PASUTRI (Troublemaker)

PASUTRI (Troublemaker)
Bab 147


__ADS_3

Waktu terus bergulir dengan cepat. Matahari yang tadi menampakkan dirinya dengan berani kini perlahan berpamitan meninggalkan bumi.


Dimana disaat itu juga terdapat satu keluarga yang tengah bersiap ke salah satu rumah keluarga terkenal. Dan jangan di tanya lagi siapa satu keluarga itu, karena tentunya mereka adalah keluarga Orla.


Orla tersenyum sembari menuruni anak tangga di rumahnya kala kedua orangtuanya menatap dirinya.


Mama Rina yang melihat penampilan sang putri pun ia segera mendekati Orla dengan tatapan penuh puja.


"Astaga, ini siapa? Kenapa cantik sekali," ucap Mama Rina kala dirinya sudah berhadapan langsung dengan Orla.


Orla yang di puja pun ia tersenyum malu-malu.


Dan dengan memukul lengan Mama Rina pelan, Orla berucap, "Mama ishhh, masak Mama lupa sama anaknya sendiri. Ini Orla lho Ma, anak Mama."


"Masak sih kamu Orla?"


"Ck, Mama!" rengek Orla agar sang Mama tak terus-terusan menggoda dirinya.


Mama Rina kini tertawa terbahak-bahak sebelum ia memeluk tubuh sang putri.


"Iya iya, Mama minta maaf. Tapi beneran, kamu cantik banget sayang. Mama tadi sempat pangling lho," ucap Mama Rina kali ini dengan serius yang tentunya kembali membuat Orla tersenyum malu.


"Terimakasih atas pujiannya, Ma. Ahhhh udah ahh jangan muji Orla mulu. Lebih baik kita berangkat sekarang saja, yuk. Orla sudah tidak sabar lho ini," ujar Orla.


Papa Jaya yang sedari tadi diam tapi senyumannya terus ia perlihatkan, kali ini ia ikut menimpali percakapan diantara istri dan putrinya.


"Yang sebentar lagi mau jadi menantu keluarga Abhivandya sepertinya sudah tidak betah untuk berlama-lama di rumah ini, Ma," ucap Papa Jaya yang membuat Orla menghela nafas.


"Pa, jangan ikut-ikutan godain Orla seperti Mama deh. Udah ahhhh ayo kita berangkat," kata Orla. Selain ia tak sabar untuk melamar Erland, ia juga sudah tidak tahan mendengar godaan yang terus di lontarkan oleh kedua orangtuanya yang selalu saja berhasil membuat dirinya tersipu malu.

__ADS_1


Mama Rina dan Papa Jaya dengan kompak tertawa, menertawakan Orla.


"Baiklah-baiklah kita berangkat sekarang," ucap Papa Jaya pada akhirnya saat ia sudah melihat wajah Orla yang tertekuk.


Dimana perkataan dari laki-laki paruh baya tersebut membuat Orla langsung merubah ekspresi wajahnya kembali menjadi tersenyum senang.


Lalu dengan menggandeng tangan kedua orangtuanya Orla berkata, "Let's go kita menjemput suami Orla."


Mama Rina dan Papa Jaya hanya bisa menggelengkan kepalanya. Tapi tentu saja hati mereka juga ikut bahagia saat melihat Orla terus tersenyum seperti saat ini. Dimana setelahnya ketiga orang itu melangkahkan kakinya, keluar dari rumah mereka lalu masuk kedalam satu mobil yang sama. Sebenarnya ada satu mobil lagi, tapi berhubung satu mobil itu sudah penuh dengan barang-barang yang akan mereka jadikan seserahan saat lamaran nanti. Jadi mereka harus mengunakan satu mobil lagi khusus untuk mereka tumpangi.


Kedua mobil itu melaju membelah jalanan ibu kota. Selama perjalanan menuju ke kediaman keluarga Abhivandya, senyuman Orla tak pernah pudar. Dan tentunya senyuman itu menular kepada kedua orangtuanya yang sesekali mereka mengelus kepalanya dengan sayang.


Memerlukan beberapa menit perjalanan, mereka telah sampai di depan kediaman keluarga Abhivandya yang tentunya langsung disambut oleh kedua satpam yang menjaga gerbang masuk kedalam rumah mewah itu.


Salah satu satpam tersebut mengetuk kaca mobil yang berada tepat di samping kemudi. Namun yang terbuka justru di bagian belakang. Tentunya hal tersebut membuat satpam tadi berpindah posisi ke kaca yang sudah di buka itu.


"Della dan Aiden. Mereka ada di rumah kan?" tanya Papa Jaya.


"Ahhh tuan dan nyonya. Beliau baru saja pulang." Papa Jaya menganggukkan kepalanya. Bagus jika dua orang itu ada di rumah yang tentunya proses lamaran ini tidak perlu mereka tunda lagi.


"Kalau begitu tolong buka gerbangnya, saya mau masuk. Ada sesuatu yang perlu kita bertiga sampaikan ke Aiden dan Della," ucap Papa Jaya yang membuat dua perempuan yang berada disampingnya mencondongkan tubuhnya agar bisa di lihat oleh satpam tadi.


Satpam tersebut hanya bisa tersenyum kearah dua perempuan itu. Tapi ia cukup penasaran untuk apa mereka bertamu di rumah bos-nya dengan menggunakan pakaian mewah, padahal ia rasa hari ini di rumah majikannya itu tidak sedang melangsungkan acara apapun. Atau mungkin memang ada acara tapi hanya private saja dan di datangi oleh ketiga orang didalam mobil itu saja. Entahlah, dia penasaran tapi tak ingin terlalu kepo dengan urusan bosnya.


