
Erland kini keluar dari dalam kamarnya dengan baju yang sudah berganti kembali. Dimana keluarnya dia dari kamar tersebut, bertepatan dengan Maura yang selesai mencuci piring dan membereskan dapur.
Maura yang baru keluar dari ruang dapur pun ia menatap tampilan Erland dari atas sampai bawah sebelum dirinya kini angkat suara.
"Er, mau kemana?" tanyanya.
Erland yang tengah mengunci pintu kamarnya, ia kini menolehkan kepalanya kearah Maura.
"Mau keluar sebentar sekaligus mau ke toko buku, cariin buku tuntunan sholat untuk kamu," ujar Erland yang diangguki oleh Maura. Sebenarnya Maura ingin sekali ikut Erland, keluar dari rumah itu karena jujur saja Maura sangat bosan berada di dalam rumah tersebut. Tapi ia tak berani mengatakan keinginannya kepada Erland, sekaligus ia malu dan gengsi jika ia minta terlebih dahulu. Alhasil ia kini hanya bisa berkata, "Ya sudah kalau gitu, hati-hati dijalan."
Erland lagi-lagi tersenyum mendengar perhatian kecil yang diucapkan dari sang istri. Ia kini berjalan mendekati Maura, saat sampai didepan perempuan itu tangannya kini ia ulurkan kehadapan Maura yang ditatap dengan salah satu alis terangkat oleh Maura.
Maura tak paham dengan kemauan Erland saat ini, kenapa laki-laki itu mengulurkan tangannya kehadapannya? Apa jangan-jangan Erland meminta uang kepadanya? Ahhhh Maura sampai lupa bukannya niat Erland keluar dari rumah ini salah satunya untuk membelikan dirinya buku tuntunan sholat jadi wajar saja jika Erland meminta uang kepadanya, lagian Maura melihat dengan mata kepalanya sendiri waktu itu jika didalam dompet Erland tidak ada isinya sama sekali dan hanya ada sebuah kartu tanda penduduk juga SIM saja. Dari situ Maura bisa menyimpulkan jika semua uang gaji Erland sudah di berikan semuanya untuknya.
Maura yang menyadari hal itu pun ia segera beranjak dari depan Erland yang tentunya membuat laki-laki tersebut heran.
"Lho Ra, mau kemana?" tanya Erland. Ia bahkan sempat berpikir apakah Maura sekarang tengah marah kepadanya? Tapi dengan alasan apa? Perasaan dirinya juga tidak melakukan kesalahan apapun pagi ini. Sumpah demi apapun Erland bingung dengan aksi Maura yang tiba-tiba pergi begitu saja, bahkan pertanyaannya tadi hanya di jawab Maura dengan ucapan, "Tunggu sebentar."
__ADS_1
Apa yang sebenarnya akan istrinya itu lakukan? Apa Maura ingin menghukum Erland karena Erland sudah membuatnya marah walaupun tidak tau kesalahannya dimana? Haishhhh memikirkan hal itu membuat kepala Erland tiba-tiba berdenyut pusing. Dan akhirnya ia memilih untuk mendudukkan tubuhnya disalah satu kursi di ruang tamu, menunggu kedatangan Maura yang ternyata tengah masuk kedalam kamarnya.
Tak berselang lama Maura telah keluar kembali dari dalam kamar perempuan tersebut dengan membawa dompet ditangannya. Dimana saat dirinya sudah mendudukkan tubuhnya disamping Erland yang saat ini tengah menatapnya, tanpa mengucapakan sepatah kata pun Maura mengeluarkan dua lembar uang senilai seratus ribuan, lalu ia sodorkan kearah Erland yang membuat Erland kini mengerutkan keningnya.
"Apa ini?" tanya Erland tanpa mau menerima uang tersebut.
"Udah jelas-jelas ini uang, Er. Kamu masih tanya saja," jawab Maura.
"Iya aku tau itu uang tapi untuk apa?"
"Lah bukannya kamu tadi bilang kalau kamu mau keluar buat beliin aku buku tuntunan sholat?"
