
Pagi harinya, di tempat makan sepasang suami-istri itu tak ada yang mengeluarkan sepatah katapun. Mereka hanyut untuk menikmati makanan yang tentunya hasil tangan dari Erland. Hingga makanan itu telah selesai mereka habiskan.
"Apa mungkin saat ini adalah saat yang tepat untuk membicarakan masalah tadi malam kepada Erland? Waktu juga masih 30 menit sebelum Erland berangkat bekerja," batin Maura dengan melirik kearah jam dinding yang berada di ruang makan.
Niatnya ia ingin membicarakan masalah tersebut tadi malam saat Erland terbangun dari tidurnya. Namun melihat Erland yang masih mengantuk, lagi-lagi Maura harus menundanya dan membiarkan Erland berpindah tempat tidur yang tadinya berada di atas sofa dengan kaki Maura yang menjadi bantalannya, menjadi ke ranjang di kamar mereka.
Namun saat Maura baru saja hendak mengeluarkan suaranya, dering ponsel dirinya berbunyi yang membuat ia berdecak kesal. Dimana hal tersebut membuat Erland menatapnya dengan sesekali melirik kearah ponsel yang berada di atas meja makan tanpa Maura sentuh sedikitpun.
"Siapa yang telepon?" tanya Erland.
Maura mengalihkan pandangannya kearah Erland. Dan dengan malas ia menjawab, "Mama."
"Mama Dian?" Maura mengangguk-anggukkan kepalanya.
"Kenapa gak diangkat kalau telepon itu dari Mama?"
"Malas," jawab Maura seadanya.
Erland menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Hanya menjawab telepon saja lho sayang, itu bukan pekerjaan yang berat. Jadi angkat ya, takutnya ada hal yang penting yang mau Mama sampaikan ke kamu," bujuk Erland.
"Gak ada yang penting, sayang. Mama kalau telepon biasanya hanya mengajakku bergosip saja. Aku malas. Dan kata kamu kalau bergosip itu dosa. Jadi untuk apa aku mengangkatnya?" ucap Maura jujur yang mana hanya di tanggapi senyuman oleh Erland.
"Memang benar bergosip itu dosa. Tapi kan kamu belum tau kali ini Mama mau bilang apa sama kamu. Kalaupun Mama tetap mengajak kamu bergosip, nanti kamu bisa matikan sambung telepon kalian dengan sopan lho ya. Jadi angkat gih. Kasihan Mama yang dari tadi telepon terus," ujar Erland masih berusaha membujuk Maura.
Maura tampak berdecak, namun tak urung tangannya bergerak meraih ponselnya, menekan ikon telepon berwarna hijau untuk mengangkat sambungan telepon dari sang Mama.
Dan saat sambungan telepon sudah terhubung, Maura menempelkan ponselnya ke telinga.
__ADS_1
"Assalamualaikum, ada apa Ma, pagi-pagi kok telepon? Jangan bilang Mama mau menggosip lagi. Kalau Mama mau mengajak Maura bergosip, skip deh. Maura hari ini mau libur menambah dosa," kata Maura.
"Sayang, gak boleh gitu," peringat Erland yang dibalas cebikkan bibir Maura.
📞 : "Waalaikumsalam. Heh kamu ini ya pagi-pagi sudah menuduh Mama yang tidak-tidak. Mama cuma mau bilang kamu hari ini ke rumah."
Kerutan di kening Maura kini terlihat. Untuk apa Mamanya itu meminta dirinya pergi ke rumah? Apa ada masalah yang terjadi di rumah kedua orangtuanya?
"Kerumah? Memangnya ada apa? Kok tiba-tiba banget Mama nyuruh Maura pulang ke rumah?" Erland yang mendengar ucapan dari Maura jika istrinya itu di suruh untuk kembali ke kediaman keluarganya, ia langsung menelan salivanya dengan susah payah. Jangan sampai mertuanya itu berniat memisahkan dirinya dengan Maura. Tidak, Erland tidak akan terima jika hal itu terjadi. Ia akan tetap mempertahankan Maura walaupun harus melawan mertuanya sendiri.
Erland kini menajamkan pendengarannya agar dirinya bisa menguping pembicaraan dari istri dan mertuanya itu. Walaupun ia tak mendengar suara Mama Dian, setidaknya ia bisa mengartikan dengan melihat ekspresi dari istrinya.
📞 : "Tidak ada apa-apa sih. Mama hanya kangen sama kamu saja. Dan kemarin Mama baru dapat uang bulanan dari Papa kamu. Jadi boleh lah kalau kita jalan-jalan hari ini. Mama traktir deh apapun yang kamu mau. Kamu mau ya ya ya," ucap Mama Dian.
"Mama nyuruh Maura buat kerumah hanya untuk mengajak Maura jalan-jalan?" tanya Maura dengan melirik kearah Erland. Ia tau jika suaminya itu tengah penasaran dengan pembahasan yang terjadi diantara dirinya dan Mama Dian. Jadi agar Erland tidak penasaran lagi, lebih baik ia menegaskan kembali niat ibunya tadi.
📞 : "Ck, apa suara Mama tadi kurang jelas?"
