
Maura kini telah selesai menyelesaikan mandinya. Dan tanpa memperhatikan penampilannya yang super duper seksi ia keluar dari dalam kamar lalu bergegas menuju ke dapur untuk mengisi perutnya yang sudah sangat-sangat lapar itu.
Wangi harum masakan yang diciptakan oleh Erland menyambut kedatangannya di dalam ruangan itu hingga senyum terbit di bibir Maura.
"Hmmmm harum banget sih," ucap Maura sembari terus melangkahkan kakinya mendekati Erland yang ternyata sudah lebih dulu makan.
Erland yang mendengar suara dari sang istri pun ia menatap sekilas kearah Maura sebelum dirinya kembali fokus ke kegiatannya. Tanpa peduli Maura kini sudah berdiri didepannya.
Tapi saat Maura baru saja duduk di kursi makan itu, Erland justru berdiri dengan membawa piring yang masih ada isinya.
Maura yang melihat pergerakan dari Erland, ia angkat suara.
"Lho Er, kamu mau kemana? Kok udah pergi padahal piring kamu masih ada makanannya lho itu," ucap Maura yang sayangnya sama sekali tak di gubris oleh Erland. Laki-laki itu justru melanjutkan langkahnya, ia berniat menghabiskan makan malamnya di belakang rumah tanpa peduli Maura yang terus menatapnya dengan penuh tanda tanya di kepalanya.
"Dia kenapa sih dan mau kemana coba? Aku kira dia tadi berdiri dengan membawa makanan malamnya karena tidak habis dan ingin mencuci piring tapi ternyata dia malah pergi ke belakang rumah. Ada apa sih sebenarnya sama dia. Apa dia marah gara-gara rumah ini tadi sempat berantakan? Tapi kan aku sudah bertanggungjawab membersihkannya. Haishhh masa bodo lah. Mau dia masih marah kek atau tidak bukan urusanku dan tidak masalah untukku," ujar Maura sebelum ia kini mulai mengambil makan malamnya dan mulai memakannya dengan nikmat tanpa memikirkan tentang Erland kembali.
Sedangkan Erland, laki-laki itu sedari tadi terus menghela nafasnya. Entah kenapa emosinya kembali terpancing kala melihat wajah istrinya itu.
"Hidup selamanya dengan seseorang yang belum kita tahu kepribadiannya bikin sakit kepala," gumam Erland. Sumpah demi apapun kini dia menyesal telah gegabah dan asal memilih pasangan hanya karena dirinya sudah muak dengan olok-olok dari temannya. Jadi lihatlah hasil yang sekarang ia terima benar-benar tidak sesuai yang ia inginkan. Tapi menyesal pun juga percuma saja karena nasi sudah menjadi bubur yang mana ia harus tetap menjalani hubungan yang entah kedepannya mau seperti apa dan apa yang akan terjadi itu.
__ADS_1
Erland kembali menghela nafas panjang sebelum dirinya masuk kembali kedalam rumahnya itu setelah menyelesaikan makan malamnya. Dan tanpa memperdulikan Maura yang menatapnya, Erland mencuci piring serta gelas yang ia pakai tadi kemudian setelah selesai ia berjalan melewati Maura dengan acuh.
Dimana hal itu membuat Maura menggedikkan bahunya sebelum kembali fokus menyelesaikan makan malamnya dengan sesekali ia terkekeh kala melihat balasan pesan dari sahabatnya.
Waktu tak terasa berjalan dengan cepat kini tugas bulan sudah digantikan oleh matahari kembali. Remang-remang cahaya yang dipancarkan oleh matahari masuk kedalam kamar seorang perempuan yang tertidur nyenyak sebelum tidurnya itu terusik kala cahaya matahari menyengat kulitnya.
Perempuan itu menggeliatkan tubuhnya dengan sedikit meregangkan tubuhnya itu sebelum matanya perlahan terbuka.
"Good morning, Maura," ucap perempuan itu yang tentunya ia tujukan ke dirinya sendiri. Ya, perempuan yang berada di dalam kamar itu adalah Maura.
