
Sesaat Erland memejamkan matanya, ia menghela nafas kala beban pikirannya itu tak kunjung hilang juga. Jadi ia saat ini akan memutuskan untuk segera mandi saja, mungkin dengan ia melakukan pembasahan pada seluruh tubuhnya ia akan sedikit lebih tenang.
Erland melucuti pakaiannya satu persatu saat dirinya telah berada di kamar mandi di dalam kamarnya dengan sesekali ia meringis kala lukanya tersentuh oleh bagian baju atau celana yang ingin ia lepas.
Erland berjalan masuk ke dalam bilik dimana disana ada satu shower yang akan membasahi tubuhnya nanti. Erland menengadahkan wajahnya keatas kala semprotan shower telah menetes dengan derasnya. Luka yang masih menganga pun Erland biarkan begitu saja hingga membuat darah yang sudah mengering perlahan hilang dan bersih dari tubuh Erland.
Hampir satu jam lamanya Erland berada di bawah guyuran shower. Dan sudah cukup baginya untuk menenangkan dirinya sendiri. Ia kini keluar hanya dengan memakai handuk kimono untuk membalut tubuhnya yang sedang tak memakai apapun. Dimana setelah ia keluar dari kamar mandi tujuan pertamanya yaitu mencari kotak P3K untuk membersihkan lukanya.
Saat ia tengah membersihkan lukanya, tiba-tiba ia teringat tentang Maura. Bukan ingat tentang apakah Maura sudah makan, tidur atau sebagainya. Tapi ia justru teringat apakah Maura sudah selesai dengan tugas dari hukuman yang ia berikan tadi? Dimana hal itu membuat tangan Erland bergerak cepat mengambil ponselnya lalu menuju ke suatu aplikasi yang memperlihatkan rekaman CCTV di rumahnya. Dimana saat aplikasi itu sudah memperlihatkan situasi di rumahnya, Erland tak melihat Maura berkeliaran di seluruh ruangan di rumah tersebut. Dan rumah itu juga tampak sepi.
"Mungkin dia sudah tidur," ucap Erland mengingat jam sudah menunjukkan waktu tengah malam. Lalu setelahnya barulah ia keluar dari aplikasi itu dan memilih fokus dengan dirinya sendiri. Tak peduli dengan kondisi Maura saat ini. Toh tadi dia juga tidak melihat jika Maura sekarang tengah tertidur di sofa ruang tamu. Jadi Erland menganggap semuanya baik-baik saja.
Erland merebahkan tubuhnya diatas ranjang di kamarnya itu kala lukanya sudah selesai ia obati dan sudah berganti pakaian tentunya dengan harapan hari esok akan lebih baik lagi daripada kemarin.
Keesokan paginya, Maura yang semalam tertidur di ruang tamu ia mengerjabkan matanya. Dimana saat matanya sudah benar-benar terbuka ia mendudukkan tubuhnya, melamun sebentar sebelum ia tersadar dari lamunannya dan matanya langsung tertuju kearah jam dinding di rumahnya itu.
__ADS_1
"Sekarang sudah jam 7 pagi. Apa Erland sudah pulang?" tanya Maura pada dirinya sendiri.
Ia menatap kearah sekelilingnya, tapi lagi-lagi yang ia dapatkan hanyalah suasana sunyi dan sepi. Seperti tak ada kehidupan di rumah ini.
"Kok rumah masih sepi begini? Apa dia sekarang lagi di kamar?" Maura mengalihkan pandangannya kearah pintu kamar Erland sebelum dirinya beranjak dari tempat duduknya dan mendekati pintu kamar tersebut.
Maura mencoba mengetuk pintu kamar Erland sembari berkata, "Er, kamu udah pulang kan? Dan kamu sekarang ada di dalam kan?"
Hening, tak ada balasan dari ucapannya itu.
