PASUTRI (Troublemaker)

PASUTRI (Troublemaker)
Bab 173


__ADS_3

Seperti yang disuruh oleh Mama Dian tadi, Erland kini sudah berada di depan kamar Maura dengan membawa satu kantong plastik yang di dalamnya terdapat sekitar 20 testpack dengan merk yang berbeda-beda. Tentunya alat itu berasal dari mertuanya yang entah untuk apa perempuan paruh baya tersebut membeli begitu banyak alat tes kehamilan. Padahal satu atau dua saja sudah cukup menurut Erland. Tapi ya sudah lah, mungkin saja Mama Dian membeli banyak alat testpack agar dirinya benar-benar percaya akan hasilnya nanti.


Dengan menghela nafas panjang, Erland mengangkat tangannya untuk mengetuk pintu kamar Maura.


Maura yang berada di dalam kamar tengah berjalan mondar-mandir sedari tadi, langkahnya itu ia hentikan kala mendengar ketukan pintu kamarnya. Dan tanpa ba-bi-bu lagi, Maura melangkahkan kakinya menuju ke pintu kamar itu, kemudian membukanya.


Saat pintu tersebut terbuka lebar dan saat ia melihat Erland berdiri di hadapannya. Ia memasang wajah datar, "Mau apa kamu kesini? Aku tadi kan sudah bilang kalau jangan temuin aku lagi. Kenapa bebal banget sih di bilangin?"


"Sayang gak boleh gitu ih. Aku minta maaf atas apa yang aku perbuat selama ini ke kamu. Aku memiliki alasan kenapa aku menyembunyikan identitasku darimu. Aku---"


"Bodoamat. Aku gak mau dengar apapun dari kamu. Jadi lebih baik kamu pergi sana. Jangan kesini lagi. Kalau bisa kita pisah saja. Kesalahanmu sudah terlalu fatal," ujar Maura tentunya hal tersebut membuat Erland melebarkan matanya dengan detak jantung yang berpacu sangat cepat. Kata-kata yang tak ingin ia dengar dari bibir istrinya. Ia tak ingin berpisah dengan Maura. Apapun hukuman yang akan dia terima karena kebohongannya itu akan ia terima tapi tidak dengan perpisahan alias perceraian.

__ADS_1


Erland dengan cepat menggelengkan kepalanya.


"Gak, sampai kapan pun aku tidak akan mau berpisah sama kamu. Aku akan tetap mempertahankan rumah tangga kita ini. Dan apa kamu lupa di perjanjian pra-nikah kita tertulis tidak ada kata cerai diantara kita?"


"Surat perjanjian pra-nikah kita itu sudah tidak berlaku lagi, setelah kita selalu melanggar isi di dalam surat itu. Jadi ceraikan aku sekarang juga. Kalau kamu tidak mau, biarkan aku sendiri yang mengurus perceraian kita besok. Kamu tinggal menunggu ada surat perjanjian saja," ujar Maura yang membuat Erland lemas setengah mati. Bukannya Maura tadi saat di dalam perjalanan menuju ke rumah ini, dia masih biasa-biasa aja malah terkesan sangat lucu dengan tingkahnya yang menggemaskan tapi kenapa baru beberapa jam di rumah ini, dia sudah berubah menjadi sosok Maura yang keras kepala seperti dulu. Perubahan Maura ini benar-benar sangat pesat sekali.


"Tidak. Aku tidak mau! Aku tidak mau pisah sama kamu, Maura. Tolong mengertilah! Aku melakukan semua ini karena aku tidak mau di tipu lagi oleh seorang perempuan. Aku tidak ingin menikahi perempuan yang ternyata hanya menginginkan hartaku yang sebenarnya hanya titipan dari Allah saja. Aku tidak mau kembali di manfaatkan oleh perempuan yang hanya mau hartaku untuk mereka hambur-hamburkan untuk berfoya-foya. Aku juga melakukan semua ini atas izin dari kedua orangtuamu dan kedua orangtuaku. Aku melakukan ini juga karena aku sudah berjanji dengan kedua orangtuamu untuk mengajari kamu apa arti bersyukur dengan hidup sederhana. Dan lihatlah kamu sekarang berhasil berubah, memang bukan sepenuhnya perubahan kamu ini gara-gara aku, tidak. Tapi setengahnya dari diri kamu sendiri dan juga ada campur tangan dari Allah untuk merubah kamu. Aku juga tau aku salah sayang. Seharusnya aku memang tidak melakukan hal fatal ini. Aku mengakui kesalahanku sayang. Aku sanggup kamu untuk hukum aku dengan apapun tapi aku mohon jangan meminta perpisahan karena aku tidak akan mau menurutinya, sampai nyawaku sudah di ambil oleh yang maha kuasa," ujar Erland panjang kali lebar dengan mata yang berkaca-kaca. Hatinya terasa seperti di hantam ribuan beton jalanan. Sangat-sangat menyakitkan.


