
Keluarga kecil Edrea saat ini telah sampai di depan rumah Maura. Dimana saat mobil mereka berhenti. Edrea dan Leon tampak melihat situasi dan kondisi disekitar rumah Kakaknya itu.
"Sayang. Ini beneran rumah Erland dan istrinya?" tanya Leon tak percaya kalau rumah yang berada di hadapannya saat ini adalah rumah sang Kakak ipar.
"Iya. Memangnya kamu pikir aku salah alamat gitu?"
"Ya kan aku hanya tanya saja sayang. Lagian sejak kapan Erland berubah jadi orang sederhana?" Edrea memutar bola matanya malas.
"Sudah deh sayang jangan banyak tanya. Lebih baik kita awasi dulu situasi di sekitar sini," ujar Edrea yang merasa gemas sendiri dengan kecerewetan sang suami. Dimana ucapan dari Edrea tadi membuat Leon mencebikkan bibirnya. Padahal masih banyak sekali pertanyaan yang akan ia tanyakan kepada sang istri mengenai perubahan Erland itu. Namun sayangnya pertanyaan itu harus ia tahan terlebih dahulu daripada sang istri marah nantinya. Dan lebih baik dirinya melakukan apa yang telah diperintahkan sang istri.
Ia sekarang memperhatikan situasi disekitar rumah Kakak iparnya itu. Begitu juga dengan Edrea hingga...
"Sayang kamu ngerasa gak sih kalau di sekitar sini cukup sepi. Dan sepertinya di dalam rumah juga tidak orang di sana," ujar Edrea yang diangguki oleh Leon.
"Iya. Tapi didepan rumah ada mobil seseorang. Tidak mungkin kan kalau itu mobil Erland? Karena kata kamu tadi dia lagi pergi." Edrea menatap kearah mobil yang terparkir didepan rumah tersebut, ia menajamkan penglihatannya untuk memastikan apakah ia tau mobil itu milik Erland atau tidak. Namun setelah ia menatap mobil itu dengan teliti, ia tak mengenal sama sekali mobil itu. Dan ia juga sangat yakin jika mobil tersebut bukan salah satu mobil milik sang Abang.
"Aku tidak tau mobil itu milik siapa."
"Bukan mobil Erland?" Edrea menggelengkan kepalanya.
"Kalau begitu bisa jadi mobil itu milik penjahat yang akan mencelakai Kakak ipar," ujar Leon yang membuat Edrea membelalakkan matanya.
"Benar apa yang kamu bilang. Astaga kalau begitu ayo kita segera masuk kedalam sekarang juga. Twins kalian siap-siap!" perintah Edrea kepada kedua anaknya.
Si twins yang sedari tadi juga melihat kearah sekeliling, kini tatapan mata mereka beralih kearah kedua orangtuanya yang tengah memandang mereka berdua. Dan dengan semangat twins menganggukkan kepalanya.
Dimana anggukkan kepala si twins membuat Edrea menatap kearah Leon. Sesaat setelahnya sepasang suami-istri itu saling mengangguk satu sama lain. Lalu kemudian sepasang suami-istri itu langsung keluar dari dalam mobil dengan tatapan mata yang was-was, takut jika ada komplotan penjahat yang mereka curigai tengah mengincar Kakak iparnya itu akan melukai mereka berdua. Tak hanya mereka berdua saja, kedua anak mereka pun juga ikut turun dengan kedua pistol ditangan mereka.
"Sayang dobrak," bisik Edrea memberikan perintah kepada suaminya saat mereka telah sampai didepan pintu rumah Maura dan Erland.
Leon menganggukkan kepalanya dan setelahnya ia mulai mendobrak pintu rumah tersebut dan hanya satu kali dobrakan saja, pintu utama rumah tersebut terbuka yang membuat sepasang suami-istri yang tadi sempat terlelap, terkejut saat mendengar suara dobrakan itu. Bahkan mereka berdua langsung bangun dari posisi rebahannya.
Sedangkan Edrea dan Leon, melongo melihat orang yang telah mereka khawatirkan justru tengah baik-baik saja. Dan lihatlah sekarang, disamping tubuh Maura ada sosok laki-laki yang kemarin sempat membuat semua orang pusing mencari keberadaan dia.
