
Erland yang ditinggal untuk kesekian kalinya oleh Maura, ia malah tersenyum namun di balik senyumannya itu sebuah rencana sudah tersusun indah di otaknya saat ini.
"Untuk kali ini kamu masih bisa mengelak. Tapi untuk kedepannya aku yakin kamu akan jujur dengan perasaanmu itu. Dan jangan salahkan aku jika aku melakukan cara di otakku ini karena cara ini adalah cara satu-satunya untuk membuktikan tentang perasaanmu," gumam Erland dengan menatap lurus kearah pintu kamar Maura yang tertutup rapat.
Dimana setelah berucap seperti itu, Erland bergegas keluar dari ruang dapur. Laki-laki itu melangkahkan kakinya keluar dari dalam rumah tersebut. Ia akan pergi dan memulai rencana yang sudah ia susun di otaknya saat ini juga.
Sedangkan didalam kamar, Maura langsung berlari keluar dari dalam kamarnya, renungan yang tengah ia lakukan untuk memastikan perasaannya sendiri itu pun harus ia hentikan kala dirinya mendengar suara motor Erland. Ia menyingkap sedikit korden yang terpasang di kaca jendela rumah tersebut untuk mengintip kepergian dari Erland tadi.
"Mau kemana dia?" tanya Maura penasaran.
"Kenapa dia pergi tidak izin dulu ke aku? Padahal kata dia, kalau seseorang yang sudah memilki suami ataupun istri kalau mau kemanapun dia pergi harus meminta izin terlebih dahulu ke pasangan mereka. Tapi lihatlah sekarang, dia sendiri yang berucap tadi dia sendiri juga yang tidak mempraktekkan ucapannya," ucap Maura. Emosinya yang belum sepenuhnya reda, sekarang emosinya kembali naik. Kalau seperti ini terus bisa-bisa Maura terkena darah tinggi. Tapi Maura tidak peduli, kalaupun dia akan memiliki riwayat darah tinggi, itu semua juga ulah Erland maka dia akan meminta pertanggungjawaban kepada suaminya.
__ADS_1
Maura kini mencebikkan bibirnya, sebelum dirinya memilih berbalik dari depan jendela tersebut kala dirinya juga sudah tidak melihat tubuh Erland. Namun baru dua langkah, kakinya berhenti bertepatan dengan pikiran negatif yang tiba-tiba menyerang dirinya. Bahkan kedua tangannya kini terkepal erat disamping tubuhnya.
"Ini tidak bisa di biarkan. Aku harus mengikuti kepergian dia. Walaupun aku sudah tidak bisa mengejar dia, tapi aku tau sekarang dia ada dimana," ucap Maura. Dan dengan cepat Maura berlari menuju ke kamarnya hanya sekedar untuk mengambil tas kecil, dompet serta ponselnya. Setelah mendapatkan ke-tiga barang itu, Maura dengan jalan tergesa-gesa keluar dari dalam rumah tersebut. Niatnya sudah bulat untuk mengikuti Erland yang menurut pikiran negatifnya itu jika suaminya saat ini justru kembali ke toko buku tadi. Maura curiga jika keduanya memiliki hubungan spesial. Bahkan Maura tak peduli jika dirinya harus berjalan kaki menuju ke jalan raya yang jaraknya lumayan jauh dari kediamannya. Mungkin menempuh perjalanan 20 menit yang tentunya akan membuat kaki Maura pegal nantinya terlebih perempuan itu menggunakan alas kaki dengan model high heels. Sudah bisa dibayangkan bukan gimana pengalnya kaki Maura nanti.
Tapi berkat amarah yang tengah mengontrol dirinya, Maura tak merasa capek sama sekali sampai akhirnya perempuan tersebut telah sampai di pinggir jalan raya. Ia mengedarkan pandangannya, mencari tukang ojek, angkot ataupun taksi yang melintas di jalan raya dihadapannya saat ini. Ia tidak peduli jika dirinya nanti menemukan angkot terlebih dahulu dan naik kendaraan umum itu untuk pertama kalinya yang pastinya Maura sudah membayangkan jika didalam angkot nanti akan berdesakan dengan penumpang lainnya. Tapi saat ia mengedarkan pandangannya, yang pertama kali ia lihat bukan sebuah angkot melainkan sebuah objek online yang akan melewati dirinya. Tanpa ba-bi-bu lagi, Maura langsung melangkah kakinya menginjak jalan raya tersebut, memutar tubuhnya menghadap kearah ojek online itu dengan kedua tangannya ia rentangkan sembari ia berteriak, "Stop!"
