
Deg!
Detak jantung Maura seakan berhenti saat itu juga. Ia ingat betul Erland tadi mengenakan pakaian sedan hitam hanya sepatu saja yang berwarna putih. Jadi dari sini lah otak Maura yang sudah tidak bisa berpikir positif semakin menjadi. Ia sudah sangat yakin jika orang yang menjemput si Teresa itu adalah suaminya. Hingga karena keyakinannya tersebut, kedua tangan Maura terkepal erat. Tatapan matanya pun semakin menajam, sampai membuat si pegawai yang mendapat tatapan itu, merinding seketika.
"Katakan, dimana rumah si Teresa-Teresa itu," ucap Maura.
"Ma---maaf mbak, saya tidak bisa memberitahu informasi mengenai karyawan di toko ini. Karena itu termasuk privasi setiap karyawan dan saya juga tidak berhak membocorkannya," jawab si pegawai toko dengan takut-takut.
"Hanya alamat rumah saja, kamu bilang itu privasi? Ayolah katakan sekarang juga. Ada hal penting yang harus saya bicarakan dengan dia! Jadi katakan cepat!" ucap Maura mulai dengan nada suara yang meninggi. Dimana hal tersebut membuat beberapa orang yang berkunjung di toko tersebut atau karyawan lain di toko itu langsung mengalihkan perhatian mereka ke sumber keributan berada.
"Maaf sekali lagi mbak. Saya tidak bisa mengatakannya," kata si pegawai toko dengan menundukkan kepalanya, tak berani menatap Maura yang seakan-akan ingin memakannya hidup-hidup.
"Ck, apa susahnya sih tinggal mengatakan alamat dia saja. Ohhh apakah saya harus menyogok kamu dengan uang hah? Katakan kamu mau berapa?" ucap Maura dengan sombongnya. Ia melupakan siapa dirinya saat ini yang tak bisa memainkan yang namanya uang seperti dulu kala.
"Maaf saya tidak bisa," tolak penjaga toko tersebut yang membuat Maura berdecak frustasi. Namun untuk mendapatkan informasi tentang Teresa, ia mengeluarkan dompetnya, mengeluarkan uang senilai 500 ribu dan menaruhnya di hadapan pegawai toko tersebut.
Dimana hal itu membuat si pegawai yang tadi menundukkan kepalanya, kini kepala itu ia angkat dengan tatapan yang menatap antara Maura dan uang yang ada di hadapannya itu secara bergantian.
"Lima ratus cukup kan? Jadi tunggu apa lagi, katakan sekarang." Si pegawai toko pun ia menggelengkan kepalanya sembari tangannya memegang uang yang di berikan oleh Maura lalu mendorong uang tersebut sampai dihadapan Maura.
__ADS_1
"Maaf tidak bisa," ucap pegawai itu yang memberanikan dirinya untuk melawan Maura. Karena kalau tidak, ia merasa jika harga dirinya akan di injak-injak oleh perempuan dihadapannya.
Tapi bukannya langsung menyerah, Maura justru berucap, "Ohhh lima ratus kurang ya. Oke kalau gitu saya tambah."
Maura kembali mengambil uang yang ada di dompetnya tersebut. Kemudian ia menaruh uang itu diatas uang yang lainnya sebelum dia dorong kehadapan pegawai itu lagi.
"1 juta buat kamu. Jika kamu kasih tau informasi alamat rumah Teresa!"
Pegawai itu kembali menggelengkan kepalanya. Dan seperti yang sebelumnya ia lakukan, dia mendorong balik uang pemberian Maura tadi tanpa mengucapkan sepatah kata pun karena ia yakin Maura tau maksud dari apa yang ia lakukan tadi.
Maura yang mendapat penolakan dari si pegawai itu untuk kedua kalinya pun ia menggeram kesal. Namun lagi dan lagi Maura tidak mau menyerah, ia kembali merogoh uang yang ada di dompetnya. Kali ini ia mengeluarkan semua uang yang masih tersisa disana.
"Sudah saya katakan. Saya tidak akan membocorkan informasi mengenai karyawan di toko ini karena itu bersifat privasi. Mau kamu menyogok saya dengan uang ratusan juta atau bahkan milyaran sekalipun saya tidak akan memberitahu informasi yang bersifat privasi ke kamu. Jadi hentikan, sebelum saya panggil satpam untuk mengusir kamu dari sini," ujar si pegawai yang sepertinya sudah sangat lelah menghadapi Maura.
