
Erland yang tak ingin memperpanjang perdebatan tak mutu dengan sang Daddy, ia mengalihkan pandangannya kearah Mommy Della tak peduli jika Daddy Aiden tengah menatap dirinya dengan tatapan sengit.
"Udah jadi belum Mom?" tanya Erland yang membuat Mommy Della kini menolehkan kepalanya kearah sang putra sembari tersenyum.
"Sudah nih. Tinggal masukin es krimnya. Tapi kalau Mommy boleh saranin nih ya, kasih es krimnya kalau kamu sudah sampai di rumah kamu saja. Takutnya nanti meleleh kalau di taruhnya bersama rujak ini sekarang," ujar Mommy Della yang tentunya diangguki oleh Erland.
"Oke lah. Nanti Erland akan tambahin es krimnya di rumah saja. Terimakasih ya Mom, sudah bantu Erland. Kalau Mommy tadi tidak mau bantuin Erland, Erland gak tau apa yang akan terjadi saat Erland pulang nanti," tutur Erland.
"Tidak masalah sayang. Tidak perlu berterimakasih ke Mommy. Kalau gitu kamu tunggu sebentar, Mommy masukkan rujak ini ke wadah dulu." Lagi dan lagi Erland menimpali ucapan dari Mommy Della dengan anggukan kepala. Mommy Della yang melihat anggukan kepala itu, ia bergegas melakukan tugasnya yang berikutnya. Sedangkan Daddy Aiden, ia mendengus kesal, sudah ia katakan bukan jika dirinya tidak suka mendengar istrinya tercinta itu memanggil laki-laki lain dengan sebutan sayang, walaupun orang itu adalah keturunannya sendiri.
Erland melirik kearah sang Daddy dengan senyum penuh kemenangan, sebelum dirinya berucap, "Satu kosong."
Daddy Aiden mendelik tak terima. Ia dengan cepat mengikuti langkah kaki Erland yang tengah menuju ke ruang makan.
"Heyyyy tuan muda Erland Drake Abhivandya! Maksud kamu apa hah bilang satu kosong segala?" ucap Daddy Aiden yang sudah berdiri di sebrang tempat duduk Erland dengan berkacak pinggang.
Erland yang tak mau kalah pun menjawab, "Yaa tuan Aiden William Abhivandya, arti dari ucapan saya tadi adalah anda sudah kalau satu poin dengan saya. Saya sudah di panggil sayang tapi anda, di lirik pun tidak."
Ucapan Erland itu semakin membuat Daddy Aiden marah dan cemburu level tinggi. Ia sadar betul tadi jika sang istri tidak meliriknya kala dirinya datang bergabung dengannya. Perempuan itu justru fokus dengan apa yang di kerjakan.
"Ck, kata siapa saya kalah. Buktinya saya bisa memiliki dia seutuhnya dan kata siapa saya tidak di lirik sama dia? Buktinya setiap hari saya yang di perhatikan. Jadi disini yang kalah itu kamu!"
"Tidak. Saya tidak kalah. Bukan anda juga yang di perhatikan setiap hari tapi saya pun juga selalu mendapat perhatian itu karena setiap hari Mommy selalu mengirim saya pesan ataupun menelpon saya. Saya juga milik Mommy karena pepatah mengatakan, anak laki-laki itu milik ibunya selamanya walaupun sang anak sudah menikah sekalipun. Wlekkk," kata Erland diakhiri dengan ia menjulurkan lidahnya untuk mengejek Daddy Aiden. Ini bukan kali pertamanya Erland selalu melakukan hal itu, tapi sudah hampir selalu ia lakukan saat dirinya berdebat dengan Daddy Aiden kala berebut Mommy Della. Daddy Aiden pun juga tidak mempermasalahkannya asal Erland tau tempat saja.
Saat Daddy Aiden ingin menimpali ucapan dari Erland tadi, suara Mommy Della sudah lebih dulu terdengar.
"Bertengkar terus! Ayo lanjutkan, jangan berhenti sebelum Mommy membuang kalian di kolong jembatan!"
Kedua laki-laki itu menolehkan kepalanya kearah sumber suara.
__ADS_1
Daddy Aiden yang masih berdiri pun ia segara mendekati Mommy Della dengan ierugautaj di bibirnya.
"Kenapa? Mau aku buang beneran?" tanya Mommy Della saat Daddy Aiden sudah berdiri di hadapannya.
"Ck, tega banget sih. Masak sama suami sendiri mau di buang."
"Ya tega lah," balas Mommy Della yang semakin membuat Daddy Aiden mengerucutkan bibirnya. Namun hal itu tak di pedulikan oleh Mommy Della, ia segara berjalan mendekati Erland dengan membawa satu paper bag di tangannya.
Erland yang sedari tadi cekikikan, kini bibirnya bungkam saat Mommy Della berkata, "Kamu juga sama saja, Er. Suka banget cari keributan sama Daddy kamu. Udah tau Daddy-nya kayak anak kecil kok ya malah di pancing mulu. Lagian apa kalian tidak bosan bertengkar terus, saling meledek satu sama lain sejak dulu saat Erland kelas 3 SD?"
Mommy Della menolehkan kepalanya kearah dua laki-laki kesayangannya itu secara bergantian. Dimana pertanyaannya tadi di jawab secara serempak oleh keduanya.
"Tidak!"
