
Maura yang telah mendapat teguran sekaligus wejangan dari suaminya, ia tampak terdiam dengan mata yang terus melihat Erland yang perlahan menghilang dibalik pintu kamar laki-laki tersebut.
Maura tampak menundukkan kepalanya, sepertinya kali ini ia tau kesalahan apa yang telah ia buat sampai Erland semarah ini dengannya.
"Hanya karena aku membandingkan hartaku dengan harta miliknya, dia sampai semarah itu. Padahal niatku kan hanya untuk mengingatkan dia agar dia tidak memperlakukan aku layaknya pembantu seperti ini. Bukankah dia menikahiku hanya untuk formalitas saja dimana ia juga harus menghormatiku sebagai istrinya. Dan kalau dia memperlakukanku seperti pembantu begini, apa dia tidak malu dengan Papa yang sudah membesarkanku dengan penuh kasih sayang? Kalau aku jadi dia sih malu lah. Haishhhh tapikan dia bukan aku dan sebaliknya. Ck, ya sudahlah lebih baik aku menyelesaikan hukuman sialan ini biar cepat selesai," ucap Maura dan saat dirinya ingin melanjutkan acara mengepelnya tadi, baru ingat dengan ucapan Erland yang mengatakan jika cara mengepelnya itu salah.
"Kalau yang aku lakukan ini salah, terus yang benar bagaimana? Masak iya aku harus cari di aplikasi video dulu. Ck, ya udah lah mau gimana lagi," sambung Maura. Lalu setelahnya ia bergegas mengambil ponselnya yang berada didalam kamarnya, dimana saat ia sudah mendapatkan benda pipih itu, ia segera mencari dan menonton tutorial mengepel lantai yang benar.
Maura dengan khusyuk melihat tahap pertahap cara mengepel tersebut. Hingga video itu telah selesai ia putar.
"Oh jadi begitu. Oke akan aku coba." Maura meletakkan kembali ponselnya. Dan dia segera keluar dari dalam kamarnya. Dimana keluarnya dia dari dalam kamarnya itu bertepatan dengan keluarnya Erland dari dalam kamar laki-laki itu.
Maura menolehkan kepalanya kearah suaminya yang tengah mengunci pintu kamar pribadinya. Maura tampak mengerutkan keningnya melihat tampilan Erland saat ini. Pakaian santai yang laki-laki itu tadi kenakan sudah berganti dengan celana jeans dipadu padankan dengan kaos hitam polos di lapisi dengan jaket denim tak lupa sepatu putih turut melengkapi penampilan Erland saat ini.
Erland yang sebenarnya sadar jika dirinya tengah di tatap intens oleh istrinya itu, ia tak memperdulikannya sama sekali. Hatinya masih sangat dongkol mengingat ucapan Maura tadi yang membuat dirinya hampir hilang kendali ingin sekali menyobek mulut Maura jika dirinya tidak ingat ajaran orangtuanya yang tak diperbolehkan untuk menyakiti seorang perempuan apalagi orang itu berstatus sebagai istrinya.
Erland tanpa menatap sedikitpun kearah Maura berada, dirinya bergegas pergi dari depan kamarnya. Tapi baru beberapa langkah saja, suara Maura menghentikan langkahnya.
__ADS_1
"Kamu mau kemana?" tanya Maura.
Erland tampak terdiam sesaat, namun setelahnya ia tetap menjawab pertanyaan dari Maura tadi.
"Aku mau kemana saja, bukan urusanmu," jawab Erland dengan suara ketusnya. Setelah menjawab pertanyaan dari Maura tadi Erland melanjutkan langkahnya tadi, meninggalkan Maura yang kini tengah mencebikkan bibirnya.
"Sudah tanya baik-baik ehhh malah dijawab seperti itu. Apa susahnya coba tinggal jawab, aku mau kesini dengan teman atau cuma sendiri, nanti pulangnya jam segini, syukur-syukur nawarin mau di belikan apa nanti kalau pulang. Lah ini balasnya cuma, aku mau kemana saja, bukan urusanmu. Sialan memang," ujar Maura yang sepertinya tak sadar jika tadi malam dia juga bersikap semaunya sendiri saat ditanya Erland, dia ingin pergi kemana. Jadi mereka berdua impas bukan?