"Lho bang Er kok disini," kaget Edrea sembari melangkahkan kakinya mendekati kedua orang yang masih memperlihatkan muka bantalnya itu. Disusul oleh anak dan suaminya.
"Dan dimana penjahatnya? Kok kalian baik-baik saja? Gak ada luka sedikitpun atau kalian juga tidak disandera oleh mereka," sambung Edrea yang membuat sepasang suami-istri muda itu saling pandang satu sama lain.
__ADS_1
"Penjahat?" beo Maura.
"Iya penjahat. Bukannya Kak Maura telepon Rea tadi karena Kakak dalam bahaya?" Maura tampak terdiam sesaat. Memutar ulang apakah dia tadi sempat menghubungi adik iparnya itu. Dan setelah ia mengingatnya ia tampak menghela nafas panjang.
"Kamu salah paham Rea. Kakak baik-baik saja kok. Dan tidak ada penjahat sama sekali disini," ujar Maura.
"Lha terus kalau bukan karena ada penjahat, terus Kakak telepon Rea tadi ada apa?" tanya Edrea masih penasaran.
Maura tampak menggigit bibir bawahnya. Tidak mungkin bukan ia akan jujur saat ada suami, adik iparnya dan juga kedua ponakannya itu.
"Anu itu, Kakak tadi menghubungimu karena mau tanya keadaan twins gimana. Ya mau tanya tentang mereka berdua. Tapi setelah melihat langsung mereka berdua baik-baik saja, aku cukup lega," ujar Maura yang tentunya bohong.
"Owh jadi hanya mau tanya keadaan twins saja?" Maura menganggukkan kepalanya.
"Tapi kalau hanya bertanya tentang twins kenapa saat Rea tadi mengangkat telepon Kakak, Kakak malah langsung mematikan sambungan telepon itu tadi?" tanya Edrea kembali. Entah kenapa ia tak yakin jika ucapan dari Kakak iparnya itu adalah sebuah kejujuran.
"Karena Abang kamu tadi sempat mau nangis gara-gara Kakak gak ada disamping dia saat bangun tidur," ujar Maura yang kali ini tidak berbohong.
Edrea memicingkan matanya kearah sang Abang yang sepertinya masih mengumpulkan nyawanya.
"Abang tadi mau nangis?" tanya Edrea yang dibalas dengan salah satu alis Erland yang terangkat sembari berucap, "Hah?"
Sedangkan Erland yang terkena omelan dari sang adik pun ia menguap sebelum dirinya berkata, "Abang sudah minta maaf Rea yang artinya Abang juga tidak mau mengulangi kesalahan Abang lagi."
Edrea tampak mendengus kasar, tanpa ada niatan untuk menimpali ucapan dari sang Abang tadi.
Dimana sesaat setelahnya terdengar suara salah satu bocil disana yang sedari tadi hanya duduk manis disalah satu sofa di ruang tamu tersebut dengan mata yang terus menatap kearah setiap sudut rumah yang tengah mereka kunjungi saat ini, "Mommy Mommy, kita tidak jadi menangkap penjahat kah?" tanyanya dengan polos.
Semua orang yang berada di ruangan tersebut kini mengalihkan pandangan mereka kearah Axcal.
Dimana pertanyaan yang terlontar dari bibir kecil Axcal tadi dijawab dengan gelengan kepala oleh Edrea.
Axcel dan Axcal yang melihat gelengan kepala itu mereka tampak lesu seketika bahkan keduanya dengan serempak berkata, "Yahhh gagal deh kita jadi superhero."
Ucapan dari kedua anak laki-laki itu membuat Maura dan Erland tersenyum. Sedangkan Leon dan Edrea, tangan dua orang itu bergerak untuk mengusap kepala kedua putra mereka sembari berkata, "Maaf boy. Lain kali kita akan basmi kejahatan jika memang ada seseorang yang memerlukan bantuan kita."
Maura yang melihat wajah lesu dari kedua ponakannya itu, ia kini angkat suara.
__ADS_1
"Twins, kalian mau coklat?" tanya Maura yang langsung membuat mata kedua keponakannya itu berbinar. Bahkan kepala mereka yang tadi sempat mereka tundukkan saat ini kembali mereka tegakkan.