Maura menggaruk pelipisnya.
"Jelas sih. Maura kan hanya memastikan saja siapa tau Maura salah dengar tadi. Tapi ternyata tidak. Kalau begitu, biar Maura minta izin ke Erland dulu. Kalau Erland tidak mengizinkan Maura tidak berangkat, tidak apa-apa kan Ma?"
📞 : "Tidak bisa. Kamu harus tetap ikut jalan-jalan sama Mama. Pelit sekali Erland, kalau sampai dia tidak mengizinkan Mama bertemu dengan kamu. Dan biar Mama yang bilang nanti kalau kamu tidak berhasil mendapatkan izin dari dia," ucap Mama Dian yang tentunya terdengar sampai telinga Erland karena Maura tadi sempat me-loudspeaker teleponnya.
Maura kini menatap kearah Erland, melihat reaksi suaminya yang justru tengah tersenyum setelah mendengar ucapan dari mertuanya tadi. Sebelum tatapan mata laki-laki itu kini menatap kearah Maura.
"Aku memberikan izin ke kamu, kalau kamu mau pergi sama Mama. Yang penting hati-hati di jalan. Dan jangan lupa tetap tunaikan ibadah," ucap Erland yang membuat Maura tersenyum merekah.
"Mama tadi dengar kan apa kata Erland. Dia memberikan Maura izin untuk pergi sama Mama. Tapi ingat ya, tidak ada bergosip selama kita jalan-jalan nanti," tutur Maura yang ia tujukan kepada sang Mama.
__ADS_1
📞 : "Ck, iya-iya Mama tidak akan mengajak kamu bergosip nanti."
"Ya sudah kalau begitu Maura tutup dulu ya teleponnya. Maura mau siap-siap soalnya. See you Mama. Assalamualaikum," ucap Maura sebelum mengakhiri sambungan teleponnya setelah Mama Dian menjawab salam darinya.
Saat sambungan telepon tersebut sudah tertutup, Maura kembali meletakkan ponselnya keatas meja makan. Dan ia baru ingat, mau pakai kendaraan apa dia nanti untuk pergi ke rumah kedua orangtuanya. Mau menumpang Erland? Tidak, jalan menuju rumah kedua orangtuanya dengan rumah keluarga Abhivandya berbeda arah dan itu pasti akan memakan waktu untuk Erland sampai di tempat kerja. Bisa jadi malah suaminya itu nanti telat dan di marahi oleh bosnya. Tidak, Maura tidak ingin hal itu terjadi. Tapi kalau harus memesan ojek online, ia harus berpikir ribuan kali dengan menimbang-nimbang, apakah uangnya yang masih tersisa 500 ribu itu akan cukup sampai akhir bulan ini, mengingat sekarang masih pertengahan bulan. Belum lagi ia harus beli gas karena saat Erland selesai memasak tadi gasnya habis. Huh, jadi Maura harus bagaimana sekarang?
Erland yang melihat keterbingungan dari wajah sang istri, ia lagi-lagi tersenyum sebelum dirinya angkat suara, "Katanya mau siap-siap. Kenapa malah diam disini?"
Maura mengerjabkan matanya, tersadar dari lamunannya.
"Ahhhh ini mau siap-siap kok. Nanti kalau kamu mau berangkat, panggil aku ya. Aku akan antar seperti biasanya," ujar Maura sebelum dirinya beranjak dari kursi makan dan tanpa menunggu persetujuan dari Erland untuk membalas ucapannya tadi, ia bergegas menuju kearah kamarnya. Untuk masalah pergi ke rumah orangtuanya, mungkin ia akan jalan kaki saja yang mungkin akan menghabiskan 1 jam perjalanan. Tak apa lah, selagi ia bisa menghemat, apapun akan ia lakukan. Hitung-hitung ia olahraga juga.
Tapi saat Maura ingin membuka pintu kamar, suara Erland menghentikan pergerakan tangannya.
"Kamu tidak perlu khawatir kesananya pakai apa karena aku akan mengantar kamu ke rumah Mama," ujar Erland.
Maura kini memutar tubuhnya, menghadap kearah Erland.
"Kamu mau mengantarku?" Erland menganggukkan kepalanya.
"Tapi sayang, rute rumah kedua orangtuaku dan tempat kerjamu kan berbeda arah."
"Tidak masalah sayang. Selagi aku bisa memastikan kamu aman sampai di rumah Mama. Jadi buruan gih siap-siap sana. Jangan protes mulu. Kalau kamu protes terus yang ada aku akan telat sampai di tempat kerja nanti dan kamu akan membuat Mama lama menunggu," ujar Erland yang tak ingin mendengar protesan dari Maura lagi.
Sedangkan Maura, ia mengembangkan senyumannya.
"Baiklah. Aku akan bersiap secepat kilat. Tunggu 15 menit ya. Hanya sebentar. Tunggu!" teriak Maura sembari membuka bahkan ia sudah masuk kedalam kamar pun ia tetap berucap agar Erland menunggu dirinya.
"Iya sayang iya. Aku akan menunggumu!" balas Erland dengan teriakan agar Maura mendengar ucapannya.
__ADS_1