
Orla terkejut saat dirinya ditarik oleh Maura hingga tubuhnya menubruk tubuh perempuan itu. Terlebih, Maura langsung memeluk tubuhnya yang semakin membuat ia tak bisa berkata-kata lagi. Pikiran-pikiran buruk yang tadi sempat terlintas di pikirannya mengenai Maura yang akan melakukan apapun untuk membalas perbuatannya, tapi ternyata pikirannya itu salah besar. Istri dari laki-laki yang ia cintai itu ternyata malah memeluk dirinya dengan erat.
Tak hanya Orla saja yang terkejut akan aksi Maura itu, melainkan Papa Jaya pun tak kalah terkejutnya.
Sedangkan Erland, ia diam dengan menatap kearah Maura dengan bersedekap dada. Ia akan melihat apa yang akan istrinya itu lakukan setelahnya.
Maura mengelus punggung Orla sembari berkata, "Jaga diri baik-baik disana. Semoga di negara baru, kehidupan kamu akan lebih bahagia daripada disini. Aku doakan semoga disana ada satu laki-laki yang menyayangi kamu dengan tulus, selalu menjaga kamu dan selalu menemani kamu dalan suka maupun duga. Sukses di sana ya Orla. Maaf jika aku pernah membuat salah kepada kamu ataupun keluarga kamu. Termasuk gara-gara aku hubungan keluarga kamu jadi berantakan. Dan maaf juga gara-gara aku, ibu kamu jadi masuk penjara. Aku benar-benar minta maaf Orla."
Erland yang mendengar perkataan dari Maura tadi, matanya melebar sempurna. Apa-apaan coba istrinya itu? Dirinya tidak salah apapun dengan keluarga Jaya, bahkan dirinya lah yang menjadi korban, tapi kenapa dia yang meminta maaf coba?
Sedangkan Orla, ia langsung melepas pelukan dari Maura tadi. Ia memegang kedua pundak Maura dengan menggelengkan kepalanya.
"Tidak. Kamu tidak salah Maura. Jadi tolong jangan meminta maaf kepada kami. Apa yang sedang kita alami ini merupakan petuah dari apa yang sudah kita perbuat. Begitu juga dengan Mama, dia memang harus di hukum karena tindakannya sendiri yang hampir melukai kamu. Kita yang harusnya meminta maaf kepada kamu dan Erland juga kepada keluarga kalian karena karena ulah kita, kalian semua jadi terganggu bahkan merasa was-was. Dan terimakasih atas bantuan yang sudah kalian berikan kepadaku dan Papa. Harusnya kalian tidak melakukan hal ini kepada kita yang sudah bertindak jahat kepada kalian," ucap Orla dengan mata berkaca-kaca. Entah terbuat dari apa hati keluarga Abhivandya serta Maura ini, kenapa mereka baik sekali dengan dirinya dan Papa Jaya padahal sudah jelas mereka ini jahat, sudah mengganggu ketenangan mereka. Tapi mereka malah dengan lapang dada mau mengulurkan tangan mereka untuk membantu dirinya dan sang Papa dengan jumlah yang tidak bisa di bilang sedikit itu. Ia tak tau harus membalas budi mereka dengan apa nantinya.
Maura tersenyum kala mendengar perkataan dari Orla tadi, ia menggambil tangan Orla yang berada di kedua lengannya itu, ia genggam dua tangan tersebut sembari berkata, "Jangan pernah menganggap kamu orang jahat Orla. Kamu orang baik, hanya saja dulu kamu sempat terhasut bisikan setan. Jadi sudah jangan menganggap kamu jahat lagi, bukannya kamu sudah berubah?"
__ADS_1
"Aku akan usahakan," balas Orla dengan menundukkan kepalanya.
Dan balasan dari Orla tadi membuat Maura tersenyum.
"Semoga usahamu tidak mengecewakan kamu ataupun orang lain termasuk diriku," ujar Maura dengan mengangkat dagu Orla agar wajah perempuan itu kembali terangkat. Lalu setelahnya ia memeluk tubuh perempuan tersebut.
