PASUTRI (Troublemaker)

PASUTRI (Troublemaker)
Bab 177


__ADS_3

Saat sepasang pasutri itu baru menyelesaikan permasalah mereka, disisi lain, tepatnya di rumah sakit sepasang suami istri tengah menunggu putri mereka yang saat ini masih di rawat di rumah sakit. Dan jangan di tanya siapa lagi keluarga itu jika bukan keluarga Jaya. Kedua orang yang sudah tidak muda lagi itu tadi sangat-sangat bahagia saat mengetahui jika keadaan putri mereka sudah membaik, bahkan tadi Orla juga sudah bengun dari komanya. Namun sayangnya kebahagiaan mereka hanya sesaat saja ketika satu nama yang pertama kali di sebut oleh putri mereka yaitu nama seorang laki-laki yang sudah menjadi penyebab dirinya di rawat di rumah sakit ini. Dan yap, nama itu adalah nama Erland. Tak hanya sampai disitu saja, mereka semakin di buat sedih ketika melihat Orla menangis meraung sampai mengamuk sejadi-jadinya, meminta semua orang yang berada di sekitarnya membawa Erland kehadapannya. Namun semua orang disana, lebih tepatnya para dokter dan suster yang sempat turun tangan untuk menenangkan Orla tak ada yang mau menuruti apa yang di pinta Orla, mereka hanya diam saja tak berani hanya sekedar hilang iya karena saat itu ada Adam di dalam ruangan yang sama. Apalagi saat mereka melihat wajah Adam yang tak bersahabat, jadi lebih baik para pekerja di rumah sakit itu diam saja sebelum Adam melayangkan perintah untuk menyuntikan obat peney kepada Orla. Tentunya yang melakukan penyuntikan itu dokter lain, karena Adam tidak sudi menyentuh perempuan lain, terutama perempuan gatal seperti Orla ini.


Dan setelah melayangkan perintah tadi, Adam langsung keluar dari kamar inap Orla tanpa mengucapakan sepatah katapun. Meninggalkan dokter yang tengah menjalankan tugasnya dan kedua orangtua Orla yang tengah menangis merasa kasihan kepada buah hati mereka. Sampai saat ini, Mama Rina masih meneteskan air matanya padahal sudah ada 30 menit ia menangis saat ia sudah duduk disamping brankar Orla, menatap wajah putrinya yang tampak masih pucat walaupun tidak sepucat sebelum-sebelumnya.


Dengan menggenggam salah satu tangan Orla yang berada di hadapannya, Mama Rina bergumam, "Maafkan Mama nak, Mama belum bisa menjadi ibu yang baik untukmu sehingga apa yang kamu mau tidak terkabulkan sampai kamu berniat untuk mengakhiri hidupmu. Tapi Mama kali ini akan berusaha untuk memenuhi keinginan kamu. Mama akan melakukan apapun agar kamu bahagia dan tidak akan menyakiti dirimu sendiri seperti ini. Mama janji sayang, Mama akan membuat kamu bahagia. Dan Mama yakin sebentar lagi kebahagiaan itu akan datang menemui dirimu."


Mama Rina mengelus puncak kepala Orla. Hingga elusan lembut itu berhasil membuat mata Orla mengerjab setelah 2 jam lamanya kembali tertutup.


Mata itu kini terbuka lebar, dan seperti tadi Orla langsung mengedarkan pandangannya tentunya tengah mencari keberadaan laki-laki yang sudah dari dulu ia cintai. Namun sayangnya ia tak menemukan keberadaan laki-laki itu di dalam ruang inapnya karena di ruang itu hanya ada dirinya dan Mamanya saja. Untuk Papa Jaya, dia tengah mengurus biaya pinalti dari perusahaan lain, buntut dari perusahaannya yang bangkrut secara mendadak itu.


Dan dengan tatapan mata sedih, Orla menatap kearah ibundanya, "Ma---"

__ADS_1


Belum sempat Orla menyelesaikan ucapannya, Mama Rina sudah lebih dulu memotongnya.