Setelah Maura nyinyir di belakang Erland, perempuan itu kembali dengan kegiatannya yang tentunya ia lakukan dengan terpaksa dan ogah-ogahan. Walaupun ia tau Erland tidak ada di rumah itu, tapi ia yakin laki-laki itu tetap tidak akan melepaskannya begitu saja, dia pasti tetap mengawasinya dari rekaman CCTV yang baru ia tau tadi pagi jika di rumah tersebut terdapat fasilitas seperti itu.
Maura kembali dibuat sebal setengah mati kala mendengar derum mobil Erland yang mulai meninggalkan area rumah mereka. Hingga membuat Maura mengerucutkan bibirnya dengan sesekali menghentak-hentakkan kakinya.
Erland terus menjalankan mobilnya dengan tujuannya kali ini ke markas yang bisanya di jadikan tempat tongkrongan teman-teman semasa SMA-nya dulu.
Erland semakin menambah kecepatannya saat lokasi yang dia tujuan sudah di depan matanya. Hingga...
Cittttt!!!
__ADS_1
Suara rem mobil yang di lakukan Erland mampu membuat orang-orang yang ada di markas tersebut mengalihkan perhatian mereka ke sumber suara. Dimana saat mereka tau jika suara itu dihasilkan dari mobil Erland, mereka tampak berdiri. Dan saat Erland telah keluar dari dalam mobil tersebut, mereka justru bertepuk tangan.
"Wesss wes wes. Ada apa nih gerangan? Tumben-tumbenan bawa mobil kayak mau menguji nyawa sendiri," ucap salah satu temannya yang sering di panggil Odi. Kalian pasti masih mengenal sahabat-sahabat Erland waktu SMA kan, itu lho, si Odi, Septian, Galuh, Virza dan Hito. Tak hanya lima orang itu saja yang ada di dalam markas tersebut melainkan masih banyak lagi yang tak bisa di sebutkan satu persatu. Dan jangan tanya kenapa mereka bisa berkumpul di markas itu padahal waktu masih terbilang sangat pagi karena alasannya pasti gabut atau mengistirahatkan otak mereka yang selalu dipaksakan untuk terus berpikir dan bekerja.
Erland yang mendapat pertanyaan dari Odi pun ia tak menjawab pertanyaan tersebut. Ia justru terus berjalan masuk kedalam markas diikuti ke lima temannya yang tadi tengah berbaur menjadi satu didepan markas mereka.
Erland kini mendudukkan tubuhnya disalah satu sofa di dalam markas tersebut yang terlihat sangat bersih walaupun setiap hari selalu dikunjungi oleh para sahabatnya itu.
Dimana duduknya Erland disusul dengan ke-lima sahabatnya tersebut.
"Lo kenapa sih Er? Tiba-tiba datang dengan wajah masam seperti ini?" tanya Virza, sahabat Erland yang lebih waras dari sahabat-sahabatnya yang lain.
Erland masih menutup bibirnya rapat-rapat. Dirinya tidak memiliki mood untuk berbicara saat ini.
"Er, jawab lah. Ditanya dari tadi cuma diem doang. Sariawan Lo?" ejek Septian yang sangat penasaran hal apa yang membuat sahabatnya itu bisa diam sepertinya saat ini.
Tapi sayang seribu sayang, bercanda yang dilontarkan oleh Septian tadi tidak mempengaruhi Erland sama sekali. Dimana hal tersebut membuat kelima sahabatnya itu hanya bisa menghela nafas saja. Biarkan Erland terdiam seperti saat ini, kalau laki-laki itu mau, nanti pasti dia akan mengatakan alasan mengapa dirinya bersikap seperti saat ini.
__ADS_1
Namun beberapa saat setelahnya akhirnya Erland angkat suara. Tapi perkataannya kali ini membuat para sahabatnya itu terkejut, pasalnya Erland berkata, "Cari informasi area balapan malam ini!"