
"Pa, Papa dengar suara Maura kan?"
Ucapan Maura dari sebaran telepon berhasil membuat Papa Louis tersadar dari keterbengongannya itu.
📞 : "Ahhhh iya sayang. Papa dengar. Tapi sayang, apa maksud dari perkataanmu sebelumnya, yang tengah memiliki masalah itu ada sangkut pautnya dengan keluarga Abhivandya, hmmm lebih tepatnya kamu memiliki masalah dengan mereka?" tanya Papa Louis yang tak akan bisa tenang jika belum mengetahui tujuan Maura meminta alamat rumah keluarga Abhivandya.
"Tidak Pa. Papa tidak memiliki masalah apapun kepada keluarga Abhivandya. Hanya saja Maura ingin bertemu Erland. Erland kan kerja disana," ujar Maura yang tentunya jujur.
Papa Louis yang mendengar ucapan dari Maura, ia tampak menghela nafas lega, setidaknya kekhawatirannya tadi tak ada yang benar. Tapi ia saat ini juga tengah dilanda kegalauan. Ia galau apakah dia akan memberitahu Maura alamat keluarga Abhivandya itu atau tidak. Karena ia takut saat dirinya memberikan alamat kepada Maura, Maura justru tak mendapati Erland di rumah keluarganya karena dirinya sangat yakin jika menantunya itu sekarang tengah berada di kantor. Tapi kalau dia tidak memberikannya justru akan membuat Maura curiga.
"Pa, Papa!" ucap Maura. Ia yang sudah resah bercampur khawatir memikirkan Erland, sang Papa yang ditanya sedari tadi hanya diam saja dan tidak langsung to the point. Dimana hal tersebut membuat Maura ingin sekali berteriak sekencang-kencangnya.
📞 : "Ahhhh iya iya sayang. Baiklah-baiklah, Papa akan kirimkan alamat keluarga Abhivandya lewat pesan," ucap Papa Louis pada akhirnya.
Maura tampak menghela nafas lega saat mendengar permintaannya di turuti oleh sang Papa.
"Oke kalau gitu Maura tunggu ya Pa. Bye Pa, semangat bekerja," ujar Maura. Lalu setelahnya ia memutus panggilan telepon tersebut.
Setelah panggilan telepon itu terputus, tak berselang lama, suara notifikasi ponsel Maura berbunyi. Ia langsung membuka pesan yang baru saja ia terima itu dengan salah satu tangannya yang bergerak untuk menghapus air matanya yang sedari tadi tak kunjung berhenti.
Maura membaca dengan teliti alamat yang baru saja di kirimkan oleh sang ayah kemudian dengan cepat ia berlari keluar dari dalam rumahnya tak lupa ia mengunci pintu rumah tersebut. Kemudian setelahnya, ia kembali berlari dan tujuan utamanya saat ini ke jalan raya. Ia akan mencari taksi atau kendaraan apapun langsung di jalanan tersebut, siapa tau kan Erland menyuruh salah satu temannya lagi untuk mengikuti dia. Dan Maura masih berharap jika kepergian Erland saat ini hanya candaan saja seperti kemarin. Tapi sayangnya harapan Maura salah besar karena Erland memang tengah pergi saat ini bahkan laki-laki itu tidak menyuruh salah satu temannya untuk cosplay menjadi tukang ojek online seperti kemarin. Sehingga Maura yang sudah berada di tepi jalan raya harus menunggu cukup lama hingga ia menemukan sebuah taksi yang kebetulan melintas di hadapannya.
Tanpa banyak berpikir lagi, Maura langsung menghentikan laju taksi tersebut namun kali ini cara ia menghentikan tidak se-extrim kemarin, melainkan ia menghentikan laju taksi itu dengan gerakan tangannya. Yang langsung dimengerti oleh sang sopir sehingga taksi itu akhirnya berhenti juga.
__ADS_1
Maura dengan cepat masuk kedalam taksi itu lalu kemudian ia berkata, "Pak, ke perumahan blue sky ya, nomor 7."
"Oke mbak," balas sopir taksi tersebut sebelum ia menjalankan mobil taksi itu.
Saat Maura tengah menuju ke rumah keluarga Abhivandya, Papa Louis yang berada di kantornya tengah kelabakan kala menantunya itu tak bisa ia hubungi.
"Astaga, nak Erland kemana sih? Apa tengah meeting sampai ponselnya dia matikan?"
