PASUTRI (Troublemaker)

PASUTRI (Troublemaker)
Bab 89


__ADS_3

Erland semakin tak kuasa menahan napsunya. Bibir yang sedari tadi menjelajahi bibir Maura kini perlahan turun menuju ke arah leher Maura. Ia memberikan kecupan di leher tersebut memberikan tanda kepemilikan disana. Dimana hal tersebut membuat Maura menggigit bibir bawahnya, menahan suara laknat yang akan keluar dari bibirnya itu. Tangisannya pun tak kunjung berhenti.


Erland yang memang tidak tau kondisi Maura sekarang bagaimana pun ia terus melakukan aksinya tersebut, memberikan beberapa tanda di leher Maura dengan salah satu tangannya yang sedari tadi memainkan buah dada Maura, mulai menuju ke pundak sang istri. Dengan cepat Erland menarik tali dress yang dikenakan oleh Maura yang hanya berbentuk tali spaghetti, sangat kecil namun sangat memudahkan Erland untuk membukanya. Dan hanya dua kali sentakan tangan, dua tali di pundak Maura berhasil dibuka oleh Erland. Tanpa menunggu lama lagi, Erland langsung menarik dress Maura turun kebawah sampai ke perut Maura. Dimana hal itu juga Erland bisa melihat bra yang menghalangi dua gundukan daging itu. Namun Erland tak peduli akan hal tersebut, toh nanti ia juga akan membukanya dan yang lebih penting sekarang ia melanjutkan aksinya itu.


Ciuman Erland semakin menjadi bahkan sudah berada sebagaian buah dada Maura yang tampak menyembul itu sebelum tangan Erland kini membuka pengait bra hanya satu kali hentakan saja, ia bisa melepaskan bra tersebut. Dan saat itulah ia bisa melihat dua buah dada Maura yang sebelumnya ia sudah melihatnya namun kali ini ia akan mencobanya sebelum anaknya nanti yang mencoba buah dada itu.


Layaknya seperti anak kecil yang tengah kehausan, Erland melahap salah satu buah dada itu dengan satu tangan yang tak bisa diam. Tangannya itu ia gunakan untuk memainkan buah dada tersebut yang semakin membuat Maura hampir gila dibuatnya.

__ADS_1


Erland terus melakukan hal yang sama secara bergantian diantara dua gundukan yang mungkin akan menjadi favoritnya mulai saat ini. Ia tak memperdulikan tubuh Maura yang menggeliat bahkan sesekali ia bisa merasakan jika tubuh sang istri menegang sempurna. Hingga kegiatan itu selesai saat Erland sudah tidak kuat lagi untuk menahan sesuatu dibawah sana.


Erland melepaskan cekalan tangannya tadi dari kedua tangan Maura. Dan saat dirinya menegakkan tubuhnya dengan kedua tangannya yang sudah memegang baju yang saat ini akan ia lepas, kegiatannya itu ia hentikan saat melihat mata Maura terpejam dengan air mata yang terus mengalir, tak hanya itu saja Maura menggigit bibir bawahnya yang mengakibatkan bibir itu mengeluarkan darah segar. Erland yakin bibir Maura yang saat ini terluka bukan karenanya, pasalnya dia tadi mencium Maura dengan sangat lembut. Jadi sudah bisa dipastikan jika luka itu Maura sendiri yang buat.


Erland memejamkan matanya sesaat. Sebelum dirinya mendekati Maura dengan posisi ia yang masih diatas tubuh sang istri. Dan dengan lembut tangan Erland kini bergerak untuk mengelus pipi Maura sembari berkata, "Bibirnya jangan digigit. Nanti lukanya akan semakin lebar."


Sumpah demi apapun Erland sekarang tengah mati-matian menahan hasratnya. Namun lagi-lagi ia harus berpikir jernih. Ia tak akan melakukan hubungan suami istri jika Maura belum siap. Karena ia tau alasan Maura menangis sampai melukai dirinya sendiri karena hal tersebut.

