PASUTRI (Troublemaker)

PASUTRI (Troublemaker)
Bab 118


__ADS_3

Erland tersenyum lebar saat mendapati tubuh Maura yang masih terlelap dalam keadaan tanpa sehelai benang pun diantara mereka berdua. Erland tadi sempat berpikir jika kejadian beberapa jam yang lalu hanyalah mimpinya semata, tapi setelah ia memastikannya lagi, ia cukup lega sekaligus tersenyum bahagia karena semuanya bukan mimpi melainkan sebuah kenyataan.


Tangan kekarnya yang sedari tadi memeluk posesif pinggang Maura yang juga tengah memeluknya kini bergerak guna menyingkirkan rambut Maura yang menutupi wajah cantik istrinya itu. Ia tersenyum kala tak sengaja matanya melihat kissmark yang tentunya semua itu hasil karyanya tadi malam. Sebelum tangannya kini berpindah mengelus lembut pipi Maura dengan menatap lekat wajah tenang perempuan yang berada di dalam dekapannya.


"Terimakasih kamu sudah bersedia memberikan apa yang aku mau. Maaf jika tadi malam sangat menyakitkan untukmu. Maaf dan terimakasih sayang, terimakasih," ucap Erland masih menatap wajah Maura yang tak terusik sama sekali dengan belaian yang ia berikan.


Merasa tak ada balasan atas ucapannya itu karena Maura masih asik dengan mimpinya, Erland mengecup singkat kening Maura sebelum ia memindahkan tangan Maura yang memeluk tubuhnya ke bantal yang baru saja ia ambil dari bawah kepalanya, ia meletakkan tangan Maura itu secara perlahan di bantal tersebut dan setelah memastikan jika Maura tak terusik, Erland segera turun dari atas ranjang. Mengambil celana boksernya yang berada di lantai, kemudian memakainya. Kemudian barulah ia berjalan menuju ke kamar mandi, mengingat jam sekarang sudah menunjukkan pukul 6 yang artinya ia harus segara bergegas membersihkan tubuhnya dan segara menunaikan kewajibannya yang tertunda lalu ia akan melakukan pekerjaan rumah. Beruntung sekali Maura memberikan haknya saat masih hari weekend, jika tidak bisa dipastikan jika Afif akan mencak-mencak kepadanya karena yang pasti ia akan meliburkan dirinya untuk berduaan dengan Maura sekaligus ia sangat ingat jelas perkataan dari salah satu temannya dulu yang mengatakan jika sang istri setelah melakukan hubungan, berjalan saja harus dibantu. Jadi sudah dipastikan Erland akan memantau Maura, tak ingin membuat istrinya itu semakin kelelahan atau menahan sakit itu sendirian tanpa ada dia yang menemani untuk membantu apapun yang Maura inginkan. Dan karena liburnya itu sudah di pastikan jika Afif harus merubah semua jadwal yang sudah sekertarisnya itu buat jauh-jauh hari dan inilah alasan Afif selalu ngedumel jika ia meliburkan diri secara mendadak.


Cukup 25 menit saja Erland telah selesai dengan mandi ataupun menunaikan kewajibannya. Ia mendekati tubuh Maura yang masih enggan membuka matanya. Lagi dan lagi respon yang Erland berikan hanya senyuman penuh kebahagiaan. Tangan yang tadinya diam saja saat ini ia gerakan, menarik selimut yang hampir memperlihatkan dua gundukan di dada Maura itu. Ia memperbaiki posisi selimut hingga saat ini seluruh tubuh Maura tertutup oleh kain tebal tersebut. Dan dengan mengelus pelan kepala Maura, Erland berucap, "Tidur nyenyak cantik."

__ADS_1


Setelah mengatakan hal itu, Erland mengayunkan kakinya, keluar dari dalam kamarnya dan memulai aktivitasnya untuk membersihkan seluruh rumah tak lupa juga memasak sarapan untuknya dan Maura.