"Selamat sampai tujuan Orla. Sampai ketemu lagi," ucap Maura yang diangguki oleh Orla tak lupa senyum pun mengembang di bibir kedua perempuan cantik itu.
Tak lama setelahnya, pelukan itu kembali terlepas. Keduanya saling melempar senyum satu sama lain sebelum suara Papa Jaya terdengar, "15 menit lagi pesawat akan take off."
"Maura, aku pergi dulu. Jaga diri kamu baik-baik ya. Dan terimakasih atas kebaikan yang sudah kamu berikan kepadaku terutama kamu sudah memaafkanku atas semua kesalahan yang sudah aku perbuat sama kamu. Terimakasih, terimakasih banyak Maura," ucap Orla tulus dari dalam hatinya yang dibalas anggukkan kepala oleh Maura.
Orla kini mengalihkan pandangannya kearah Erland berada yang langsung dihadiahi dengan tatapan dingin tak lupa salah satu alisnya terangkat, seakan-akan bertanya, "Kenapa?"
Orla yang melihat tatapan dingin itu ia langsung mendudukkan kepalanya, tapi tak urung ia angkat suara, "Er, maaf atas apa yang sudah aku perbuat selama ini ke kamu. Aku harap kamu mau memaafkanku. Tolong jaga Maura baik-baik. Jangan melakukan apapun yang membuat dia terluka. Kalian hidup lah dengan bahagia. Aku pamit."
__ADS_1
Setelah mengucapkan hal tersebut, Orla melepaskan genggaman tangan Maura tadi, kemudian mendekati Papa Jaya yang memberikan senyumannya kepada sang putri tercinta. Dan saat Orla sudah berada di sampingnya, ia langsung mengusap lembut kepala Orla.
"Tuan Erland dan nyonya Maura. Kamu permisi dulu. Terimakasih atas semua kebaikan yang telah kalian berikan ke kamu. Berbahagialah tuan dan nyonya, kamu permisi," ucap Papa Jaya dengan membungkukkan tubuhnya yang otomatis membuat Orla juga ikut membungkukkan tubuhnya juga untuk menghormati Erland juga Maura.
Lalu setelahnya keduanya memutar tubuhnya kemudian melangkahkan kakinya menjauh dari sepasang suami-istri itu karena waktu yang mereka punya sudah tidak banyak lagi.
Sedangkan Maura dan Erland, ia menatap kepergian keduanya. Sebelum Erland mengikis jarak antara dirinya dan sang istri. Lalu ia melingkarkan tangannya di pinggang Maura yang tentunya membuat perempuan tersebut terkejut.
"Sudah kan?" tanya Erland kala Maura menatap kearah dirinya. Maura tersenyum kemudian ia menganggukkan kepalanya.
"Kalau sudah kita pulang," ajak Erland.
"Ya udah yukkk. Let's go kita pulang," ucap Maura dengan senyum lebar. Jujur saja, selain ia ingin membantu Orla serta Papa Jaya, kedatangan dirinya untuk menemui mantan musuhnya itu karena ada satu keinginan yang akhirnya tercapai juga yaitu bertemu dengan Orla. Entah kenapa ia ingin sekali bertemu dengan perempuan itu, mungkin itu yang di namakan ngidam. Dan buktinya setelah bertemu dengan Orla bahkan sudah memeluknya, hatinya merasa berkali-kali lipat bahagia. Jadi jangan heran kalau dirinya terus tersenyum nantinya.
Sedangkan Erland yang melihat senyuman dari Maura, ia mendengus panjang sekaligus tak menyangka istrinya itu bisa ngidam hal aneh seperti ini. Tapi tak urung Erland juga bahagia setidaknya ngidam pertama Maura bisa ia penuhi dan semuanya ia lakukan demi baby yang ada di dalam perut sang istri. Jika tidak, mau Maura sampai nangis darah pun ia tak akan membiarkan istrinya bertemu dengan Orla.
__ADS_1
Keduanya kini berjalan berlawanan arah dengan arah yang di tuju oleh Orla dan Papa Jaya tadi yang menuju ke dalam bandara, sedangkan Maura dan Erland, keduanya berjalan keluar dari bandara untuk segera pulang ke kediaman mereka.