
"Oke meeting hari ini selesai. Kalian tetap awasi anak didik kalian. Jangan ada yang bikin ke kekacauan lagi yang mengakibatkan kerugian pada perusahaan. Jika ada yang seperti itu, langsung pecat saja secara tidak hormat dan berikan uang denda atas perlakuannya itu. Jika ada yang menipu perusahaan lagi, katakan ke pihak perusahaan yang merasa di tipu itu jika kalian yang ada disini tidak merasa ingin bekerja sama dan langsung panggil polisi untuk menangani kasus itu. Begitu juga dengan kasus yang korupsi, langsung jebloskan ke penjara seperti yang saya lakukan tadi. Kalian mengerti?" ucap Erland. Ya, selama berjam-jam mereka semua melakukan meeting untuk mendalami kasus yang tengah menimpa perusahaan Erland. Mereka menemukan ada beberapa oknum yang sengaja merusak fasilitas kantor dan ada juga beberapa oknum yang menipu perusahaan lain dengan mengatasnamakan perusahaan AWA grup hanya untuk menguras uang mereka dan berakhir AWA grup yang akan mengganti rugi semuanya. Bahkan tak hanya dua permasalahan itu saja yang tengah perusahaan cabang itu hadapi melainkan ada beberapa oknum nakal yang melakukan korupsi. Dimana saat Erland mengetahui jika ada beberapa karyawannya yang korupsi ia langsung mendatangkan polisi untuk menangkap pelaku yang ia curigai dan memeriksa seluruh karyawannya. Ada sekitar 10 orang yang di nyatakan melakukan penggelapan dana perusahaan dan 3 orang yang melakukan penipuan ke perusaahan lain yang saat itu juga langsung diamankan pihak kepolisian.
Semua orang di dalam ruangan tersebut tampak menganggukkan kepalanya namun tak urung mereka juga menjawab ucapan dari Erland tadi, "Mengerti Pak."
Erland tampak menganggukkan kepalanya.
"Kalau begitu masalah ini selesai. Saya harap untuk selanjutnya, di perusahaan ini terus damai tak ada lagi oknum nakal yang membuat kalian termasuk saya bingung mencari solusi untuk memecahkan masalah itu. Perketat keamanan lagi. Dan saya tutup acara meeting ini, selamat malam dan selamat beristirahat," ujar Erland menutup acara meeting mereka.
"Selamat malam," balas mereka semua yang ada di dalam ruang meeting ini.
Meeting yang di laksanakan hampir 10 jam lamanya karena di mulai pada pukul 9 pagi dan berakhir jam 7 malam waktu Singapure. Dimana hal tersebut membuat tubuh Erland sakit semua. Namun Erland cukup puas dengan hasil yang ia dapatkan.
Erland meregangkan otot tubuhnya kala semua orang yang ikut meeting dengannya tadi sudah keluar dari sana satu persatu dan kini hanya ada dirinya bersama sang sekretaris yang tengah membersihkan kertas-kertas yang telah mereka gunakan untuk meeting tadi.
"Sekarang jam berapa?" tanya Erland kepada sang sekretaris karena dirinya terlalu malas hanya untuk melihat jam di pergelangan tangannya apalagi di ponselnya.
Sang sekretaris yang ditanya pun dengan cepat ia merogoh ponselnya yang waktunya sudah ia setting menjadi waktu Singapure.
"Jam 7 lebih 15 menit," ucap sang sekertaris setelah melihat waktu di ponselnya itu.
Erland tampak mengangguk-anggukkan kepalanya sebelum dirinya kembali berucap, "Kalau disini jam 7, di Indonesia jam berapa?"
__ADS_1
Sang sekretaris tampak berpikir sesaat sebelum ia mulai angkat suara kembali, "Jam 8 malam lebih 10 kalau tidak salah."
Lagi dan lagi Erland mengangguk-anggukkan kepalanya. Dan sembari berdiri dari duduknya, Erland berkata, "Pesan tiket pesawat untuk penerbangan malam ini juga. Kita akan pulang sekarang."
Sang sekretaris memelototkan matanya. Yang benar saja mereka akan pulang sekarang. Memang benar masalah di perusahaan sudah teratasi semuanya tapi mbok ya istirahat satu hari saja lah. Jujur saja ia sangat lelah hari ini. Niatnya setelah pulang dari perusahaan cabang ini dan sampai di hotel nantinya, ia akan langsung merebahkan tubuhnya, mengistirahatkan jiwa, raga serta otaknya yang sedari pagi tak berhenti ia ajak berpikir keras. Dan sang bos malah mengajak dirinya pulang saat itu juga. Astaga! Sumpah demi apapun rasanya ia ingin berteriak saat ini juga. Tapi tunggu dulu, dirinya akan mencoba untuk membujuk Erland terlebih dahulu. Siapa tau bosnya itu memiliki hati nurani dan berperikemanusiaan yang tinggi sehingga dengan murah hati, sang bos mensetujui permintaannya ini.
"Pak, tunggu sebentar," ucap sekertaris yang biasa dipanggil Afif itu. Dimana panggilannya tadi membuat Erland yang sudah melangkahkan kakinya berniat keluar dari ruang meeting berhenti. Laki-laki itu saat ini juga menolehkan kepalanya kearah Afif yang tengah berjalan mendekati dirinya.
"Ada apa?" tanya Erland kala Afif sudah berdiri disampingnya.
"Anu begini Pak---"
"To the point, Fif. Jangan pakai anu. Katakan!" perintah Erland.
"Owh kamu sekarang tengah lelah dan mau pulang besok?" Dengan semangat Afif menganggukkan kepalanya.
