
Maura yang berada di dalam kediamannya merenung setelah sambungan telepon dari Erland terputus tadi. Ia masih memikirkan tentang yang baru saja ia dengar tadi. Bukannya ia tak mau percaya dengan Erland, tapi entah kenapa ia merasa curiga jika suaminya itu tidak berada di satu ruangan dengan tuan mudanya seperti yang dia katakan tadi. Tapi dia memang ada di satu ruangan sendiri dan tentunya suara seseorang tadi di tujukan untuk Erland. Kalau Maura nalar lagi, jika memang suaminya itu tengah berada di satu ruangan dengan sang tuan muda, bukannya setalah suara ketukan dan suara permisi tadi terdengar harusnya ada suara lain lagi, kalaupun tidak jelas, setidaknya ya samar-samar. Tapi tadi? Ia tak mendengar kata lain selain ketukan pintu dan permisi. Apalagi Erland sempat tidak berucap tadi. Dan hal itu benar-benar membuat Maura penasaran sekaligus curiga.
"Apa sebenarnya pekerjaan Erland itu bukan seorang sopir ya? Kalaupun seorang sopir, memang hubungan Erland dan keluarga bos-nya sedekat apa sih? Sampai-sampai mereka membiarkan Erland yang notabenenya bukan siap-siap mereka dan hanya seorang sopir biasa, bukan juga karyawan kantor, di perbolehkan masuk kedalam salah satu ruangan di perusahaan sang bos. Ruangan CEO pula kan tadi kata dia? Yang otomatis kalau ruangan CEO banyak banget berkas yang memang sangat rahasia. Dan apa mereka tidak takut jika Erland itu mata-mata atau malah menyerap strategi perusahaan mereka untuk membuat perusahaan sendiri? Sumpah demi apapun, ini sangat mencurigakan," ucap Maura.
"Tapi kalaupun aku curiga, aku juga tidak bisa apa-apa. Cari tau juga mau darimana dulu? Dari ngikutin Erland? Yang benar saja kalau aku sampai ngikutin dia, aku akan buang-buang uang buat panggil ojek online. Tapi kalau aku tidak mencoba untuk mengikuti dia, aku penasaran," sambung Maura dilema. Sebelum ia mengacak-acak rambutnya frustrasi, "Haishhhh bodoamatlah, mau dia kerja apa kek yang penting dia kasih uang bulanan seperti yang dia janjikan. Aku gak mau kepo lagi atau mencurigai suamiku sendiri, bikin stress aja. Dan lebih baik, aku kembali ke kegiatanku tadi, menyimak tutorial membuat kue kering."
Untuk menghilangkan pikiran negatifnya yang mengarah ke sang suami, Maura memilih untuk kembali menyibukkan dirinya dengan ponsel yang saat ini tengah memutar cara-cara pembuatan kue kering dengan sesekali tangannya bergerak untuk menulis bahan-bahan yang di butuhkan.
Disisi lain, tepatnya di sebuah perusahaan yang tak kalah besarnya dengan perusahaan AWA Grup yaitu Od's Grup. Seorang perempuan yang baru masuk kedalam ruangannya langsung membanting tas kecil yang sedari tadi ia tenteng dengan cukup keras. Tak peduli dengan isi tasnya yang nantinya akan rusak.
"Arkhhhh! Sialan!" erang Orla penuh emosi. Saking emosinya, ia sampai tak menyadari ada seorang laki-laki paruh baya yang tengah duduk di kursi kerja Orla.
Dimana saat Orla berjalan menuju kearah vas bunga yang berada di meja sofa, laki-laki itu langsung berdiri dari duduknya dan dengan cepat ia langsung mendekati Orla, menyahut benda yang sudah berada di tangan anaknya itu sebelum melayang dan pecah di atas lantai.
"Calm down baby. Ada apa?" tanya laki-laki itu. Padahal tanpa ia bertanya, ia sudah tau alasan apa yang membuat putri tercintanya itu menggila seperti ini jika bukan karena anak dari salah satu kliennya.
Dengan tatapan yang masih di penuhi dengan amarah yang membara, Orla menolehkan kepalanya kearah sumber suara yang berada di sampingnya. Dimana saat itu, Orla langsung memeluk tubuh sang Papa.
__ADS_1
"Pa," rengek Orla.