"Ck, padahal kan itu sebuah kenyataan kenapa dia harus marah? Haishhhh bodoamatlah, aku buka saja langsung kamar dia." Tangan Maura kini bergerak, mencoba untuk membuka pintu kamar Erland. Namun sayang ia tak bisa membukanya alias pintu itu masih terkunci rapat.
"Kok masih di kunci? Atau jangan-jangan dia belum pulang lagi?" Maura kini berlari kecil menuju kearah pintu utama rumah tersebut.
Disaat dirinya mencoba untuk membuka pintu rumah tersebut namun keadaan pintu itu tetap terkunci seperti tadi malam karena memang Maura lah yang menguncinya.
__ADS_1
"Pintunya masih ke kunci yang artinya Erland gak pulang dong semalaman? Atau jangan-jangan dia tidur di luar lagi." Maura dengan cepat mengambil kunci rumah tersebut yang tergeletak diatas meja ruang tamu. Ia segera membuka kunci rumah tersebut. Tapi saat pintu itu sudah terbuka dan Maura juga sudah melihat ke sekeliling rumahnya ia tak melihat ada Erland disana bahkan mobil laki-laki itu pun tidak ada di depan rumah. Dimana hal tersebut membuat raut wajah Maura menjadi lesu.
"Kalau Erland memang belum pulang, gimana nasibku nanti? Aku tidak masalah kalau harus membersihkan rumah seperti kemarin tapi yang aku khawatirkan itu nasib perutku. Aku tidak bisa memasak, bagaimana bisa masak nyalain kompor aja aku gak bisa. Aku juga gak mungkin jalan kaki buat cari makanan di luar. Kalau pesan online juga aku gak punya aplikasinya, paket dataku juga sudah habis tadi malam kalau aku mau download aplikasi itu," ucap Maura dengan wajah yang tertunduk sembari berjalan masuk kembali kedalam rumah.
Maura menghela nafas panjang kala menatap sepinya rumah tersebut sembari berkata, "Semoga saja Erland sudah pulang sebelum aku merasa lapar nanti."
Setelah mengucapkan perkataannya itu Maura berjalan menuju ke sofa yang semalam ia jadikan sebagai tempat tidur. Menata ulang furniture yang sedikit berantakan karena ulahnya semalam itu sebelum dirinya masuk kedalam kamarnya untuk membersihkan badannya.
Waktu terus berlalu, Maura yang tadi sudah menyapu dan mengepel lantai, ia terduduk lemas dengan bibir bawah yang ia gigit. Sumpah demi apapun dia sangat kelaparan saat ini. Ia menatap jam dinding di ruang tamu tersebut.
"Sekarang sudah jam 10 lebih, apa Erland gak mau pulang kah? Sebegitu marahnya dia sama aku?" gumam Maura dengan mengelus perutnya yang kembali berbunyi.
"Er, aku lapar. Pulang dulu kenapa sih. Marahnya di pending dulu beberapa menit aja nanti kalau kamu udah bikinin aku makanan dan mau ngambek lagi terserah deh. Yang penting kasih aku makan dulu. Jadi suami tanggungjawab sedikit lah," ucap Maura dengan menatap kearah CCTV berharap apa yang di katakan olehnya itu di dengar oleh Erland. Padahal tanpa dia ketahui, Erland sekarang sudah sibuk dengan pekerjaannya di kantor dan tidak sedang mengawasi dirinya lewat rekaman CCTV tersebut.
"Sudahlah akan aku tunggu setengah jam lagi. Kalau memang Erland benar-benar tidak pulang. Terpaksa aku harus belajar masak sendiri. Bodoamat kalau rasanya gak enak nanti. Yang penting aku makan dan perutku kenyang," ujar Maura. Dan berhubung dirinya sudah menyelesaikan hukuman dari Erland yaitu membersihkan rumah itu pun ia memilih untuk mengistirahatkan tubuhnya agar rasa lapar yang tengah melanda dirinya tak semakin ia rasakan. Tapi walaupun begitu didalam hati Maura tetap berharap agar Erland segera pulang saat ini untuk memasakkan makanan untuknya.
__ADS_1