"Jadi sebelum Erland menikah denganku, Mama sama Papa sudah tau siapa Erland sebenarnya dong? Ck, pantas saja dia dulu langsung menerima lamaran Erland. Orang mereka tau siapa dia sebenarnya. Huh, licik. Benar-benar licik. Jadi berasa di tipu semua orang kalau kayak gini jadinya. Huh, menyebalkan!" gerutu Maura di dalam hatinya.


Maura sebenarnya ingin sekali berteriak dan menangis saat ini juga saat mengetahui fakta itu. Tapi ia harus tetap stay cool di depan Erland. Dia tidak mau terlihat lemah di hadapan laki-laki tersebut. Takutnya kalau dia bersikap lemah, ia nanti akan di injak-injak oleh Erland, dan laki-laki itu akan terus berbohong nantinya entah dengannya atau dengan orang lain.

__ADS_1


Fokus Maura beralih kala ada sebuah tangan menggenggam tangannya. Dan sebelum ia menepis tangan Erland, tubuhnya sudah di tarik oleh suaminya itu hingga tubuh keduanya saling bertemu. Bahkan tak hanya itu saja Erland langsung memeluk tubuh Maura dengan sangat erat, menyembunyikan wajahnya di ceruk leher Maura.


Sedangkan Maura, ia terus memberontak, mencoba untuk melepaskan diri dari dekapan sang suami.


"Kamu apa-apaan sih Er? Lepas gak!" Erland menggeleng-gelengkan kepalanya yang masih di dalam ceruk leher Maura.


"Aku bilang lepas ya lepas! Kamu dengar gak sih! Lepas!" ujar Maura dengan suara yang meninggi. Hingga membuat Mama Dian yang tadi ingin menyusul sang menantu untuk bertemu putri satu-satunya itu menghentikan langkahnya di ujung tangah.


Mama Dian tentunya terkejut saat mendengar bentakan Maura yang tentunya di tujukan kepada Erland. Ia ingin sekali mendekati sepasang suami-istri itu dan menasehati Maura saat itu juga. Tapi niatnya harus ia urungkan kala dia teringat ucapan sang suami untuk tidak ikut campur urusan rumah tangga orang lain termasuk anak mereka sendiri. Jadi karena nasehat dari Papa Jaya yang masih ia ingat, Mama Dian memilih untuk kembali turun kebawah saja dengan harapan semoga masalah yang tengah menerjang rumah tangga putrinya dan sang menantu segera selesai. Dan untuk menasehati Maura, ia akan melakukannya nanti.


Sedangkan Erland yang mendapat bentakan dari sang istri, ia semakin mengeratkan pelukannya dengan tubuh yang bergetar hebat. Jangan di tanya kemana hilangnya satu kantong plastik yang berisi testpack itu, karena benda itu sudah jatuh sedari tadi dari genggaman Erland. Erland sudah tidak peduli lagi jika Maura memang tidak hamil atau tidak mau hamil. Erland benar-benar tidak peduli akan hal itu karena yang ia pedulikan cuma satu, ia tak berpisah dengan Maura dan tetap bersama dengannya sampai kapanpun. Tidak masalah jika mereka nanti akan hidup berdua sampai tua, yang terpenting Erland harus tetap dengan Maura.

__ADS_1


"Aku tidak akan melepaskanmu! Aku tidak mau berpisah denganmu! Maafkan aku! Maafkan aku, sayang! Maafkan aku!"


__ADS_2