Tepat pada pukul tujuh, Maura mengerjabkan matanya kala cahaya mentari masuk melalui fentilasi, menyoroti wajah cantiknya dan mengusik tidur nyenyaknya tersebut. Ia mengucek matanya yang masih sangat berat itu dengan salah satu tangannya yang masih menganggur bergerak untuk menutup mulutnya yang tengah menguap.


Dimana saat Maura ingin menggeliatkan tubuhnya, niatannya itu terhenti dibarengi dengan ringisan yang keluar dari bibirnya.


Maura terdiam, memutar kembali apa yang sebenarnya terjadi dengan dirinya. Hingga kilas adegan tiap adegan yang terjadi semalam membuat wajah Maura memerah dan dengan senyumannya, ia menutup wajahnya menggunakan kedua tangannya.


"Huwaaaa Mama, Maura malu," gumam Maura, mengingat aksinya tadi malam yang arkhhhh sangat-sangat menantang itu. Tapi tak urung rasa bahagia dan bangga kepada dirinya sendiri turut hadir di dirinya saat ini. Ia bahagia karena rencananya berhasil dan ia sangat yakin Erland tak kecewa lagi kepadanya. Ia juga bangga karena selain berhasil menjaga sesuatu yang berharga di tubuhnya, ia juga bangga tadi malam dirinya bisa mengimbangi permainan Erland. Walaupun sedikit kewalahan karena Erland yang meminta lagi dan lagi hingga tanpa mereka sadari jika semalam ia menghabiskan waktu 3 jam lamanya hanya untuk berolahraga diatas ranjang. Tapi semuanya terbayarkan dengan kebahagiaan yang tengah melanda diri sepasang suami-istri itu.

__ADS_1


Senyum malu-malu Maura tadi kini luntur saat ia menyadari sesuatu. Bahkan ia juga menyingkirkan tangannya yang menutup wajahnya tadi.


"Tunggu dulu. Aku memang berhasil menjalankan rencanaku. Tapi apa Erland sekarang tidak merasa jijik denganku hmmm lebih tepatnya ilfil denganku karena aksiku tadi malam yang seperti wanita penggoda," ujar Maura serat akan kekhawatiran. Dan saking khawatir dia dengan respon yang akan Erland berikan nanti saat mereka bertemu, Maura kini mengigit kuku-kuku tangannya. Sumpah demi apapun perasaan bahagia yang ada di dirinya saat ini sudah lenyap dan tergantikan dengan perasaan khawatir dan takut yang bercampur menjadi satu.


Hingga suara pintu terbuka menyadarkan dirinya yang tengah bergelut dengan pikirannya tadi. Bertepatan saat ia menolehkan kepalanya, menatap kearah pintu, ia bisa melihat laki-laki yang sedang menguasai pikirannya muncul dari belakang pintu dengan senyum di bibirnya saat tatapan mereka berdua saling bertemu. Dimana hal tersebut membuat Maura mematung di atas ranjang. Ia tak bisa menafsirkan senyuman yang baru saja Erland berikan itu merupakan senyum bahagia atau senyum mengejek. Dan sumpah, jantung Maura berdetak tak karuan saat melihat Erland mulai melangkahkan kakinya, mendekati posisi Maura saat ini tanpa melunturkan senyumannya sedikitpun.


Dan saat Erland sudah berdiri disamping tubuh Maura, tangan Erland bergerak yang membuat Maura refleks memejamkan matanya, siap menerima tamparan atau pukulan dari Erland. Tapi saat tangan itu mendarat di kepalanya, bukan sebuah tamparan atau hal-hal lain yang mengacu kedalam kata kekerasan, Maura justru merasakan usapan lembut di puncak kepalanya, diiringi alunan suara lembut Erland yang menyapa indra pendengaran Maura, "Bagaimana? Apa ada yang sakit? Jika ada katakan saja? Dan kalau memang kamu tidak kuat, kita bisa kerumah sakit sekarang juga."


Maura membuka matanya, menatap lekat wajah Erland yang memancarkan raut kekhawatiran yang justru membuat Maura kini dilanda kebingungan.

__ADS_1


__ADS_2