__ADS_1


Erland yang melihat Maura tak kunjung mengakhiri gigitannya pun ia kembali menghela nafas sebelum ia merebahkan tubuhnya disamping tubuh Maura, ia menelentangkan tubuhnya dengan salah satu tangannya yang bergerak untuk membenarkan bra Maura agar menutupi aset istrinya itu dengan tatapan mata yang lurus menatap langit-langit kamarnya, sebelum dirinya berkata, "Maafkan aku yang sudah kelewat batas menyentuhmu. Aku sadar mungkin ucapanmu tadi hanya spontan keluar dari bibirmu bukan karena kamu menginginkannya. Maaf Ra, aku baru menyadari setelah kita, lebih tepatnya aku melakukan hal yang sejauh ini. Aku harap kamu mau memaafkan aku dan kamu tenang saja aku tidak akan meminta hakku jika memang kamu belum siap. Dan untuk permintaanku yang meminta kamu untuk pindah ke kamar ini, jika kamu keberatan tidak apa-apa kalau kamu tidak mau melakukannya. Aku tidak akan memaksa. Sekali lagi maaf Ra."


Setelah mengatakan permintaan maafnya, Erland dengan cepat berdiri dari posisi rebahannya itu menuju ke kamar mandi yang tentunya kalian tau apa yang akan Erland lakukan di dalam sana, meninggalkan Maura yang kini menatap punggung Erland dengan isak tangisnya. Hingga saat pintu kamar mandi itu tertutup bersamaan dengan Maura yang tak bisa melihat tubuh Erland lagi, perempuan tersebut menutup kedua matanya.


"Maaf sudah mengecewakanmu, Er. Tapi aku benar-benar belum siap untuk melakukan hal itu hiks. Aku sangat takut Er. Dan aku harap kamu tidak kecewa denganku," ujar Maura dan dengan cepat ia segera mendudukkan tubuhnya, membenarkan pakaiannya yang sudah sangat-sangat berantakan itu. Kemudian setelahnya, Maura berlari keluar dari kamar Erland walaupun jujur saja kakinya saat ini lemas setengah mati. Hingga akhirnya Maura kini telah masuk kedalam kamarnya sendiri. Dan dengan cepat Maura menuju ke kamar mandi untuk membersihkan dirinya karena dirinya merasa ada yang basah di bagian sensitifnya. Ia bukan anak kecil lagi sehingga ia tak tau kenapa area sensitifnya itu bisa basah. Ia sangat tau betul jika hal tersebut merupakan efek apa yang telah di berikan oleh Erland tadi.


Tapi untuk kali ini Maura mengesampingkan hal tersebut, ia justru sekarang terfokus kearah pantulan cermin yang ada dihadapannya saat ini. Pantulan cermin yang saat ini tengah memperlihatkan penampilan dirinya yang astaga, sungguh Erland berhasil membuat dia seperti seorang gembel, rambut acak-acakan, make-upnya juga mungkin sudah terhapus semua, hidung dan mata yang memerah, ditambah bibir yang membengkak. Ahhhh dan satu lagi, banyak kissmark di lehernya.

__ADS_1


Maura menyentuh kissmark-kissmark yang di buat oleh Erland itu yang membuat ia menghela nafas panjang. Entah kenapa ia melihat hasil karya Erland di tubuhnya itu membuat dirinya merasa bersalah kepada suaminya.


"Aku keterlaluan gak sih sampai membuat Erland yang aku yakini tadi sudah di ujung tanduk harus menahan diri?" tanya Maura dengan tatapan mata yang masih menatap kearah pantulan dirinya sendiri. Tangannya pun juga perlahan membuka dress yang tengah ia kenakan. Dimana saat dress itu sudah terlepas sempurna dari tubuhnya lagi dan lagi ia bisa melihat kissmark diarea dadanya. Dan hal tersebut membuat Maura kini memejamkan matanya dengan kepala yang ia tengadahkan keatas sembari berucap, "Erland, maafkan aku yang belum bisa memberikan hakmu."


__ADS_2