Laki-laki paruh baya tersebut mengelus kepala Orla sembari berkata, "Duduk dulu. Baru nanti cerita."
Orla menganggukkan kepalanya. Ia melepaskan pelukannya tadi kemudian duduk disalah satu kursi sofa yang berada di dalam ruangan tersebut di ikuti oleh sang ayah yang duduk disampingnya, otomatis membuat Orla kembali memeluk tubuh laki-laki paruh baya tersebut.
"Pa, Erland jahat," adu Orla.
"Jahat?"
"Papa harus berbuat apa nak untuk membantu kamu untuk mendapatkan Erland? Kamu tau sendiri kan dulu Papa sudah berusaha untuk menjodohkan kamu dengan dia lewat Papanya. Tapi hasilnya nihil. Erland sama Aiden sama saja, mereka tidak akan menggubris pembahasan lain kecuali seputar pekerjaan saja," balas Papa Jaya.
Orla tampak mengerucutkan bibirnya. Sebelum senyumannya kembali mengembang saat satu ide muncul di otak cerdiknya itu.
"Kalau Papa berniat menjodohkan aku sama Erland, kenapa kita tidak berniat untuk langsung melamar ke rumah Erland saja? Pasti mereka akan memikirkan lamaran kita ini. Gimana Pa?" tanya Orla tampak excited.
"Orla, kamu itu seorang perempuan lho. Masak iya kita yang ngelamar pihak laki-laki."
__ADS_1
"Memangnya kenapa kalau aku perempuan? Gak boleh ngelamar seseorang yang Orla suka gitu? Ayolah Pa, kalau Orla nunggu Erland dan keluarganya yang melamar duluan yang ada Orla jadi perawan tua nantinya karena hal itu impossible banget tau. Dan daripada menunggu tanpa kepastian lebih baik langsung bergerak saja. Orla juga takut ada perempuan lain yang sudah melamar Erland duluan, Pa. Jadi Orla mohon Papa mau ya melamar Erland untuk Orla," ucap Orla dengan mengedip-ngedipkan matanya tampak lucu di mata sang Papa yang tentunya membuat Papa Jaya menghela nafas panjang sebelum ia menganggukkan kepalanya. Ia tak tega jika harus menolak permintaan sang putri. Toh jika dipikir-pikir ide dari Orla tadi boleh juga. Siapa tau kan keluarga Abhivandya luluh saat dirinya lebih dulu melamar. Dan tentunya saat mereka luluh dan mau menerima Orla menjadi menantu mereka, ia bisa meminta bantuan keluarga Abhivandya untuk urusan bisnisnya yang masih sangat kecil itu dibandingkan dengan AWA Grup, terutama bantuan finansial untuk memperluas cabang perusahaan mereka. Membayangkannya saja membuat Papa Jaya bisa senyum-senyum sendiri seperti orang yang tengah kasmaran.
Sedangkan Orla yang melihat anggukkan serta senyuman dari sang Papa, ia semakin mengeratkan pelukannya sembari berucap, "Aaaaa terimakasih Papa. Papa memang terbaik deh. Sayang Papa banyak-banyak."
Papa Jaya semakin tersenyum melihat kebahagiaan yang dipancarkan oleh sang putri.
"Sama-sama sayang. Tapi Papa harus ngomong dulu sama Mama ya. Nanti kalau Mama setuju Papa akan langsung datang ke rumah keluarga Erland. Tapi kalau tidak---"
"Kalau tidak, Papa tidak mau melamarkan Erland untuk Orla?" tanya Orla dengan melepaskan pelukannya tadi, tentunya dengan memperlihatkan wajah cemberutnya.
"Bukan gitu sayang. Papa kan tadi belum selesai ngomongnya. Jadi kalau Mama tidak setuju, Papa akan berusaha membujuk Mama sampai Mama setuju."
"Beneran?" tanya Orla dengan mata berbinar yang dibalas anggukkan kepala oleh Papa Jaya.
"Thank you Papa, thank you so much," ucap Orla tak bisa mengatakan kata lain selain kata terimakasih banyak karena sang Papa bisa mengerti kemauannya.
"Sama-sama sayang. Apapun jika itu buat kamu bahagia akan Papa usahakan," balas Papa Jaya dengan memberikan kecupan sekilas ke puncak kepala Orla ketika putrinya itu kembali masuk kedalam pelukannya.
__ADS_1