PASUTRI (Troublemaker)

PASUTRI (Troublemaker)
Bab 99


__ADS_3

"Gimana? Sudah selesai masalah kalian?" tanya Edrea kala Maura telah mendekatinya kembali. Pertanyaan dari Edrea membuat Maura menundukkan kepalanya dengan malu-malu namun tak urung ia menganggukkan kepalanya sebagai jawaban dari pertanyaan Edrea tadi.


"Syukurlah kalau memang masalah kalian sudah selesai. Rea harap untuk kedepannya jangan ada masalah lagi ya," tutur Edrea yang lagi-lagi diangguki oleh Maura. Dimana hal tersebut membuat Edrea tersenyum.


"Oh ya kalau gitu aku pamit dulu ya Re."


"Lho pamit? Kakak mau pulang?" Lagi dan lagi Maura menganggukkan kepalanya.


"Pulang kemana? Ke rumah Kakak sama bang Erland atau---"


"Kerumahku sama Erland."


"Kakak tidak takut dirumah sendirian? Kalau Kakak takut biar Rea temenin Kakak. Ehhhh tapi Rea harus izin dulu sama suami Rea," ujar Edrea yang tak tega jika melihat sang Kakak ipar harus berada di rumah sendirian tanpa teman. Dan ia sangat yakin jika Maura akan kesepian nantinya. Belum lagi, pikiran negatif Edrea kini berjalan, ia takut jika dimalam hari ada seorang penculik atau perampok yang berakhir akan mencelakai Maura. Edrea benar-benar tak ingin hal itu terjadi. Tapi dirinya juga harus meminta izin ke sang suami, mengingat jika dirinya tidak lagi melajang dan juga sifat posesif Leon yang sering membuat Edrea sendiri kewalahan.


Maura yang mendapat tawaran dari adik iparnya, dengan cepat ia menggelengkan kepalanya.


"Tidak. Tidak perlu Rea. Aku tidak kenapa-napa kok kalau hanya dirumah sendiri. Lagian aku yakin perumahan yang tengah aku tinggalin saat ini sangat aman. Jadi kamu tidak perlu repot-repot untuk menemaniku. Yakinlah aku tidak akan kenapa-napa berada di rumah sendiri untuk beberapa hari ini sampai Erland pulang," tolak Maura.


"Tapi Kak---"


"Sudah tidak apa-apa. Lagian kamu kan juga punya di twins. Tidak mungkin kan kalau kamu ninggalin mereka. Dan aku juga tidak akan tega menyuruh twins untuk tinggal di rumahku yang cukup sederhana itu. Jadi please ya, kamu tidak perlu menemaniku," pinta Maura yang tak ingin merepotkan orang lain.


Edrea tampak menghela nafas panjang.


"Ya sudah kalau begitu Edrea ngikut apa yang Kak Maura pinta. Tapi kalau ada apa-apa sama Kak Maura sebelum bang Erland datang. Langsung telepon aku ya. Aku akan datang," kata Edrea yang membuat Maura tersenyum kemudian ia menganggukkan kepalanya.


"Kakak pergi sekarang ya. Salam untuk twins kalau mereka sudah bangun nanti," ujar Edrea. Ia tadi sempat terkejut saat melihat dua ponakannya itu sudah tertidur pulas padahal hanya ia tinggal beberapa menit saja. Tapi setelah melihat jam yang menunjukkan pukul setengah dua belas siang, maka Maura tak perlu heran lagi karena di jam-jam itu waktunya anak-anak untuk tidur siang.


Edrea menganggukkan kepalanya sembari berkata, "Hati-hati ya Kak. Maaf gak bisa nganterin sampai depan."

__ADS_1


"Tidak apa-apa. Aku pamit. Bye Rea." Maura melambaikan tangannya dengan berjalan menjauh dari Edrea berada. Dimana lambaian tangan itu dibalas oleh Maura sembari perempuan itu berkata,"Bye Kak."


Edrea melihat kepergian Maura yang semakin lama semakin menjauh dari pandangannya itu hingga tubuh sang Kakak ipar sudah tak terlihat lagi. Dimana saat itu pula helaan nafas kembali terdengar, "Drama pengantin baru ya gini nih. Ada-ada saja yang bikin salah paham. Huh."


Edrea menggeleng-gelengkan kepalanya, cerita Maura dan Erland ini mengingatkan dia tentang masa-masa dirinya menyandang status baru sebagai istri Leon. Tapi kasus dirinya tak se-lebay kisah Erland. Kesalahpahaman mereka hanya dua kali Edrea alami dan mereka berdua bisa menyelesaikan dengan kepala dingin tanpa ada aksi menghilang seperti kisah cinta sang Kakak. Astaga mengingatnya saja Edrea bingung dengan dirinya sendiri dulu. Dan daripada ia semakin mengingat hal itu lebih baik dirinya masuk kedalam kamar lagi untuk mengawasi sang anak, agar tak terjatuh dari atas ranjang.


