
Erland mengerjabkan matanya, tersadar dari tatapan objek yang membuat dirinya hampir gila itu hanya karena melihat hal yang harusnya tak ia lihat. Sadarnya dia dari apa yang telah ia lihat, ia langsung memutar tubuhnya, membelakangi sang istri sembari mengucapkan, "Maaf."
Saat kata itu ia ucapkan, Erland langsung keluar kembali dari dalam kamarnya. Ia takut ketika dirinya terus berada di dalam kamar itu, akan kehilangan akal sehatnya hingga membuat kejadian beberapa waktu yang lalu terulang kembali. Dimana saat itu Maura menangis karena dirinya yang sudah kurang ajar menyentuh Maura.
Sedangkan Maura yang tadi terlihat sangat malu dengan semburat merah muda di kedua pipinya, dirinya kini di buat bingung dengan respon yang diberikan oleh sang suami. Apalagi saat ia mendengar kata maaf keluar dari bibir Erland yang semakin memperdalam kerutan di keningnya. Kenapa suaminya itu malah meminta maaf kepadanya? Perasaan dia tidak memiliki salah apapun? Dan kenapa respon dia seperti menghindar? Bukan malah mendekati Maura. Padahal Maura sudah benar-benar siap jika tadi Erland langsung menerkamnya. Dimana hal tersebut membuat Maura kini bingung. Ia tak tau harus bagaimana sekarang? Apa dia harus menunggu Erland untuk masuk kembali kedalam kamar ini? Tapi melihat respon Erland tadi, sepertinya laki-laki itu malam ini akan menghindari dirinya. Dan mungkin memilih untuk tidur di kamar sebelah atau tidur di atas sofa ruang tamu.
Maura menggaruk tengkuknya yang tak gatal.
"Apa Erland tidak suka dengan penampilanku ini ya?" beo Maura yang terus berpikir apa yang membuat Erland menghindari dirinya.
"Apa aku harus mengganti pakaianku ini?" sambungnya lagi dengan melihat lingerie yang melekat di tubuhnya.
"Sepertinya memang aku harus mengganti pakaian ini karena aku rasa Erland tidak akan menyukainya," putus Maura. Namun saat dirinya baru saja ingin turun dari atas ranjang, suara dering ponselnya membuat ia urung melakukan niatannya tadi. Dirinya memilih untuk meraih ponselnya terlebih dahulu.
Kerutan di keningnya terlihat saat ia tau siapa yang saat ini tengah menelpon dirinya, siapa lagi jika bukan Erland. Aneh memang saat mereka berada di satu atap yang sama dan bisa saja mereka saling bercakap tanpa perantara tapi suaminya itu saat ini malah menghubungi dirinya. Bahkan Maura kini berpikir, sebegitu jelek kah penampilannya saat ini sampai Erland saja tak ingin memandangnya.
Maura menggelengkan kepalanya guna menangkis pikiran negatifnya tersebut. Lalu kemudian salah satu jarinya kini bergerak, menggulir ikon telepon untuk mengangkat telepon dari Erland. Saat sambungan telepon tersebut terhubung tak ada yang angkat suara dari dua orang tersebut hingga cukup lama sebelum helaan nafas dari sebrang terdengar di telinga Maura.
📞 : "Ra, bisa kah aku minta tolong kepadamu," ucap Erland memecah keheningan yang terjadi.
"Mi---minta tolong untuk?" Hening sesaat sebelum akhirnya Erland kembali bersuara.
📞 : "Aku minta tolong sama kamu untuk mengganti pakaian yang saat ini tengah kamu kenakan. Dan maaf sebelumnya karena aku sempat melihat tubuhmu. Aku benar-benar meminta maaf Ra dan please jangan marah sama aku. A---aku kelewat batas tadi, maaf." Suara penuh penyesalan itu cukup membuat hati kecil Maura tercubit. Sakit sekali untuk mendengar Erland yang berstatus sebagai suaminya itu yang malah meminta maaf kepadanya karena sudah melihat tubuhnya yang hampir telanjang ini. Padahal jika kata sah sudah di ucapkan para saksi maka semua yang ada di tubuh Maura milik Erland sepenuhnya.
