
Maura terus merekam apa yang tengah Erland praktekkan di depannya sana walaupun sesekali matanya yang tak biasa bangun pagi-pagi sekali itu menutup.
Maura menepuk cukup kencang pipinya jika matanya itu kembali tertutup dengan menggerutu didalam hatinya, "Ini kayaknya setan di tubuhku sangat banyak sampai-sampai cuma belajar tata cara sholat saja kayak di hipnotis, disuruh tidur. Ck, emang benar-benar setan. Aku mau tobat lho ini. Jangan ganggu dulu lah."
Maura terus ngedumel sembari marah-marah tak jelas di dalam hatinya. Tapi dumelan dan amarahnya itu tak mempan sama sekali untuk menghentikan aksi si setan itu. Hingga tangannya yang tadi ia gunakan untuk menepuk pipinya, kini beralih menjadi menopang dagunya yang otomatis membuat mata ngantuknya itu perlahan terpejam sampai berakhir...
Dugg!
"Awsss," ringis Maura kala kepalanya mencium lantai keramik yang ia duduki saat ini.
Erland yang ingin menjelaskan ke tahap selanjutnya pun, ia menghentikan niatnya itu dan menoleh kearah Maura yang sedari tadi duduk sedikit jauh di belakangnya. Ia bisa melihat Maura saat ini tengah mengerucutkan bibirnya dengan salah satu tangannya mengelus keningnya itu.
Erland yang ingin memastikan keadaan Maura karena jujur saja ia tadi juga sempat terkejut mendengar suara seperti benda jatuh yang ia pikirkan ponsel Maura. Tapi setelah ia melihat istrinya tadi, ia yakin jika bunyi itu tidak di timbulkan dari ponsel Maura melainkan dari perempuan itu sendiri.
Erland berjongkok di depan tubuh Maura sembari berkata, "Kamu kenapa? Aku tadi dengar seperti ada yang jatuh. Apa kamu jatuh?"
Maura menatap Erland, terlihat jelas jika perempuan itu ingin menangis saat ini. Sumpah demi apapun, benturan tadi sangat-sangat sakit sekali.
Erland yang melihat mata Maura tengah berkaca-kaca dengan cepat ia menarik tubuh istrinya tersebut kedalam pelukannya.
"Nangis aja kalau emang sakit," ucap Erland dengan memberikan usapan lembut di kepala Maura.
__ADS_1
Maura yang bibirnya tadi sudah maju 10 cm ke depan, menahan tangisannya kini akhirnya tangisan itu pecah juga.
"Huwaaaa sakit banget, Er. Hiks," adu Maura.
Erland melepaskan pelukannya sesaat, melihat setiap inci wajah cantik istrinya itu untuk melihat dimana luka yang Maura dapatkan dari benturan keras tadi. Erland terkejut saat melihat kening Maura yang tampak memar. Tangan Erland yang berada di punggung Maura kini bergerak, mengusap lembut kening Maura tersebut sebelum ia memajukan wajahnya dan...
Cupp!
Satu kecupan ia berikan di kening yang terluka itu. Dimana hal tersebut membuat Maura membeku di tempat.
"Dah, sakitnya nanti akan hilang," ujar Erland dengan mengusap air mata Maura.
Maura mengerjabkan matanya yang sudah tak menangis itu. Sebelum diam-diam ia tersenyum dibalik pelukan Erland tentunya dengan suara hati yang kini tengah berteriak, "Ya Tuhan, apakan ini yang dinamakan berakit-rakit ke hulu, berenang-renang kemudian. Bersakit-sakit dahulu, dapat jackpot kemudian. Huwaaaaa gak, gak bisa. Aku tuh gak bisa di perlakukan seperti ini. Jantungku? Jantungku mana? Kenapa rasanya sudah merosot kebawah? Arkhhhh Erland sialan! Bisa-bisanya ya kamu bikin baper anak orang! Kalau sampai gak tanggungjawab, aku sumpahin kamu jadi suamiku."
