
Edrea kembali membaca isi pesan dari Maura tadi masih dengan senyum-senyum tak jelas. Ia juga bersyukur karena teriakan membahananya tadi tak membuat orang-orang di rumahnya menghampiri dirinya.
📨 : Kak Mau
"Re, hmmm maaf soal tadi. Sebenarnya Kakak menelepon kamu tadi bukan karena salah pencet saja melainkan ada sesuatu yang perlu Kakak bicarakan sama kamu hmmm lebih tepatnya Kakak mau minta pendapat kamu. Begini, setelah Kakak pikir-pikir apa yang kamu katakan kemarin ada benarnya juga kalau harusnya Kakak memberikan apa yang sudah menjadi hak Abang kamu. Kakak juga sudah memikirkan secara matang-matang agar Kakak tidak menyesal di kemudian hari karena sudah menyerahkan mahkota Kakak untuk Erland. Kakak juga tau kalau Kakak terus menolak Erland, Kakak akan dosa besar. Bahkan setelah Kakak pulang dari rumah Daddy dan Mommy kemarin, Kakak sudah berpikir secara matang kalau akan memberikan apa yang di inginkan oleh Erland saat dia pulang. Tapi berhubung Erland tiba-tiba pulang tadi malam, Kakak jadi tidak mempersiapkan apapun. Bahkan Kakak juga tidak tau akan melakukan apa untuk mengajak Erland berhubungan ranjang sampai saat ini pun Kakak juga tidak tau apa yang harus Kakak lakukan. Tidak mungkin kan kalau Kakak bilang langsung ke Erland, ayo kita berhubungan badan... Kan yang ada nanti Erland akan ilfil sama Kakak. Sekaligus Kakak juga malu kalau harus mengatakan perkataan itu. Jadi karena kemarin kamu menawarkan untuk membantu Kakak, kamu juga sudah berpengalaman yang tentunya kamu pernah mengajak suami kamu berhubungan, Kakak mau minta solusi masalah ini dengan kamu. Kamu harapan satu-satunya Kakak Re dan Kakak juga tidak mau mengecewakan Erland lagi. Jadi Kakak minta tolong kasih Kakak solusi apa yang harus Kakak lakukan agar memancing napsu Erland."
Senyum lebar tak pernah luntur dari bibir Edrea saat ini. Entah kenapa dia yang bahagia mengetahui niat Kakak iparnya itu padahal bukan dirinya yang akan mendapatkan tubuh Kakak iparnya melainkan sang Abang. Tapi bodoamatlah, pokoknya Edrea saat ini bahagia setengah mati saat melihat ada perkembangan dari hubungan Erland dan Maura. Setidaknya tidak ada perang sengit lagi diantara mereka berdua, semoga saja memang seperti itu sampai kapanpun.
"Impresif sekali Kakak iparku ini. Ya ampun gak nyangka banget lho aku ditanyain perihal ranjang oleh Kakak ipar. Jadi berasa pemain pro kalau kayak gini, walaupun mainnya hanya sama suami sendiri sih. Ya kali sama laki lain belum apa-apa sudah di bunuh Leon nanti. Hmmm tapi kira-kira ide apa ya yang akan aku berikan kepada Kak Maura," gumam Edrea sembari mengetuk-ngetuk dagunya dengan ponsel yang sedari tadi berada di tangan kanannya. Ia memikirkan cara apa yang paling ampuh agar abangnya saat melihat Maura gejolak ingin menyentuhnya membara.
"Masak iya aku kasih ide Kak Maura sama seperti yang sering aku lakukan saat mau ehmmm sama ayang Leon. Gak gak gak, gak akan aku kasih saran langsung telanjang aja di depan bang Erland. Yang jelas Kak Maura langsung berubah pikiran nanti kalau aku kasih cara seperti apa yang aku lakukan biasanya. Tapi kalau tidak seperti itu terus apa dong?" tanya Edrea dengan dirinya sendiri. Otaknya terus berputar, mencari cara yang terbaik yang akan ia berikan kepada Maura. Yang pas dan tidak keterlaluan seperti apa yang ia lakukan biasanya itu.
Dan saat dirinya tengah fokus berpikir, tiba-tiba ada sebuah kecupan mendarat di pipinya. Dimana hal tersebut membuat Edrea terkejut dan hampir saja ia melempar ponselnya kearah orang yang sudah menciumnya itu. Namun setelah ia melihat wajah sang suami di sampingnya, hal tersebut tak jadi ia lakukan.
"Kamu itu kalau datang mbok ya ngucap salam gitu lho. Jangan langsung nyosor, bikin kaget," ucap Edrea yang membuat Leon terkekeh sembari berjalan menuju ke sofa yang saat ini tengah diduduki oleh Edrea dan mendudukkan tubuhnya disamping sang istri.
"Assalamualaikum sayang," ucap Leon sembari mengecup singkat pipi Edrea namun tangannya bergerak untuk mengambil cemilan sang istri yang berada di atas meja.
Sedangkan Edrea, ia mencebikkan bibirnya.