Mommy Della yang sebenarnya sudah menebak jawaban sepasang ayah dan anak itu, ia menghela nafas panjang.
"Allahuakbar. Sudahlah, terserah kalian! Dan ini pesanan kamu. Pulang sana gih kasihan Maura nungguin kamu dari tadi," ucap Mommy Della tidak berniat untuk mengusir putranya sendiri, tapi jujur saja semakin lama Erland berada di tempat yang sama dengan Daddy-nya, pasti mereka akan terus bertengkar. Hal ini juga berlaku untuk putra mereka yang lainnya. Dan tentunya Mommy Della yang sudah hidup bersama mereka puluhan tahun, otaknya hampir meledak karena pertengkaran itu.
"Baiklah Erland akan pulang sekarang. Sekali lagi terimakasih ya Mom atas bantuannya. Erland sayang Mommy." Erland mengecup kedua pipi Mommy Della dan berakhir di kening perempuan cinta pertamanya itu.
"Love you," sambung Erland kala dirinya menjauhkan wajahnya dari kening Mommy Della.
Mommy Della seketika menarik ujung bibirnya sembari membalas, "Love you too, sayang."
Erland tentunya ikut tersenyum melihat senyum cantik dari ibunya itu.
"Ya udah, Erland pulang dulu Mom. Ahhh tapi tunggu dulu. Ada satu hal yang akan Erland sampaikan ke Mommy," ujar Erland.
Mommy Della mengerutkan keningnya.
__ADS_1
"Apa tuh?"
"Tunggu dulu sebentar," ujar Erland lalu setelahnya ia berjalan mendekati Daddy Aiden, mengecup singkat pipi laki-laki paruh baya tersebut sebelum dirinya menjauh dan menghadap keatas Mommy Della kembali.
"Hal yang perlu Erland sampaikan adalah kalau Mommy di sakiti sama tuan Aiden William Abhivandya, kasih tau Erland segera. Erland tidak akan segan-segan untuk memberi pelajaran ke tuan yang sudah berumur itu," ujar Erland dengan melirik kearah Daddy Aiden yang sepertinya sudah mengeluarkan asap dari kepalanya karena sudah sangat kesal dengan Erland.
Erland yang tak ingin mendapat hukuman dari Daddy Aiden, ia kembali menyematkan sebuah kecupan di pipi Mommy Della lalu setelahnya ia berlari menuju ke pintu utama sembari berteriak, "Erland pergi dulu! Assalamualaikum!"
"Waalaikumsalam," jawab Mommy Della, Daddy Aiden dan orang-orang lainnya yang mendengar salam dari Erland.
Kepergian dari Erland tadi membuat Daddy Aiden langsung mendekati Mommy Della dengan langkah lebarnya, kemudian ia memeluk tubuh istrinya itu dari belakang.
"Aku cemburu! Aku cemburu! Aku cemburu sayang! Aku sangat-sangat cemburu!" ujar Daddy Aiden melupakan apa yang ada di hatinya.
"Aku tau," jawab Mommy Della tanpa melepaskan dirinya dari pelukan sang suami. Biarkan saja mereka berada di posisi seperti ini untuk sementara karena jika tidak, sudah di pastikan Daddy Aiden akan merajuk seperti anak kecil nanti.
"Kalau tau, kenapa kamu menanggapi dia tadi mana pakai manggil sayang lagi? Dan kenapa dia kesini lagi sih? Udah bagus-bagus dia punya rumah sendiri ehhh malah balik lagi. Ck, ganggu banget."
"Hustttt! Gak boleh gitu. Dia anakmu juga. Kalau sampai ada yang dengar tentang ucapan kamu dan di kirimkan ke Erland, bisa menjadi masalah besar nantinya! Jadi jangan begitu lagi!" ucap Mommy Della menasehati sang suami.
Daddy Aiden hanya bisa mengendus kasar.
"Lagian Erland kesini itu hanya meminta bantuan ke aku untuk membuat rujak es krim karena Maura menginginkannya. Tapi berhubung di jam segini tidak ada yang jual begituan, ya akhirnya Mommy bantuin dia.".
Daddy Aiden mengerutkan keningnya.
"Maura lagi hamil?" Mommy Della menggelengkan kepalanya.
"Mommy sih tadi juga menyangkanya juga begitu tapi sayangnya kata Erland, Maura tidak hamil. Rujak es krim itu memang keinginan Maura tapi hanya sekedar keinginan saja bukan karena ngidam. Jadi kita doakan saja semoga mereka segara diberikan keturunan biar kita nambah cucu lagi," ujar Mommy Della dengan mengelus punggung tangan Daddy Aiden yang melingkar di perutnya.
__ADS_1
"Aamiin. Walaupun Erland sangat menyebalkan tapi aku mau dia selalu bahagia," ucap Daddy Aiden yang membuat Mommy Della seketika tersenyum mendengarnya. Sudah jelaskan jika memang suaminya dan anak-anak mereka tidak akan pernah akur itu dilakukan hanya sekedar candaan saja, padahal sebenarnya mereka sangat menyayangi satu sama lain layaknya sepasang anak dan ayah pada umumnya. Bedanya, mereka mengungkapkan rasa sayang mereka lewat pertengkaran bukan dengan sebuah pelukan atau apapun itu yang terlihat sweet. Aneh memang, tapi ini lah keluarga Abhivandya.