
Kedua orang itu saling diam kala menunggu nasi matang. Erland yang sudah membantu Maura kembali ke meja makan pun, laki-laki itu kini menyibukkan diri dengan ponselnya kembali yang sedari tadi tak berhenti bergetar. Sedangkan Maura, ponselnya yang ternyata masih terletak di meja makan pun ia juga sama tengah menyibukkan diri dengan ponselnya namun sesekali ia melirik kearah Erland dengan pertanyaan dikepalanya mengenai, apa suaminya itu benar-benar orang tak punya atau hidup selalu berkecukupan? Bukan maksudnya ia ingin merendahkan Erland seperti kemarin pagi, tapi setelah ia melihat tampilan berbeda dari Erland itu dan sekarang di tambah ponsel Erland dengan merk apple kegigit keluaran terbaru. Maura jadi meragukan jika memang benar Erland hanya orang yang hidup selalu berkecukupan. Ia bahkan curiga jika Erland menyebunyikan sesuatu darinya mengenai siapa diri laki-laki itu sebenarnya.
Erland yang sadar jika dirinya di tatap intens oleh Maura, ia kini berucap, "Kenapa? Kamu mau tanya kenapa aku pakai pakaian seperti ini dan ponselku kenapa merk ternama ini?"
Bagaikan seseorang yang bisa membaca pikiran orang lain. Apa yang tengah Maura saat ini pikirkan, Erland menebaknya dengan tepat. Dimana hal tersebut membuat Maura terkesiap.
"Kalau kamu penasaran dengan ini semua, aku akan menjawab rasa penasaranmu itu. Jadi setelah aku keluar kemarin pagi dari rumah ini, aku pergi ke apartemen temanku saat SMA dulu yang kebetulan dia bekerja di salah satu perusahaan di ibukota ini. Nah aku tadi malam juga menginap disana karena masih kesal setengah mati dengan perkataanmu itu. Dan saat kita sudah makan malam dan aku berniat untuk mencuci piring yang telah aku gunakan, kran di wastafel apartemen dia rusak, jadi pakaianku basah dan berakhir dia pinjami aku pakaian dulu. Awalnya memang pakaian biasa tapi setelah pagi harinya saat aku mau pergi kerja dan ingin pakai pakaianku yang kemarin kata dia pakaianku sekalian dia Loudry. Jadi mau tidak mau aku harus pinjam pakaian dia lagi. Nah pakaian ini lah yang dia berikan. Dan untuk ponsel ini, bosku yang memberikannya kepadaku karena putra beliau yang harusnya si pemilik ponsel ini tidak suka dengan ponselnya jadi daripada di buang lebih baik diberikan ke aku saja, kata beliau seperti itu. Jadi lebih baik kamu jauhkan pikiran kamu yang mencurigai diriku ini orang kaya. Karena nanti saat kamu mencari tahu dan mendapatkan fakta bahwa aku memang orang miskin seperti ini dan seperti yang kamu katakan kemarin pagi, takutnya kamu akan lebih kecewa lagi dari sebelum-sebelumnya. Jadi buang jauh-jauh karena apa yang ada di pikiranmu itu salah besar," ujar Erland panjang lebar yang tentunya semua perkataannya itu adalah sebuah kebohongan hanya lagi-lagi untuk menutupi identitas aslinya tersebut.
Maura yang mendengar penjelasan dari Erland, ia menggigit bibir bawahnya kala Erland kembali membahas kejadian tadi pagi yang saat ini ia akui jika dirinya salah telah berkata yang menjerumus merendahkan orang lain.
"Semua ucapanku sepertinya sudah menjawab beberapa pertanyaan di otakmu itu. Jadi jangan berpikir yang macam-macam lagi," ucap Erland kembali dan setelah mengucapakan hal tersebut Erland berdiri dari duduknya dan menuju ke rice cooker untuk melihat apakah nasi yang mereka tunggu sudah jadi apa belum.
"Nasinya sudah jadi. Kamu mau makan sekarang kan?" tanya Erland dengan sedikit berteriak agar istrinya itu mendengar ucapannya itu.