"Mama tadi sudah menemui Erland. Mama juga sudah menceritakan semuanya tenang kejadian ini dan meminta untuk dia segara tanggungjawab atas perbuatannya yang telah menyakiti hati dan fisik kamu. Mama tadi juga bilang kalau Mama tidak mau dia membayar pertangungjawabannya berupa materi, tapi Mama minta dia untuk datang menjenguk kamu sebagai bentuk tanggungjawab dia. Dan kata dia tadi, dia akan mempertimbangkannya lagi," ujar Mama Rina yang tentunya sebuah kebohongan. Pasalnya yang ia temui tadi setelah Orla kembali tenang dengan di beri obat penenang bukan Erland orangnya melainkan Maura, istri dari laki-laki itu. Untuk alamat Erland yang baru, ia mendapatkannya dari menyuruh seseorang untuk mengikuti Erland setelah penolakan waktu itu terjadi.


Dan yap, orang yang sudah mempengaruhi Maura dan membujuk agar Maura menceraikan Erland layaknya seperti seorang iblis itu adalah Mama Rina. Bahkan dirinya memberikan karangan hebat untuk mendukung aktingnya mempengaruhi Maura dengan menjadikan Erland laki-laki brengsek di mata perempuan itu. Dan ia sangat yakin jika triknya ini akan berhasil.


Sedangkan Orla yang mendengar ucapan dari sang Mama, ia melebarkan matanya.


"Terimakasih ya Ma. Mama diam-diam sudah membantu Orla untuk meraih kebahagiaan Orla. Mama memang terbaik. Mama tau apa yang Orla mau. Terimakasih ya Ma," ucap Orla dengan membalas genggaman tangan Mama Rina.


"Itu sudah menjadi kewajiban Mama untuk membahagiakan kamu, sayang. Apapun akan Mama lakukan agar kamu bahagia," balas Mama Rina yang dibalas dengan senyuman tulus oleh Orla. Hingga beberapa saat sepasang ibu dan anak itu terdiam hanya senyum yang selalu mereka tampakkan sebelum Orla yang masih penasaran pun ia kembali angkat suara.

__ADS_1


"Ma, Mama bisa mengira-ngira tidak kapan Erland akan kesini?" tanya Orla dengan tatapan mata mengarah kearah pintu utama ruang inap tersebut.


Mama Rina mengikuti arah pandang sang putri hanya sesaat saja sebelum ia kembali menatap wajah Orla sembari menjawab, "Mama juga tidak tau. Dia mau kapan kesininya. Tapi kan yang penting dia akan mempertimbangkan untuk kesini yang artinya kemungkinannya sangat besar kalian akan segera bertemu."


Orla yang mendengar jawaban dari Mama Rina, ia mengerucutkan bibirnya.


"Ck, kan Orla tadi bilang kira-kira Ma, jadi Mama bisa menebak dong, kapan dia benar akan kesini."


"Hmmm kalau begitu Mama tebak Erland akan kesini itu besok, kan kamu sendiri tau jika saat ini sudah malam. Jadi tidak mungkin dia kesini karena dia kan juga butuh istirahat setelah seharian bekerja tadi. Dan kamu cobalah untuk mengerti karena Erland bukan orang sembarangan melainkan salah satu putra dari keluarga Abhivandya yang selalu sibuk itu," ujar Mama Rina.


"Benar juga apa kata Mama. Ya sudah kalau begitu, Orla akan menunggu kedatangan dia. Dan semoga saja perkiraan atau tebakan dari Mama tadi tentang dia yang akan kesini besok, benar adanya," ucap Orla yang hanya bisa di balas dengan senyum simpul oleh Mama Rina. Ia sebenarnya tak ingin melakukan kebohongan kepada putrinya itu tapi ia terpaksa melakukannya karena sebuah keterpaksaan.

__ADS_1


__ADS_2