Dan ucapan dari Erland tadi menyadarkan Maura jika sang suami bukan tidak suka dengan penampilannya saat ini tapi karena laki-laki itu tak ingin membuat dirinya marah. Astaga, sumpah demi apapun hati Maura benar-benar sangat sakit sekarang. Ia juga merasa bodoh atas apa yang dulu ia lakukan. Andaikan, andaikan dulu ia tak menolak permintaan dari Erland, laki-laki itu pasti tidak akan memohon untuk meminta maaf atas apa yang sebenarnya bukan merupakan kesalahannya. Satu tetes air mata kini jatuh membasahi pipi Maura. Air mata yang penuh akan penyesalan terhadap perlakuan dirinya sendiri.
Sedangkan Erland yang tengah terduduk gusar di ruang tamu karena tak kunjung mendapat balasan dari Maura padahal telepon mereka masih terhubung satu sama lain. Dan ia berpikir apakah Maura marah atas apa yang terjadi barusan? Sumpah, Erland tidak sengaja melihatnya tadi. Ia menatap Maura cukup lama tadi karena ia sempat terkejut. Tapi tak urung rasa ingin menyentuh Maura tadi juga turut ia rasakan, ia laki-laki normal dimana saat melihat pemandangan indah, ingin sekali ia nikmati pemandangan itu. Apalagi Maura adalah istrinya. Tapi berhubung ia sadar jika Maura masih enggan dengannya, ia memilih untuk menahan gejolaknya itu agar tak semakin dalam menyakiti hati Maura jika dirinya tetap nekat melakukannya.
📞 : "Ra. Aku benar-benar minta maaf. Tolong jangan marah denganku." Suara Erland kembali terdengar membuat desiran dihati Maura semakin menjadi. Hingga tanpa mengatakan sepatah katapun perempuan itu langsung mematikan sambungan telepon tersebut secara sepihak dan dengan menaruh ponselnya secara sembarangan, Maura berlari keluar dari dalam kamarnya. Mencari keberadaan Erland adalah tujuan utamanya.
__ADS_1
Matanya mengedar, menatap ke setiap sudut di rumah tersebut hingga mata indah itu yang kini tengah berkaca-kaca menangkap seseorang yang mampu menyentil hatinya untuk tersadar atas perbuatannya yang cukup keterlaluan itu kini tengah terduduk dengan kepala yang tertunduk. Tak pikir panjang lagi, Maura berlari menuju ke arah Erland, menjatuhkan tubuhnya tepat disamping Erland kemudian tangannya memeluk tubuh yang saat ini tengah menegang itu dari samping.
"Maaf Er, maaf." Hanya kalimat itu yang bisa Maura keluarkan dari bibir cherrynya. Membuat Erland yang tengah berada di dekapannya dengan keterkejutannya semakin dibuat bingung dengan kata maaf yang baru saja istrinya itu ucapkan.
Dan dengan canggung Erland menggerakkan tangannya, mengusap lembut surai hitam sepunggung milik Maura.
"Ka---kamu kenapa meminta maaf kepadaku? Kamu tidak memiliki salah apapun ke aku, Maura. Jadi tidak perlu meminta maaf. Aku disini yang salah karena hmmm sudah lancang melihat tubuhmu," ucap Erland dengan menundukkan kepalanya. Tapi hanya beberapa saat saja karena setelah ia sadar jika sang istri belum mengganti pakaiannya, ia mengalihkan pandangannya kemanapun yang terpenting tidak melihat kearah Maura yang bisa memancing napsunya. Walaupun sebenarnya ia sudah terpancing dengan Maura yang memeluknya seperti saat ini karena lengannya yang tak tertutup kain itu bersentuhan langsung dengan salah satu aset berharga Maura. Walaupun ada sebuah puring yang menghalangi dua kulit itu saling bersentuhan langsung. Tapi tetap saja Erland bisa merasakan sangat jelas aset berharga Maura.
Maura yang tadi menenggelamkan wajahnya di dada bidang Erland, kepala itu ia tengadahkan agar ia bisa melihat wajah tampan sang suami yang ternyata tengah mengindar untuk menatap dirinya yang semakin membuat Maura merasa sakit.