__ADS_1
"Ck, telat," ujarnya yang dibalas gedikkan bahu oleh Leon. Dan daripada ia memperpanjang masalah itu, laki-laki tersebut memilih untuk memfokuskan pandangannya kearah televisi dihadapannya saat ini dengan sesekali ia menyuap makanan ke mulutnya sendiri.
Sedangkan Edrea, ia memutar bola matanya malas dan kembali berpikir. Namun beberapa saat setelahnya, ia menolehkan kembali kepalanya kearah sang suami, menatap lekat wajah Leon dari samping sebelum dirinya berucap, "Sayang."
"Hmmm?" Leon membalas dengan deheman saja dan tanpa mengalihkan pandangannya kearah televisi yang tengah menampilkan film kartun.
"Aku mau tanya dong."
"Tanya apa?"
"Hmmm menurut kamu apa yang harus di lakukan oleh seorang perempuan agar membuat napsu seorang laki-laki meningkat?" Leon menolehkan kepalanya dengan kerutan dikening.
"Aku hanya tanya saja."
"Oh tanya?" ucap Leon dengan senyum miringnya. Dimana hal itu semakin membuat Edrea yakin dengan apa yang sudah ada di pikirannya tadi. Apalagi saat ini Leon sudah mengikis jarak diantara mereka berdua.
"Iya tanya. Jadi jawabannya?" ucap Edrea dengan menggeser posisi duduknya sampai mepet ke pembatas sofa. Ia tidak takut jika diterkam oleh Leon saat ini juga, tapi ia justru takut pesan yang di kirimkan oleh Maura tadi di lihat oleh sang suami. Ia yakin jika Kakak iparnya itu hanya ingin pesan tersebut dilihat oleh dirinya saja, alias pesan itu merupakan sebuah rahasia.
"Hmmmm gampang saja. Ini juga sudah seringkali kamu lakukan yaitu tinggal telanjang saja itu sudah cukup buat aku tergoda," ujar Leon kembali mengikis jarak antara mereka berdua.
__ADS_1
Dimana jawaban dari Leon tadi membuat Edrea memutar bola matanya malas.
"Ck, yang lain lah. Selain telanjang apa?" tanya Edrea yang sudah tak bisa kemana-mana karena tubuhnya sudah terapit oleh tubuh suaminya dan pembatas sofa disisi kiri dan kanan tubuhnya.
"Tidak ada. Cukup kamu telanjang saja. Jangan dibikin ribet deh sayang. Kalau kamu mau mengajak aku berhubungan mah tinggal melakukan apa yang selalu kamu lakukan. Jangan cari cara yang lain karena cara yang biasanya itu sudah sangat-sangat pas," ucap Leon.
"Tapi masalahnya ini untuk orang lain bukan untukku. Aku pun juga tidak akan merubah apa yang sudah aku lakukan. Terlalu ribet jika melakukan cara lain," timpal Edrea. Dimana hal tersebut membuat Leon mengerutkan keningnya.
"Untuk orang lain? Kamu tanya masalah beginian untuk orang lain?" Edrea menganggukkan kepalanya.
"Siapa orang itu? Laki-laki atau perempuan?" Mulai sudah sifat posesif suaminya ini.
"Kan aku tadi bilang, apa yang harus dilakukan oleh seorang perempuan... Dari situ harusnya kamu tau dong kalau orang yang tengah meminta bantuanku ini adalah seorang perempuan. Kamu ini gimana sih, Ck. Dan untuk siapa orangnya, aku tidak bisa memberitahu kamu karena ini rahasia," ujar Edrea.
"Ohhh begitu. Baiklah. Tapi tunggu sebentar, biarkan aku berpikir dulu," tutur Leon. Dimana setelahnya tak ada percakapan diantara sepasang suami-istri itu. Mereka berdua diam satu sama lain. Leon diam karena tengah berpikir sedangkan Edrea, ia mengamati wajah tampan sang suami yang tak pernah membosankan itu selagi menunggu Leon selesai mendapatkan ide dari otak pintar laki-laki tersebut.
"Aku punya ide!" teriakan Leon membuat Edrea yang sedari tadi menatap wajahnya itu terkejut. Namun saat ia ingin mengomel, ia memilih untuk mengelus dadanya, sabar karena ia tak ingin membuang waktu terlalu lama lagi, karena waktu sudah sore hari yang artinya mungkin Maura akan melakukan aksinya ini di malam ini juga.
"Aku punya ide, sayang," ucap Leon kembali yang dibalas dengan anggukan kepala oleh Edrea sembari berkata, "Ide apa yang kamu dapatkan?"
__ADS_1
"Gampang. Pakai lingerie karena kalau telanjang langsung juga terlalu ekstrim untuk dilakukan oleh manusia normal karena hanya bisa dilakukan oleh orang-orang luar biasa jenius seperti kita ini," ujar Leon yang membuat Edrea memutar bola matanya malas. Tapi tunggu dulu, ide Leon tadi hmmm sepertinya ide yang cukup bagus. Karena saat malam pertamanya dulu, ia juga menggunakan pakaian yang menerawang itu dan akhirnya bisa memancing Leon yang langsung menerkamnya saat itu juga. Jadi mungkin dengan ide ini aksi Maura nanti akan berhasil.