Walaupun dalam keadaan bahagia pun tetap saja Maura mengucapakan sebuah sumpah serapah bahkan umpatan kepada Erland. Tapi tunggu sepertinya ia melupakan sesuatu.
Hingga beberapa detik setelahnya, tangan Maura refleks menepuk keningnya sendiri sangat kencang karena ia baru ingat jika Erland itu memang suaminya, jadi tanpa ia sumpahi pun Erland sumpah itu sudah menjadi kenyataan. Sampai lagi-lagi dia meringis kesakitan.
"Awssss."
Erland yang sedari tadi berniat untuk menenangkan Maura pun ia kini melepaskan pelukannya tersebut dan menatap penuh kekhawatiran kepada istrinya itu.
__ADS_1
"Apa masih sakit?" tanya Erland sembari menjauhkan tangan Maura yang bertengger di kening perempuan itu.
"Sedikit," ucap Maura setelah ia merutuki kebodohannya sendiri.
"Kita kerumah sakit saja ya," pinta Erland. Ia takut jika ada luka serius di kepala istrinya itu.
Maura dengan cepat menggelengkan kepalanya.
"Ahhhh tidak, tidak usah. Aku tidak apa-apa kok beneran. Luka yang aku dapatkan ini tidak terlalu serius jadi tidak perlu kita ke rumah sakit segala. Mungkin lukaku ini di kompres pakai air panas juga akan sembuh," ucap Maura.
Erland yang mendengar ucapan dari Maura tadi, tangannya berniat untuk menyentil kening Maura namun ia urungkan mengingat kening istrinya itu tengah terluka sehingga tangan yang sudah ia angkat tadi kini mendarat di puncak kepala Maura, memberikan usapan lembut disana sembari membenarkan ucapan Maura tadi, "Tidak ada luka yang di kompres pakai air panas, Maura. Tapi yang benar itu di kompres pakai air dingin, kalau perlu di kompres pakai es."
"Iya kan? Aku kira pakai air panas." Erland hanya bisa menggelengkan kepalanya. Sebelum dirinya kini berdiri dari posisi duduknya.
"Kamu tunggu disini dulu sebentar. Aku ambil kompresan di dapur," ujar Erland. Dan tanpa menunggu persetujuan dari Maura terlebih dahulu, ia bergegas keluar dari dalam kamarnya, meninggalkan Maura yang masih sesekali meringis kesakitan dengan tangan yang kini bergerak untuk mengambil ponselnya yang tergeletak diatas lantai itu.
Tangannya bergerak lincah diatas layar ponsel tersebut, mencari rekaman video tentang tata cara sholat yang ia ambil tadi.
"Lho kok gak ada?" gumam Maura karena ia sudah mencari rekaman itu tapi sayangnya ia tak menemukannya.
"Apa jangan-jangan tadi gak langsung ke save ya? Atau malah tanganku ini tidak sengaja menghapus rekaman itu? Tapi kalau tanganku tidak sengaja menghapus harusnya rekaman itu bisa aku pulihkan lagi tapi aku cari-cari di berkas yang baru saja di hapus, rekaman itu tidak ada juga. Kalau kayak gini aku harus gimana? Masak iya aku nyuruh Erland buat ngulangi semuanya dari awal lagi. Kasian dia lah. Ishh tapi kalau tidak begitu, aku harus gimana belajarnya? Lewat sosmed. Ayolah aku tidak punya uang untuk membeli paket data," gumam Maura bingung. Ia pun juga takut jika Erland akan marah kepadanya perkara rekaman itu sudah hilang. Jujur saja setelah Maura melihat kemarahan Erland kemarin, membuat nyalinya benar-benar mencuit. Dan ia tak sanggup jika melihat Erland marah lagi kepadanya yang berakhir laki-laki itu akan pergi dari rumah ini seperti kemarin dan meninggalkan Maura sendiri dengan rasa ketakutan saat dimalam hari tiba dan hampir mati karena ulahnya sendiri. Mengingat kejadian itu membuat Maura menjadi trauma.
__ADS_1