Maura tidak bisa diam saja seperti ini. Ia harus bergerak agar Erland tau jika seseorang yang berada di sampingnya saat ini milik laki-laki itu sepenuhnya. Dan karena tekatnya itu, Maura melepaskan pelukannya dari tubuh Erland dengan punggung tangannya menghapus kasar air mata yang tadi sempat keluar itu, harusnya ia tak menangisi penyesalan yang sudah terjadi melainkan ia harus segara menebus penyesalan itu.
Saat pelukan Maura sudah tak bisa lagi ia rasakan, Erland kini menghela nafas lega. Namun sesaat saja sebelum tubuh Erland kembali menegang saat Maura justru berpindah tempat duduk yang tadinya berada di sampingnya kini berpindah menjadi duduk di pangkuannya. Ya Tuhan, cobaan apa lagi yang harus Erland hadapi saat ini. Laki-laki itu pun juga terus meramalkan doa agar dirinya tak lepas kontrol lagi untuk kesekian kaliannya.
Tapi berhubung Maura tak mendengar doa yang terus suaminya itu lontarkan, tangan Maura kini bergerak, memegang rahang tegas dari sang suami, menuntun kepala itu agar menatapnya kembali. Ia tak peduli lagi jika apa yang ia lakukan saat ini akan membuat Erland ilfill atau menganggap dirinya wanita nakal. Ia tak peduli karena apa yang ia lakukan dengan tujuan memancing Erland adalah salah satu cara ia menebus penyesalan yang menerpa hatinya.
Erland yang di tuntun untuk melihat Maura, dengan cepat ia menolehkan kepalanya kembali saat beberapa detik tatapan matanya bertemu dengan mata indah Maura. Dimana hal tersebut membuat Maura menghela nafas. Ia tak ingin lagi memaksa Erland untuk melihatnya, biarkan saja. Toh saat laki-laki itu nanti terpancing, ia akan memandangnya lagi. Dan Maura kini memilih untuk merebahkan tubuhnya, bersandar di tubuh Erland, menyebunyikan wajahnya di ceruk leher sang suami, menghirup aroma yang sangat-sangat memabukkan itu.
Mata yang tadinya tertutup untuk meredam gejolak yang tengah ia rasakan, mata itu terbuka lebar saat merasakan ada tangan yang menyentuh sesuatu yang sangat sensitif untuknya.
"Maura. Apa yang kamu lakukan?" ucap Erland dengan suara yang sudah mulai serak sembari tangannya kini bergerak untuk mencekal tangan Maura agar tangan itu menjauh dari area sensitifnya tersebut.
Maura yang dicekal oleh Erland pun ia menegakkan tubuhnya kembali, menatap lekat wajah sang suami yang tengah memerah itu. Ia hampir saja tertawa saat melihat Erland menutup matanya kala dirinya menegakkan tubuhnya tadi. Tapi sebisa mungkin Maura menahan tawanya tersebut, bisa-bisa jika ia kelepasan tertawa, rencananya itu akan gagal.
Tangan kanan Maura yang masih bebas bergerak kini terulur, membelai wajah Erland mulai dari mata, hidung dan berakhir tangan itu terhenti di bibir milik Erland. Dengan gerakan lembut ia mengelus bibir tersebut sebelum tangannya itu ia singkirkan dan berpindah ke pipi Erland bertepatan dengan itu...
Cup!
Satu kecupan lembut Maura daratan di bibir Erland yang membuat sang pemilik kembali terkejut dibuatnya.
__ADS_1
Cukup lama kedua bibir itu saling bertemu, sebelum Maura menjauhkan sedikit bibirnya dan dengan menatap kelopak mata yang masih tertutup itu, Maura berucap, "Lakukan apa yang kamu mau, karena aku milikmu sepenuhnya."