"Baiklah kalau begitu saya bukakan dulu gerbangnya," ujar satpam tersebut kemudian dengan cepat ia mengajak satu temannya untuk segera membuka gerbang tersebut sehingga dua mobil yang tadi berhenti tepat didepan gerbang tersebut bisa masuk kedalam pelataran rumah mewah tersebut.


Ketiga orang itu kini turun dari dalam mobilnya kala mobil itu sudah berhenti tepat di depan tangga yang akan mengantar mereka ke pintu utama rumah tersebut.


"Ambil nafas dalam-dalam sayang. Tenang dan jangan gugup," bisik Mama Rina tepat di samping telinga sang putri. Ucapan dari Mama Rina tadi diangguki oleh Orla tentunya karena memang ia tengah gugup setengah mati sekarang namun sebisa mungkin ia menekan rasa gugupnya tersebut.

__ADS_1


Sedangkan Papa Jaya, laki-laki paruh baya itu kini tengah mengetuk pintu utama rumah tersebut. Hanya tiga kali ketukan saja pintu itu sudah di buka oleh salah satu maid di rumah tersebut.


Maid itu sempat terkejut melihat mereka yang berpenampilan cukup mewah, tak terlihat jika mereka bertiga hanya ingin bertamu biasa. Namun ia segera menyadarkan dirinya dari keterkejutannya tadi. Kemudian ia angkat suara, "Maaf sebelumnya, tuan, nyonya dan nona mau bertemu dengan siapa ya?"


"Aiden dan Della serta Erland. Ada sesuatu yang perlu kita bertiga katakan ke mereka," jawab Papa Jaya.


"Oh mau bertemu dengan tuan dan nyonya. Kalau begitu silahkan masuk," ucap maid tadi dengan membuka pintu tersebut semakin lebar. Dimana saat itu juga ke-tiga orang itu langsung masuk kedalam rumah mewah itu. Dan tanpa di perintahkan terlebih dahulu, ketiganya langsung duduk di sofa di ruang tamu.


Sedangkan maid tadi, ia berniat untuk menutup kembali pintu utama tersebut. Tapi pergerakan tangannya itu terhenti kala ada satu orang yang menahan pintu itu. Jadi mau tak mau ia mengurungkan niatnya.


"Ada apa ya?" tanya maid itu kepada orang yang sudah menahan pintu yang hendak ia tutup itu.


"Mereka rombongan kita, jadi biarkan mereka masuk," ujar Papa Jaya yang membuat maid tadi menatapnya, sebelum ia menganggukkan kepalanya dan kembali membuka pintu tersebut.


Dimana saat pintu itu sudah kembali terbuka, dirinya di buat semakin terkejut saat melihat sekitar 5 orang yang langsung masuk kedalam rumah tersebut dengan membawa barang di tangan mereka. Barang-barang itu terlihat seperti barang-barang seserahan untuk sebuah lamaran. Sampai maid itu kini bingung, sebenarnya apa yang tengah terjadi saat ini? Dan siapa yang mau lamaran? Tidak mungkin kan kalau salah satu putra atau putri bos-nya, karena semua anak bosnya itu sudah menikah semua. Tidak mungkin juga salah satu pegawai di rumah ini. Karena cukup berani jika salah satu pegawai melakukan acara lamaran di rumah majikannya. Jadi hal itu juga tidak mungkin. Kalau kedua kemungkinan itu salah, lalu apa yang mereka akan lakukan di rumah ini dengan membawa seserahan seperti itu? Mana jumlahnya cukup banyak lagi.


Maid itu terus bergulat dengan pikirannya hingga suara seseorang menyadarkan dirinya kembali.


"Mbak, sini!" Maid tersebut menunjuk dirinya sendiri yang tentunya diangguki oleh Papa Jaya. Lalu setelahnya maid tersebut melangkahkan kakinya mendekati Papa Jaya dengan membiarkan pintu utama terus terbuka karena lima orang masih berlalu lalang melewati pintu tersebut.


"Ya tuan, ada apa ya?" tanya maid tersebut.


"Bisa minta tolong buat panggilkan Aiden, Della dan Erland untuk menemui kita?"


"Ahhhh baiklah tuan. Saya akan panggilkan tuan Aiden dan Nyonya Della dulu. Tapi untuk tuan Erland, beliau---"


"Kalau Erland belum pulang tidak masalah, nanti saya bisa menunggu dia. Yang penting Aiden dan Della dulu," ucap Papa Jaya yang membuat maid tadi menggaruk tengkuknya yang tak gatal. Ingin sekali ia mengatakan jika tuan muda Erland sudah tidak tinggal lagi di rumah tersebut. Tapi sepertinya mereka tidak mau mendengarkan perkataannya ini. Jadi ya sudahlah, biar tuan dan nyonyanya saja nanti yang menjelaskan kepada mereka tentang keberadaan tuan muda Erland.


"Kalau begitu tunggu sebentar tuan, nyonya dan nona. Saya panggil tuan Aiden dan nyonya Della dulu, permisi," ucap maid tadi. Kemudian ia segara pergi menuju ke lantai atas, tempat dimana kamar bosnya berada. Tapi sebelumnya ia memberitahu salah satu temannya yang sepertinya juga tak kalah bingungnya dengan dirinya saat melihat banyaknya seserahan di ruang tamu itu, untuk membuatkan minuman ketiga orang yang tengah berada di ruang tamu itu. Dan untungnya temannya itu walaupun tengah bingung tetap saja menganggukkan kepala dan segara melakukan apa yang dirinya perintahkan tadi.

__ADS_1


__ADS_2