"Ya uang ini buat beli buku itu lah, Er. Ck, kamu ini kenapa lemot banget sih?" Ucap Maura yang sudah mulai ngegas. Perubahan seseorang tidak bisa secara instan kan? Jadi tidak perlu kaget jika Maura masih memakai nada tinggi jika dirinya benar-benar dibuat emosi seperti saat ini.
Erland yang sudah tau maksud dari Maura yang memberikannya uang pun ia tampak mengangguk-anggukkan kepalanya. Dan bukannya ia langsung menerima uang itu, ia justru mendorong tangan Maura secara pelan, menjauhkan tangan yang masih menggenggam uang itu dari hadapannya.
"Tidak perlu Ra," tolak Erland. Hey ingat, Erland adalah orang kaya jadi tidak mungkin ia mengambil kembali uang nafkah yang ia berikan kepada Maura.
__ADS_1
"Lho kok gak perlu sih Er? Kalau kamu tidak mau pakai uang ini mau pakai apa buat beli bukunya? Uang saja kamu tidak punya didalam dompet kamu itu. Ya kali kamu mau memberikan aku buku hasil colongan, mana bukunya tentang tuntunan sholat lagi. Malu Er, di lihat sama Allah," ujar Maura yang sok bijak. Padahal dulu saat masih tinggal bersama kedua orangtuanya dia sering mengambil tanpa izin cemilan, skincare ataupun benda lainnya milik sang ibunda tercinta tanpa izin lagi yang artinya dia juga mencuri.
Erland tampak menghela nafas. Yakinlah saat ini juga rasanya Erland ingin berteriak tepat di wajah Maura, jika dirinya bisa saja membeli buku tuntunan sholat sebanyak-banyaknya kalau Maura mau sampai satu pabriknya pun Erland bisa, jika dirinya tidak ingat kalau identitas aslinya masih ia rahasiakan dan juga tidak mau dianggap sombong.
"Berpikirlah positif Maura. Siapa juga yang mau memberikan kamu buku hasil colongan? Aku masih memiliki sedikit uang kok karena sebelum aku izin cuti kemarin bos aku memberikan sedikit rezeki untuk kita berdua. Jadi uang yang diberikan bos itu sangat cukup kok kalau digunakan untuk membelikan kamu buku," jawab Erland yang kembali dalam mode sabar.
"Oh ya? Berapa?" tanya Maura penuh antusias.
"Alhamdulillah beliau kasih aku 500 ribu," ujar Erland yang justru membuat Maura kini mencebikkan bibirnya.
"Ck, cuma 500 kirain sampai satu juta atau lebih."
Erland tampak menggeleng-gelengkan kepalanya dengan tangan yang kini terulur untuk mengelus kepala Maura.
"Syukuri apa yang kita miliki Maura. Buatmu 500 ribu itu mungkin kecil tapi untukku ataupun orang-orang diluar sana nominal ini sudah cukup besar. Uang ini juga bentuk dari rezeki yang Allah berikan kepada kita lho. Kamu pikir saja begini, kalau saja aku tidak mendapatkan bonus ini, uang bulanan kamu yang aku berikan pasti akan terpotong. Tapi berhubung aku dapat uang bonus, uang bulananmu itu tetap aman. Jadi harusnya kamu bersyukur karena kita diberikan rezeki yang lebih dari Allah," tegur Erland dengan sangat lembut, agar tegurannya itu bisa sampai di otak Maura. Maklum saja istrinya itu termasuk dalam manusia pembangkang jadi teguran atau masukan hanya akan sampai di otaknya jika orang yang menyampaikannya dengan perkataan lembut tanpa mengunakan otot. Dan Erland baru memahaminya baru-baru ini. Makanya saat ini mereka berdua jarang bertengkar entah karena Maura yang perlahan berubah atau mungkin saja karena Erland memilih menurunkan egonya dan mulai memahami Maura, atau mungkin karena dua-duanya? Hmmm entahlah yang terpenting hubungan mereka tetap baik-baik saja.
...****************...
__ADS_1
Yukkk 50 like sebelum jam 12 siang. Kalau sampai 50 like sebelum jam itu, aku kasih double up, semangat 🤠Jangan lupa kasih VOTE, HADIAH dan KOMENTAR ya. See you next eps bye 👋