PASUTRI (Troublemaker)

PASUTRI (Troublemaker)
Bab 134


__ADS_3

Selesai membereskan bahan makanan serta memasak yang di kerjakan secara bersama-sama tentunya Maura yang memaksa Erland agar mengajari dirinya. Akhirnya mereka berdua kini bisa bersantai di ruang tamu dengan televisi yang menyala. Tentunya hanya Maura saja yang melihat televisi itu, sedangkan Erland, laki-laki tersebut tengah bermain game di ponselnya dengan merebahkan tubuhnya, menjadikan paha Maura sebagai bantalan kepalanya.


Usapan lembut yang di berikan oleh Maura di kepala Erland, memberikan ketenangan di dalam diri Erland hingga tanpa terasa, emosi yang tadi meluap-luap kala mengingat kejadian sial hari ini sudah menghilang.


Selama mereka berada di ruang tamu, tak ada yang mengeluarkan suara, mereka tampak sibuk dengan kegiatan mereka masing-masing. Hingga Erland kini angkat suara tanpa mengalihkan pandangannya dari ponselnya.


"Sayang," panggil Erland yang dibalas dengan deheman saja oleh Maura.


"Kamu tadi bilang kan kalau mau coba buat kue?" Maura yang tadi fokus menatap layar televisi, ia kini menundukkan kepalanya, menatap wajah Erland dari atas.


"Iya. Dan kamu tadi mengizinkan. Jangan bilang kamu berubah pikiran lagi," ujar Maura curiga.


Erland mematikan ponselnya, menaruh ponsel itu keatas meja sebelum ia membalas tatapan Maura sembari menggelengkan kepalanya.


"Tidak. Aku tidak berubah pikiran sayang. Aku tetap memberi izin ke kamu. Aku hanya mau tanya kamu akan mulai belajar kapan? Karena kebetulan aku tadi dapat bonus dari tuan muda karena sudah menemani dia seharian tadi."


"Benarkah?" tanya Maura dengan mata berbinar. Sebentar lagi keinginan untuk memulai usaha akan tercapai kalau begitu.

__ADS_1


"Benar sayang. Uangnya sekarang ada di dompetku." Maura mengangguk-anggukkan kepalanya dengan senyum sirat akan kebahagiaan.


"Jadi kapan mau mulai belajarnya?" tanya Erland kembali.


"Hmmm sabtu ajalah. Kan di hari itu kamu libur bekerja yang artinya bisa memantau aku seperti yang kamu katakan tadi lewat telepon," ujar Maura.


"Baiklah kalau begitu. Uangnya aku nanti kasih saat kita sudah di kamar." Maura mengangguk tak lupa ia juga memperlihatkan senyum manisnya sembari berucap, "Terimakasih sayang."


"Sama-sama," balas Erland. Dan dengan memberikan sebuah kecupan di bibir Erland, Maura kembali menatap kearah televisi. Sedangkan Erland, laki-laki itu memilih memejamkan matanya hingga entah mendapat dorongan dari mana, dirinya kini memiringkan tubuhnya, menghadap kearah perut Maura. Matanya yang tadi ia tutup kini terbuka dengan tatapan lurus ke arah perut rata sang istri yang dibalut dengan baju tidur. Tangan Erland tak tinggal diam, tangan itu kini ia gerakan untuk menyingkap baju Maura, menelusupkan wajahnya kedalam baju tersebut. Tentunya hal itu membuat Maura terkejut setengah mati, ia menundukkan kepalanya, menatap kepala Erland yang sudah sembunyi dibalik baju yang tengah Maura kenakan. Ingin sekali ia menegur suaminya itu. Namun belum juga ia melontarkan sepatah katapun, ia kembali dibuat terkejut dengan tangan Erland yang kini mengelus perutnya dan samar-samar ia mendengar suara Erland yang seperti tengah berbisik kepada perutnya.