Ucapan itu membuat Erland membuka matanya dengan otak yang memproses apa yang baru saja istrinya kata. Belum juga ia menemukan maksud dari ucapan Maura, sang istri kembali mengecup bibirnya. Kali ini bukan hanya kecupan saja yang ia berikan melainkan sebuah ciuman. Ciuman yang membuat Erland tersadar dan paham atas apa yang Maura tadi ucapkan. Dimana hal tersebut membuat ujung bibir Erland tertarik keatas. Dan ia membalas ciuman Maura.
Cukup lama mereka melakukan hal tersebut hingga membuat mereka menuntut lebih dari ciuman yang telah mereka lakukan. Dengan napsu yang berhasil dibangkitkan, Erland melepaskan ciuman itu dan dengan menatap lekat mata sayu sang istri tak lupa jarinya kini bergerak untuk mengusap bibir Maura yang semakin merah.
"Kamu yakin atas apa yang kamu katakan tadi?" tanya Erland yang tak ingin gegabah lagi seperti kemarin.
Anggukan kecil Maura berikan untuk menimpali ucapan dari sang suami.
"Kamu tidak akan menyesal jika aku merenggut mahkotamu nanti?"
Maura yang sama seperti Erland yang sudah kehilangan otak warasnya itu, ia merangkul manja tubuh Erland, menghirup aroma di leher Erland sebelum ia mengigitnya hingga meninggalkan bekas kebiruan disana sebelum ia berucap, "Cerewet sekali sih suamiku ini. Jangan banyak tanya lagi, ayo lanjutkan permainan ini. Aku tidak akan pernah menyesal atas apa yang sudah aku katakan ataupun atas apa yang akan kita lakukan. Kamu berhak atas diriku. Lakukan apa maumu. Aku akan menyerahkan semuanya untukmu termasuk mahkotaku."
Erland yang tak melihat keraguan di manik mata Maura saat istrinya itu kembali menegakkan tubuhnya dan memandang dirinya, senyum bahagia tak bisa lagi Erland sembunyikan. Dan dengan memberikan kecupan lembut di kening Maura, ia berkata, "Terimakasih. Aku berjanji akan melakukannya dengan lembut."
Maura hanya mengangguk saja. Ia tak peduli mau Erland melakukannya secara lembut atau kasar. Ia benar-benar tak peduli.
Erland yang melihat anggukkan itu, ia mengusap lembut surai Maura sebelum dirinya mengangkat tubuh sang istri menuju ke kamar mereka.
Merendahkan tubuh istrinya itu diatas ranjang dengan cukup pelan, mengukung tubuh Maura dengan tatapan yang tak bisa ia alihkan dari wajah cantik Maura. Sebelum ia kembali mencium bibir Maura.
Ciuman keduanya semakin menjadi bahkan tak terasa keduanya sekarang sudah tak memakai apapun. Bahkan tangan Erland sedari tadi tak bisa diam, terus bergerak mencari apapun yang bisa ia sentuh.
Hingga karena sudah tak tahan lagi, Erland menatap wajah Maura sembari berkata, "Bolehkah aku memulainya?"
Maura yang ditanya pun dengan tersipu malu ia menganggukkan kepalanya, mensetujui permintaan Erland.
Erland yang melihat anggukkan kepalanya itu, ia tersenyum dan tak menunggu waktu lama lagi, ia mulai aksinya.
__ADS_1
"Mungkin ini akan sakit. Tapi aku mohon tahan sebentar. Jika kamu tidak bisa menahan, lampiaskan rasa sakit itu dengan mencakar atau mengigitku."
Perkataan itu diakhiri dengan Erland yang mengecup singkat bibir Maura sebelum kepalanya ia posisi kan di ceruk leher Maura sehingga yang berhadapan dengan bibir sang istri saat ini bahunya yang siap dijadikan sebagai pelampiasan Maura nantinya. Dimana dengan ia memberikan kecupan di pipi Maura yang bisa ia jangkau, ia perlahan memulai aksinya. Ia memejamkan matanya kala dirinya berhasil meraih apa yang selama ini ia nanti. Bertepatan dengan itu setetes air mata pun keluar dari mata indah Maura. Bukan, air mata itu bukan air mata penyesalan melainkan air mata bahagia karena ia berhasil menjaga mahkotanya untuk sang suami dan berhasil memberikan hak yang selama ini Erland pinta.