PASUTRI (Troublemaker)

PASUTRI (Troublemaker)
Bab 106


__ADS_3

Akhirnya Maura memutuskan untuk menghubungi Edrea saja setelah 2 jam ia melihat-lihat situs dewasa yang ternyata tak menemukan apa yang ia inginkan. Tapi untungnya sang suami sedari tadi tidurnya tak terusik sama sekali. Mungkin Erland sangat-sangatlah lelah sampai ia masih terlelap walaupun sudah 2 jam lamanya ia tertidur.


"Kebas juga ya nih kaki lama-lama," gumam Maura. Dan dengan perlahan ia memindahkan kepala Erland ke bantal sofa sebelum ia berpindah duduk di sofa lainnya yang tentunya masih berada di ruang tamu. Sembari mengetuk-ngetukkan kakinya yang tengah kesemutan itu, Maura mencoba menghubungi Edrea.


Satu kali, dua kali sampai...


"Enghhh Maura." Lenguhan Erland terdengar. Dimana hal tersebut membuat Maura langsung mematikan sambungan teleponnya itu. Padahal Edrea tadi sudah mengangkat telepon dari Maura. Tapi sebelum Edrea berucap salam, Maura sudah memutus sambungan telepon tersebut. Dimana hal itu membuat Edrea yang ada di sebarang sana mengerutkan keningnya sembari berucap, "Ini Kakak ipar kenapa sih? Ngeprank atau apa? Atau jangan-jangan ada sesuatu dengan dia. Astaga!" jerit Edrea.


Dimana jeritannya itu membuat kedua anak dan sang suami yang tengah bermain bersama terkejut dan menatap dirinya dengan penuh tanda tanya.


"Kamu kenapa sih sayang? Ada apa? Kenapa pakai teriak-teriak segala?" tanya Leon penasaran. Ia berjalan mendekati sang istri yang tengah terduduk di pinggir ranjang.


"Gawat sayang gawat." Leon yang baru saja sampai di hadapan sang istri mengerutkan keningnya.


"Gawat, kenapa? To the point sayang, please," pinta Leon.

__ADS_1


"Ck, pokoknya kakak ipar tengah dalam bahaya sekarang."


"Kakak ipar? Siapa dan yang mana?" tanya Leon. Tak tau saja Kakak ipar Edrea ada banyak dan ia tak tau siapa yang dimaksud oleh Edrea saat ini.


"Haishhhh, Kak Maura, istri bang Erland. Kemarin bang Erland itu pergi entah kemana tapi kata Daddy bang Erland lagi di Singapura untuk mengurus masalah perusahaan disana. Nah katanya bang Erland juga akan pulang beberapa hari lagi karena masalah cukup serius disana. Terus kan Kak Maura sendirian di rumah dia. Dan dia tadi sempat menghubungi aku dua kali panggilan aku tidak menjawab tapi setelah dia meneleponku lagi, aku angkat namun dia langsung matiin sambungan telepon dia begitu saja. Aku yakin dia sekarang tengah kenapa-napa sayang dan dia mungkin Kak Maura lagi bersembunyi di dalam lemari untuk melindungi dirinya sendiri dari orang-orang yang berniat jahat kepadanya. Jadi aku mohon izinkan aku kesana sekarang juga. Aku mau liat secara langsung keadaan Kak Maura," ucap Edrea.


"Aku tidak mengizinkan kamu pergi sendirian kesana. Takutnya apa yang kamu katakan tadi benar jika disana sedang tidak baik-baik saja. Kecuali bersamaku. Kita akan kesana sekarang juga," ujar Leon kemudian ia bergegas mengganti pakaian.


Sedangkan si twins, mereka saling pandang satu sama lain sebelum keduanya dengan kompak menganggukkan kepala mereka dan tanpa diketahui oleh Edrea maupun Leon, kedua anak laki-laki berusia 4 tahun itu ikut berganti pakaian.


"Bawa ini untuk berjaga-jaga." Leon menyerahkan satu buah pistol kepada istrinya yang langsung diterima oleh Edrea dan perempuan itu langsung menyembunyikan pistol tersebut dibalik jaket hitam yang tengah ia kenakan.


"Punya kita mana?" tanya salah satu dari dua anak laki-laki tersebut yang membuat kedua orangtuanya menolehkan kepalanya kearah sumber suara.