Sedangkan Maura, ia telah berada di ruang tamu dimana disana ia bisa melihat ada keempat orangtua yang telah berkumpul di ruangan tersebut. Maura mendekati keempat orangtua tersebut.


"Maaf mengganggu Ma, Pa, Dad, Mom. Rea mau pamit pulang," ucap Edrea yang membuat keempat orang yang baru saja menolehkan kepalanya kearah dirinya terkejut dengan perkataan perempuan itu.


"Ehhh mau pulang? Padahal Papa masih mau berbincang dengan tuan Aiden dan nyonya Della lho," ujar Papa Louis yang sebenarnya ingin membuat Maura lebih akrab lagi dengan mertuanya.


"Papa kalau mau disini tidak apa-apa. Maura bisa pulang sendiri kok," ucap Maura.


"Tidak-tidak. Mommy tidak mengizinkan kamu pulang sendiri. Biar sopir Mommy yang mengantar ya," tutur Mommy Della.


"Mommy tidak mau mendengar penolakan darimu. Kamu pulangnya ke rumah kedua orangtuamu kan?" tanya Mommy Della.


"Ahhhh tidak Mom. Maura pulang ke rumah Maura sama Erland saja. Kalau Maura pergi ke rumah orangtua Maura, rumah itu tidak ada yang merawatnya nanti," jawab Maura.


"Kamu yakin Ra?" tanya sang Mama untuk memastikan.


"Iya Ma. Maura sangat yakin."


"Ya sudah kalau begitu. Biar sopir Mommy yang mengantar kamu sampai di rumahmu."


"Terimakasih Mom."


"Tidak perlu berterimakasih dan ayo Mommy antar kamu sampai depan." Mommy Della menggandeng tangan menantunya itu yang membuat Maura sedikit kikuk. Namun tak urung ia ikut melangkah kakinya. Sampai akhirnya mereka berdua lebih tepatnya berlima telah sampai di depan rumah tersebut.

__ADS_1


Dimana setelah mereka sampai, Mommy Della langsung memanggil sopirnya.


"Pak Rudi, sini." Sopir laki-laki tersebut berjalan mendekati sang atasan.


"Ya nyonya?"


"Tolong antar kan men---ahhhh istri Erland kerumahnya ya," ucap Mommy Della yang hampir saja keceplosan.


Laki-laki yang sedikit berumur itu mengalihkan pandangannya kearah Maura, kemudian ia sedikit menundukkan kepalanya sebagai rasa hormat dia kepada nona muda di rumah tuannya. Maura yang tak paham hal itu pun ia hanya membalasnya dengan senyum tipis saja.


Dimana balasan dari Maura langsung membuat sopir itu menatap kembali kearah sang Nyonya.


"Siap nyonya. Saya akan mengantar nona Maura sampai ketempat tujuan dengan selamat," balas sopir tersebut yang membuat keempat orang disana mendelik dengan degup jantung yang begitu cepat, takut jika semuanya akan terbongkar hanya karena ulah dari si sopir tadi.


Sedangkan Maura, ia masih tersenyum sebelum dirinya mengoreksi ucapan dari sopir tersebut.


"Jangan panggil saya nona, Pak. Panggil Maura saja," ucap Maura tanpa curiga sedikitpun.


"Ba---baik no---hmmm Maura." Maura tersenyum.


"Kalau begitu saya siapkan mobilnya terlebih dahulu. Saya permisi Tuan, nyonya," izin laki-laki berumur tersebut dan setelahnya ia bergegas kabur menuju ke salah satu mobil yang sebelumnya sudah keluar dari dalam garasi. Dan tak berselang lama setelahnya, si sopir itu telah kembali dengan mengendarai mobil yang akan ia gunakan untuk mengatar Maura.


Maura yang melihat hal tersebut pun ia memutar tubuhnya, menatap kearah keempat orangtua tersebut dan sembari mencium punggung tangan keempat orangtua tadi Maura berkata, "Maura pamit dulu. Assalamualaikum."


"Waalaikumsalam. Hati-hati ya nak saat dirumah sendiri nanti. Dan Pak Rudi, hati-hati bawa mobilnya. Jangan sampai bapak buat Maura lecet sedikitpun," pinta Daddy Aiden.


"Siap tuan. Maura silahkan masuk," ucap pak Rudi dengan membuka pintu mobil tersebut tepat di kursi penumpang. Dimana hal tersebut membuat Maura tersenyum. Sudah lama ia tak di perlakukan layaknya seorang putri seperti ini setelah berkeluarga. Namun kali ini ada sedikit rasa risih di diri Maura kala mendapatkan perlakuan dari pak Rudi tadi. Tapi walaupun begitu, Maura bergegas masuk kedalam mobil.


Dimana setelah mobil itu berjalan, Maura sempat melambaikan tangannya yang tentunya dibalas oleh keempat orangtua itu.

__ADS_1


__ADS_2