Sedangkan Maura, ia menggigit bibir bawahnya. Ia memang tidak mendengar keseluruhan dari ucapan Erland tadi. Tapi karena dia sempat mendengar kata calon anak, ia sangat yakin jika Erland sudah tak sabar menunggu kehadiran buah hati mereka. Jika orang lain yang mendengar ucapan dari Erland, mungkin mereka akan senang jika berada di posisi Maura. Tapi berbeda dengan Maura, ia justru resah saat ini. Bahkan ia sempat meminta jangan ada anak diantara mereka. Bukan, Maura bukan tidak mau hanya saja ia belum siap sekaligus takut. Takut jika dirinya bukan ibu yang baik, takut jika dirinya tak bisa mendidik anaknya yang berakhir anaknya itu nanti akan menjadi berandalan atau malah kurang kasih sayang darinya, takut ia tak bisa merawat anaknya dan masih banyak lagi ketakutan yang mendera dirinya jika ia memiliki buah hati dengan Erland nantinya. Apalagi masalah finansial mereka yang masih minim. Takutnya kalau ada anak diantara mereka, uang yang hanya berjumlah 2 juta perbulan itu tak akan cukup untuk membiayai hidup mereka. Belum lagi saat anak-anak mereka nanti sudah besar, bagaimana dengan biaya sekolahnya dengan uang segitu? Membayangkannya saja Maura sudah di buat pusing tujuh keliling bagaimana jika terjadi di dalam hidupnya nanti? Maka dari itu Maura tidak ingin ada anak diantara rumah tangga mereka.


Tapi jika ia ingin menolak untuk tidak memiliki anak dengan Erland, bagaimana caranya? Dan apakah laki-laki itu nanti akan marah dengan dia?


Maura terus berpikir mencari cara untuk membicarakan kekhawatirannya dan ke-tidak inginannya memiliki buah hati kepada Erland.


Hingga helaan nafas panjang keluar dari hidung Maura, sebelum dirinya mulai angkat suara walaupun ia sangat takut melihat respon apa yang nanti akan Erland berikan kepadanya.

__ADS_1


"Sayang," panggil Maura. Sedetik, dua detik sampai satu menit tak ada balasan dari Erland. Laki-laki itu masih berada di posisinya, memeluk dan menenggelamkan wajahnya di perut Maura. Hanya sekedar deheman pun tak laki-laki itu berikan.


Maura mengerutkan keningnya dan dengan tangan yang bergerak untuk mengelus kepala Erland, ia kembali berucap, "Sayang. Aku mau bicara sama kamu."


Lagi dan lagi, Maura tak mendapatkan balasan dari Erland.


"Sayang, kamu dengar gak sih aku ngomong!"


"Sayang ihh. Jawab lah!" Maura berusaha untuk membuat Erland menjawab ucapannya. Namun tetap saja, hening, tak ada suara Erland yang menimpali ocehannya.


"Ck, sayang!" ucap Maura dengan memaksa melepaskan pelukan Erland dari tubuhnya, sedikit menggulingkan tubuh suaminya hingga telentang. Namun yang ia dapati, Erland justru memejamkan matanya. Dimana hal tersebut membuat Maura menjadi panik sekaligus khawatir. Bukannya Erland beberapa menit lalu masih berbicara, tapi kenapa dia sekarang sudah menutup matanya. Bahkan saat ia menggulingkan tubuhnya, laki-laki itu tak bereaksi sedikitpun. Apa jangan-jangan...


Tangan Maura kini bergerak, mengarah ke depan hidung Erland, mengecek hembusan nafas suaminya yang ternyata masih ada dan hal itu membuat hati Maura sedikit reda. Karena masih ada kemungkinan Erland saat ini hanya pingsan saja.


Maura mengarahkan tangannya ke pipi Erland, menepuk-nepuk pipi tersebut hingga perlahan Erland mulai terusik sembari berucap, "Lima menit lagi, sayang." Setelahnya Erland kembali ke posisinya tadi yaitu memeluk tubuh Maura.


Sedangkan Maura, ia menghela nafas lega. Aman, suaminya itu tidak mati ataupun pingsan. Tapi tunggu dulu, kalau Erland saat ini tengah tertidur, berarti niatnya ingin membicarakan masalah buah hati harus ia tunda dong karena ia tak tega jika harus membangunkan Erland. Jadi dengan terpaksa Maura harus menunda niatnya itu dan mungkin ia akan menunggu Erland sampai laki-laki itu nanti terbangun dari tidurnya dan barulah ia akan membicarakan masalah yang tiba-tiba mengusik dirinya kepada Erland. Semoga saja Erland mau mengerti dengan keinginannya itu sehingga laki-laki itu nanti tidak marah kepadanya.

__ADS_1


__ADS_2