PASUTRI (Troublemaker)

PASUTRI (Troublemaker)
Bab 62


__ADS_3

Saat Maura tengah melamun sembari memikirkan bagaimana cara ia berbicara dengan Erland perihal rekaman tata cara sholat itu hilang dari ponselnya, Erland telah kembali masuk kedalam kamar miliknya dengan membawa baskom kecil ditangannya yang tentunya baskom itu berisi air es serta bongkahan es kecil.


Erland mendudukkan tubuhnya dihadapan Maura yang masih melamun itu hingga kerutan di keningnya terlihat sebelum tangannya kini bergerak tepat di depan wajah sang istri. Ia lambai-lambaikan tangan tersebut hingga Maura kini mengerjabkan matanya.


"Kenapa ngalamun?" tanya Erland kala Maura menatapnya.


"Ahhhh tidak. Tidak apa-apa." Erland tampak menghela nafas kala Maura tak mau berkata jujur kepadanya. Tapi ya sudahlah, Erland tidak akan memaksa istrinya itu untuk mengatakan apa yang tengah ia pikirkan.


"Coba deketan sini," ucap Erland yang langsung di turuti oleh Maura hingga jarak diantara keduanya kembali terkikis. Sampai-sampai lutut mereka yang tengah duduk bersila di atas lantai tanpa alas itu saling bersentuhan.


Erland yang melihat tak ada jarak lagi diantara dirinya dan Maura pun dengan cepat ia mulai melakukan aksinya yaitu mengompres kening Maura dengan perlahan. Terdengar ringisan dari Maura kala Erland menempelkan satu bongkahan es yang sudah ia balut dengan kain.


"Tahan. Sakitnya hanya sebentar," ucap Erland dengan mata yang terus fokus dengan apa yang tengah ia lakukan saat ini.


Maura hanya bisa mengangguk kecil untuk menimpali ucapan dari Erland tadi. Dan saat Erland tengah fokus mengobatinya, hal itu tak lepas dari mata Maura yang kini terfokus ke wajah Erland.

__ADS_1


"Cakep banget sih lelakiku," batin Maura memuji ketampanan Erland yang tentunya baru-baru ini ia sadari.


Erland yang sadar dirinya tengah ditatap pun ia tersenyum sembari berkata, "Aku tau aku tampan Ra. Kamu saja yang telat menyadarinya."


Ucapan dari Erland tadi membuat Maura gelagapan setengah mati. Maura sangat malu karena ketahuan tengah memperhatikan Erland secara diam-diam. Dan karena saking malunya, Maura sampai memukul tubuh Erland cukup keras sembari berucap, "Cih, pede sekali diri anda ya bapak Erland. Siapa juga yang tengah melihat kamu."


Erland yang mendapat pukulan itu pun ia menghentikan pergerakan tangannya yang tadi ia gunakan untuk mengobati Maura. Dan kini ia yang justru menatap wajah istrinya itu dengan sangat intens dimana hal tersebut membuat Maura salting bukan main.


"Ra, kamu lucu kalau lagi salting gini," ucap Erland dengan berusaha semaksimal mungkin menahan tawanya.


"Ck, apaan sih Er. Siapa yang salting coba? Gak ya aku gak salting sama sekali. Toh ngapain aku salting hanya gara-gara kamu lihatin begitu. Udahlah mending kamu pergi sana dari kamarku. Udah selesai juga kan ngobatinnya," usir Maura.


"Kamu lupa kalau sekarang kamu tengah berada di kamarku bukan kamarmu? Jadi kamu tidak ada hak dong buat ngusir aku dari sini. Kecuali jika kamar ini kita tempati berdua, yang berarti kamu ataupun aku mempunyai hak atas kamar ini. Tapi berhubung kamar ini aku tempati sendiri maka hak kamar ini sepenuhnya milikku. Jadi usiran yang kamu lakukan tadi tidak akan mempan. Aku tidak mau pergi dari sini karena ini kamarku seorang, bukan kamarmu pribadi ataupun kamar kita berdua," jelas Erland yang berhasil membuat Maura mencebikkan bibirnya kala ia menyadari jika ucapannya tadi salah. Harusnya Erland yang berkata seperti itu bukan malah dirinya. Tapi tanpa Maura sadari jika ada sebuah kode didalam ucapan Erland tadi yang tentunya tak akan pernah dimengerti oleh Maura.


