
Jam kini menunjukkan pukul 7 pagi. Setelah kejadian tadi subuh yang dengan sengaja Erland membuat Maura salting bukan main, kini dirinya di buat heran pasalnya sampai saat ini tak ada pergerakan sama sekali dari perempuan itu.
"Apakah dia masih salting sampai saat ini? Atau malah dia malu ketemu aku lagi? Kenapa sampai sekarang dia belum muncul juga dari dalam kamarnya?" Erland terus menebak-nebak apa yang tengah terjadi didalam kamar istrinya itu sampai-sampai Maura tak kunjung keluar juga. Padahal Erland sudah menyiapkan sarapan untuk mereka berdua. Bahkan Erland dengan baik hati sudah membereskan seluruh rumah ini yang harusnya sekarang tugas Maura. Tapi berhubung dia tadi bikin salting istrinya itu, ia mengambil alih tugas Maura tersebut. Biar lah tak apa Maura bebas dari hukumannya satu hari saja.
Erland mengetuk-ngetuk jarinya di meja makan dengan tatapan mata yang terus tertuju ke arah pintu kamar Maura.
Satu menit, dua menit, sampai 15 menit kemudian Erland kini berdiri dari posisi duduknya.
"Aku harus lihat apa yang tengah dia lakukan didalam sana sekarang juga," ucap Erland. Keputusannya sudah bulat, ia akan bertekad untuk memeriksa keadaan Maura. Entah kenapa Erland jadi khawatir dengan keadaan istrinya itu karena terus terang saja Maura termasuk manusia ceroboh. Contohnya dalam dua hari saja dia sudah melukai dirinya sendiri. Dan karena hal itu membuat Erland sekarang mulai was-was takut Maura akan menambah luka di tubuhnya atas tindakan cerobohnya.
Erland yang sudah sampai di depan pintu kamar Maura, ia langsung memutar kenop pintu kamar tersebut tanpa mengetuk terlebih dahulu. Persetan dengan kesopan-santunan, Erland tidak peduli karena yang ia pedulikan saat ini adalah keadaan Maura didalam sana. Dan berhubung pintu kamar itu tidak di kunci oleh Maura, Erland dengan gampangnya bisa masuk kedalam kamar tersebut. Dimana saat dirinya sudah masuk kedalam kamar tersebut, tatapan matanya langsung tertuju kearah ranjang yang diatasnya terdapat tubuh Maura yang tengah telentang dengan satu bantal yang menutup wajahnya.
Erland yang melihat posisi Maura itu, ia langsung berlari menuju kearah Maura. Sesampainya ia di atas ranjang, ia langsung mendudukkan tubuhnya di samping tubuh Maura dengan tangan yang kini bergerak untuk menyingkirkan bantal tersebut dari wajah Maura.
__ADS_1
Erland semakin di buat khawatir saat melihat kedua mata Maura tertutup. Erland sangat takut Maura sengaja mengakhiri hidupnya hanya gara-gara Erland tadi bikin dia salah tingkah dengan cara menutup wajahnya sendiri dengan bantal hingga tak bisa bernafas dan berujung mati dengan sia-sia. Dan untuk memastikan semuanya, tangan Erland kini bergerak untuk memeriksa denyut nadi di kedua tangan Maura juga di leher istrinya itu.
Helaan nafas dari Erland terdengar cukup keras, laki-laki itu benar-benar merasa lega saat ia masih merasakan denyut nadi Maura. Dimana hal itu langsung menyingkirkan pikiran negatifnya tentang Maura yang bunuh diri dan berakhir meninggal itu.
Tapi tunggu dulu, Erland harus tetap memastikan keadaan Maura yang tengah menutup matanya itu, apakah istrinya tersebut hanya tertidur saja atau malah tengah tak sadarkan diri alias pingsan. Dan karena hal tersebut Erland memilih untuk menepuk pelan pipi Maura sembari terus memanggil nama istrinya itu.