Dimana setelah ia mengucapkan selamat pagi untuk dirinya sendiri, ia bangkit dari tempat tidurnya dan dengan mengikat rambutnya asal, Maura berjalan ke kamar mandi untuk mencuci wajahnya sebelum ia kini keluar dari dalam kamarnya.
"Apa dia sudah berangkat kerja? Tapi tunggu dulu, ini kan masih jam 6 pagi. Kemarin saja dia berangkatnya pukul 7 lebih. Apa mungkin bosnya tiba-tiba membutuhkan jasanya lebih cepat dari sebelumnya?" ucap Maura bertanya-tanya. Ia penasaran apakah pekejaan sebagai seorang sopir benar-benar sesibuk itu? pikir Maura.
"Haishhhh sudahlah. Mau dia sibuk atau tidak, bukan urusanku karena urusanku hanya masalah uang gajian dia saja bukan dengan pekerjaannya," batin Maura dengan melenggang menuju ke ruang makan. Namun baru saja ia sampai di ruang makan, suara dering ponselnya mengalihkan perhatian dia yang tadinya menatap penuh binar makanan yang tersaji di atas meja beralih kearah ponselnya yang sedari tadi berada di genggaman tangannya.
Maura menatap kearah ponselnya itu, dimana di layar ponsel tersebut terdapat sebuah nama Meli disana. Maura menggeser ikon telepon hijau itu untuk menjawab panggilan dari sang sahabat sembari ia mulai duduk di kursi makan.
"Ha---" belum juga Maura mengucapakan kata sapaan kepada si penelepon, orang itu sudah lebih dulu memutusnya.
__ADS_1
📞 : "Halo Maura. Kamu dimana? Aku kemarin ketemu sama Tante Dian katanya kamu sudah menikah dan sudah tidak tinggal lagi di rumah kedua orangtuamu? Jadi katakan alamat rumah kamu sekarang juga karena aku mau meminta penjelasan ke kamu tentang pernikahan rahasiamu itu yang dengan teganya kamu tidak mengundangku! Sialan kamu ya. Jadi buruan kasih tau sekarang juga!"
Maura memutar bola matanya kala mendengar suara cerewet dari sang sahabat sampai ia saja tidak bisa menyela ucapan dia tadi.
"Cerewet. Perumahan Green Asri, nomor 5," ucap Maura yang langsung saja menyebutkan alamat rumahnya.
Sesaat setelah Maura mengucapakan alamat rumahnya itu, sambungan telepon tersebut diputus secara sepihak oleh sang sahabat yang membuat Maura kini mendengus kesal.
"Dasar teman minus akhlak," gerutu Maura sembari menaruh ponselnya lalu setelahnya ia mengambil nasi dan lauk yang sudah Erland sediakan.
Saat Maura baru saja memasukkan satu suap makanan kedalam mulutnya tiba-tiba...
Brak Brakkk Brakkk!
Gedoran yang terdengar dari pintu utama rumahnya itu berhasil membuat Maura yang terkejut kini tersedak oleh makanan yang sudah berada didalam mulutnya tadi.
Dengan gerakan cepat, Maura menyambar gelas minumannya, menenggaknya sampai tandas. Dan dengan menaruh gelas itu secara kasar, ia menolehkan kepalanya kearah sumber suara tadi tercipta.
"Sumpah demi apapun, terkutuk lah orang yang sudah menggedor pintu rumahku tanpa sopan santun seperti itu!" ucap Maura namun tak urung dirinya kini beranjak dari kursi makan menuju ke pintu utama untuk melihat siapa gerangan yang sudah hampir membuatnya mati tersedak tadi karena ia yakin orang itu bukan sang sahabat yang baru saja selesai menelepon dirinya tadi.
__ADS_1
"Sabar bisa gak sih sialan!" umpat Maura yang masih saja mendengar gedoran itu. Dan dengan gerakan cepat, Maura membuka pintu itu dimana saat pintu itu terbuka ia tampak terkejut melihat siapa orang yang telah berada di hadapannya sekarang.