"Apa?" tanya Leon tak paham dengan arah pembicaraan salah satu putranya itu.

__ADS_1


"Ishhhh itu lho pistol. Punya Axcel dan Axcal mana? Daddy sama Mommy kan bawa jadi kita berdua juga harus bawa dong," ucap Axcel dengan menengadahkan tangannya kehadapan kedua orangtuanya. Begitu juga dengan sang kembar yang juga menengadahkan tangannya.


Leon dan Erland saling pandang satu sama lain.


"Gimana ini?" tangan Edrea dengan suara lirihnya.


"Kamu tenang saja. Aku punya sesuatu untuk mereka," ujar Leon kemudian dengan berlari kecil laki-laki itu menuju ke ruang bermain sang anak dan tak berselang lama, ia kembali dengan membawa dua pistol yang bentuknya sama persis dengan pistol asli namun Leon tidak mengisi pistol itu dengan peluru melainkan dengan air biasa saja. Karena pistol itu ia sudah modifikasi menjadi mainan anak-anak takutnya kedua putranya itu menginginkan senjata sama dengan senjata milik mereka berdua seperti saat ini.


"Ini. Kalian berdua bawa ini ya. Tapi jangan menekan pelatuknya oke. Takut pelurunya habis nanti." Dengan patuh kedua putranya itu menganggukkan kepalanya sembari menerima pistol itu dari sang Daddy.


Sedangkan Edrea, ia sudah memelototkan matanya. Memang benar mereka berdua sudah mengajarkan kedua putranya mengenai senjata api tapi keduanya tidak memperbolehkan dua bocil yang masih sangat kecil itu menyentuh sendiri benda berbahaya tersebut. Dan saat Edrea ingin protes, Leon sudah memberikan kedipan kepada sang istri, kedipan yang merupakan sebuah kode. Dimana hal tersebut membuat Edrea kini mengerti dan bisa menghela nafas lega.


"Yeyyyyyy pistol. Kita berdua sudah mendapatkan senjata kita. Jadi tunggu apalagi, kita pergi sekarang juga," ucap Axcal penuh semangat. Dan setelah mengucapakan perkataannya tadi, ia dan sang kembaran berlari keluar dari dalam kamar tersebut bahkan keluar dari rumah.


Edrea dan Leon yang melihatnya pun ia hanya bisa menggelengkan kepala mereka. Ingin mencegah agar kedua putranya itu tak ikut bersama dengan mereka karena cukup berbahaya, sepertinya larangan mereka nanti tidak akan mempan juga. Jadi biarkan saja mereka ikut. Toh keduanya juga selalu mengajarkan ke putra mereka cara melepaskan diri dari seseorang yang menyandra mereka berdua dan masih banyak lagi pelajaran yang mereka berikan untuk melindungi diri mereka sendiri termasuk silat dan sebagainya.

__ADS_1


Leon dan Edrea kini menyusul kepergian dari kedua putranya itu karena mereka juga tidak bisa mengulur waktu lebih lama lagi untuk menyelamatkan orang yang berniat jahat kepada Maura dengan harapan semoga mereka tidak terlambat.


Padahal tanpa mereka ketahui jika Maura saat ini tengah baik-baik saja. Bahkan dia saat ini tengah menidurkan bayi besarnya kembali yang tadi sempat merengek seperti anak kecil kala tak mendapati tubuh Maura yang sebelum ia terlelap tadi paha istrinya itu ia jadikan sebagai bantalan namun saat ia bangun yang ia dapatkan bukannya paha Maura melainkan bantal sofa. Dimana hal tersebut membuat Erland langsung mencari keberadaan Maura dengan khawatir. Namun ia bisa tenang saat ia merasakan dekapan seseorang dari belakang punggungnya karena dia tadi juga sempat berdiri dari posisi rebahannya tadi. Dan kini sepasang suami-istri itu sama-sama tiduran diatas sofa yang lumayan besar, cukup untuk tubuh mereka berdua walaupun harus saling berdempetan. Dan sekarang Erland juga sudah tertidur kembali namun ia mengunci pergerakan Maura agar sang istri tidak pergi lagi saat dirinya terlelap seperti tadi.


__ADS_2