Ojek online yang tak menyangka jika dirinya akan di hadang oleh seseorang di tengah perjalanannya pun dengan keterkejutannya, ojek online tersebut mengerem laju motornya hingga akhirnya motor itu berhenti beberapa jengkal dari tubuh Maura.
Dengan langkah lebarnya Maura berjalan mendekati ojek online tersebut dan tanpa menunggu si pengendara mengomeli dirinya dan tanpa menunggu si pengendara siap atau tidak, Maura langsung naik keatas motor. Hingga hampir saja motor itu jatuh jika tidak sigap si pengendara menahannya. Namun lagi-lagi Maura tak peduli, bahkan Maura saat ini tengah sibuk memasang helm yang tadi sempat ia ambil di cantolan motor yang ada di bagian depan motor tersebut.
Sedangkan si pengendara, ia langsung menolehkan kepalanya kearah Maura, memberikan tatapan tajam kepada perempuan yang tak ada sopan santunnya itu.
__ADS_1
"Kamu---" erang si pengendara tersebut ingin melupakan amarahnya atas aksi Maura yang kelewat berbahaya. Tapi belum sempat ia mengeluarkan kata-kata selanjutnya, Maura sudah lebih dulu menimpali ucapannya.
"Jangan marah dulu Pak. Dan lebih baik bapak sekarang segera menjalankan motor ini menuju ke toko buku Novela. Ini sangat genting Pak! Jadi cepat berangkat sekarang!" ucap Maura dengan menepuk-nepuk pundak laki-laki dihadapannya berulangkali. Ia benar-benar tak ingin membuang waktunya, ia harus sesegera mungkin sampai di toko buku itu untuk memergoki Erland yang ia anggap kepergian laki-laki itu ke tempat tersebut untuk berduaan dengan si pegawai toko.
Si pengendara ojek online tadi tampak berdecak kesal. Dan karena dirinya sudah tidak tahan dengan pukulan yang dilayangkan Maura secara berulang, tanpa mengucapakan sepatah katapun, si pengendara ojek online langsung menancap gas motornya secara mendadak. Dimana hal tersebut hampir membuat Maura terjengkang ke belakang jika saja ia tadi tidak refleks menarik jaket yang tengah di kenakan oleh si pengendara.
"Astaga bapak! Bisa pakai motor tidak sih? Apa bapak tau aksi bapak tadi hampir membuat saya terjatuh dari motor ini? Kalau saya tadi jatuh, memangnya bapak mau tanggungjawab hah?! Kalau---" Omelan Maura terhenti kala si pengendara itu tiba-tiba mengerem motornya secara mendadak hingga membuat Maura terkantuk ke depannya namun untungnya Maura sempat menghalangi tubuhnya agar tak menempel di punggung si pengendara ojek tadi secara langsung.
"Kamu---" Maura berniat mengoceh lagi, memarahi si tukang ojek namun niatnya itu terhenti kala suara tukang ojek terdengar di telinganya.
"Lampu merah! Kalau saya tadi menerobos lampu lalu lintas memangnya kamu mau membayar denda kepada pihak kepolisian? Saya rasa tidak. Dan hentikan suara cerewetmu itu, karena saya tidak ada waktu untuk mendengarkan suaramu yang bikin sakit telinga. Dan satu lagi, harusnya kamu malu karena saat ini kamu menjadi objek utama para pengendara lain disini," ucap si tukang ojek tadi dengan suara penuh penekanan namun lebih pelan dari suara cetar membahana yang keluar dari bibir Maura tadi.
__ADS_1
Dimana ucapan dari si tukang ojek tersebut membuat Maura langsung mengalihkan pandangannya kearah sekitar. Dan benar saja semua orang kini tengah melihat kearahnya dengan tatapan berbeda-beda. Maura yang menjadi objek dari pandangan semua orang pun ia hanya tersenyum malu kepada semua orang yang melihatnya, lalu setelahnya ia menutup wajahnya menggunakan kedua telapak tangannya. Gini-gini Maura juga masih memiliki rasa malu jika dirinya menjadi pusat perhatian semua orang walaupun tengah di landa amarah sekalipun seperti ini.