__ADS_1
Maura menegakkan kepalanya yang tadi sempat ia tundukkan kemudian ia menganggukkan kepala untuk menjawab pertanyaan yang diberikan oleh Erland tadi.
"Baiklah. Aku akan mengambilkan makanan ini untukmu. Kamu tetap disitu saja," kata Erland kala dia melihat Maura ingin berdiri.
Perkataan dari Erland tadi membuat Maura yang ingin mengambil makanannya sendiri kembali duduk di kursinya. Dan memilih untuk terus menatap pergerakan Erland sampai laki-laki itu saat ini sudah berdiri dihadapannya lalu menyajikan makanan hasil tangan Erland dihadapan Maura.
"Makanlah. Nanti kalau kurang bilang saja. Biar aku ambilkan lagi." Setelah meletakkan makanan untuk Maura, Erland duduk berhadapan dengan istrinya itu dan lagi-lagi ia fokus dengan ponselnya.
"Kamu gak ikut makan?" tanya Maura pasalnya Erland tadi hanya membawa makanan untuknya saja dan tak ada pergerakan lagi dari laki-laki itu setelah dia menaruh makan untuknya.
"Tidak. Aku tadi sudah sempat sarapan dan juga sudah makan siang di traktir bos tadi," jawab Erland yang membuat Maura ber'oh riya. Sebelum akhirnya perempuan tersebut mulai melahap makanan tersebut dengan begitu lahap. Hingga membuat Erland yang diam-diam memperhatikan Maura tersenyum melihatnya.
Karena Maura yang sangat kelaparan, makanan yang disajikan oleh Erland tadi kini telah tandas hanya dalam waktu 10 menit saja.
__ADS_1
"Mau nambah?" tanya Erland. Jujur saja ia malah sangat senang jika Maura lahap makan seperti tadi.
Maura tampak menggeleng-gelengkan kepalanya sembari berkata, "Tidak, tidak. Aku sudah cukup kenyang. Kalau aku nambah takutnya perutku ini akan meledak nanti."
Erland kembali tersenyum untuk kesekian kalinya kala mendengar penuturan Maura yang ia anggap sangat lucu itu. Entah kenapa tingkah Maura hari ini selalu saja bisa membuat Erland tersenyum. Sangat beda dengan sebelum-sebelumnya yang selalu membuat Erland kebakaran jenggot, tensi darah naik, dan kepala hampir meledak karena ulah istrinya itu.
"Ya sudah kalau begitu. Tapi kalau nanti kamu lapar panggil aku saja. Nanti aku ambilkan makanan untukmu lagi," ujar Erland kemudian ia berdiri untuk membersihkan piring dan gelas bekas Maura tadi.
"Er," panggil Maura yang membuat Erland yang hampir beranjak dari depan istrinya itu menghentikan niatnya tersebut.
"Kenapa? Kamu mau sesuatu?" tanya Erland yang dijawab gelengan kepala oleh Maura.
"Aku hanya mau tanya. Apa kamu tidak kembali bekerja lagi?" tanya Maura.
__ADS_1
"Tidak. Hari ini kaki kamu lagi sakit jadi tidak mungkin aku ninggalin kamu di rumah sendirian dalam keadaan kamu yang jalan aja kesusahan seperti ini. Kamu sekarang tanggungjawabku, Ra. Kalau kamu sakit berarti aku bertanggungjawab untuk merawatmu sampai sembuh. Lagian aku tadi sudah izin buat pulang cepat kok dan aku juga diizinin sama bosku. Jadi ya hari ini hanya kerja setengah hari saja," ucap Erland.
"Kamu tunggu disini sebentar. Aku akan antar kamu ke kamar nanti setelah aku selesai mencuci piring dan gelas ini," sambung Erland. Namun saat dirinya sudah berbalik badan dan ingin melangkahkan kakinya menuju ke wastafel, suara Maura kembali masuk kedalam indra pendengarannya. Dimana ucapan dari Maura itu membuat Erland tak percaya bahkan ia menganggap jika dirinya saat ini tengah bermimpi. Pasalnya Maura berkata yang ia anggap perkataan itu tak akan pernah terlontar dari bibir Maura. Dan perkataan yang diucapkan Maura adalah, "Erland, Makasih."