
Setelah sepasang suami istri itu selesai menikmati makanan mereka, Maura sudah disuruh untuk melanjutkan tugasnya kembali yang tentunya masih dalam pengawasan Erland.
Erland di buat melongo kala melihat cara Maura mengepel lantai yang harusnya mundur, perempuan itu malah maju. Alhasil lantai yang ia pel tadi kotor lagi.
"Astaga, Maura!" ucap Erland yang berhasil menghentikan Maura. Perempuan itu menolehkan kepalanya kearah Erland yang tengah berjalan kearahnya.
Maura yang melihatnya pun ia membelalakkan matanya.
"Erland stop! Apa yang kamu lakukan?! Lantainya akan kotor kalau kamu kesini. Stop disitu! Jangan maju lagi!" Sayang seribu sayang ucapannya itu hanya diabadikan begitu saja oleh Erland. Laki-laki itu terus melangkahkan kakinya lebih mendekati Maura lagi sampai saat dirinya sudah berhadapan langsung dengan istrinya itu, tangannya bergerak untuk menyentil kening Maura.
Tukkk!
Satu sentilan itu berhasil membuat Maura meringis kesakitan.
__ADS_1
"Awsss sakit. Kamu apa-apaan sih, Er?!" galak Maura.
"Apa-apaan apa-apaan, kamu yang apa-apaan Maura. Tadi nyapu salah sekarang ngepel pun kamu salah," ucap Erland.
"Salah apaan. Kali ini aku benar ya."
"Benar gundulmu. Sejak kapan orang ngepel maju, Maura? Sumpah demi apapun aku baru menemukan seorang perempuan yang tidak tau cara untuk mengurus rumah," ujar Erland dengan memijit pangkal hidungnya.
"Kalau begitu aku langka. Tapi kalau kamu lihat teman-temanku dan jika kamu menyuruh mereka melakukan hal yang sama pasti mereka juga tidak akan bisa. Dan salahkan saja dirimu yang hidup di lingkungan bukan orang kaya sepertiku ini yang tidak akan pernah tahu bagaimana kehidupan anak-anak orang kaya itu yang selalu di perlakukan layaknya princess bukan seperti pembantu kayak gini." Erland menggeram kesal kala masalah harta harus dibahas oleh Maura. Jujur saja walaupun dia kaya bahkan terlahir dan besar di lingkungan orang-orang sultan. Tapi ia paling tidak suka jika ada seseorang yang membandingkan harta orang lain apalagi dengan melihat kepribadian seseorang lewat statusnya. Oh, come on, kepribadian orang itu diberikan karena ajaran orangtua mereka bukan karena harta yang mengajarkannya. Toh percuma saja harta banyak tapi anak tidak di ajarkan sebagaimana mestinya bukan malah dimanjakan terus menerus yang hasilnya akan seperti Maura ini. Itu contoh yang paling nyata di hidup Erland saat ini.
"Tuh kamu tau. Nah berhubung kamu paham apa yang aku maksud tadi. Hukuman yang kamu berikan lebih baik kamu hentikan sekarang juga. Karena hukuman ini benar-benar tidak pantas untukku tapi hanya pantas untuk diberikan oleh orang miskin yang setara denganmu," ujar Maura yang justru membuat Erland menatapnya tajam dengan senyum miring di bibirnya. Dimana hal tersebut membuat nyali Maura menciut seketika.
"Kamu mau hukuman ini aku hentikan?" Maura dengan takut-takut menganggukkan kepalanya dengan tubuh yang melangkah mundur karena Erland mendekatinya sampai akhirnya Maura sudah tidak bisa bergerak lagi karena ada sebuah tembok yang menghalangi langkahnya.
__ADS_1
Erland terus mendekati Maura hingga jarak diantara keduanya hanya tersisa satu jengkal saja, Erland mendekatkan wajahnya ke wajah Maura yang tengah mengerjab-ngerjabkan matanya. Terlihat jelas jika perempuan itu tengah ketakutan saat ini dari tatapan matanya.
"Kamu beneran mau aku menghentikan hukuman ini?" tanya ulang Erland.