"Kalau begitu pulanglah sendiri besok. Saya tetap mau pulang malam ini juga. Toh besok juga sudah weekend jadi kamu tidak perlu datang ke kantor dan tidak harus merepotkan saya kalau kamu libur satu hari," ucap Erland dengan entengnya. Dimana hal tersebut membuat Afif melongo tak percaya. Tapi kalau bosnya itu pulang malam ini dan dia pulang besok, siapa yang akan membelikan tiket untuknya pulang dan siapa yang akan membayar uang hotel? Karena ia sangat yakin jika bos-nya itu tidak akan menginjakkan kakinya di hotel manapun di Singapura ini. Bahkan mereka tadi setelah sampai bandara langsung menuju ke perusahaan cabang ini tanpa mampir ke tempat lainnya. Jadi sudah dipastikan jika Afif memilih untuk menginap di negara ini, ia harus mengeluarkan uang pribadinya untuk menginap dan untuk membeli tiket pesawat yang harganya lumayan buat tabungannya sedikit berkurang.
Erland yang melihat keterdiaman dari Afif pun ia menepuk pundak sang sekretaris sembari ia berkata, "Kamu tenang saja semua biaya kamu saat ada disini akan saya tanggung, termasuk biaya kepulangan kamu. Anggap saja ini adalah bonus yang telah saya berikan ke kamu atas kinerja kamu selama beberapa hari ini."
Afif yang mendengar perkataan dari Erland, ia melebarkan matanya dengan senyum yang mengembang.
__ADS_1
"Bapak tidak sedang bercanda dengan saya kan?" tanya Afif tak percaya. Dimana hal tersebut dibalas dengan Erland yang merotasi matanya.
Dan untuk beberapa saat setelahnya Erland yang tadinya fokus ke ponselnya, kini ia beralih menatap kearah sang sekretaris sembari berkata, "Saya tidak pernah bercanda dengan ucapan saya sendiri Afif. Dan lihatlah ponsel kamu sekarang. Saya sudah mentransfer kamu sejumlah uang. Dan lebih baik kamu sekarang bergerak untuk mencarikan saya tiket pesawat untuk kepulangan saya malam ini juga."
Tangan Afif kini bergerak untuk merogoh ponselnya dan benar saja bosnya itu telah mentransfer uang sebesar 30 juta untuknya. Jangan ditanya perasaan Afif saat ini bagaimana, karena hanya ada kebahagiaan saja yang menyelimuti dirinya.
Afif tidak boleh terlena hanya karena terpesona akan jumlah uang yang telah Erland berikan kepadanya tadi. Ia harus segera melakukan perintah yang diberikan oleh Erland kepadanya tadi. Dan dengan berjalan, mengikuti langkah Erland yang tengah menuju ke ruang CEO di perusahaan itu, tangan Afif tak henti-hentinya mengotak-atik ponselnya hingga beberapa saat kemudian ia menghela nafas lega saat mendapatkan tiket pesawat penerbangan malam ini juga.
"Pak, saya sudah mendapatkan tiket. Tapi jam penerbangan pukul 11 malam. Bagaimana? apa bapak setuju?"
"Apa tidak ada jam lainnya?" Afif menggelengkan kepalanya.
"Ya sudah kalau begitu pesankan saya tiket yang itu saja. Yang penting saya pulang hari ini juga," ujar Erland.
"Baik Pak. Kalau begitu saya pesankan dulu," tutur Afif yang diangguki oleh Erland. Jika dipikir-pikir lebih baik Erland pulang ke tanah air tercinta besok saja bersama sang sekretaris karena jam penerbangan juga sudah terlalu malam. Tapi yang namanya Erland, ia tak peduli mau malam atau siang yang terpenting ia pulang saat itu juga karena ia tak ingin membuang waktunya di negara orang lain jika memang tidak sedang berlibur. Apalagi di negara kelahirannya saat ini sudah ada seseorang yang sangat-sangat ia rindukan. Jadi tidak mungkin kan ia akan tinggal lama-lama di negara itu sedangkan di rumah ada seseorang yang menunggu kepulangannya.
"Saya sudah pesankan bapak tiketnya. Kalau begitu bapak mau menunggu sampai waktu penerbangan bapak disini atau di hotel saja atau malah mau langsung ke bandara?" tanya Afif tak yakin dengan kalimatnya yang terakhir. Namun tak disangka-sangka Erland malah memilih, "Di bandara saja."
Afif hanya bisa menggaruk tengkuknya yang tak gatal. Bosnya ini memang manusia teraneh yang ia temui. Tapi ia juga sangat bersyukur memiliki bos seperti Erland yang jika memberikan gaji tak terkira jika memang dia becus dalam melakukan tugasnya.
"Baiklah kalau begitu. Saya antar bapak ke bandara."
__ADS_1
"Tidak perlu. Saya bisa kesana sendiri. Kamu cukup pesankan saya taksi untuk ke bandara dan lebih baik kamu juga pesan satu taksi lainnya yang akan kamu gunakan untuk pergi ke hotel yang akan kamu tinggali malam ini," ujar Erland.
"Ohhh begitu ya. Baiklah kalau begitu saya pesankan dulu taksinya. Dan lebih baik kita menunggu di luar saja Pak," kata Afif yang diangguki oleh Erland. Dan dengan melonggarkan dasinya, Erland berjalan lebih dulu dari Afif untuk keluar dari ruangannya. Sedangkan Afif yang kembali sibuk dengan ponselnya, tak urung ia juga mengikuti langkah sang atasan.