Maura mendelik mendengar ucapan dari perempuan dihadapannya, dan saat dirinya ingin menimpali ucapan dari pegawai itu, bibirnya kembali terkatup kala salah satu pegawai yang lain datang menghampiri mereka sembari berkata, "Maaf, ini ada masalah apa ya?"
"Ini lho pak, dia memaksa saya untuk memberitahu alamat Teresa dimana. Padahal kan aturan para pekerja mereka tidak boleh membocorkan informasi yang bersifat privasi ke orang lain. Jadi saya yang memegang teguh kejujuran dan tidak akan melanggar aturan, saya tidak memberitahukan alamat Teresa ke dia. Tapi dianya masih memaksa saya. Bahkan sampai menyuap saya dengan sejumlah uang. Dan ini buktinya," jawab si pegawai toko tersebut dengan menunjuk tumpukan uang yang berada di hadapannya saat ini karena dirinya tadi belum sempat mendorong kearah Maura berada.
"Hanya alamat rumah saja, itu bukan termasuk privasi. Toh sebenarnya kamu juga mau kan dengan uang yang saya berikan ini. Kamu hanya berlagak terus menolaknya agar saya terus menambah jumlah nominal yang kamu inginkan. Dan saat itu terjadi kamu juga akan mengambil uang yang saya berikan. Jadi jangan munafik jadi orang tuh!" ujar Maura tak mau kalah.
__ADS_1
Si pegawai laki-laki itu tampak memejamkan matanya sesaat, jika ia tak segara menengahi pertengkaran dari kedua perempuan di hadapannya saat ini, pasti akan terjadi perang dunia ke 3 setelah ini.
"Hentikan. Stop! Saya selaku kepala toko disini tidak ingin terjadi keributan disini. Jadi saya mohon maaf yang sebesar-besarnya kepada mbak, kalau memang peraturan di toko ini kepada para pegawainya harus menjaga privasi satu sama lain termasuk alamat rumah mereka. Jadi daripada mbak membuat keributan disini lebih baik mbaknya pergi saja. Karena saya juga tidak mau karena keributan kalian berdua membuat pengunjung lain merasa terganggu dan berakhir mereka akan pergi dari sini. Jadi dengan sangat saya memohon kepada mbak untuk pergi dari sini karena walaupun mbak memaksa kita semua yang ada disini untuk mengatakan alamat Teresa, kita akan tetap bungkam yang berakhir mbak hanya membuang-buang waktu berharga mbak. Jadi silahkan keluar, pintu keluarnya ada disebelah kanan mbak," ucap pegawai laki-laki tersebut mengusir secara halus kepada Maura.
Maura semakin mengepalkan tangannya, mulutnya sudah sangat gatal ingin membalas ucapan dari si pegawai laki-laki itu yang dengan beraninya mengusir dirinya. Tapi lagi-lagi ia kalah cepat dengan si pegawai perempuan yang kini sudah berteriak sangat kencang untuk memanggil satpam yang menjaga di depan toko buku itu.
"Pak satpam!" Maura mendelik mendengar teriakkan itu. Ia tak bodoh sampai tidak mengetahui situasi yang akan terjadi selanjutnya.
Tak berselang lama salah satu satpam masuk kedalam toko itu.
"Iya, ada apa?" tanyanya.
"Pak, usir perempuan ini. Dia---" Belum sempat si pegawai perempuan menyelesaikan ucapannya, Maura lebih dulu memutus ucapan tersebut.
"Tidak perlu! Saya bisa keluar sendiri dari sini," ujar Maura, kemudian dengan kasar ia meraih uangnya kembali lalu memasukkan uang tersebut secara asal kedalam tas kecil yang tengah ia pakai.
Dan setelahnya ia menatap kedua pegawai tersebut sembari berkata, "Saya sumpahin toko ini tidak akan laku mulai besok!"
Setelah mengucapkan sumpah serapahnya, Maura dengan perasaan sebal, kesal serta dongkol, ia keluar dari dalam toko buku tersebut. Meninggalkan orang-orang yang sedari tadi menatapnya yang saat ini tengah menggelengkan kepalanya. Sedangkan kedua pegawai tadi tampak menghela nafas panjang sembari mengelus dadanya untuk bersabar, sekaligus lega karena perempuan yang membuat keributan di tempatnya bekerja sudah pergi dari hadapan mereka berdua.
__ADS_1