
"Te---tentang pernikahan kita?" beo Erland mengulang ucapan yang Maura tadi lontarkan. Maura menganggukkan kepalanya sembari turun dari pangkuan Erland dan memilih untuk duduk di kursinya sebelumnya.
Dan anggukkan kepala Maura membuat Erland menahan nafasnya. Degup khawatir memikirkan nasib pernikahannya pun memenuhi diri Erland saat ini. Dan dengan suara yang tercekat, Erland berucap, "Katakan apa yang akan kamu bicarakan."
Erland sudah menyiapkan mental dia jika sewaktu-waktu Maura berkata hal yang tidak pernah ia ingin dengar. Masalah istrinya ingin menikah lagi contohnya.
Sedangkan Maura, perempuan itu mengerutkan keningnya saat melihat raut wajah dan tatapan Erland yang tak seperti biasanya. Tatapan mata Maura sekarang turun ke tangan Erland yang tampak bergetar. Hingga membuat Maura penasaran, apa yang terjadi kepada suaminya itu? Kenapa Erland kelihatan sangat gugup sekali? Banyak pertanyaan di benak Maura yang langsung ditepis oleh perempuan itu di iringi dengan tangannya yang bergerak, menggenggam kedua tangan Erland.
Tatapan mata Maura kini menatap intens kedua mata Erland. Dan dengan helaan nafas panjang Maura angkat suara, "Kamu masih punya surat perjanjian pernikahan kita kan? Kalau punya boleh aku pinjam sebentar?"
Kedua alis Erland saling bertautan.
"Untuk?" tanya Erland.
__ADS_1
"Hanya pinjam sebentar saja. Nanti akan aku kembali setelah aku membacanya ulang karena aku sedikit lupa tentang perjanjian yang sudah kita buat," ujar Maura dengan memberikan senyuman kepada Erland.
Erland menganggukkan kepalanya dan dengan melepaskan pautan tangan Maura, ia beranjak dari tempat duduknya menuju ke kamarnya untuk mengambil apa yang Maura inginkan. Surat perjanjian itu memang hanya ada satu dan yang memegang adalah Erland. Jadi maklum saja jika Maura sudah tak mengingat satupun isi didalam surat perjanjian itu.
Erland telah kembali dengan sebuah map ditangannya. Dan setelah dirinya duduk di kursinya tadi, ia menyerahkan map tersebut kearah Maura yang langsung di terima oleh perempuan tersebut.
Maura dengan cepat meletakkan map tersebut keatas meja makan, membuat kemudian membaca setiap isi di surat perjanjian itu sedetail mungkin. Sedangkan Erland, ia hanya diam membisu di tempatnya dengan sorot mata yang tak pernah lepas dari wajah cantik Maura. Entah kenapa Erland saat ini sangat enggan untuk kehilangan perempuan yang dulu ia temukan di jalanan sepi. Perempuan yang perlahan sudah menyembuhkan luka didalam hatinya bahkan menyembuhkan dirinya dari yang namanya trauma akan nama cinta. Perempuan yang saat ini menjadi pusat bahagianya. Perempuan yang sudah menyita segala atensinya. Dan perempuan yang ia tekatkan untuk berada di sisinya selama sisa umurnya bahkan ia sering kali meminta ke sang pencipta untuk mempertemukan dirinya dengan Maura saat mereka di surga nanti.
"Kamu kenapa sih Er? Ngalamun mulu perasaan dari tadi sampai aku panggil-panggil dari tadi gak nyaut sama sekali. Jangan ngalamun lah Er, aku takut nanti kamu kemasukan. Aku kan gak tau harus baca apa supaya setan yang memasuki kamu nanti keluar. Jadi jangan ngalamun lagi oke, ngeri soalnya," ucap Maura yang membuat mata Erland mengerjab-ngerjab sebelum laki-laki itu menganggukkan kepalanya.
"Kamu punya bolpoin kan?" tanya Maura yang sebenarnya mengulangi pertanyaannya yang tadi sempat ia lontarkan ketika Erland tengah melamun.
"Ada. Memangnya buat apa?"
__ADS_1
"Ambilin aja, Er. Kamu nanti juga akan tau sendiri apa yang akan aku lakukan ini," ujar Maura yang hanya diangguki pasrah oleh Erland.
Laki-laki itu kembali melangkah menuju ke kamarnya lagi. Dan tak berselang lama Erland sudah duduk di samping Maura.
"Nih," kata Erland dengan menyodorkan bolpoin tersebut kearah Maura.
"Terimakasih," ujar Maura dengan senyum mengembang sebelum dirinya kembali fokus dengan surat perjanjian yang ada di hadapannya.
Dengan senyum lebar, Maura menggerakkan bolpoin ke salah satu point di dalam surat perjanjian tersebut, mencoret point itu hingga membuat melebarkan matanya.
"Ra, apa yang kamu lakukan? Kenapa kamu mencoret point perjanjian yang telah kita sepakati?" tanya Erland terkejut bahkan saking terkejutnya ia sampai merebut bolpoin dari tangan Maura sembari menjauhkan surat perjanjian itu dari hadapan sang istri.
Maura tanpa mendengus kesal dengan berucap, "Karena point yang aku coret itu tidak penting!" tegas Maura.
__ADS_1