukup sulit menghadapi wanita yang tengah mengidam seperti ini. Maura memang tidak mual ataupun muntah tapi ngidam perempuan itu cukup bisa membuat kepala Erland hampir meledak saat ini juga.


Sedangkan Maura dengan bibir yang masih mengerucut, ia menganggukkan kepalanya sembari berkata, "Hiks, mau! Tapi aku mau jajan apapun yang aku mau dan kamu tidak boleh melarangku!"


Erland tersenyum kemudian ia menganggukkan kepalanya.

__ADS_1


"Baiklah. Aku tidak akan melarang kamu untuk beli apapun yang kamu mau nanti. Asal yang kamu beli tidak rokok ataupun makanan yang mengandung alkohol. Paham kan sayang?" ujar Erland dengan merapikan rambut Maura yang sedikit berantakan tersebut.


Kali ini dengan patuh Maura menganggukkan kepalanya.


"Ya sudah kalau begitu siap-siap sana gih. Kebetulan sekarang juga sudah jam 5 sebentar lagi pasar malam itu akan dibuka," tutur Erland yang lagi-lagi diangguki oleh Maura sebelum ia berdiri dari posisi duduknya.


Dan masih dengan sesenggukan namun sudah tidak mengeluarkan air mata lagi, Maura berkata, "Iya. tapi kamu hiks tunggu aku. Kalau kamu berani ninggalin aku hiks, aku tidak akan membiarkan kamu tidur di sampingku selamanya! Awas."


Ancaman yang dilontarkan oleh Maura justru tampak lucu bagi Erland. Ya siapa juga yang ingin meninggalkan perempuan itu. Kalau memang Erland berniat meninggalkan Maura ke tempat pasar malam yang ia katakan tadi, tidak mungkin bukan ia tadi mengajak Maura pergi bersama. Dan pasti jika Erland memiliki niatan seperti itu, ia tak akan memberitahu Maura dan langsung pergi sendiri begitu saja. Tapi untungnya Erland bisa memaklumi kondisi Maura yang moodnya masih naik turun, sehingga ia membalas, "Iya iya sayang. Aku tidak akan ninggalin kamu kok. Aku akan tunggu kamu sampai selesai siap-siap."


Dengan mengusap ingusnya yang sedikit keluar dengan cara kasar, Maura menganggukkan kepalanya lalu setelahnya ia melangkahkan kakinya menuju ke ruang walk in closed di kamar tersebut meninggalkan Erland yang memantap kepergiannya dengan gelengan kepala. Dan saat pintu ruangan yang dimasuki oleh Maura tertutup, Erland langsung merebahkan tubuhnya diatas ranjang.


Dan dengan menatap langit-langit kamar tersebut, ia bergumam, "Jadi gini ya rasanya menghadapai istri yang lagi ngidam. Susah-susah gampang dan perlu kesabaran yang benar-benar banyak. Huh, lagian calon bocil kenapa mintanya traveling sih? Kenapa gak minta rujak kayak waktu itu aja kan lumayan gampang buat di penuhin permintaannya. Bukan malah mintanya terbang ke kota lain. Huh, calon bocilku memang luar biasa, berbeda dan limited edition! huh!"


Erland kini mengusap wajahnya lelah setelah membujuk Maura selama satu jam lebih tadi. Segala cara sudah ia lakukan tadi namun tak ada yang mempan sama sekali sampai akhirnya ia teringat akan perkataan Afif kemarin yang sempat izin kepadanya untuk tidak lembur karena akan pergi ke pasar malam bersama kekasihnya. Alhasil Erland mencoba untuk membujuk Maura dengan mengajak istrinya itu pergi ke tempat tersebut dengan memberikan sedikit perhatian. Tak disangka ternyata hal itu berhasil. Dan tolong ingatkan Erland untuk memberikan uang tip kepada Afif nanti karena secara tidak langsung sekretarisnya itu membantu dirinya memecahkan masalah yang sempat terjadi tadi.

__ADS_1


...****************...


Hai hai hai, aku mau tanya nih. Kalian bosen gak sih sama cerita ini? Ceritanya berantakan banget ya kan? Dan maaf akhir-akhir ini updateanku gak rutin jamnya sama seperti dulu karena entah kenapa akhir-akhir ini my body gak bisa diajak kerjasama. Dikit-dikit tumbang🤧 Jadi maafin Yap kalau belum bisa crazy up. Kalian juga disana baik-baik ya. Jaga kesehatan jangan sakit-sakit karena bentar lagi mau lebaran. Dan gak kerasa cerita ini sampai 200 ++ eps. Ya Gusti panjang banget ya kayak sinetron jadinya padahal awalnya cuma mau 100++ tapi entah kenapa kok bisa sampai eps 200-an😂 Oh ya jangan lupa LIKE, VOTE, HADIAH dan KOMEN ya. See you next eps bye love 👋


__ADS_2