PASUTRI (Troublemaker)

PASUTRI (Troublemaker)
Bab 194


__ADS_3

"Ini gak bisa di biarkan! Kita harus segara memberikan dia pelajaran sekarang juga!" geram Mommy Della yang sudah berdiri dari posisi duduknya.


Daddy Aiden yang sebisa mungkin mengontrol emosinya agar sedikit tenang, ia menyimpan ponselnya, lalu ia ikut berdiri.


Dan dengan mengelus kedua pundak istrinya ia berkata, "Bisa tenang tidak? Aku tau kamu tengah emosi saat ini. Kita memang akan memberikan pelajaran ke dia hari ini juga karena aku juga tidak ingin menundanya lagi. Aku sudah muak dengan mereka. Tapi bukankah lebih baik jika kita mendatangi dia dalam keadaan tenang, tidak memancarkan emosi kita di hadapan mereka. Kita bermain secara elegan jangan secara kasar. Kamu paham kan apa yang aku maksud ini, sayang? Kita juga sudah terlalu berumur jika harus menghadapi masalah ini dengan otot apalagi sampai kita marah-marah dengan mereka, yang ada kerutan-kerutan di wajah kita nanti akan semakin bertambah dan kelihatan. Memangnya kamu mau tuh wajah cantik kamu banyak kerutannya?"


Mommy Della menggelengkan kepalanya sebagai jawaban atas pertanyaan dari Daddy Aiden tadi.


"Nah kalau tidak mau, kontrol emosi kamu. Dan kita akan menemui mereka jika kamu sudah bisa mengontrol emosimu," sambung Daddy Aiden yang berusaha membujuk Mommy Della. Terus terang saja, ia membujuk istrinya itu bukan karena dirinya takut Mommy Della tidak cantik lagi, sumpah demi apapun istrinya itu akan selalu cantik di mata Daddy Aiden. Daddy Aiden menyuruh agar Mommy Della tenang agar ia nanti tidak semakin pusing jika harus mengurus dua hal secara bersamaan yaitu masalah yang tengah terjadi dan Mommy Della yang akan adu mulut atau mungkin main jambak-jambakan dengan orang yang sudah memancing emosinya itu. Dan Daddy Aiden tidak mau memusingkan dirinya sendiri nanti.


Untungnya dengan bujukan tadi Mommy Della menurut dan akhirnya setelah beberapa menit berlalu, wanita paruh baya itu menghela nafas panjang sebelum ia menatap kearah suaminya.


Daddy Aiden yang di tatap pun ia memincingkan alisnya, "Gimana? Sudah tidak emosi lagi?"


"Sebenarnya sih masih. Tapi tenang saja, aku sudah bisa mengontrolnya," ucap Mommy Della yang diangguki oleh Daddy Aiden.


"Baiklah kalau begitu, mau berangkat sekarang?" tanya Daddy Aiden dengan memberikan elusan di kepala Mommy Della.


"Tentu saja. Aku sudah tidak sabar melihat dia menyesali perbuatan kurang ajar dia tadi," ujar Mommy Della menggebu-gebu.


"Baiklah kita berangkat sekarang. Tapi ingat, jangan ada keributan saat kita nanti bertemu dengan dia," tutur Daddy Aiden mengingatkan.


"Ck, iya-iya. Gak akan ada keributan." Daddy Aiden menganggukkan kepalanya.


"Kalau begitu, siap-siap gih. Aku tunggu di bawah." Mommy Della membalas ucapan dari sang suami dengan anggukan kepala sebelum dirinya masuk terlebih dahulu kedalam kamar, meninggalkan Daddy Aiden yang menatap kepergiannya.

__ADS_1


Saat laki-laki paruh baya tersebut sudah tak melihat punggung Mommy Della, ia mengeluarkan ponselnya kembali, mengetik rangkaian kalimat lalu ia kirimkan ke putra pertamanya dan setelah pesan itu terkirim, barulah Daddy Aiden bergegas bersiap diri dan seperti yang ia katakan tadi kepada Mommy Della, ia langsung turun ke lantai bawah, menunggu istrinya selesai bersiap.


Sedangkan di sisi lain, tepatnya di rumah sakit. Adam yang berada di dalam ruang kerjanya setelah kembali dari ruang CCTV, sebuah notifikasi dari ponselnya membuat Adam langsung mengambil benda pipih tersebut, ia segara membuka pesan yang ternyata dari sang Daddy.


*📨 : Big Bos


"Daddy sama Mommy akan kesana sekarang. Kamu tunggu kita sampai dan kita akan memberikan perhitungan kepada keluarga Jaya untuk yang kedua kalinya. Dan pastikan, sebelum Daddy sama Mommy sampai, jangan biarkan perempuan itu keluar dari area rumah sakit*."


Adam segera mengetikkan kata balasan dari pesan sang Daddy tadi.


