PASUTRI (Troublemaker)

PASUTRI (Troublemaker)
Bab 32


__ADS_3

Maura kini telah masuk kedalam mobil Meli, namun setelah dirinya menutup pintu mobil tersebut, sahabatnya itu tak kunjung menjalankan mobilnya. Tatapan Meli terus saja kearah pintu utama rumah Maura yang sudah tertutup rapat itu.


Maura yang menyadari tak ada pergerakan dari Meli pun ia menolehkan kepalanya dengan alis yang terangkat satu, tangannya kini bergerak untuk memukul lengan Meli hingga membuat perempuan tersebut menatapnya.


"Mel, kamu ngapain ngalamun sih? Mana tatapan mata kamu lurus ke arah rumahku lagi. Langsung jalan aja bisa kan?" protes Maura.


"Sebentar dulu deh Ra. Aku tadi sebenarnya tidak sedang melamun tapi aku sedang fokus melihat seseorang yang tadi berada di balik pintu rumahmu saat kamu membuka pintu tadi. Orang itu suamimu kan?" tanya Meli.


"Hmmm. Emang kenapa?"


"Gini nih Ra. Perawakan suami kamu itu sepertinya aku pernah melihatnya dan terkesan sangat familiar. Tapi aku lupa pernah melihat perawakan yang sama dengan perawakan suamimu itu dimana," ucap Meli sembari menggaruk kepalanya dengan mata yang kembali menatap kearah rumah tersebut.


Dimana hal tersebut membuat Maura menghela nafas.


"Tadi nama yang mirip sekarang perawakan. Terus nanti apa lagi yang mirip sama suamiku? Pasaran banget berarti yang berkaitan dengan suamiku itu," timpal Maura.

__ADS_1


"Ck, sudahlah daripada kamu memikirkan tentang suamiku lebih baik kita berangkat sekarang," sambung Maura yang mendapat anggukan dari Meli. Walaupun perempuan itu masih mencari rekaman memorinya yang menampilkan seseorang yang memiliki perawakan sama seperti suami Maura itu. Namun tak urung, walaupun dirinya terus berpikir, tangannya tetap bergerak untuk menjalankan mobilnya, membelah jalanan yang masih sangat ramai itu.


Dimana kepergian dari mobil itu membuat seorang laki-laki alias Erland yang sedari tadi melihat pergerakan mobil tersebut dari balik jendela rumahnya, ia kini bergegas menuju ke kamarnya untuk mengganti pakaiannya.


Hoodie hitam, celana jeans, sepatu boot, topi, dan juga masker yang memiliki warna senada dengan warna hoodienya itu kini telah melekat di tubuhnya. Dan dengan pergerakan cepat, Erland keluar dari dalam rumahnya. Buru-buru ia menjalankan mobilnya yang akan ia gunakan untuk mengikuti mobil yang membawa istrinya tadi pergi. Bahkan ia kini menjalankan mobilnya dengan kecepatan tinggi agar ia bisa menyusul laju mobil tersebut yang sudah sangat jauh.


Namun pada akhirnya mobil milik Meli itu berhasil Erland susul dan dengan menurunkan kecepatannya, Erland diam-diam terus mengikuti laju mobil tersebut. Sampai pada akhirnya mobil itu berhenti disalah satu cafe. Ya cafe tapi itu hanya untuk formalitas saja pasalnya dibalik cafe tersebut terdapat sebuah club' yang sangat terkenal di ibu kota.


Bahkan Erland yang dari dulu tidak pernah tertarik dengan dunia malam pun ia tau tempat tersebut. Jadi tanpa bertanya pun ia tau tujuan istrinya ke tempat itu untuk apa jika bukan untuk bersenang-senang, berbaur dengan banyaknya laki-laki didalam sana dan juga meminum minuman keras. Tapi walaupun begitu, Erland yang menang niatnya mengikuti Maura, ia kini itu turun dan ikut masuk kedalam club tersebut.


"Mereka segitu tidak punya uang kah? Sampai bercumbu saja harus di perlihatkan ke semua orang. Kalau mau melakukan itu setidaknya modal lah, ajak dia ke penginapan karena aku yakin di club ini ada kamar yang bisa mereka sewa, jangan di sembarang tempat seperti ini. Dasar manusia-manusia laknat," gumam Erland saat lagi-lagi matanya melihat adegan yang tak mengenakan untuk yang kesekian kalinya.


Dan dengan menggeleng-gelengkan kepalanya, ia kembali melangkahkan kakinya dengan mengedarkan pandangannya, mencari keberadaan Maura dengan sahabat istrinya itu yang ternyata tengah duduk di salah satu kursi bar.


Erland dengan cepat duduk disalah satu kursi yang tak jauh dari dua perempuan itu. Ia melihat penampilan sahabat istrinya itu yang ia rasa penampilannya tak separah penampilan Maura. Meli memang memakai dress ketat namun belahan dadanya tak terlihat dan potongan dress itu hanya satu jengkal dari atas lutut walaupun makeup yang digunakan oleh Meli tak jauh berbeda dari Maura, seperti tante-tante girang tapi tetap saja menurut Erland, Meli lebih mendingan daripada Maura.

__ADS_1


Tatapan Erland kini beralih kearah minuman yang telah tersaji di depan dua perempuan itu. Dan karena Erland tak tau apa yang telah mereka berdua pesan, Erland memanggil bartender yang berada di belakang meja bar itu dengan mengangkat salah satu tangannya, bartender itu berjalan mendekati dirinya.


"Katakan minuman apa yang telah perempuan dengan dress merah tepat lurus di hadapan saya sekarang dia pesan!" ucap Erland yang membuat bartender itu mengalihkan pandangannya kearah Maura.


"Oh nona itu tadi telah memesan bir," jawab bartender tersebut. Erland yang mendengar jawaban dari laki-laki tersebut ia tampak memejamkan matanya dengan helaan nafas kasar. Harusnya ia tak perlu kaget mendengar jawaban itu karena jika seseorang yang masuk kedalam tempat laknat ini tak mungkin juga mereka memesan susu hangat.


"Kadar bir yang dia pesan berapa persen?" tanya Erland setelah ia membuka matanya kembali.


"Hanya 4% saja. Memangnya kenapa? Kamu menginginkan minuman itu juga? Kalau kamu menginginkannya, saya akan meracikkan minum yang sama dengan yang di pesan nona itu untukmu," tawar bartender tersebut.


"Tidak. Saya tidak menginginkan minum itu saya hanya ingin tau saja. Jadi terimakasih atas informasi yang telah kamu sampaikan tadi," ujar Erland.


"Baiklah kalau kamu tidak mau saya racikan minuman yang sama dengan nona itu. Jadi kamu menginginkan saya untuk menyajikan minuman apa untukmu?" Erland kini mengalihkan pandangannya kearah bartender tersebut sebelum ia menggelengkan kepalanya.


"Saya tidak menginginkan minuman apapun di tempat ini. Jadi lebih baik kamu melayani orang lain saja yang sudah menunggumu untuk melayani mereka," tolak Erland. Gila saja jika dirinya meminum minuman yang sangat anti ia sentuh itu.

__ADS_1


Bartender yang mendengar ucapan dari Erland pun ia merasa aneh dengan laki-laki tersebut. Jika dia tidak menginginkan minuman apapun di club ini kenapa dia datang ke sini? Padahal sudah di pastikan semua orang yang masuk kedalam tempat tersebut pasti akan memesan minuman alkohol untuk merasakan sensasi yang luar biasa di tubuhnya. Namun bartender itu hanya menggedikkan bahunya sebelum ia kembali ke pekerjaannya lagi.


__ADS_2