PASUTRI (Troublemaker)

PASUTRI (Troublemaker)
Bab 30


__ADS_3

"Jangan senyum-senyum gitu lah Ra. Takut aku jadinya. Tapi kalau kamu minta aku jadi madu kamu, hmmm akan aku pikirkan lagi nanti," ucap Meli yang membuat senyum di bibir Maura menghilang seketika.


"Enak saja. Aku mau di madu tapi tidak dengan kamu yang menjadi maduku. Lagian permintaanku bukan itu tapi aku minta kamu buat ajak aku healing. Sumpah demi apapun sejak aku pindah ke rumah ini aku sama sekali tidak pernah jalan-jalan jauh dari rumah ini palingan cuma ke supermarket depan itupun aku hanya beli cemilan saja. Kalaupun mau jalan jauh, mana mungkin aku hanya jalan kaki."


"Jadi kamu mau healing kemana? Biar bisa kita agendakan mulai sekarang dan mau kapan kita perginya karena besok hari weekend dan aku mulai bekerja di hari Senin jadi kita bisa agendakan healing kita di dua hari itu atau kalau tidak---" belum sempat Meli menyelesaikan ucapannya, Maura sudah memotongnya.


"Nanti malam. Aku mau kamu menepati janji kamu itu nanti malam." Meli mengerutkan keningnya.


"Hah? Kok malam? Kamu mau healing atau mau cari setan sih?" tanya Meli tak paham dengan jalan pikiran Maura.


Namun ucapannya itu dibalas dengan decakan oleh Maura.


"Ck, yang benar saja mau nyari setan. Gak ya. Aku milih waktu di malam hari karena tempah healing kita di club. Yeyyyyyy!" teriak Maura kesenangan. Ya siapa yang tidak senang jika sebentar lagi ia akan kembali bersenang-senang di dunia malamnya itu. Dunia malam yang selalu ia rindukan dan tak bisa ia tinggalkan.


Sedangkan Meli yang mendengar permintaan dari Maura itu, ia benar-benar melongo dibuatnya.


"Kamu yakin mau ketempat itu, Ra?" Maura dengan mantap menganggukkan kepalanya.


"Kamu yakin?" Tanya Meli kembali.


Maura kini memutar bola matanya malas. Apa anggukan kepalanya tadi tak membuat Meli percaya dengan permintaannya itu.

__ADS_1


"Iya Meli, aku sangat yakin. Toh kenapa kamu kayak kaget gitu. Lagian kita juga sering kesana."


"Ck, memang kita sering kesana malah satu minggu sekali tapikan itu dulu saat kamu belum menikah," ucap Meli.


"Memangnya kenapa kalau aku sudah menikah?"


"Ya tentunya kamu akan di marahi habis-habisan sama suami kamu lah."


"Tidak akan. Dia tidak akan memarahiku. Dia memang sudah mendapatkan ragaku tapi dia tidak bisa mengontrolku seperti boneka. Dia tidak bisa melarangku dan tidak bisa mengurusi urusanku. Jadi kamu tenang saja semua kekhawatiranmu itu tidak akan pernah terjadi," ucap Maura sangat-sangat yakin.


"Kalau memang seperti itu, baiklah aku akan mengabulkan permintaanmu itu untuk membawamu healing ke club," ujar Meli pada akhirnya. Dimana hal tersebut membuat Maura merekahkan senyumannya.


"Nah gitu dong dari tadi. Dan kita akan berangkat ke club nanti malam, gimana?" Meli hanya menganggukkan kepalanya. Toh ia juga tidak ada hal penting nanti malam yang harus ia hadiri atau kerjakan.


"Ck, iya-iya. Aku akan menanggung kemarahan laki-laki itu sendiri nanti jika dia memang berani memarahiku. Oh ya tapi nanti malam kamu jemput aku, maklum aku sudah tidak kaya lagi yang tentunya hanya bisa menumpang di mobil kamu malam ini," ucap Maura.


"Kalau urusan jemput menjemput mah gampang nanti."


