
Mama Dian mengerjabkan matanya kemudian ia menolehkan kepalanya kearah Erland.
"Apa yang sebenarnya terjadi, nak?" tanya Mama Dian penasaran.
Erland tampak menghela nafas sebelum dirinya mengikis jarak antara dirinya dan sang mertua. Lalu ia mengecup punggung tangan Mama Dian.
Kemudian saat dirinya sudah kembali menegakkan tubuhnya ia berkata, "Maura sudah tau semuanya, Ma. Semua tentang Erland yang selama ini Erland sengaja sembunyikan dari dia."
Mama Dian tentunya terkejut dengan perkataan Erland tadi. Padahal menantunya itu sudah sangat matang merencanakan untuk identitasnya agar tak terungkap tapi kenapa semuanya bisa terbongkar seperti ini? Apa mungkin Erland sendiri yang membongkarnya? Tapi ia lihat dari raut wajah Erland, laki-laki itu sepertinya tidak melakukan hal itu. Kalau memang bukan Erland lalu siapa orangnya? Mama Dian bukan mendukung aksi jahat menantunya itu. Hanya saja karena ia mengerti maksud dan tujuan Erland yang sangat baik. Bahkan dirinya juga sudah melihat hasilnya, Mama Dian menjadi was-was saja jika Maura akan kembali ke perempuan urakan seperti sebelumnya yang tidak bisa dikontrol oleh siapapun.
Keterbengongan Mama Dian tentunya tak lepas dari tatapan mata Erland sehingga laki-laki itu mengelus lembut lengan Mama Dian sembari berkata, "Ma, Mama kenapa? Kok Mama ngalamun? Apa Mama tengah mengalami kesulitan sekarang? Dan kemana Papa? Apa Papa belum pulang juga dari kantor?"
Mama Dian mengerjabkan matanya dan dengan memberikan senyumannya kepada Erland.
__ADS_1
"Mama baik-baik saja Erland. Mama sedang tidak mengalami kesulitan apapun. Dan sebaiknya kita duduk dulu. Lebih enak jika kita memecahkan masalah ini dengan duduk." Mama Dian kini menarik pelan lengan menantunya, membawa kearah ruang tamu. Saat mereka berdua telah sampai di ruang tamu dan sudah mendudukkan tubuh mereka di satu sofa panjang sehingga duduk mereka saling bersebelahan, kini percakapan yang tadi sempat terputus, tersambung kembali.
"Dan untuk Papa kamu, dia sudah pulang kok. Baru beberapa menit yang lalu sih dan dia lagi mandi. Mungkin sebentar lagi sudah selesai dan akan ikut bergabung dengan kita. Oh ya kamu bisa ceritakan tidak gimana Maura bisa tau siapa kamu yang sebenarnya?" tanya Mama Dian yang sudah kepalang kepo.
Untuk yang kesekian kalinya Erland menghela nafas panjang.
"Erland juga tidak tau, Ma. Tiba-tiba saja saat Erland baru sampai rumah, Erland lihat Maura tengah menangis di dalam kamar dan ya secara tiba-tiba juga dia berkata kalau Erland ini pembohong dan dia juga mengucapkan nama lengkap Erland. Dari Maura yang mengetahui nama lengkap Erland. Erland bisa menyimpulkan jika memang Maura sudah mengetahui rahasia Erland. Dan saat Erland juga tanya siapa yang sudah memberitahu dia, dia jawab seperti ini, kepo kayak Dora! Jadi Erland sampai sekarang juga belum tau siapa orangnya yang sudah berani membongkar identitas Erland," jelas Erland panjang lebar yang sesekali ditanggapi anggukan kepala oleh Mama Dian. Sampai saat Erland menirukan suara Maura, senyum di bibirnya terlihat.
Mama Dian kini menepuk-nepuk punggung menantunya, "Kamu tenang saja. Biar Mama bantu kamu untuk mengorek informasi siapa orang lancang itu dari Maura. Dan kalau Mama boleh kasih saran, sebaiknya kamu jangan satu kamar dulu sama Maura. karena Mama yakin Maura saat ini butuh sendiri dulu. Jadi mohon pengertiannya ya nak untuk beberapa hari kedepan kamu harus tidur sendiri. Kamu gak apa-apa kan?" Erland menganggukkan kepalanya mensetujui apa yang di sarankan oleh mertuanya itu. Walaupun di dalam hatinya berbanding terbalik dengan gerakan kepalanya tadi.
Mama Dian lagi-lagi tersenyum bangga dengan sikap Erland.
"Ya sudah kalau gitu. Kamu istirahat dulu di kamar tamu. Nanti Mama panggil saat sudah waktunya makana malam," ucap Mama Dian yang lagi-lagi dibalas dengan anggukan kepala oleh Erland.
__ADS_1
Mama Dian langsung memanggil salah satu pekerja di rumahnya untuk mengantar Erland ke dalam kamar sementara yang akan di tempati oleh Erland di rumah mertuanya.
Saat Erland sudah mulai melangkahkan kakinya menjauh dari Mama Dian, perempuan paruh baya itu, melangkahkan kakinya menuju ke lantai dua di rumah tersebut. Dan setelah dirinya sampai, Mama Dian menggerakkan tangannya untuk mengetuk pintu kamar putrinya.
Tok! tok tok!!
"Maura, Mama masuk ya," izin Mama Dian dengan suara lantangnya agar bisa di dengar oleh Maura di dalam.
Seperti yang ia katakan tadi, Mama Dian langsung masuk begitu saja kedalam kamar Maura. Tapi ia tak menemukan keberadaan putrinya itu diatas ranjang ataupun di setiap sudut kamar itu. Namun ada satu hal yang membuat Mama Dian penasaran ketika melihat pintu balkon terbuka dengan beberapa kain sepertinya selimut dan bad cover diikat menjadi satu sehingga membuat tali panjang. Dan yang membuat jantung Mama Dian berdetak tiga kali lipat saat matanya menatap sambungan kain itu menjuntai ke kebawah. Pikiran negatif pun tak bisa Mama Dian cegah lagi untuk masuk kedalam otaknya, berperang menjadi satu dengan perasaan takut akan kehilangan Maura.
...****************...
Kalau ada kesalahan dalam penulisan kasih tahu! Terimakasih 🙏
__ADS_1
Dan untuk yang minta crazy up, sabar ya. Aku pasti crazy up kok tapi gak sekarang tapi akhir bulan seperti sebelum-sebelumnya. Jadi jangan lupa saat crazy up LIKEnya harus seimbang dari eps satu dan lainnya, Kalian juga harus aktif komen. Dan jangan lupa kasih Hadiah dan Vote. See you next eps bye 👋 Love you sekebun untuk kalian ❤️