📨 To : Big Bos


"Oke Dad. Adam akan pastikan dia tidak akan bisa lolos dari kita."


Setelah pesan tersebut terkirim, Adam beranjak dari tempat duduknya, berjalan menuju ke dua satpam penjaga rumah sakit tersebut untuk memberitahu jika mereka memiliki tugas tambahan untuk tidak membiarkan Mama Rina ataupun Papa Jaya keluar dari area rumah sakit ini dengan cara ia memberikan foto dua orang yang ia maksud tadi untuk memudahkan kedua satpam mengenali orang yang ia maksud. Lalu setelahnya, ia kembali ke ruang kerjanya Dirinya akan menunggu kedatangan kedua orangtuanya di ruang kerjanya saja.


Setelah 20 menit, akhirnya orang yang Adam tunggu-tunggu datang juga. Kedua orang paruh baya tersebut memang tidak langsung ke ruang inap Orla untuk memberikan pelajaran kepada Mama Rina yang sudah kelewat batas itu tapi mereka akan memberikan pelajaran kepada wanita paruh baya tersebut di ruang kerja Adam agar tidak menggangu pengunjung ataupun pasien lain. Mereka juga sudah memberitahu hal tersebut kepada Adam dan Adam tentunya langsung mensetujui hal itu.


Dan yap, video yang tengah mereka lihat tadi itu merupakan video rekaman CCTV yang menampilkan Mama Rina dan Maura tengah beradu mulut sampai di adegan Mama Rina yang ingin menusuk Maura. Maka dari itu mereka benar-benar murka dengan tindakan Mama Rina walaupun Maura lah yang menjadi pemenangnya, tapi tetap saja hal itu tak bisa mereka biarkan begitu saja agar mereka tidak semakin ngelunjak nanti.


"Duduk dulu Mom, Dad," ucap Adam mempersilahkan kedua orangtuanya untuk duduk terlebih dahulu yang tentunya diangguki oleh keduanya.


Dan setelah mereka duduk, Adam kembali angkat suara, "Perlu Adam panggil mereka sekarang?"


"Tidak perlu Dam. Daddy tadi sudah menyuruh salah satu satpam untuk memanggilkan mereka. Mungkin sekarang satpam itu baru sampai di kamar inap Orla," ujar Daddy Aiden yang diangguki oleh Adam.

__ADS_1


Dan benar saja, satpam yang di suruh Daddy Aiden tadi memang baru sampai di kamar inap Maura. Dengan sopan, satpam itu mengetuk pintu kamar inap tersebut yang membuat Mama Rina yang tengah menyuapi makanan Orla menatap kearah pintu.


"Siapa Ma?" tanya Orla.


"Entahlah Mama juga tidak tau," balas Mama Rina.


"Jangan-jangan itu Erland lagi, Ma. Buka cepat Ma, Orla tidak ingin Erland lama menunggu di depan sana. Buruan Ma, buka,", ucap Orla dengan menepuk-nepuk lengan Mama Rina yang membuat perempuan paruh baya itu berdecak.


"Ck, iya-iya Mama buka sekarang." Setelah meletakkan piring makanan keatas nakas, Mama Rina melangkahkan kakinya mendekati pintu dan setelah sampai, tak menunggu lama lagi ia membuka pintu tersebut. Namun yang ia lihat bukan Erland seperti yang di katakan oleh Orla tadi melainkan seorang satpam.


Orla yang bisa melihat siapa gerangan yang datang pun ia kecewa saat tak mendapati Erland disana.


"Maaf ada apa ya?" tanya Mama Rina kepada satpam tadi.


Satpam tersebut tampak tersenyum ramah sebelum menjawab, "Maaf mengganggu waktu Nyonya, saya kesini karena amanat dari tuan Aiden."


Jantung Mama Rina berdetak begitu kencang saat nama Daddy Aiden disebut oleh satpam tadi.


"Tujuan apa tuan Aiden memberikan amanat ke kamu untuk datang kesini? Apa dia berniat untuk mengusir saya dan anak saya dari sini?" tanya Mama Rina.


"Sepertinya tidak nyonya. Karena tuan Aiden tadi bilang ingin bertemu dengan Nyonya dan tuan Jaya untuk membicarakan sesuatu yang sangat penting dan sangat genting sekali."


"Sesuatu yang penting?" Beo Mama Rina.


"Benar Nyonya. Saya kurang tau hal penting apa itu tapi lebih baik Nyonya dan tuan Jaya segara menemui beliau yang saat ini sudah berada di ruangan dokter Adam, menunggu kedatangan nyonya dan tuan. Dan berhubung tugas saya sudah selesai, saya pamit undur diri nyonya. Mari," ucap satpam tadi yang hanya dibalas dengan anggukan kepala oleh Mama Rina yang saat ini tengah berpikir hal apa yang akan mereka bicarakan kepada dirinya dan suaminya? Dan hal penting apakah itu?

__ADS_1


__ADS_2