"I---iya. Aku mau kamu menghentikannya karena pekerjaan ini tidak pantas untukku. Aku anak orang kaya yang harusnya di perlakukan layaknya---"
"Princess maksudmu?" Maura dengan cepat menganggukkan kepalanya dimana hal itu membuat senyum miring yang Erland tadi perlihatkan menghilang, dan masih memberikan tatapan tajam Erland berkata, "In your dream! Aku tidak akan menghentikan hukuman ini sampai kapanpun."
Setelah mengucapakan hal itu Erland menjauhkan tubuhnya dari tubuh Maura yang tampak terkejut tadi saat Erland mengatakan perkataannya tadi cukup keras tepat di depan wajahnya.
"Jangan bangga hanya karena kamu anak orang kaya. Karena semua kekayaan yang kamu nikmati selama ini bukan hasil dari kerja kerasmu tapi hasil kerja keras kedua orangtuamu. Kalau aku jadi kamu, aku pasti malu Ra karena dengan kamu mengakui jika kamu di perlakukan layaknya seorang princess di rumah berarti kamu mengakui jika kamu itu hanya beban hidup untuk kedua orangtuamu. Dan apa kamu pernah berpikir, kamu di sekolahkan tinggi-tinggi berharap akan menjadi orang sukses, justru pendidikan yang selama ini kamu tempuh tidak kamu manfaatkan sama sekali. Kamu justru membiarkan ilmu kamu hilang begitu saja karena kamu selalu berpikir, Ahhh kenapa aku harus bekerja dan mencari penghasilan sendiri sedangkan orangtuaku sudah kaya dan aku sudah di treated like a princess. Ck, benar-benar kata-kata memuakkan yang hanya keluar dari mulut orang bodoh sepertimu. Wake up, Maura, roda kehidupan manusia itu selalu berputar. Mungkin sekarang ekonomi keluargamu tengah berada di atas tapi tidak menutup kemungkinan jika akan bergulir kebawah yang artinya saat ini juga jika kamu tidak menikah denganku, kamu akan menjadi orang miskin sepertiku, ini sudah pernah aku ucapan berkali-kali kepadamu Maura tapi kamu tidak bisa memahaminya. Jadi hentikan untuk membandingkan harta orang lain seperti tadi. Dan pekerjaan rumah tangga ini tidak hanya pantas di kerjakan oleh orang miskin sepertiku tapi orang kaya sepertimu pun juga pantas melakukannya," sambung Erland yang sudah kelewat emosi. Dan setelah mengatakan hal tersebut ia memutar tubuhnya menjadi membelakangi Maura yang masih diam berdiri di tempatnya sebelumnya.
Dan sebelum Erland beranjak dari hadapan Maura, ia kembali berkata, "Lanjutkan pekerjaanmu itu, jika kamu tidak tau cara mengepal dengan benar, lihat tutorial di aplikasi video disana banyak contoh-contohnya. Dan satu lagi, hilangkan pikiran mengenai siapa yang pantas melakukan pekerjaan rumah. Jangan jadi sombong hanya karena banyak harta, malu sama tuhan yang menciptakan kamu. Kamu hanya segumpal tanah yang akan kembali ke tanah juga yang tidak pantas untuk sombong hanya karena nikmat dunia."
__ADS_1
Setelah mengatakan hal tersebut Erland kini benar-benar melangkahkan kakinya pergi dari hadapan Maura. Sudah cukup dirinya memberikan wejangan kepada Maura yang entah berhasil membuat Maura sadar atau justru tidak sama sekali. Tapi setidaknya Erland sudah menegurnya perkara hasilnya, Erland pasrah saja. Namun ia akan tetap berharap dengan ucapannya tadi Maura akan lebih banyak bersyukur dan tidak membanding-bandingkan harta orang lain hingga membuat dirinya bisa menilai pekerjaan apa yang pantas mereka tekuni. Karena terus terang saja Erland sangat membenci orang seperti Maura ini. Sombongnya kelewat kayak orang yang punya bumi saja, batin Erland yang masih sangat-sangat kesal dengan perkataan Maura tadi.