"Mau Aunty. Tapi Daddy---" ucap Axcel sengaja menggantung ucapannya karena ia tau jika mereka ingin makan, makanan manis maka mereka harus meminta izin kepada sang Daddy.
Tatapan kedua anak laki-laki itu menatap kearah Leon dengan tatapan memohon. Dimana hal tersebut membuat Leon menjadi tak tega kemudian ia menganggukkan kepalanya.
Anggukan kepala dari sang Daddy membuat kedua anak laki-laki itu langsung melompat-lompat kegirangan. Bahkan mereka sampai berteriak, "Yeyy makan coklat. Terimakasih Daddy."
Axcel dan Axcal memeluk tubuh Leon dengan kompak. Dan tentunya pelukan dari kedua bocil tadi dibalas oleh Leon. Sedangkan Edrea, ia mencebikkan bibirnya, sepertinya ia tengah cemburu dengan suaminya yang mendapatkan pelukan dari kedua putranya itu sedangkan dia tidak mendapatkan sama sekali dari salah satu putarnya.
Maura yang melihat wajah Edrea tengah tertekuk pun ia terkekeh pelan.
"Axcel, Axcal. Look Mommy kalian. Mommy kalian sepertinya tengah bersedih sekarang karena hanya Daddy Leon saja yang mendapatkan kata terimakasih dan pelukan dari kalian. Sedangkan Mommy Edrea tidak mendapatkan apapun dari kalian berdua," ujar Maura yang berhasil membuat kedua ponakannya itu mengalihkan pandangannya kearah sang Mommy yang tampak merajuk.
Keduanya saling pandang satu sama lain sebelum mereka melepaskan pelukannya tadi dari tubuh Leon lalu saat ini mereka berpindah untuk memeluk tubuh Edrea sembari berkata, "Terimakasih juga Mommy. Maaf tadi kita sempat melupakan Mommy beberapa menit."
"Ck kalian mah gitu kalau udah sama Daddy saja lupa sama Mommy. Gak like ah Mommy. Dah sana kalian sama Daddy saja jangan sama Mommy lagi," ujar Edrea yang masih merajuk.
"Mommy marah ya sama kita?"
"Udah tau masih tanya lagi," ujar Edrea yang membuat Maura dan Erland menggelengkan kepalanya. Sedangkan Leon, ia langsung menepuk paha sang istri sembari berucap, "Sayang gak boleh gitu bicara sama anak sendiri juga. Gak baik, takutnya nanti mereka meniru gaya bicara kamu."
Edrea mencebikkan bibirnya kala mendapat teguran dari sang suami. Namun ia tetap saja tak membenarkan ucapannya tadi.
Twins yang melihat sang Mommy masih diam saja pun mereka semakin mengeratkan pelukannya sembari menciumi pipi Edrea berkali-kali. Mereka pun juga selalu berkata, "Mommy, maafin Axcel!"
"Mommy, maafin Axcal!"
Siapa yang tidak luluh dengan permintaan maaf yang begitu romantis dari kedua putranya itu. Sampai akhirnya Edrea pun luluh kemudian ia membalas pelukan dari kedua anaknya itu dan ia juga menyematkan dua kecupan di pipi keduanya.
"Mommy sudah memaafkan kalian. Tapi lain kali jangan sampai melupakan Mommy lagi ya. Awas kalian kalau sampai melupakan Mommy." Kedua anaknya itu menganggukkan kepalanya.
"Terimakasih Mommy." Edrea menganggukkan kepalanya. Dimana anggukan kepala dari Edrea itu lagi-lagi dibalas dengan kecupan oleh kedua putranya sebelum mereka berjalan mendekati Maura.
Dan dengan menarik tangan Maura, mereka berkata, "Ayo Aunty kita ambil coklat sekarang!"
Maura hanya bisa tersenyum kala tangannya digandeng oleh kedua ponakannya itu pergi menjauh dari ruang tamu. Meninggalkan ketiga orang lainnya di dalam ruangan itu yang saat ini tengah menatap kepergian mereka bertiga.
__ADS_1
Dimana saat mereka sudah tak melihat tubuh Maura, Edrea langsung menatap tajam kearah sang Abang yang dibalas salah satu alis laki-laki itu terangkat, seolah-olah alisnya itu perwakilan dirinya untuk bertanya, kenapa? Ada apa? kepada Edrea.