Berkali-kali Papa Louis mencoba untuk menghubungi Erland namun hasilnya tetap saja nihil. Tak ada balasan dari menantunya itu, hanya terdengar suara operator yang memberitahu jika ponsel Erland tengah tidak dapat dihubungi.
Dimana hal tersebut membuat Papa Louis tampak frustasi. Hingga akhirnya ia menyerah dan memilih untuk memanggil sekretarisnya yang akan ia mintai bantuan.
Dan dengan menekan tombol telepon yang menghubungkan ke ruang sekretaris, Papa Louis berucap, "Keruangan saya sekarang juga."
Tak berselang lama, pintu ruangan Papa Louis terbuka memunculkan sang sekretaris yang dengan langkah lebarnya mulai mendekati meja Papa Louis.
"Ke AWA Grup sekarang juga." Sekretaris itu mengerutkan keningnya.
"Maaf Pak untuk apa ya? Bukannya hari ini kita tidak memiliki janji dengan perusahaan AWA grup?" tanya sang sekretaris yang merasa bingung sendiri. Karena jadwal sang atasan tidak ada pertemuan dengan salah satu perusahaan terkenal itu.
"Memang tidak. Tapi kamu harus tetap kesana sekarang juga. Jika nanti sang resepsionis tanya untuk apa kamu kesana, bilang saja disuruh sama Pak Louis untuk bertemu Pak Erland katakan urusan penting. Nanti kalau memang resepsionis tidak mengizinkan, minta mereka untuk menghubungi Erland dan mengatakan kalau masa depannya tengah terancam sekarang," jelas Papa Louis. Jika saja pekerjaannya saat ini tidak menumpuk, ia pastikan dirinya sendirilah yang akan datang ke perusahaan sang menantu.
Sang sekretaris yang tampak bingung pun ia hanya bisa menganggukkan kepalanya, mensetujui perintah yang telah diberikan kepadanya tanpa tau alasan lebih dalam lagi kenapa atasannya itu menyuruhnya melakukan apa yang di katakan tadi.
__ADS_1
"Kalau begitu saya permisi dulu Pak," pamit sekertaris tadi.
"Ya, hati-hati," balas Papa Louis yang diangguki oleh sang sekretaris.
Dan setelah sekertarisnya itu keluar, Papa Louis tak tinggal diam ia masih berusaha untuk menghubungi Erland. Walaupun hasil yang ia dapatkan tetap sama yaitu nihil.
...****************...
Disisi lain, Maura kini telah sampai di depan rumah mewah yang membuat dirinya terpana ketika ia sudah keluar dari dalam mobil taksi tadi.
"Wow rumahnya besar banget," kagum Maura. Namun setelahnya ia menggelengkan kepalanya ketika niatnya saat ini bukan untuk mengagumi bangunan megah tersebut, tapi untuk mencari keberadaan Erland.
Maura kini berjalan mendekati gerbang rumah tersebut. Dimana kedatangannya langsung disambut dengan dua satpam yang menjaga di pos satpam.
"Maaf, ada yang bisa kita bantu neng?" tanya salah satu satpam tersebut. Mereka berdua curiga dengan Maura yang tadi sempat menatap kagum rumah tersebut, takutnya perempuan yang saat ini berada di hadapan mereka berdua berniat yang tidak-tidak, ingin maling misalnya.
"Hmmmm begini Pak. Saya kesini mau cari salah satu pekerjaan di rumah ini," jawab Maura.
"Kalau boleh tau namanya siapa ya neng?" tanya satpam yang lainnya.
"Namanya Erland. Dia ada disini kan Pak?" ucap Maura. Dimana ucapan dari Maura tadi membuat kedua satpam tersebut mengerutkan keningnya. Sejak kapan di rumah yang tengah mereka jaga memiliki pekerja yang namanya sama dengan salah satu tuan muda di rumah ini?
"Maaf boleh tau nama lengkapnya siapa?" tanya satpam itu untuk memastikan apakah perempuan ini tidak salah rumah. Siapa tau kan ada Erland lain yang memang seorang pekerja tapi bukan di rumah itu.
__ADS_1
"Namanya hmmmm. Erland Drake. Ya, nama orang yang akan saya temui itu Erland Drake."
Kedua satpam itu sangat terkejut saat mendengar nama lengkap orang yang dimaksud oleh perempuan tersebut. Nama yang sangat-sangat sama dengan tuan muda mereka. Jadi tidak mungkin kan kalau perempuan itu salah alamat? Tapi mereka juga cukup heran sejak kapan tuan muda mereka menjadi salah satu pekerja di rumah keluarganya sendiri? Sangat-sangat membingungkan.