"Ra, Maura," ucap Erland dengan tangan yang masih menepuk-nepuk pipi Maura hingga terlihat ada pergerakan dari perempuan itu sampai akhirnya Maura yang terusik dengan apa yang dilakukan oleh Erland pun matanya terbuka yang lagi-lagi hal tersebut membuat Erland menghela nafas lega.
"Alhamdulillah," gumam Erland dengan mengelus dadanya sendiri yang tadi sudah dag dig dug melihat mata Maura tertutup. Jika tadi Maura pingsan atau malah sudah meninggal, ia tidak tau akan mengatakan apa kepada keluarga istrinya itu tentang sebab Maura meninggal atau pingsan. Ya kali dia mengatakan Maura meninggal karena bunuh diri dan alasan istrinya itu bunuh diri gara-gara salting kepadanya. Membayangkan saja sudah sangat-sangat membuat Erland geli sendiri apalagi sampai hal itu kejadian. Amit-amit lah.
"Erland," panggilnya yang membuat Erland kini menatap kearahnya.
"Kamu tidur tadi?" tanya Erland untuk memastikan kembali. Maura tampak menganggukkan kepalanya sebagai jawaban atas pertanyaan yang Erland layangkan tadi kepadanya, sebelum dirinya kini mendudukkan tubuhnya.
__ADS_1
"Maaf ketiduran. Memangnya sekarang jam berapa?" tanya Maura sembari melirik kearah jam dinding di kamar tersebut dan betapa terkejutnya dia saat melihat jam disana sudah menunjukan pukul setengah delapan pagi.
"Astaga! Sudah jam setengah delapan. Ya Tuhan, kenapa kamu tidak membangunkanku sedari tadi sih Er. Kalau kayak gini kan aku akan selesai membereskan rumah ini siang nanti," ucap Maura yang sudah kalang kabut. Sebenarnya ia tak masalah jika ia akan selesai membereskan rumah itu sampai siang hari nanti, tapi yang menjadi masalahnya sekarang itu dirinya sangat takut jika Erland akan menambah hukuman untuknya.
Dan karena hal itu, tanpa mencuci muka terlebih dahulu, Maura bergegas keluar dari kamarnya yang tentunya diikuti oleh Erland di belakangnya.
"Kamu tidak perlu membersihkan rumah ini lagi karena aku sudah membersihkannya tadi," ucap Erland kala dirinya melihat Maura sudah memegang sapu dan siap membersihkan rumah tersebut.
Maura yang tadinya juga sempat heran kenapa rumahnya sangat bersih pun ia akhirnya mendapatkan jawaban juga. Tapi karena hal itu justru membuat Maura kini ketar-ketir, takut Erland akan menambah hukumannya. Dan masih dengan membawa sapu ditangannya, Maura berjalan mendekati Erland yang berdiri di depan kamarnya dengan bersedekap dada.
"Erland, maaf aku benar-benar tidak tau kalau aku tadi malah ketiduran sampai akhirnya aku telat bangun. Er, maafin aku dan jangan tambah hukuman aku ya. Janji deh aku tidak akan mengulangi kesalahan ini lagi. Besok-besok aku akan bangun pagi seperti tadi dan aku akan memastikan jika aku tidak akan ketiduran lagi," ucap Maura yang benar-benar memohon kepada Erland. Ia tak akan siap jika Erland menambah hukuman untuknya karena jujur saja hukuman yang diberikan Erland saat ini sudah sangat berat untuknya. Dan dia tidak akan pernah membayangkan akan secapek apa dirinya nanti jika Erland benar-benar menambah hukumannya.
Erland yang melihat wajah memelas dari sang istri pun bibirnya terangkat, membentuk sebuah senyuman yang sangat-sangat meneduhkan bagi Maura sembari tangannya kini bergerak untuk mengacak rambut istrinya itu.
__ADS_1
"Masuk lagi ke kamar sana. Cuci mukamu itu. Aku tunggu di ruang makan," ucap Erland lalu setelah mengatakan hal tersebut dirinya melangkahkan kakinya, meninggalkan Maura yang menatap kepergiannya dengan berbagai pertanyaan di dalam otak perempuan tersebut.