"Sip deh kalau gitu," ujar Maura masih mempertahankan senyum manisnya. Ia sudah tidak sabar untuk menikmati kebebasannya lagi seperti dulu kala sebelum pernikahan sialan itu terjadi.


"Btw Ra. Kamu gak kasih aku minum gitu kek? Haus nih tenggorokan," ucap Meli yang berhasil merusak imajinasi Maura.

__ADS_1


"Manja. Kalau haus ambil saja sendiri di dapur sana. Biasanya juga ambil sendiri," ujar Maura.


"Ck, itukan dulu saat kamu masih di rumah keluarga kamu kalau sekarang kan beda rumah ini adalah rumahmu dan rumah suamimu. Gak sopan kalau belum mendapat izin secara langsung dari si pemilik rumah. Tapi berhubung kamu tadi sudah menyuruh aku ambil sendiri, aku sudah tidak akan segan-segan lagi," ucap Meli sembari berdiri dari posisi duduknya. Lalu kemudian ia melenggang menuju ke dapur rumah tersebut.


Tak sulit bagi Meli mencari keberadaan dapur di rumah itu karena rumahnya tidak terlalu besar seperti rumah kedua orangtua Maura sebelumnya yang beberapa kali ia harus nyasar hanya karena ia tengah mencari kamar mandi waktu itu.


Meli semakin masuk kedalam ruangan tersebut, niatnya menuju ke arah kulkas tapi saat dirinya ingin melewati meja makan, langkah kakinya itu ia hentikan.


"Sepertinya makanan ini enak deh. Kalau aku coba boleh gak ya?" tanya Meli kepada dirinya sendiri.


"Aku tanya Maura saja lah." Meli mengambil nafas dalam-dalam sebelum...


"Maura! Aku boleh minta makan sekalian kan?" Teriakan cetar itu berhasil masuk kedalam indra pendengaran Maura yang membuat perempuan itu menghela nafas namun ia tak urung membalas pertanyaan dari Meli tadi dengan teriakan pula.


"Terserah kamu, tapi lauknya jangan di habiskan. Sisakan untuk makan siangku nanti!"


Meli yang sudah mendapat persetujuan dari sang pemilik rumah, ia tersenyum lebar sebelum dirinya berlari kecil untuk mengambil piring, sendok dan segelas air yang akan menemani dirinya menikmati makanan yang terlihat sangat lezat itu.


Dan benar saja saat makanan itu masuk kedalam mulutnya, matanya dibuat berbinar saat lidahnya mengecap cita rasa makanan yang memanjakan lidahnya tersebut.


"Sumpah demi apapun makanan ini sangat enak sekali. Aku tidak menyangka jika Maura bisa memasak makanan seperti ini. Aku perlu berguru dengannya setelah ini," ucap Meli yang menganggap jika Maura lah yang memasak makanan tersebut. Tidak mungkin bukan kalau makanan itu di masak oleh suami Maura. Lagian luang banget waktu laki-laki itu jika sebelum bekerja harus menyiapkan makanan tersebut terlebih dahulu, pikir Meli. Padahal tanpa ia sangka-sangka bukan Maura lah yang memasak makanan itu tapi justru Erland lah yang melakukannya. Erland memang tidak memiliki waktu luang sampai ia harus menyiapkan makanan serta berberes rumah terlebih dahulu sebelum pergi bekerja, tapi semua yang ia lakukan itu atas dasar terpaksa. Jika bukan dia sendiri siapa lagi yang bisa ia andalkan di rumah itu. Maura? Jangan berharap lebih kepada perempuan itu.

__ADS_1


Bangun saja masih siang, paling pagi juga jam 6. Erland mau merubahnya pun ia rasa akan percuma karena sifat keras kepala yang Maura punya sangat besar dan sangat sulit di hilangkan. Jadi kemungkinan Maura bisa Erland ubah mungkin hanya 1% kecuali perempuan itu mau merubah dirinya sendiri menjadi lebih baik lagi dari diri dia yang sekarang dan hal itu sangat di tunggu-tunggu oleh Erland yang sudah cukup lelah menghadapi sifat Maura.


__ADS_2