Buktinya saja perempuan itu kini berdiri dari duduknya dengan bibir yang mengerucut kedepan.

__ADS_1


"Erland nyebelin," ucap Maura sebelum dirinya beranjak dari hadapan Erland, berniat untuk keluar dari dalam kamar tersebut. Namun baru beberapa langkah saja tubuhnya dibuat mematung kala sebuah tangan melingkar indah di perutnya tak lupa ia merasakan ada dagu yang kini bersandar di bahunya. Dan tanpa melihat siapa orang itu pun Maura tau siapa dia dari aroma parfum orang tersebut yang tentunya adalah suaminya sendiri, Erland.


"Baiklah-baiklah, aku mengalah dan maafkan aku," ucap Erland sebelum dirinya melepaskan rangkulannya dari perut Maura lalu memutar tubuh istrinya itu agar menghadap kearahnya.


Erland menatap luka yang baru saja Maura dapatkan tadi. Dimana luka itu yang tadi sempat benjolan besar kini sudah sedikit mengecil yang membuat Erland menghela nafas lega.


Sedangkan Maura, ia tengah dibuat kalang kabut dengan jantungnya sendiri yang sudah berdegup sangat kencang. Apalagi saat satu kecupan kembali mendarat di keningnya yang terluka itu cukup lama sampai Maura memejamkan matanya, merasakan kecupan hangat dari suaminya sendiri.


Erland kini menjauhkan wajahnya dari wajah Maura dan dengan memberikan usapan lembut di kening Maura itu ia berucap, "Cepat sembuh."


Maura yang sudah tidak tahan lagi jika harus berlama-lama berada di samping Erland karena itu akan berefek besar kepada dirinya apalagi kesehatan jantungnya pun ia dengan cepat berlari keluar dari kamar suaminya itu yang tentunya tujuannya kali ini ke dalam kamarnya kembali.


Erland yang memang sengaja melakukannya agar dirinya bisa melihat wajah salting Maura lagi pun tawa yang sedari tadi ia tahan kini pecah juga. Ia tertawa terbahak-bahak sampai-sampai tangannya kini memegangi perutnya yang sakit akibat kebanyakan tertawa. Bahkan diujung matanya pun sudah mengeluarkan cairan bening yang kini ia usap menggunakan jari telunjuknya.


"Kenapa wajah dia lucu banget sih kalau lagi salting begitu? Gemes. Kalau begini caranya mungkin mulai sekarang aku akan buat dia salting terus kedepannya biar aku bisa melihat wajah menggemaskan itu," gumam Erland kala sudah menghentikan tawanya tadi.

__ADS_1


Sedangkan disisi lain, Maura yang sudah berada didalam kamarnya pun ia langsung menjatuhkan tubuhnya dengan posisi tengkurap diatas ranjangnya, menyembunyikan wajahnya di ranjang empuk tersebut sembari terus bergumam, "Erland sialan. Kenapa dia tadi pakai cium aku segala sih mana lama banget lagi! Apa dia pikir kalau aku digituin gak akan baper gitu?! Ya jelas baper lah. Arkhhhh ya Tuhan jangan sampai aku suka sama dia. Kalau sampai suka berarti aku akan jilat ludah aku sendiri! Huwaaaaa! Tapi aku gak kuat dibuat baper plus salting terus begini. Erland benar-benar laki-laki bahaya! Sialan!"


Ya, Maura dulu pernah berucap walaupun dirinya sudah menikah dengan Erland, ia tak akan jatuh cinta kepada laki-laki yang sekarang menjadi suaminya itu. Bahkan dia berniat untuk mencari laki-laki lain agar dirinya bisa bebas dari Erland. Tapi mungkin kebebasan itu tak akan pernah ia rasakan kala dirinya sudah jatuh dalam pesona Erland yang otomatis jika hal itu terjadi ia akan menjilat ludahnya sendiri seperti yang ia ucapkan tadi.


__ADS_2